
Hari baru di mansion Queenza dan Abian pun datang setelah satu bulan kepulangan lelaki itu. Pagi hari, Abian mengajak istrinya untuk salat berjamaah dan yang pasti Queenza tak menolak karena memang sejak suaminya koma, ia mulai beribadah lagi dan ia bersyukur karena sekarang ia tak membaca doa makan lagi untuk niat salat. Andai sang suami tahu, pasti dia akan sangat malu.
Selepas salat, Queenza menuju dapur dan membuat sarapan untuk keluarga tercintanya, terutama untuk Tatjana yang akan membawa bekal ke sekolah.
"Mas!" pekik Queenza saat tiba-tiba kursi roda Abian menabraknya dan kini ia terduduk di paha sang suami. Ia hendak berdiri, tetapi ditahan. "Nanti kakimu sakit, Mas!"
"Masih belum bisa merasakan apa-apa, Sayang. Aku baik-baik saja," ujar Abian memeluk Queenza dari belakang. "Sudah selesai masaknya?" tanyanya.
"Sudah. Itu para pelayan sedang menyiapkan di meja. Kenapa? Mas lapar?" tanya istrinya.
"Tidak. Aku ingin mengajakmu berjemur. Ayo." Abian pun menggerakkan alat yang ada di kursi rodanya. Kebetulan memang kursi roda itu bisa bergerak sendiri dengan bantuan mesin.
Para pelayan tersipu dan terharu melihat dua atasannya kini begitu manis. Berbeda saat sebelum kecelakaan melihat mereka seperti musuh saja.
"Kecelakaan Tuan ada hikmahnya, ya. Mereka jadi mesra. Aku belum pernah melihat mereka begitu manis sejak awal pindah ke sini," ujar salah satu pelayan pada pelayan lainnya.
"Iya, Nyonya pun terlihat Iebih ceria. Syukurlah jika hubungan mereka menjadi lebih baik," ujar pelayan lainnya.
Keduanya sampai di halaman belakang dekat dengan kolam renang. Abian pun menghentikan laju kursi rodanya. Ia peluk Queenza dari belakang dengan erat.
"Aku turun, ya. Aku takut kaki Mas kenapa-kenapa," ujar Queenza khawatir.
"Gak apa-apa, Sayang. Lagian tubuhmu juga gak berat. Kamu jadi kurusan. Karena ngurus aku, ya?" tanya Abian yang membenamkan kepalanya di ceruk leher Queenza.
"Nggak. Aku diet. Mana mau aku punya tubuh besar," ujar Queenza tersenyum.
"Kamu pasti capek ya ngurus aku? Maafin aku ya. Aku jadi suami nyusahin."
"Aku marah ya kalau Mas bilang gitu lagi," kata Queenza tak suka.
Abian meraih tangan istrinya. Ia genggam dengan sangat erat. "Makasih, Sayang."
"Iya, iya," jawab Queenza malas. Ia sungguh tak suka jika suaminya itu terus-terusan meminta maaf atau berterima kasih.
__ADS_1
Queenza beranjak. Ia berjongkok dan melepas sandal yang dipake suaminya. Ia ingin melakukan pemanasan sebelum terapi dimulai. Dokter menyarankan sembari berjemur sehingga Abian mendapatkan vitamin D. Queenza menggerakkan kaki sang suami dengan maju mundur perlahan Abian sendiri mencoba menggerakkan tetapi masih saja lemah. Ia tak lumpuh sepenuhnya, tetapi masih bisa respon meski hanya sedikit dan itu sangat bagus.
Satu jam mereka di halaman belakang hingga Tatjana datang dengan begitu ceria yang sudah dimandikan oleh Nana.
"Ayah! Bunda!" Bocah kecil itu menghampiri orang tuanya.
"Loh, anak Bunda sudah cantik. Dimandiin Kak Nana?" tanya Queenza yang diangguk ceria sang anak.
