Queenza

Queenza
Bab 80


__ADS_3

Di ruangan lain, Queenza tampak diikat sama seperti Abian. Wanita itu tak sepanik sang suami dan hanya diam, membuat Narapati tampak tersenyum sinis.


"Apa kamu pasrah? Baguslah. Lebih baik begitu daripada memberontak hanya membuang tenagamu saja. Lebih baik kau gunakan untuk kita bersenang-senang," ujar lelaki paruh baya itu yang tengah menuang wine ke dalam gelas berkaki tinggi. Lalu, ia melangkah mendekati ranjang di mana Queenza diikat. "Kau benar-benar cantik seperti ibumu," kata lelaki itu menyentuh wajah sang wanita dengan gelas wine.


Narapati menumpahkan wine di gelasnya ke seluruh tubuh Queenza. Kemeja putih yang dikenakan sang wanita kini berwarna merah. Lelaki itu pun mendekatkan dirinya ke arah anak Aarav itu. Ia jilat sisa wine di pipi Queenza, yang membuatnya mengertakkan gigi dengan perlakuan lelaki bajingan itu.


"Kau semakin manis dengan wine ini. Aku sungguh tak sabar ingin mencicipi hidangan manis ini juga." Jari itu menelisik seluruh permukaan wajah Queenza.


"Kenapa kau diam saja? Apa kamu benar-benar pasrah?" tanya Narapati mengusap pipi Queenza.


"Memang apa yang harus aku lakukan? Bukankah percuma juga? Lebih baik aku pasrah," jawab Queenza dengan malas.


"Ah, ayolah berontak. Aku sungguh bosan bermain dengan wanita yang pasrah seperti ini." Narapati menatap tajam. "Tapi daripada tidak di apa-apakan lebih baik kunikmati." Lelaki tua itu mulai membuka satu per satu kancing kemeja milik Queenza. Matanya sungguh berbinar menatap tubuh yang begitu luar biasa memesona. Dan sialnya, Queenza tak mengenakan dalaman sebab terakhir ia telah berhubungan dengan Abian dan belum membersihkan diri.


"Apa kamu sudah bersiap, heemm?" tanya Narapati dengan tatapan lekat pada dua bongkahan indah milik wanita yang seharusnya ia anggap anak itu.


Saat hendak menyentuh dua keindahan tersebut, tiba-tiba sebuah tangan menahan tangan Narapati. Tanpa lelaki itu sadari, sejak tadi diamnya Queenza adalah taktik melepas diri. Bukan hal sulit untuknya melepas tali sebab ia pernah mengikuti pelatihan khusus prajurit bawah tanah di Eropa.


"Ini hanya milik suamiku," ujar Queenza tersenyum sinis. "Well, siapa pun yang melihat keindahan beracun ini, akan mati." Dengan sekali pukulan, Narapati terhempas ke bawah ranjang. Kesempatan itu Queenza gunakan untuk melepas ikatan tangannya yang lain, lalu ia kembali mengancingkan kemejanya.


Saat ia hendak beranjak, tiba-tiba pergerakannya terhenti. Lelaki itu kini tengah menodongkan pistol di depan wajah Queenza.


"Kau memang lawan yang berat. Bahkan ayahmu lebih bodoh darimu," ujar Narapati yang masih menodongkan senjata.

__ADS_1


Queenza tersenyum sinis mendengarnya. "Jangan samakan aku dengan lelaki itu. Kita berbeda."


"Well, karena aku sudah tidak bisa menikmatimu, jadi lebih baik kuhabisi saja."


Dengan senyuman maut, tanpa rasa takut sedikit pun, Queenza menarik pistol di tangan Narapati. Lelaki tua itu terjatuh dengan pistol kini di tangan sang wanita cantik berambut panjang itu.


"Kenapa kau bodoh sekali, Narapati? Kau benar-benar salah memilih musuh. Ratu iblis kau tantang. Jangankan tikus sepertimu, Aarav Kusuma saja bisa kuhancurkan dengan mudah," ujar Queenza menginjak leher Narapati yang kini posisinya tengkurap.


"Well, seperti yang aku bilang, siapa pun yang melihat keindahan tubuhku selain suamiku, akan mati."


Tiga letusan pistol terdengar. Dengan tanpa reaksi apa pun Queenza menembak punggung Narapati hingga lelaki itu tewas tak bernyawa.


