
Malam pun tiba. Queenza telah selesai bersiap menyambut teman-temannya. Ia mengenakan dress abu-abu kasual dengan rok selutut dan lengan panjang. Rambut indahnya sengaja ia urai agar terkesan fresh. Sejak tadi Abian berdecak melihat penampilan istrinya yang terlihat begitu manis.
"Ganti baju deh. Kamu jelek menggunakan itu," ujar Abian tak suka.
"Masa sih? Ah perasaan kamu saja. Ini dress baru aku beli dan Maryam berkata ini cocok untukku," jawab Queenza yang masih menyisir rambutnya.
"Ck! Maryam dipercaya."
Queenza menatap suaminya yang kini bersandar di tembok. "Aku lebih percaya Maryam daripada kamu!"
Tak lama pelayan mengatakan bahwa teman-teman Queenza telah datang. Akhirnya sepasang suami istri itu keluar dari kamar untuk menyambut mereka.
"Hey. Selamat datang." Queenza menyapa keenam temannya termasuk Shraddha yang berulang tahun tadi malam.
"OMG! Queen! Mansionmu benar-benar luar biasa," sahut Angela.
"Angel, Queenza ini pemilik stasiun televisi terbesar di Indonesia. Wajar jika mansionnya megah seperti ini," kekeh Shraddha.
"Kamu kalah kaya dong," sahut Michael.
"Shraddha sih masih selalu manja pada papanya. Entah kapan dia akan mandiri," ujar Sky.
"Sky, aku ini anak perempuan satu-satunya. Papaku juga kaya raya, jadi untuk apa aku kerja keras? Aku hanya perlu menadahkan tangan, Papa akan memberi. Enak sekali memang hidup menjadi Shraddha," ujar wanita India itu membuat teman-temannya tertawa.
"Baiklah, kita lanjutkan berbincangnya di halaman belakang. Aku sudah menyiapkan banyak makanan."
Mereka pun bergerak menuju halaman belakang yang memang sudah disiapkan Queenza. Begitu banyak makanan dan minuman yang telah disediakan. Belum lagi daging serta sayuran untuk barbeque.
"Wah, banyak sekali," ujar Ellen melihat makanan yang disediakan.
"Kekayaan Queenza tak diragukan. Padahal saat kuliah justru dia yang paling kerja keras kerja sana-sini, ternyata justru dia yang paling kaya. Memang beda vibes orang sukses," sahut Tony. "Tahu gini sejak dulu aku pacari Queenza," kekehnya yang justru dipukul kepalanya oleh Michael.
"Jangankan kamu, Sky saja dihempasnya." Semua orang tertawa mendengar ucapan Michael. Membully Sky yang cinta tak terbalas memang sudah biasa untuk mereka. Sky ataupun Queenza sendiri tak mempermasalahkan itu, sehingga mereka selalu bercanda terhadap keduanya.
"Oh ya, bagaimana kamu bertemu dengan suamimu, Queen? Suamimu sangat tampan," bisik Angela.
__ADS_1
"Aku merebutnya dari adik sambungku," sahut Queenza yang tenang meneguk jusnya.
Berbeda dengan Queenza, Abian yang justru tersedak mendengarnya. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu tanpa memfilternya.
"Hahaha bercandamu ini menyeramkan, Queen," gelak Ellen.
"Dia tidak bercanda. Abian memang mantan suami saudara sambungnya. Kau ingat semalam kamu bilang ada wanita yang begitu cantik dengan wajah imut? Itu saudara sambung Queenza dan mantan istri Abian," ujar Shraddha tanpa merasa bersalah pada Abian yang kini salah tingkah dan tak nyaman.
Mereka memang selalu berbicara tanpa memfilter, sebab sangat saling percaya. Queenza sendiri tak masalah dengan perkataan Shraddha karena memang benar dia merebut Abian dari Ayyara.
"Gila kau Queen. Andai aku jadi adikmu, sudah aku gantung di monas," kekeh Ellen.
"Kau tahu Monas?" tanya Queenza.
"Tahu! Kemarin sebelum acara ulang tahun shraddha, dia mengajak kita keliling."
Mereka pun berbincang banyak hal. Abian sendiri merasa tak nyaman dengan pembicaraan mereka yang menurutnya terlalu bebas. Maklum saja bahwa Abian hanya orang biasa yang tak tahu bagaimana pergaulan di luar negeri. Ia hanya diam atau sesekali membakar daging untuk istrinya.
"Hey," sapa Sky pada Abian.
"Oh hi." Abian tersenyum, lalu melanjutkan membakar daging.
"Iya."
"Queenza tidak suka daging berlemak. Kamu lebih baik membakar yang ini." Sky menyerahkan piring dengan daging tanpa lemak pada Abian.
"Oh, terima kasih," jawab Abian menerima. Bisa-bisanya dia tak tahu kesukaan istrinya sendiri. Bodoh!
