
Tiga hari setelah sadar, Abian melakukan operasi untuk cidera tulang belakang. Operasi berjalan lancar dengan menghabiskan waktu beberapa jam. Setelah dioperasi, Abian kembali dibawa ke ruang inap. Queenza begitu bersyukur karena operasi berhasil dan kemungkinan bisa berjalan lagi cukup besar.
Sepanjang hari itu Queenza menunggu suaminya yang masih belum sadar karena pengaruh obat bius. Hingga akhirnya lelaki itu siuman juga membuat sang istri merasa bersyukur.
"Mas, kamu merasakan sesuatu?" tanya Queenza.
"Haus," ujar lelaki itu dengan suara lirih.
Dengan sigap Queenza meraih gelas dan membantu suaminya untuk minum. Setelah cukup, ia menaruh air tersebut di nakas.
"Aku panggil Dokter dulu, ya." Queenza pun menekan tombol panggilan dan tak lama suster datang dengan dokter juga.
Dokter memeriksa keadaan Abian dengan serius.
"Alhamdulillah, keadaan Bapak baik-baik saja. Kini hanya butuh pemulihan, setelah itu kita bisa memulai fisioterapi. Tolong jangan sering digerakkan tubuhnya untuk beberapa hari," ujar dokter menjelaskan.
"Baik, Dok. Terima kasih."
Setelah itu dokter dan suster pergi keluar hingga kini hanya ada sepasang suami istri tersebut. Queenza kembali duduk di samping sang suami dan menggenggam tangannya.
"Alhamdulillah semua berjalan lancar," ujar Queenza tersenyum.
"Alhamdulillah," lirih Abian. "Di mana Anna?"
"Anna di rumah bersama Ayyara. Kebetulan siang sampai sore ini Nana sedang kuliah. Untung saja Ayyara bisa menjaganya, kalau tidak gimana aku mengurus Mas di sini."
"Ayyara?" tanya Abian. "Kamu mengizinkannya ke rumah kita dan dekat dengan Tatjana?" tanyanya lagi tak percaya.
Queenza tersenyum. "Aku sudah berdamai dengannya. Melihat Mas yang kecelakaan, tiba-tiba aku merasa takut dengan orang sekitarku. Aku takut mereka atau aku pergi sebelum memiliki hubungan baik dan menyesal. Karena itulah aku mencoba berdamai dengannya."
"Dengan Papa dan Mama?" tanya Abian.
"Untuk mereka masih sangat sulit, Mas. 13 tahun mendapat luka tak bisa sembuh dalam sehari. Tapi aku akan berusaha memaafkan mereka meski perlahan," ujar Queenza sendu. Jika mengingat dua orang itu, sungguh hatinya sangat sakit.
Abian yang mengerti perasaan istrinya pun hanya bisa mengusap pipinya. Ia belum bisa bergerak untuk memeluknya.
"Ya sudah, jangan terlalu dipaksakan. Itu juga sudah sangat baik," ujar Abian.
"Sudah, Mas jangan banyak bicara dulu. Istirahat, ya." Queenza mengecup kening suaminya dengan sayang.
__ADS_1
"Aku baru sadar sudah disuruh tidur lagi?"
"Ya bukan begitu, maksudnya diam saja jangan banyak bicara. Kan masih pemulihan efek bius."
"Ya sudah aku diam."
Akhirnya Abian terdiam dan tak berbicara lagi. Queenza sendiri sibuk dengan tabletnya. Sudah hampir 2 minggu ia tak masuk kantor membuat pekerjaan numpuk. Berulang kali juga ponselnya berdering yang terdengar panggilan dari Maryam.
Abian merasa kasihan melihat istrinya. Sepanjang hari ia di rumah sakit, lalu subuh kembali ke rumah untuk mengurus anaknya. Belum lagi harus mengurus perusahaan. Meski tak ke kantor, tapi pekerjaan pasti menumpuk.
