
Ayyara telah sampai di Singapura. Dengan buru-buru wanita cantik itu berjalan keluar bandara. Ia sudah menghubungi Saad yang memang sedang di sana. Ia tersenyum melihat lelaki itu menunggunya di pintu penjemputan.
"Ara." Saad melambaikan tangan tersenyum pada wanita itu.
"Mas, apa kabar?" tanya Ayyara memeluk lelaki itu.
"Baik. Ada apa menemuiku di sini? Tumben sekali, bukannya sejak kita berpisah kamu menutup akses denganku?" tanya Saad pada mantan istrinya.
"Bukan gitu, Mas. Aku cuma sedang sibuk aja. Ini lagi free aku samperin ke sini. Hhmmmm aku kangen," ujar wanita cantik itu memeluk lengan Saad.
"Tumben. Lagi kesambet apa kamu?" tanya Saad dengan kekehan. "Bukannya kamu bilang aku laki-laki kasar yang suka KDRT?"
Mendengar itu Ayyara tersenyum semakin mengeratkan pelukannya. "Aku cuma ingin mengetesmu, Mas. Lagian Mas tuh terlalu cuek. Kan aku juga ingin diperhatikan. Mas terlalu sibuk dengan pekerjaan."
Saad pun mengajak Ayyara menuju mobilnya, lalu mempersilahkan masuk. Tak lama mobil sport berwarna merah itu melaju meninggalkan Changi Airport.
"Lalu, untuk apa kamu ke sini?" tanya Saad ketika mereka dalam perjalan.
"Sudah aku bilang, aku merindukanmu, Mas. Aku ... menyesal bercerai denganmu. Aku sadar cuma kamu yang paling mengerti aku dan tulus mencintaiku. Maafkan atas kesalahanku yang selalu membandingkan Mas dengan Mas Abian, ya," ujar Ayyara dengan tatapan sedihnya.
"Menyesal? Seorang Ayyara Zara menyesal?" tanya Saad dengan tawa renyahnya.
"Iya, Mas. Apa bisa jika kita kembali?" tanya Ayyara. "Setelah ini aku janji akan menjadi istri yang baik untukmu. Kita buat rumah kita menjadi rumah yang penuh dengan cinta. Bagaimana?" tanya Ayyara mengusap dada mantan suaminya.
"Nakal ya, kamu. Kita sudah bercerai loh," sahut Saad yang meraih tangan Ayyara lalu mengecupnya.
Keduanya akhirnya memutuskan ke apartment milik Saad. Mereka menikmati waktu berdua dengan suasana romantis.
Jika sepasang mantan suami istri itu menikmati hari dengan kegiatan romantis, kini Queenza berada dalam helikopter dengan perasaan gundah. Mungkin jika tentang dia atau Abian tak membuatnya setakut ini. Namun jika menyangkut Tatjana, bahkan kepintaran dan kelicikannya seakan hilang.
__ADS_1
Sampai di bandara Jakarta, Queenza keluar helikopter dibantu pengawal. Lalu ia berjalan menuju jet yang sudah menunggunya. Para pilot serta pramugari menunduk hormat pada Queenza. Wanita itu sendiri hanya mengangguk langsung naik ke atas pesawat jetnya.
Tak lama, transportasi udara itu akhirnya lepas landas. Queenza menatap langit biru yang tampak begitu cerah ditambah awan putih seperti kapas menghiasi perjalanan Queenza.
'Ya Allah, semoga saja aku tepat waktu sampai sana." Doa Queenza dengan penuh kepasrahan.
"Miss ...."
Queenza menoleh pada lelaki berkemeja putih dengan rompi hitam yang tengah menunduk hormat.
"Katakan," ujar Queenza.
"Nona Nana tengah dalam perjalanan menuju Indonesia. Setelah mendapat telepon dari Tuan Abian tempo hari ia langsung bergegas memesan tiket pesawat. Pengawal yang menemaninya berkata ia sangat panik karena ketika mengunjungi apartemen Anda, Anda tidak ada. Ia khawatir Anda dalam keadaan bahaya," tutur Mario menjelaskan.
Queenza menyandarkan punggungnya dengan menutup mata. Ia tersenyum merasa terharu dengan adik angkatnya itu.
"Setelah landing, hubungi Maryam untuk menjemputnya. Suruh Nana nerjaga di rumah sakit bersama Maryam," ujar Queenza akhirnya.
"Tolong katakan pada pramugari untuk membuatkan cokelat hangat."
"Baik, Miss." Mario pun melangkahkan kakinya menuju kabin staff.
**
Ayyara berada dalam pelukan Saad. Dua orang itu masih menikmati kegiatan romantis mereka.
"Mas, keluargamu sedang di sini juga kah?" tanya Ayyara.
"Hanya aku dan Shraddha," jawab Saad mengusap rambut indah wanita dipangkuannya.
__ADS_1
"Ah, Shraddha juga ada di sini? Lalu, di mana dia sekarang?" tanya wanita itu lagi.
"Dia berada di villa. Kenapa?"
"Tidak apa-apa hanya bertanya. Memang kalian punya villa di sini? Kenapa Mas tidak pernah membawaku ke sana?" tanya Ayyara dengan cemberut.
"Loh, gimana mau ngajak kamu? Akunya langsung digugat cerai," sindir Saad.
Ayyara tersenyum dengan melingkarkan tangannya di leher mantan suaminya. "Kan sekarang udah balik. Ajak aku ke sana, ya. Aku ingin bertemu Shraddha. Aku ingin meminta maaf atas semua yang terjadi," ujarnya dengan wajah penuh sesal.
"Tidak usah, mereka akan mengerti nanti," sahut Saad menyelipkan anak rambut ke belakang telinga Ayyara.
"Jadi Mas gak mau mempertemukan aku dengan Shraddha? Apa karena Mas gak mau balikan sama aku?" tanya Ayyara dengan wajah sedihnya.
"Bukan begitu, Ayyara."
"Terus? Kalau Mas mau balikan pasti gak akan nolak kan agar aku bertemu keluarga Mas?"
"Ck! Bukan gitu, masuk villa gak bisa sembarangan. Ada kode rahasianya. Setiap anggota keluarga memiliki kodenya sandiri. Kita tidak bisa bertemu dengan anggota keluarga lain di villa itu. Villa milik Baba bukan villa sembarangan, villa itu seperti labirin, hanya penjaga villa yang tahu keberadaan anggota keluarga lain di mana tapi Kita harus mengatakan kode rahasianya," sahut Saad.
"Haaaa? Aneh banget, sih," gerutu Ayyara.
"Baba memang suka membuat bangunan unik begitu. Imajinasinya tinggi, makanya Kita harus ikut masuk imajinasinya," kekeh Saad.
"Ya sudah kalau gak bisa bertemu Shraddha di villa, kita tetap ke sana, ya. Aku penasaran seunik apa villa itu," sahun Ayyara kembali membujuk Saad.
'Setidaknya kalau berada di sekitar villa, aku bisa mencari keberadaan mereka,' ujar Ayyara dalam hati.
"Kamu ini, selalu bisa membuatku tak bisa menolak. Baiklah, ayo kita ke sana."
__ADS_1
Ayyara tersenyum bahagia mendengarnya. Akhirnya ia bisa menemukan kelemahan Queenza segera. Ia pasti bisa menghancurkan Queenza melalui Tatjana.
'Maafkan Tante, tapi karena kamu anak Queenza dan Abian, Tante harus mengorbankanmu,' batin Ayyara.