Queenza

Queenza
Ngedate


__ADS_3

Di salah satu lokasi di bilangan Jakarta, para artis terkenal sedang berada di sana. Syuting untuk drama series terbaru Ayyara dimulai. Wanita cantik itu akan memulai syuting dengan menjadi seorang siswi SMU yang bertemu lawan mainnya untuk pertama kali. Sejujurnya ia begitu malas harus bertemu laki-laki yang dicapnya sebagai playboy itu. Namun, ia berusaha untuk profesional.


Ayyara begitu manis dengan seragam putih abu-abunya. Ia tampak seperti siswi SMU dan tak terlihat wanita dua puluh tahunan.


"Set sudah siap. Ayyara duduk di kantin dan tak lama Daffa muncul bersama teman-temannya," ujar sutradara mengarahkan.


Ayyara pun berjalan menuju kursi yang ia akan duduki di kantin dengan membawa buku novel di tangannya.


"Oke siap! Kamera, rolling, action!"


Ayyara berjalan menuju ruangannya setelah menyelesaikan syuting. Ia ingin beristirahat sebentar sebelum memulai lagi. Namun, tiba-tiba seseorang menarik tangannya.


"Lepas!" Ayyara melepas paksa genggaman tangan seorang lelaki tampan yang kini menatapnya.


"Ra, ngobrol yuk," ujar lelaki muda dengan wajah ceria itu.


"Kita akrab? Aku rasa nggak deh!" Ayyara melanjutkan langkah menuju ruangannya.


"Ara! Sampai kapan selalu menghindar begini? Ini sudah tiga tahu, Ra. Lagian saat itu hanya salah paham. Aku dijebak, Ra," kata Daffa mencoba menghentikan langkah wanita itu.


Ayyara berbalik menatap lelaki itu. "Aku gak peduli dengan apa yang terjadi dulu. Sekarang lepasin tanganku, Daffa!"


"Ra, setidaknya bisa kan kita jadi teman? Jangan seperti ini seakan kita musuh. Dulu kita saling sayang dan—"


"Cukup, Daffa. Aku di sini untuk syuting bukan untuk mencari teman dan jangan ikuti aku!"


Daffa menyugar rambutnya frustasi menatap kepergian Ayyara. Ia tak menyangka bahwa Ayyara masih saja marah padanya padahal kejadian itu sudah begitu lama, bahkan wanita itu sudah menikah meski kini kembali bercerai. Tak seperti dirinya yang sejak putus dengan Ayyara tak pernah lagi memiliki kekasih karena rasa cintanya masih melekat untuk wanita itu.


"Yang harusnya sakit hati itu aku, Ra," ujar Daffa lirih.


**


"Bagaimana dengan acara reality show yang dibawakan oleh Ayyara? Apa semua baik-baik saja?" tanya Queenza pada produser serta staff lain dalam acara tersebut.


"Semua berjalan dengan baik, Miss. Tayangan perdana langsung masuk rating 10 besar," jawab penanggung jawab acara tersebut.


"Good. Tanyakan pada managernya untuk mencari jadwal yang kosong. Bawa dia ke salah satu pulau untuk mengeksplor keindahan di sana. Hhmmmm, juga undang Daffa Aresta untuk menjadi co-host agar semakin menarik minat penonton. Keduanya kan sekarang sedang syuting drama baru, pasti akan semakin menambah minat para penonton," ujar Queenza.


"Ide yang bagus, Miss. Baiklah, kami akan coba mengkoordinasikan dengan masing-masing manager."


"Baik, kalau begitu meeting selesai."


Semua orang pun bubar meninggalkan ruang meeting. Menyisakan Queenza yang merebahkan kepalanya di penyanggah kursi. Ia merasa mengantuk padahal baru pukul sebelas siang. Hingga tak lama, ia terperanjat mana kala merasakan seseorang mencium pipinya.


"Bian! Bikin terkejut saja," gerutu Queenza menatap kesal suaminya.


