
Tiga tahu berlalu begitu cepat. Kehidupan Queenza sangat berubah sejak kehadiran Tatjana Safaluna, gadis kecil yang kini menjadi dunianya. Sejak lahirnya Tatjana, Queenza menjadi sosok yang lebih baik dan begitu hangat, setidaknya untuk sang anak. Tapi untuk orang lain, ia masih tetap sama bahkan jauh lebih dingin dari sebelumnya. Sosok wanita dewasa itu memang berbeda saat bersama sang buah hati dan orang lain.
Jika di hadapan Tatjana dia seperti malaikat, tapi di hadapan orang lain atau bahkan di hadapan orang-orang yang tak ia suka ia akan berubah menjadi sosok wanita menakutkan.
Lalu, bagaimana dengan hubungannya dan Abian? Keduanya tak jadi bercerai karena Abian yang menolak keras perpisahan itu. Hingga akhirnya Queenza menyerah. Namun, bukan Queenza namanya jika tak memberi perhitungan pada orang yang telah menyakitinya. Ia menghukum Abian jauh lebih parah dari sebuah perpisahan. Ia tak mengizinkan Abian untuk menyentuhnya dan Tatjana.
Mereka memang tinggal satu atap, tapi Queenza benar-benar tak mengizinkan Abian untuk menyentuh Tatjana meski seujung kuku.
Untuk seorang ayah, itu adalah hukuman yang sangat berat. Bagaimana sakitnya Abian yang hanya bisa memandang Tatjana tanpa bisa memeluk dan mencium putrinya. Bukan hanya itu, Queenza dan Abian tak tinggal satu kamar, keduanya tidur di tempat berbeda. Entah apa hubungan mereka, tetapi itulah keadaan rumah keduanya.
Tatjana tumbuh dengan sangat baik di tangan Queenza. Meski memiliki kelainan pada pencernaannya, tapi gadis kecil itu tumbuh dengan sangat sehat. Queenza benar-benar menjaga Tatjana dengan sangat hati-hati, bahkan ia sendiri yang selalu membuatkan makanan untuk anak kesayangannya itu. Saat bayi sampai usia satu tahun, Tatjana hanya meminum asi.
Setelah Dokter mengatakan pencernaannya mampu menerima makanan, barulah Queenza belajar memasak makanan sehat untuk anaknya. Bahkan ia belajar lagi menjadi ahli gizi demi Tatjana.
Queenza benar-benar mengurus sang anak sendirian, ia tak memiliki baby sitter atau yang membantunya karena ia sangat tak percaya jika orang lain yang merawat anaknya, sehingga selama dua tahun lamanya ia tak pergi bekerja dan hanya fokus pada Tatjana.
Lalu, bagaimana dengan Abian? Meski tak bisa menyentuh sang anak, lelaki itu cukup membantu Queenza dengan cara lain yaitu saat Tatjana masih bayi ia selalu menemani Queenza ketika wanita itu begadang menyusui sang anak. Abian juga yang membantu Queenza mengurus semua pekerjaan yang ditinggalkannya. Ia mengatur di stasiun televisi dan di perusahaan travel milik Queenza. Yang pasti, Abian benar-benar mencoba menunjukkan rasa cintanya pada Queenza dan Tatjana. Ia juga tak pernah lagi bertemu atau ikut campur urusan Ayyara karena tak ingin menyakiti istirnya.
Terlambat memang, tapi ia berusaha untuk menebus semuanya meski sampai tiga tahun ini Queenza masih belum memaafkan Abian.
Setelah Tatjana berusia dua tahun, barulah Queenza kembali ke kantor dan bekerja. Itupun Tatjana selalu ikut bersamanya. Gadis kecil itu tumbuh di stasiun televisi dan tak satupun orang yang tak tahu Si Peri Kecil yang begitu terkenal akan kelucuannya itu. Hingga usia Tatjana meninginjak 3 tahun dan harus sekolah, barulah Queenza membutuhkan orang untuk menemani sang anak. Itupun ia mencari orang yang sangat ia percaya.
