Queenza

Queenza
Bab 59


__ADS_3

Setelah menenangkan Ayana, Queenza masuk kamarnya. Terlihat Abian tersenyum menatap sang istri yang tampak cantik dengan gaun malam berwarna merah mudanya, setelah melepas kimono. Lelaki tampan itu menarik tangan sang istri hingga Queenza terduduk dalam pangkuannya.


"Kamu sangat cantik, Sayang," puji Abian menyelipkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah sang istri dengan tatapan menggodanya.


"Oh ya?" Queenze tersenyum seraya memeluk leher suaminya.


"Of course. Istri Abian Martadinata adalah wanita tercantik di dunia dan akhirat. Bidadari cantik yang paling kucintai," kata lelaki itu dengan senyuman manisnya.


"OMG, aku meleleh." Queenza pura-pura menjatuhkan kepalanya di dada bidang sang suami seakan benar-benar meleleh. "Mas kenapa manis banget sih kata-katanya. Aku jadi curiga Mas punya wanita lain di luar."


"Astaga, Anda terlalu suudzon, Nyonya Abian. Mana berani Tuan Abian menduakan Anda? Ck! ck! ck!" Lelaki dengan piyama satin berwarna biru itu menggeleng. "Aku masih mau hidup, mana berani menduakan harimau menyeramkan," katanya dengan menahan senyum.


"Apa!" Queenza melotot mendengarnya. Ia tak terima dibilang harimau menyeramkan seperti itu.


"Hahahaha bercanda, Sayangku." Dengan gemas Abian mengecup pipi istrinya. "Wajahmu sangat imut ketika kesal begitu." Ia mengusap lembut pipi tirus yang sangat glowing tersebut.


"Abian Martadinata, apa Anda bosan hidup?" tanya Queenza dengan memicingkan mata.


"Uluuuuu anaknya Mama Charlotte kenapa manis gini sih?" Kini kedua pipi Queenza menjadi korban cubitan gemas sang suami.


"Mas nyebelin, ah." Wanita bergaun seksi itu hendak beranjak, tetapi ditahan Abian dan justru dibaringkan dengan tubuh sang lelaki di atas.


"Sepertinya kita perlu memberikan Tatjana adik," bisik Abian dengan smirknya.


"Enak saja! Aku gak mau kejadian yang menimpa Tatjana terulang lagi," kata Queenza memukul bahu sang suami. Awalnya ia hanya bercanda, tetapi Abian menganggapnya serius dan mengingatkannya pada kejadian mengenaskan itu.

__ADS_1


Lelaki itu pun beranjak dan duduk mengusap wajahnya. Melihat reaksi sang suami, Queenza pun duduk dengan menatap lelaki yang dicintainya.


"Aku bercanda," kata Queenza memeluk pinggang sang suami.


"Maaf," lirih Abian.


"Aku sudah memaafkan masa lalu kita," jawab Queenza yang menopang dagunya di bahu sang suami.


"Aku memang bukan suami dan ayah yang baik," lirih laki-laki itu lagi dengan wajah sendu.


"Mas, kamu sudah menjadi suami dan ayah yang baik. Jangan baper, ah. Maafin aku ya, yang bicaranya menyakiti hatimu," kata Queenza dengan menempel pada suaminya. "Aku tidak bermaksud seperti itu."


"Aku benar-benar menyesal dengan kejadian itu. Makanya aku berdoa semoga Allah memberikan kita anak lagi, supaya aku bisa menebus semua kesalahan di masa lalu. Aku ingin memberikan teman untuk Tatjana," kata Abian yang kini memeluk istrinya.


"Andai Allah mempercayai kita untuk memiliki anak lagi, tentu saja Mas ingin, Sayang," jawabnya semakin mengeratkan pelukan wanita yang selalu membuatnya tergoda itu.


"Jadi, ayo kita produksi," ujar Queenza tersenyum.


"Hah?" tanya Abian terkejut.


"Hah hoh hah hoh. Ayo, kita berikan adik untuk Tatjana," kata Queenza melepas pelukannya dan menatap sang suami. "Aku sadar, dalam agama kita, Tatjana bukanlah anakmu. Itu semua atas kesalahan masalalu yang aku buat. Kini, aku ingin menebus kesalahanku padamu atas masalalu yang aku lakukan dengan cara memberimu anak sebanyak yang kamu mau," katanya dengan berkaca-kaca.