"Masih menjelang siang sudah mengantuk saja. Nih, biar gak ngantuk." Abian menyerahkan minuman kopi istrinya. Kopi yang lebih mendominasi campuran krim sehingga tak terlalu berbahaya untuk ibu hamil.


"Thanks," sahut Queenza meminum kopi tersebut. "Tumben sekali masih pagi sudah ke sini."

__ADS_1


"Aku kangen pada istriku, apa tidak boleh menemuinya?" ujar Abian membuat Queenza menatap geli sang suami. "Jalan, yuk. Jarang-jarang kan kita bisa ngedate. Mumpung hari ini jadwalku senggang di kantor."


"Aku sibuk," jawab Queenza.


"Ck! Bohong. Aku sudah tanya pada Maryam dan dia bilang kegiatanmu hari ini hanya di kantor dan tak terlalu sibuk."


Queenza berdecak sebal dengan apa yang didengar. Bisa-bisanya sang asisten memberitahu jadwalnya.


"Aku malas. Aku ingin tidur saja," ujar Queenza.


"Ayolah, Queen. Kita belum pernah ngedate loh. Come on." Abian menarik tangan istrinya.


"Aku sedang hamil besar, Abian. Aku malas jalan-jalan."


"Halah, bukannya sebelum hamil pun kamu jarang sekali pergi jalan-jalan? Hanya sibuk di kantor lalu pulang," jawab Abian seakan tahu bagaimana istrinya.


Akhirnya mau tak mau Queenza pasrah saat tangannya ditarik sang suami. Ia masuk mobil setelah dibukakan oleh Abian. Setelah lelaki itu masuk, tak lama mobil pun melaju.


Abian membawa Queenza ke salah satu mal terbesar di Ibukota. Sampai di lobby, Abian keluar dan membukakan pintu untuk istrinya, lalu menyerahkan kunci mobil pada petugas valet. Setelah itu ia menggenggam tangan istrinya dan membawa masuk.


"Mau ngapain ke mal sih?" gerutu Queenza.


Hari itu ia benar-benar mengantuk dan ingin tidur, tetapi justru dibawa ke mall.


"Kita beli sepatu untukmu. Perut sudah besar begitu masih saja pakai heels. Kamu gak takut jatuh apa?"


"Kok doainnya gitu? Kamu mau aku jatuh?" omel Queenza.


Queenza berhenti melangkah saat mendengar panggilan itu.


"Kenapa berhenti?" tanya Abian yang ditatap Queenza.


"Kamu panggil aku apa?" tanya Queenza.


Abian tersenyum. "Queen. Aku memanggilmu Queen," jawabnya tersenyum santai.


"Ck!" Queenza berjalan begitu saja tanpa menunggu suaminya. Ia kesal karena Abian tak mengaku memanggilnya Sayang.


"Queen, pelan-pelan." Abian kembali hendak menggenggam tangannya tetapi ditepis. "Kok tiba-tiba marah?"


"Siapa yang marah? Kamu tuh cowok tapi jalan lelet tahu gak!"


Keduanya akhirnya masuk ke salah satu merek sepatu ternama. Abian mengatakan pada karyawan untuk mengambil flat shoes yang paling nyaman untuk istrinya yang tengah hamil.


Beberapa karyawan membawakan beberapa sepatu tanpa hak. Entah untuk bekerja, pesta dan untuk sehari-hari.


"Kenapa banyak sekali? Lagipula setelah dua bulan aku akan melahirkan. Beli untuk bekerja saja," ujar Queenza. "Mbak, saya ambil ini saja." Ia memilih sepatu berwarna navy dan hitam kepada karyawan. "Ayo, kita bayar."


"Tunggu. Kamu duduk dulu." Abian kembali menghentikan sang istri, sedangkan dia pergi entah ke mana.

__ADS_1


Tak lama, Abian kembali. "Ayo, kita bayar."