Nana. Gadis panti asuhan yang dianggap adik lah yang menjadi penjaga Tatjana yang Queenza percaya. Gadis cantik itu akhirnya dibawa keluar panti oleh Queenza dan Nana pastilah sangat bahagia. Ia tak menolak saat diminta Queenza untuk menjaga anak kesayangannya.
Kepergian Nana ke Swiss pun tetap menjadi janji Queenza. Ia akan membawa Nana ke sana ketika usia Tatjana 5 tahun. Untuk sekarang, Nana berkuliah di Jakarta tetapi tak sembarangan juga dia dikuliahkan Queenza. Wanita dewasa itu memilihkan universitas internasional untuk Nana karena ia mempersiapkan adik angkatnya itu untuk nanti kuliah dan tinggal di Swiss.
"Bunda!"
"Loh, Anna. Kok ke sini?" Queenza terkejut saat melihat sang anak yang masuk ruang kerjanya.
"Anna kangen Bunda," jawab gadis kecil bermata biru itu pada sang bunda.
"Oh ya? Kalau kangen, coba sini peluk bundanya." Wanita dewasa dengan blazer itu merentangkan tangannya yang membuat sang anak berlari dan memeluk bundanya dengan sangat erat. "Bunda juga kangen sama Anna. Ke sini sama siapa?" tanya Queenza.
"Sama Kak Nana dan Om Pengawal," jawab gadis kecil itu polos.
Meski baru usia tiga tahun, tetapi Tatjana begitu faseh berbicara bahkan ia bisa beberapa bahasa karena sang bunda yang mengajarkan.
"Bunda, tadi Ayah ngajak Anna berenang," ujar Tatjana yang membuat Queenza terkejut dan merasa kesal. Bisa-bisanya lelaki itu melanggar janjinya.
"Oh ya? Anna senang tidak?" tanya Queenza yang mencoba tak menunjukkan rasa kesalnya pada sang anak.
"Senang! Ayah jago banget berenangnya. Anna diajari Ayah berenang juga."
"Kak ...."
"Na, kamu gak ada kuliah hari ini?" tanya Queenza pada adik angkatnya.
"Gak ada, Kak. Makanya aku bawa Tatjana ke sini. Uummm soalnya Mas Bian coba deketin Anna, jadi aku ajak aja ke sini," ujar Nana tak enak pada Queenza. Ia memang sudah diultimatum untuk tidak mengizinkan Abian dekat dengan Tatjana.
"Ya sudah, kamu duduk sana."
Nana pun mengangguk dan duduk di sofa. "Anna, sini duduk dengan Kakak. Jangan ganggu Bunda lagi kerja," ujar Nana yang mengajak Tatjana duduk.
"No, aku mau duduk dengan Bunda."
__ADS_1
"Ya sudah, sini naik ke pangkuan Bunda." Queena mengangkat tubuh anaknya dan mendudukkan di pangkuannya.
"Gimana sekolah Anna, Na?"
"Alhamdulillah baik-baik aja, Kak. Anna sangat senang di sekolah karena banyak temennya," jawab Nana.
"Syukurlah. Kamu harus jaga baik-baik ya, Na. Jangan sampe ada yang kasih makanan ke Anna, apalagi cokelat. Anna alergi sama cokelat."
"Siap, Kak. Aku juga sudah kasih tahu gurunya Anna soal itu. Mereka akan menjaga Anna saat dalam kelas."
"Good," jawab Queenza.
Akhirnya sepanjang hari mereka berada di kantor Queenza. Tatjana pun mengajak Nana untuk berkeliling stasiun televisinya karena bosan di dalam ruangan sang bunda. Selama masih di area kantor, Queenza sendiri tak mempermasalahkan selagi diawasi.
"Wah ada Peri Kecil. Cantik sekali Tatjana. Lagi nemenin Bunda kerja ya?"