"Queenza terlihat sedikit ceria dari sebelumnya. Sepertinya dia nyaman denganmu," kata Sky yang sama sedang membakar daging untuk teman-temannya. "Mungkin karena berhasil merebut suami adiknya kali ya," kekehnya. "Bercanda, Bro." Ia meninju lengan Abian.
"Tapi aku tidak bercanda. Queenza terlihat lebih bersahabat daripada dulu, meski masih dingin dan menyebalkan dengan tatapannya itu," ujar Sky.
Abian tersenyum pertanda setuju dengan ucapan lelaki bule tersebut. Tatapan Queenza memang sangat menyebalkan dan sangat dingin, sehingga kadang bingung harus bereaksi bagaimana saat ditatap wanita itu.
Setelah selesai memanggang, Abian kembali ke gazebo dan duduk di samping istrinya. Ia meraih sumpit dan mengsmbil daging tersebut lalu menyuapkan pada sang istri. Queenza sempat terkejut tetapi ia terima juga dengan melanjutkan berbincang bersama sahabat-sahabatnya. Lelaki itu terus menyuapi membuat Queenza kesal karena perutnya sudah penuh.
__ADS_1
"Aku sudah kenyang, Bian. Mau kamu buat aku sekenyang apa lagi?" ujar Queenza saat Abian menyuapi daging tersebut.
"Kamu harus makan banyak, Queen. Kan dua orang yang membutuhkannya."
"Ya jangan berlebihan juga. Dokter menyarankan secukupnya, Abian Martadinata."
"Baiklah, minum ini, Queenza Safaluna Kusuma." Abian menyerahkan jus jeruk pada sang istri.
Teman-tema hanya terkekeh melihat perhatian Abian pada teman wanitanya itu.
Pesta barbeque mereka berlangsung sampai tengah malam. Setelah itu, semua pamit karena besok harus terbang ke negara masing-masing karena tuntutan pekerjaan. Selepas semua bubar, Queenza dan Abian pun masuk kamar. Seperti biasa, wanita itu akan membersihkan diri karena merasa tubuhnya bau asap.
"Harus banget mandi ya? Ini tengah malam loh, Queen."
"Ya mau bagaimana lagi, aku merasa risih dengan bau asapnya. Aku juga akan mandi dengan air hangat. Tenang saja." Queenza pun berjalan menuju kamar mandi.
Tak terlalu lama, akhirnya ia keluar dengan piyama yang sudah menempel di tubuhnya. Setelah itu ia membaringkan diri di atas tempat tidur bersebelahan dengan sang suami.
"Capek?" tanya Abian.
"Lumayan, tapi seru. Sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka," jawab Queenza.
Abian berbalik hingga kini keduanya saling berhadapan dengan tangan lelaki itu di pipi sang istri.
"Aku baru melihat sisi lain dari istriku saat bersama mereka. Meski masih terlihat menyebalkan, tetapi aku merasa bahwa kamu sangat nyaman dengan mereka."
"Memang, saat aku terpuruk dulu, merekalah yang mensupportku. Terutama Sky. Saat aku pindah ke Swiss dan kuliah di sana, itu saat-saat menyedihkan untukku. Aku pergi ke sana dengan membawa luka yang dalam. Sempat beberapa kali aku depresi dan hampir bunuh diri. Tapi, karena Sky yang selalu bersamaku, dia selalu menggagalkan semuanya. Dia juga yang selalu memotivasiku untuk tetap hidup. Dia itu pahlawan untukku," ujar Queenza bercerita.
"Jika dia begitu penting untukmu, kenapa kamu tidak bersamanya?" tanya Abian sedikit ketus.
"Perasaan itu tidak bisa dipaksakan. Dia memang selalu memotivasiku, tetapi aku tak ada rasa ingin memilikinya. Makanya aku melepasnya karena jika terus membohongi perasaan dia, itu sama saja menyakitinya. Satu-satunya orang yang tidak ingin aku sakiti adalah dia. Jadi, lebih baik kita begini," jawab Queenza menutup matanya. Wanita itu saat bicara memang blak-blakan sehingga tak ada kecurigaan untuk Abian.
"Jadi, bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Abian pada istrinya yang mulai memejamkan mata karena sangat mengantuk.
"Aku nyaman bersamamu, Bian. Sudah begitu lama akhirnya aku merasakan kenyamanan lagi di samping seseorang," jawab Queenza setengah sadar, lalu ia terlelap.
__ADS_1
Mendengar perkataan istrinya, ada seuntai senyum yang Abian tunjukkan. Entah mengapa hatinya seakan berbunga saat Queenza berkata dia nyaman bersamanya. Dengan perasaan bahagia, ia menarik tubuh sang istri dan membawanya ke dalam pelukan. Ia kecup berulang kali kening Queenza dengan pelukan yang sangat erat.
"Aku janji akan semakin membuatmu nyaman, Queen. Aku tidak mau Sky merebutmu dariku. You're mine and ever mine."