"Kamu ke rumah sakit saja, saya tidak bisa ke kantor untuk sekarang. Kalau ada klien yang ingin bertemu tolong suruh mengatur jadwal lagi. Jika mereka menolak, maka batalkan kerjasama," ujar Queenza saat berbicara dengan Maryam di telepon.
Setelah selesai, ia menaruh ponselnya di meja, lalu kembali fokus pada tablet. Sesekali ia memijat bahu yang terasa pegal. Meski di ruang VVIP ada tempat tidur untuk menunggu, tetap saja rasanya berbeda. Tapi, dia dan Abian tak memiliki siapa-siapa lagi. Jika bukan dirinya yang menjaga sang suami, lalu siapa lagi?
Melihat wajah lelah Queenza, Abian pun merasa sedih. Ia memanggil sang istri, memintanya untuk mendekat. Queenza pun berjalan mendekat dan Abian meminta sang istri duduk di bibir ranjang. Wanita itu pun menurut.
Abian meraih tangan halus itu, lalu ia bawa untuk dikecup. "Terima kasih karena sudah begitu perhatian padaku dan maaf membuatmu lelah, Sayang," ucapnya penuh sesal.
"Kenapa bilang begitu? Kamu suamiku, sudah sepantasnya aku menjagamu. Jangan bicara aneh-aneh, ah. Mas istirahat, ya," ujar Queenza.
Abian tampak tersenyum menatap istrinya. Ia tak menyangka bahwa wanita galak itu bisa begitu lembut. Ia seperti mimpi melihat sikap istrinya itu. Queenza hanya bisa lembut pada Tatjana dan Nana. Bahkan Nana pun sering ditegur secara tegas jika melakukan kesalahan. Tapi sekarang yang ia lihat? Sungguh seperti malaikat yang manis.
"Kamu cantik."
"Aku tahu aku cantik. Tak perlu Mas katakan juga aku tahu."
"Ke marilah." Abian menepuk dadanya.
"Kamu baru selesai operasi, Mas. Jangan aneh-aneh."
"Justru kalau kamu berada di sampingku, rasa sakitku hilang, Queen. Ke marilah."
"Tapi ...." Queenza tampak ragu.
"Tidak apa-apa, Sayang. Aku ingin memelukmu. Apa aku harus memohon?"
Queenza pun beranjak dan duduk di kursi. Dengan hati-hati ia rebahkan kepalanya di dada sang suami. Sangat hati-hati sehingga tubuh Abian tak bergerak. Lelaki itu pun tersenyum dan memeluk istrinya. Berulang kali ia kecup ujung kepala Queenza yang begitu wangi.
Keduanya diam, menikmati momen indah bersama. Hampir lima tahun mereka menikah, tak pernah keduanya merasakan momen romantis. Dari awal, hanya masalah yang mereka hadapi hingga malam sebelum Abian kecelakaan menjadi awal kemesraan mereka. Walaupun saat itu Queenza belum memaafkan sang suami.
__ADS_1
"Untuk visual, kamu memang sangat cantik. Siapa yang tak terpesona oleh kecantikan Queenza Safaluna? Namun, apa yang kamu tunjukkan selama ini jauh berbeda dengan kecantikanmu. Bahkan dengan suami sendiri saja galaknya minta ampun."
Huft! Ingin sekali rasanya Queenza memukul dada suaminya andai ia tak ingat kini lelaki itu terbaring lemah.
"Kamu mau aku yang seperti itu?" tanya Queenza.
Tentu saja tidak! Siapa yang mau kan, punya istri galak dan jutek? Yang pasti Abian lebih suka istrinya yang lembut seperti sekarang yang membuat dirinya semakin jatuh cinta pada Queenza.
"Menurut Mas, lebih lembut aku atau Ayyara?"
"Sayang, aku tidak bisa membandingkan kamu dengan dia. Setiap orang memiliki karakter masing-masing. Tapi yang pasti, wanita yang aku cintai sekarang dan seterusnya hanya kamu, Queenza."