Keduanya pergi menuju kasir. Queenza sedikit bingung karena yang seharusnya dua sepatu kenapa menjadi enam?


"Itu milikku. Sudah lama juga aku tidak membeli sepatu," kata Abian yang melihat wajah istrinya yang bingung.


"Mbak, tolong dong yang itu." Abian menunjuk dua sepatu yang akan dibungkus. Karyawan pun menyerahkannya.


"Ayo, Queen." Abian membawa istrinya untuk duduk. Sedangkan dia berjongkok.


"Kamu ngapain?" tanya Queenza saat suaminya melepaskan heels yang ia gunakan.


"Ganti dulu biar aman."


Abian mengeluarkan sepatu yang ia beli tadi. Sebuah sepatu sneaker berwarna putih lalu mengenakannya ke kaki Queenza. Setelah itu ia juga mengganti sepatunya dengan sepatu yang sama dengan istrinya.


"Lebay banget sih pake couple begini. Seperti anak remaja saja," omel Queenza.


"Ngomel tapi wajahnya berbinar gitu. Kamu tuh kenapa susah sekali bicara jujur." Abian mecubit gemas pipi Queenza yang mulai chubby karena hamil.


"Saya titip dulu, ya, soalnya mau ke tempat lain," ujar Abian pada karyawan sana dengan menyerahkan kotak sepatu berisi sepatu mereka sebelumnya.


"Baik, Pak."


Setelah itu Queenza kembali ditarik tangannya menuju toko lain. Kini, mereka ke toko pakaian.


"Ngapain lagi?" tanya Queenza.


"Ganti pakaian lah, sepatu dan pakaian kita tidak cocok."


"Astaga, kenapa tadi gak pulang dulu saja kalau mau ganti pakaian?" gerutu Queenza.


Abian tak mendengarkan omelan istrinya. Ia fokus mencari pakaian untuknya dan Queenza. Lelaki itu memilih kaus polos hitam dengan jaket denim serta celana jeans untuk keduanya. Awalnya Queenza menolak karena itu bukan gayanya. Namun Abian memaksa hingga keduanya cekcok. Akhirnya Queenza memilih rok selutut untuk bawahannya yang pada akhirnya disetujui Abian. Ya, daripada cekcok lagi.


Kini keduanya sudah mengganti gaya pakaian mereka. Ah, pasangan yang begitu serasi dengan Queenza yang cantik dan Abian yang tampan. Kini, lelaki itu membawa istrinya untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melakukan hal lain. Ia memutuskan untuk memilih restoran lokal karena Queenza berkata ingin makanan khas sunda. Abian pun dengan gembira membawa sang istri ke restoran sunda.


"Mau makan apa?" tanya lelaki itu yang akan mengambil karena restoran tersebut adalah restoran prasmanan.


Queenza puenyebutkan apa saja yang ingin ia makan. Lalu Abian berjalan mengatakan pada pelayan untuk mengambil makanan yang dipesannya. Setelah itu pelayan menghitung semua dan membawa ke meja mereka.


Wanita cantik itu tersenyum dengan mata berbinar melihat makanan yang sejak seminggu ini ingin sekali ia makan. Setelah itu keduanya makan bersama. Sesekali mereka berbincang tentang kantor dan urusan lainnya.


"Sudah kenyang?" tanya Abian yang diangguk Queenza. "Mau lanjut apa masih mau di sini?" tanyanya lagi.


"Mau ke mana lagi? Aku ngantuk mau pulang," keluh Queenza.


"Ada satu tempat lagi yang ingin sekali aku kunjungi denganmu, Queen. Ayolah."


"Ck! Kamu menyebalkan tau gak! Ayo." Queenza beranjak, membuat suaminya tersenyum.

__ADS_1


Setelah membayar, keduanya keluar dari restoran dan berjalan menuju tempat yang ingin Abian kunjungi bersama Queenza.


__ADS_2