"Ayah." Tatjana memeluk sang ayah, lalu tubuhnya diangkat Abian hingga bocah cantik itu duduk dipangkuannya.
"MasyaAllah, cantik sekali anak Ayah. Sudah siap sekolah?" tanya Abian mengusap rambut gadis kecilnya.
"Mau sarapan sama Bunda dan Ayah."
Akhirnya Queenza mendorong kursi roda sang suami menuju ruang makan. Terlihat Nana sudah di sana bersiap juga untuk ke kampus.
"Pagi, Kak, Mas," sapa Nana tersenyum sambil berdiri.
"Pagi, Na. Duduk aja sih, kayak nyambut pejabat aja," ledek Queenza yang membuat Nana terkekeh.
"Alhamdulillah sehat. Cuma kaki saja masih belum bisa digerakkan," jawab Abian tersenyum.
"Semoga segera sembuh, ya, Mas." Doa Nana.
"Assalamualaikum. Pagi semua."
Mereka yang baru duduk di meja makan pun menoleh. Terlihat Ayyara dan Saad yang datang.
"Eh, kalian." Queenza beranjak lalu berjalan menghampiri sepasang suami-istri tersebut dan memeluk Ayyara. "Tumben pagi-pagi ke sini. Ada apa?" tanyanya.
"Kangen sama Tatjana dan semua. Kebetulan Mas Saad ada kerjaan deket sini, jadi aku sekalian aja ikut," jawab Ayyara.
"Oh, gitu? Sudah sarapan? Ayo kita sarapan bareng." Queenza membawa adik dan adik iparnya untuk sarapan bersama.
__ADS_1
"Mas, gimana keadaannya?" tanya Ayyara.
"Alhamdulillah sehat. Cuma ya untuk kaki masih sama," jawab Abian sopan.
"Mas, kalau boleh aku rekomendasi, ada temanku seorang terapis di Singapura. Di sana dia sangat terkenal cepat menyembuhkan yang punya gangguan syaraf gitu. Kalau mau, aku bisa kasih kontaknya," sahut Saad.
"Oh ya? Apa Samuel Li yang kamu maksud?" tanya Queenza.
"Kamu kenal?" tanya Saad.
"Nggak, sih. Cuma beberapa orang juga rekomendasikan dia, tapi belum dapat kontaknya. Kalau kamu bisa kasih, itu sangat membantu," jawab Queenza.
"Sure."
Mereka pun akhirnya sarapan bersama dengan obrolan-obrolan ringan. Selepas sarapan, Nana dan Tatjana pamit. Nana sendiri masih sering pergi bersama bocah itu karena tak bisa menyetir. Awalnya Queenza akan membelikan mobil, tetapi ditolak Nana karena mengatakan mobil Tatjana juga cukup dan dia tidak siap untuk menyetir sendiri.
Setelah keduanya pergi, Saad pun pamit karena ada urusan. Tinggallah Queenza, Abian dan Ayyara.
"Aku kira Anna gak sekolah, makanya ke sini," sahut Ayyara.
"Tunggu saja. Kan cuma sampai jam sepuluh. Lagipula hari ini gak ada les untuknya. Kita ngobrol di sini saja," jawab Queenza.
"Sayang."
Kedua wanita itu menoleh berbarengan saat Abian memanggil Queenza. Ayyara yang sadar dengan spontanitasnya langsung menunduk.
"Kenapa?" tanya Queenza mencoba mengalihkan suasana canggung itu.
"Aku mau mandi."
"Oh, ok." Queenza beranjak mendekati suaminya. "Ayya, kamu tunggu sebentar, ya. Kami ke kamar dulu."
"Oh iya, Kak," jawab Ayyara tersenyum.
__ADS_1
Queenza pun mendorong kursi roda suaminya dengan sesekali digoda Abian yang membuat sang istri tertawa. Melihat keharmonisan kakak dan mantan suaminya, Ayyara hanya tersenyum dan mengangguk.