Sungguh, saat ia tahu hukum anak di luar nikah, ia sangat merasa hancur. Ia merasa menjadi wanita terjahat di dunia. Bagaimana bisa ia membuat anaknya tak memiliki ayah secara sah. Bagaimana ia bisa membuat anak dan ayahnya menjadi orang yang tak memiliki ikatan dalam nasab. Andai ia tahu tentang ini dulu, pasti tak akan melakukan kebodohan seperti ini. Namun, ia juga tak bisa mengulang apa yang telah terjadi dan hanya bisa bertobat atas apa yang dilakukannya.


Seperti sekarang ia berjanji akan memberikan anak pada suaminya yang benar-benar anak dengan nasabnya.

__ADS_1


"Tapi janjilah, ketika kita memiliki anak lagi, jangan pernah mengabaikan Tatjana."


"Allah, kamu bicara apa, Sayang? Tatjana anakku. Bagaimana bisa kamu berkata seperti itu?" tanya Abian menatap istrinya.


"Jujur, aku takut kamu akan melupakan Tatjana saat memiliki anak lain yang bernasab padamu," kata Queenze menunduk. "Aku tahu aku sangat buruk, semua yang terjadi pada Tatjana atas kesalahanku. Namun, aku menyesal. Aku tidak tahu bahwa apa yang aku lakukan sangat merugikan Tatjana," ujarnya dengan air mata yang menetes.


"Sayang ...." Abian menghapus air mata istrinya. "Jangan bicara seperti itu. Apa yang terjadi sudah menjadi takdir. Begitu juga untuk anak kita. Ini takdir yang akan mengantarnya menjadi wanita kuat. Kamu jangan merasa bersalah seperti ini. Allah itu Maha Pengampun. Selagi kita bertobat, sebesar dan sebanyak apa pun kesalahan kita, Allah akan memaafkan. Untuk Tatjana sendiri, ia pasti akan tetap bangga menjadi anakmu. Jangan menangis, Sayang. Ini juga kesalahanku yang dulu tak bisa menahannya."


Keduanya saling berpelukan dengan Queenza yang menangis dalam dekapan sang suami.


"Kok Kita jadi sedih-sedihan gini, sih? Katanya mau buatkan Tatjana adik. Mana bisa dibuat dengan perasaan sedih, hhmm?" tanya Abian melerai pelukannya seraya menatap sang istri.


"Mas ih," rengen Queenza yang membuat Abian tertawa.


"Kita semua memiliki masalalu. Baik itu buruk atau tidak. Kita harus jadikan pelajaran untuk merubahnya di kemudian hari. Jadi, bahagialah istriku. Apa yang kamu lakukan atas ketidak tahuan. Jadi, insyaAllah semua akan baik-baik saja. Andai Tatjana tak menerima, itu akan menjadi cobaan untuk kita kelak dan pasti kita bisa melaluinya. Sudah, jangan bersedih. Rasa sedih itu tak cocok untuk Queenza Safaluna Abian," kata lelaki itu mengedipkan mata, membuat sang istri tersenyum dan kembali memeluk suaminya dengan sangat erat.


"I love you, Mas. Aku tidak pernah merasa menyesal merebutmu dari Ayana."


Tanpa Queenza tahu, dibalik pintu kamarnya, Ayana tengah berdiri. Air matanya jatuh dengan tubuhnya yang luruh. Ia menutup mulut untuk meredam suara yang berontak untuk keluar.


Andai dulu aku mempertahankanmu, Mas. Hidupku tak akan sesakit ini, batin Ayana menangis meratapi hidupnya. Ya Allah, kenapa Engkau memberiku cobaan seberat ini? Aku tak sanggup.


Dengan hati yang hancur, Ayana beranjak dan melangkahkan kakinya menuju kamar. Di ruangan berukuran sepuluh meter persegi itu ia menangis, meratapi hidupnya yang begitu kacau. Ia pikir, setelah menikah lagi, hidupnya akan kembali bahagia, nyatanya justru lebih menderita dari sebelumnya.


Apa salahku hingga hidupku seperti ini? Apa salahku, Ya Allah? tanyanya dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2