"Gombal! Aku ingat sekali dulu kamu bilang kamu tidak akan pernah mencintai wanita sepertiku. Sekarang saja mengatakan aku mencintaimu," ejek Queenza.
"Memang aku pernah berkata seperti itu?" tanya Abian yang diangguk Queenza. "Mungkin saat itu kepalaku terbentur dan hilang akal," kekehnya.
Queenza beranjak, lalu menatap mata suaminya dengan begitu dalam.
"Apa Mas benar-benar mencintaiku?" tanya Queenza. "Bukan karena Tatjana kan Mas bertahan?" tanyanya lagi.
"Hey, kenapa kamu jadi mellow gini sih?" tanya Abian tersenyum.
Queenza menghela napasnya, ia kembali menatap Abian yang begitu intens menatapnya.
"Mas, aku benci padamu, aku kecewa padamu atas yang kamu lakukan tiga tahun lalu. Karena kamu, aku hampir saja kehilangan Tatjana, keluargaku satu-satunya. Karena itulah aku begitu marah padamu. Tapi, tak bisa aku pungkiri juga, selain Tatjana, cuma kamu yang aku punya, Mas. Cuma kamu yang selalu ada untukku. Kadang, aku takut kamu mau bersamaku hanya karena anak kita dan terpaksa bertahan denganku. Apalagi yang aku tahu, kamu sangat mencintai Ayyara," ujarnya menunduk.
"Aku sadar, aku tak selembut Ayyara, tak semanis dia dan tak menyejukkanmu. Aku takut kamu hanya terpaksa."
"Sayang, sepertinya kamu butuh sesuatu untuk tidak berpikiran aneh-aneh. Sini, mendekatlah."
Queenza mendekat, hingga tiba-tiba Abian meraih kedua pipi sang istri, lalu menariknya dan mencium bibirnya. Wanita cantik itu terkejut saat tahu apa yang dilakukan suaminya buru-buru ia tahan tubuhnya di tembok agar tak terjatuh dan menimpa suaminya. Queenza pun pasrah. Ia menutup matan dengan menikmati ciuman lembut yang suaminya berikan. Rasa takut, rasa khawatir, pikiran-pikiran negatifnya perlahan hilang saat merasakan bagaimana Abian memperlakukan dirinya.
Lelaki itu melepas ciumannya. Ia usap bibir seksi Queenza yang basar olehnya. "Kamu terlalu lelah, Sayang. Makanya berpikir aneh-aneh. Jangan tanya lagi tentang perasaanku, Queen. Aku sangat mencintaimu. Andai tak ada Tatjana pun aku tetap akan berada di sampingmu. Bukan aku tak mencintai anak kita, aku sangat mencintainya apalagi sejak lama aku ingin sekali memiliki anak perempuan.
"Aku bersyukur ia lahir seperti apa yang aku harapkan. Namun, Tatjana hanyalah bonus saat aku mendapatkanmu, Queen. Dan aku begitu beruntung memiliki kalian berdua."
Queenza terdiam mendengar itu. Ia tersenyum penuh haru. Ia tak menyangka bahwa suaminya benar-benar mencintainya.
Karena hampir kehilangan Abian, rasa takut pun sering bermunculan di kepala Queenza. Apalagi ia memiliki trauma ditinggalkan orang yang dicintai. Jadi, kini ia pun merasakan takut kehilangan itu, sehingga setiap saat terus menanyai bagaimana perasaan suaminya.
__ADS_1
Abian sendiri tahu keadaan sang istri, karena itu, ia tak bosan menjawab pertanyaan yang sama yang terus dilontarkan istrinya. Meski begitu, Abian bersyukur bahwa Queenza kini telah menerimanya sepenuh hati. Kini tugasnya untuk menumbuhkan kepercayaan sang istri bahwa dirinya hanya mencintai istrinya dan tak ada wanita lain.