Queenza

Queenza
Pertemuan kembali


__ADS_3

Abian berjalan masuk kantor stasiun televisi milik istrinya. Ia telah berjanji akan makan siang bersama. Tiga bulan pernikahan, keduanya menjadi dekat. Bukan karena telah saling mencintai, tetapi karena terbiasa dan keduanya seakan menjadi teman. Ya, mereka sepakat untuk pendekatan menjadi teman terlebih dahulu, karena hubungan suami istri yang lebih dekat pun mereka belum bisa lakukan.


Kehamilan Queenza pun sekarang mulai membesar karena telah berusia enam bulan. Abian pun semakin perhatian pada wanita itu.


"Queen," sapa Abian di balik pintu dengan kepala saja yang terlihat.


"Punya suami kenapa konyol begini sih? Masuk tuh dengan elegan, bukan kepala dulu seperti menyapa teman sekelas," gerutu Queenza.


"Aku juga punya istri emosian sekali. Apa-apa marah, apa-apa marah. Lama-lama anak kita jadi angry baby juga," sahut Abian yang duduk di hadapan Queenza.


Lelaki tampan itu sudah tak malu lagi untuk ke stasiun televisi milik istrinya itu. Seiring berjalannya waktu, ia telah terbiasa dengan omongan orang. Kini, ia hanya fokus mengembangkan diri lebih baik lagi.


"Jadi makan sushinya? Bukannya kata dokter gak boleh makan yang setengah matang atau mentah?" tanya Abian.


"Kan bisa sushi yang matang," jawab Queenza memutar bola matanya.


"Ya sudah ayo. Ini sudah jam makan siang. Kalau nunggu kamu menyelesaikan ini sih kelamaan." Abian menutup laptop istrinya, lalu membantu wanita itu berdiri. "Perutmu sudah besar masih saja menggunakan heels. Kalau kepleset gimana?" omelnya membantu wanita hamil itu berjalan.


"Bawel tau gak!" gerutu Queenza.


Keduanya berjalan keluar bersama. Sepanjang jalan menuju pintu utama mereka hanya berdebat seperti hari-hari sebelumnya. Tak ada kemesraan diantara mereka layaknya suami istri.


Tiba-tiba langkah lelaki itu terhenti. Wajahnya menunjukkan keterkejutan saat melihat seorang wanita berjalan berbalik arah. Mata keduanya terkunci manakala netra mereka saling bertemu.


"A-Ayya," ujar Abian masih dengan keterkejutan. Tiga bulan lamanya ia mencoba menemukan keberadaan sang mantan istri tetapi tak kunjung ditemukan. Hingga akhirnya kini mereka saling bertemu.


"Ra, ayo." Rima menarik lengan Ayyara yang masih saja menatap Abian tanpa berkata apa pun.

__ADS_1


Sedangkan Queenza, hanya berdiri menatap keduanya yang seperti dalam drama di televisi.


"Sudah saling lirik dengan mantan istri?" tanya Queenza yang membuat Abian menoleh padanya.


Lelaki itu pun jalan terlebih dahulu tanpa memedulikan Queenza di belakang dengan perut besarnya.


"Kamu kenapa? Masih terbawa perasaan melihat dia?" tanya Queenza serius saat keduanya di restoran.


Sejak bertemu Ayyara, Abian jadi diam dan selalu melamun dan tak fokus.


"Gak perlu dibahas." Abian mengetukkan sumpitnya karena kesal.


"Ck! Dasar lelaki lemah," cibir Queenza.


Acara makan siang itu pun berubah menjadi suram. Abian kembali dingin pada Queenza. Ia hanya mengantar wanita itu sampai depan lobi kantor tanpa turun membantunya menuju ruangan. Queenza begitu kesal dengan perlakukan Abian.


"Hati-hati!" Seseorang menahan tubuh semapai itu hinggal tak terjatuh.


"Maka—" Queenza terdiam saat siapa yang menolongnya.


"Kakak gak apa-apa, kan?" tanya Ayyara khawatir.


"Tidak apa-apa." Queenza menatap sekilas, lalu berjalan masuk menuju lift.


"Ih, dasar perempuan angkuh! Ditolong bukannya makasih," gerutu Rima. "Udah jadi pelakor, masih saja sombong."


"Hey, yang sedang kamu bicarakan itu kakakku loh," ujar Ayyara melipat tangannya menatap sang manager.

__ADS_1


"Kakak mana ada yang kayak iblis seperti dia? Menghancurkan hidup adiknya sendiri," omel Rima.


Ayyara hanya tersenyum melihat manager sekaligus sahabatnya itu mengomel. "Dia sedang tersesat saja. Aslinya dia baik, kok. Bahkan jauh lebih baik dariku. Ayo, kita pergi. Bukannya mau ke kantor Tuan Rajesh?"


Mereka pun pergi dari stasiun televisi tersebut.


Waktu pulang kantor pun datang. Abian pulang terlebih dahulu tanpa menjemput Queenza. Ia berencana akan menemui Ayyara di apartemennya.


Benar saja, wanita itu berada di apartemen mereka dulu. Abian tersenyum melihat wanita yang dirindukan kini di hadapannya.


"Mas Abian?" Ayyara terkejut melihat mantan suaminya itu.


"Ayya." Abian memeluk wanita itu. "Ke mana saja kamu, Ayya? Aku mencarimu tetapi tak juga aku temukan," ujarnya dengan masih memeluk wanita itu.


"Mas, lepaskan. Kita bukan suami istri lagi." Ayyara mendorong tubuh lelaki itu agar ia melepas pelukannya. "Mau apa Mas ke mari? Apa Kak Queenza tahu?" tanyanya.


"Ayya, kamu baik-baik saja, kan? Apa Queenza menyekapmu selama ini? Kamu tidak apa-apa kan?" tanya Abian khawatir.


"Aku baik-baik saja dan kepergianku tidak ada sangkut pautnya dengan Kak Queen. Lebih baik Mas pergi deh, kita udah gak ada hubungan apa-apa. Jangan sampai Kak Queenza tahu dan dia akan melakukan hal buruk lagi."


"Tapi Ayya, perasaanku masih sama seperti dulu. Bahkan aku tidak bisa mencintai Queenza."


"Terus? Mas mau apa? Balikan denganku? Tidak mungkin, Mas. Sejak aku memutuskan bercerai dengan Mas, aku sudah tidak memiliki harapan apa pun. Jadi aku mohon, Mas pergilah. Jangan pernah datang ke sini lagi." Ayyara menutup pintu tanpa memedulikan Abian yang terus memanggil namanya.


Tak bisa dipungkiri bahwa perasaannya untuk Abian masih ada. Namun ia sadar bahwa kini lelaki itu bukan miliknya.


"Ayolah Ayya. Jangan terus-terusan mikirin dia. Sekarang dia suami dari kakakmu yang berarti kakak iparmu." Wanita cantik itu menggeleng mencoba melupakan perasaannya pada mantan suami yang kini menjadi kakak iparnya.

__ADS_1


__ADS_2