Queenza

Queenza
Kerinduan seorang ayah


__ADS_3

Hari kepulangan Abian pun datang. Ia disambut begitu hangat oleh keluarganya. Saat sampai di mansion, terlihat pemandangan yang terasa asing tetapi begitu mengharukan. Di dalam, ada anak kesayangannya, juga Nana, dan yang paling spesial ada Aarav, Sarah juga Ayyara dan Saad—suami Ayyara.


Satu tahun lalu Ayyara memang memutuskan untuk menikah dengan salah satu produser ternama. Saad sendiri adalah anak tertua Rajesh dan yang pasti kakak daei Shraddha, sahabat Queenza.


Abian menatap istrinya yang setia mendorong kursi rodanya. Ia meraih tangan wanita cantik itu dan mengecupnya, mencoba menenangkan Queenza karena kedatangan orang tuanya. Ia tahu bahwa Queenza juga tak tahu tentang kejutan ini. Terlihat dari wajahnya yang cukup terkejut saat melihat Aarav dan Sarah.


"It's okay," ujar Queenza lalu mendorong kembali kursi rodanya.


"Ayah!" Tatjana berlari begitu bahagia saat melihat ayahnya yang sudah pulang. Ia memeluk Abian dengan begitu erat, membuat lelaki itu meneteskan air matanya.


"Loh, Ayah kok nangis?" tanya Tatjana mengusap air mata lelaki pertamanya.


"Ayah kangen sekali dengan Anna. Sini, peluk lagi."


Sang anak pun dengan ceria kembali memeluk ayahnya.


Setelah itu, semua orang menghampiri Abian dan mengucap syukur karena ia selamat dan berdoa semoga segara bisa berjalan lagi.


Selepas berbincang, Queenza mengajak mereka menuju ruang keluarga dan meminta para pelayan menyiapkan makanan.


Aarav menatap mansion itu dan tiba-tiba teringat sesuatu.


"Sayang, bagaimana?" tanya Charlotte pada Aarav menunjukkan mansion itu.


"Sangat bagus," jawab Aarav tersenyum.

__ADS_1


"Ini adalah hadiah untuk anak kita. Dia sangat suka rumah berdesain kerajaan. Because she's my Queen, so I'll give her the kingdom," kata Charlotte memeluk suaminya. "Apa dia akan suka?" tanyanya.


"Tentu, Chérie. Queen pasti suka apa pun yang kamu berikan padanya." Aarav mengecup lembut ujung kepala istrinya.


Charlotte menatap suaminya dengan intens. Ia tersenyum dengan begitu hangatnya. "Sayang, apa kamu mencintaiku?"


Aarav menautkan alisnya mendengar pertanyaan istrinya. "Hobi sekali bertanya seperti itu." Lelaki bermata biru itu menjawil hidung bangir sang istri.


"Jawab aku, apa kamu mencintaiku?" tanya wanita cantik itu lagi dengan sedikit merengek.


"Astaga, Queenza sudah berusia sepuluh tahun, masih saja mamanya manja seperti ini." Aarav mencubit gemas pipi wanita berusia tiga puluh lima tahun itu. "Chérie, tentu saja aku mencintaimu. Jika tidak, untuk apa kita bersama seperti sekarang?"


"Sungguh?" tanya wanita itu berbinar.


"Hmmmmm dengan cara ini." Charlotte menarik dasi suaminya, lalu membawa lelaki itu ke salah satu kamar di sana.


"Mas Aarav."


Lamunan lelaki paruh baya itu buyar saat Sarah menepuk bahunya. Ia menatap sang istri yang menatapnya dengan heran.


"Loh, Mas kok nangis?" tanya Sarah khawatir.


Aarav menghapus air mata yang terjatuh tanpa ia sadari. Semua orang akhirnya menatap Aarav, termasuk Queenza. Lelaki itu pun tersenyum pada sang anak.


"Tidak apa-apa. Aku hanya merindukan anakku," ujar Aarav yang tak lepas memandang sang anak yang sudah lama sekali tak ia rasakan kasih sayangnya.

__ADS_1


"Mas, aku ke sana dulu, ya." Queenza pamit pada suaminya. Entah mengapa dadanya terasa sesak melihat tatapan Aarav padanya. Tatapan yang begitu merindu sehingga menusuk hatinya.


Wanita cantik itu pergi ke halaman belakang. Ia menghela napas dan membuangnya secara perlahan.


12 tahun, waktu yang tak sebentar untuk tak merasakan kasih sayang seorang ayah. Bukan Queenza tak merindukan papanya, tetapi rasa kecewa begitu besar terhadap lelaki yang dulu begitu ia cintai tersebut. Saat mencoba menenangkan perasaannya. Tiba-tiba seseorang memeluk Queenza dari belakang.


"Papa sangat merindukanmu, Nak," lirih Aarav yang memeluk anak tunggalnya. "Kamu tahu, saat Papa masuk mansion ini, bayangan mamamu hadir begitu saja. Ia tampak bahagia saat membeli mansion ini dan Papa bisa merasakan keceriaannya lagi di sini," lirih Aarav. "Papa merindukannya juga, Queen. Papa sangat mencintainya."


Air mata Queenza terjatuh. Bukan terharu, justru kata-kata lelaki itu membuat lukanya kembali terbuka.


"Pembohong! Jika kamu mencintainya, kamu tidak akan pernah menyakitinya!" ujar Queenza penuh penekanan. "Lepaskan aku!"


Aarav pun dengan terpaksa melepas pelukannya. Ia membalikkan tubuh sang anak dan keduanya saling tatap.


"Queen, kamu salah paham selama ini pada Papa, Nak. Papa tidak pernah menyakiti mamamu."


"Tidak menyakiti? Lalu perselingkuhanmu dengan wanita itu apa?!" sentak Queenza. "Kamu yang membuat Mama sakit dan pergi! Aku benci padamu, Aarav!"


"Queen, dengarkan penjelasan Papa dulu, Nak. Sekali ini, saja. Papa akan menceritakan segalanya tanpa Papa tutupi."


"Tidak! Buku diary Mama sudah cukup menjelaskan semuanya."


"Sayang, Papa mohon. Sekali ini saja. Papa juga akan menjelaskan tentang buku diary mamamu."


"Tidak! Aku tidak mau!" Queenza hendak pergi, tetapi Aarav menahannya. Ia menarik anaknya berjalan menuju gazebo. Kali ini, ia harus menjelaskan semuanya pada Queenza. Ia tak ingin ada kesalahpahaman lagi. Cukup sudah sang anak salah paham selama 12 tahun ini.

__ADS_1


__ADS_2