Queenza melepaskan injakannya, lalu memutar kepalanya yang terasa sakit. "Sialan, siapa yang memukul leherku semalam? Akan aku habisi dia." Dengan begitu anggun, Queenza berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Melihat Queenza keluar, para pengawal Narapati terkejut dan langsung menyerang. Dengan gerakan santai, wanita cantik itu menembaki mereka satu per satu hingga terkapar.


Queenza menendang satu per satu yang datang. Lalu, menunduk saat salah satu pengawal itu hendak menyerangnya. Ia tarik tangan besar itu dan ia putar tangan besar tersebut hingga berbunyi menandakan tulangnya patah. Wanita cantik itu dengan santai terus menyerang orang-orang yang berdatangan dan mereka pastinya mengalami hal yang sama, terkapar tak sadarkan diri atau tewas? Entahlah, Queenza tak peduli.


"Ah, aku ingat. Kamu yang memukulku semalam hingga pingsan, 'kan?" tanya Queenza pada lelaki berpostur tubuh hampir sama dengan Abian. Lelaki itu yang menyamar jadi suaminya hingga tertangkap Narapati. "Habis kau olehku."


Lelaki itu menelan saliva dengan susah. Semua kawannya yang berbedan besar saja terkapar setelah dipukul dua kali oleh wanita itu, apalagi dia yang memiliki postur tubuh tak segitu besar dengan beladiri minim?


Sungguh, ia baru melihat wanita berparas bidadari tetapi sorot mata seseram iblis seperti Queenza. Namun, ia tak boleh menyerah. Dengan mengumpulkan keberanian, ia menyerang Queenza dengan membabi buta yang justru membuat wanita itu tersenyum sinis.

__ADS_1


"Bodoh!" Hanya kata-kata itu yang dikeluarkan Queenza. Dengan gerakan cepat, Queenza tarik kaki lelaki itu hingga terjatuh ke lantai. Setelah itu ia putar kakinya dan membuat lelaki itu berteriak kesakitan.


"Leherku sakit gara-gara kau, bodoh! Kini, rasakan apa yang aku rasakan." Dengan gerakan cepat, Queenza memutar leher lelaki itu hingga ia tak sadarkan diri.


"Astaga! Suamiku." Queenza baru teringat Abian yang kini mungkin telah dilecehkan oleh Ayyara. "Berani dia melakukan penyatuan, habis olehku!" Wanita cantik itu meraih pistol yang tergeletak dengan melihat isi pelurunya. Setelah itu ia berlari ke lantai dua di mana ruangan suaminya disekap.


Berulang Kali Queenza merutuki adiknya yang bodoh itu. Bisa-bisanya dia ingin berhadapan dengannya.


Brak! Dengan sekali tendangan, Queenza dapat membuka pintu tersebut yang sontak membuat dua manusia yang sudah tertubuh polos itu terkejut.


"Q-Queen!" Mata Abian berbinar melihat istrinya. Sedikit perasaannya tenang saat melihat wanita cantik itu.


"Turun atau aku tembak!" sentak Queenza menodongkan pistol pada Ayyara.


Bukan takut, wanita cantik itu justru melanjutkan menyatukan tubuhnya dengan Abian.


"Sialan!" Dengan penuh amarah, Queenza berlari menghampiri keduanya.


Queenza menarik tubuh Ayyara dengan sekali hentakan dan melemparnya ke lantai.


"Jangan pernah sentuh milikku!" teriak Queenza penuh emosi.


Ayyara tertawa melihat amarah Queenza yang meledak. "Bagaimana rasanya, Queenza Safaluna? menyakitkan?" tanyanya. "Itu juga yang aku rasakan! Dengan tanpa berperasaan kamu rebut lelaki yang aku cintai dengan cara menjijikan seperti yang kamu lihat sekarang! Aku hanya mengikuti caramu. Jadi, kita impas," katanya dengan mengusap air mata.

__ADS_1


Setelah itu, Ayyara beranjak, meraih gaun malam yang tadi ia kenakan dan pergi dari ruangan di mana suami istri itu berada.


Queenza sendiri terdiam dengan tatapan kosongnya. Hatinya terasa sakit saat melihat tatapan mata Ayyara yang menyiratkan kesedihan mendalam. Tanpa terasa air matanya menetes. Ia pejamkan mata, merasakan rasa sakit yang teramat sakit di dadanya.


__ADS_2