Itulah pertanyaan karyawan dan para artis yang bertemu gadis kecil itu. Tatjana menjadi warna baru di stasiun televisi tersebut membuat banyak orang begitu menyayanginya. Terkadang gadis kecil itu ikut dalam acara live karena suka tiba-tiba masuk ke dalam studio. Tatjana pun cukup terkenal seakan dia adalah artis cilik padahal ia hanya suka ikut-ikutan saja.
"Tatjana."
"Tante Ayya!" Tatjana berlari menghampiri tantenya dengan begitu bahagia. Ia memeluk wanita cantik itu dengan erat.
"Kok ada di sini? Nemenin Bunda kerja ya?"
"Iya, Anna kangen Bunda, jadi ke sini," jawabnya polos.
"Anna, kita ke ruangan Bunda, yuk. Kan sebentar lagi mau pulang," ujar Nana yang mencoba menjauhkan Tatjana dari Ayyara.
"Ayo! Tante, Anna ke ruangan Bunda dulu ya. Bye." Gadis cilik itu melambaikan tangannya pada Ayyara.
"Loh, kok sudah masuk lagi? Bosan?" tanya Queenza saat sang anak kembali masuk.
"Kak Nana bilang Bunda ngajak pulang," jawab gadis kecil itu.
"Ummmm, itu ... tadi ada Kak Ayya yang dekati Anna. Jadi, aku bilang gitu."
Queenza pun mengangguk paham. "Baiklah, Peri Kecil mau pulang?" tanya Queenza tersenyum pada sang anak.
"Mau! Aku mau Bunda buatkan aku cookies."
"Tatjana mau cookies?" tanya Queenza.
"Mau! Mau!" teriaknya kegirangan.
"Oke, kita pulang sekarang dan buat cookies."
"Yeay!" Gadis kecil itu loncat kegirangan begitu bahagia.
"Maryam, kamu handle dulu ya meeting nanti," ujar Queenza pada asistennya yang kebetulan di sana.
"Baik, Nyonya."
Queenza pun beranjak dan mengajak sang anak untuk pulang. Untuknya, apa pun yang diminta Tatjana akan selalu dikabulkan. Jangankan untuk pualng cepat, bahkan nyawanya pun akan diberikan untuk anak kesayangannya.
Sampailah mereka di mansion. Tatjana berlari masuk dengan wajah yang ceria. Gadis kecil itu disapa para pelayan dan ia mengatakan bahwa akan membuat cookies dengan bundanya.
__ADS_1
"Tatjana."
"Ayah sudah pulang?"
"Iya, Sayang. Anna dari mana?"
"Dari kantor Bunda," jawab Tatjana bahagia. "Anna mau buat cookies dengan Bunda."
"Oh ya? Wah senangnya."
"Kkhhmmmm."
Abian menoleh saat mendengar deheman itu.
"Anna, ganti baju dulu dengan Kak Nana ya. Setelah itu kita buat cookiesnya," ujar Queenza lembut pada sang anak.
"Oke. Ayo, Kak."
Tatjana pun menarik tangan Nana untuk pergi menuju kamarnya. Queenza pun berdiri, lalu menatap suaminya dengan datar.
"We need to talk. Ikut aku," ujar Queenza dengan tatapan dinginnya berjalan menuju ruang kerja yang diikuti suaminya.
Sampai di dalam, Queenza menutup pintu dan menatap tajam Abian.
"Jangan buat aku melakukan hal buruk padamu, Bian!" ujar Queenza dengan tatapan amarahnya.
"Ada apa, Queen?" tanya Abian bingung.
"Jangan sok bodoh. Kamu pikir aku tidak tahu kamu mengajak Tatjana berenang? Sudah aku katakan, jangan pernah menyentuh anakku!" bentak Queenza penuh amarah.
"Queen! Dia anakku juga, aku berhak menyentuhnya!"
"Hak? Kamu bicara hak denganku saat kamu lupa dengan kewajibanmu. Bagaimana kamu dulu hampir membunuhnya. Saat itu hakmu telah hilang, Bian!"
"Queen, sampai kapan kamu begini? Sampai kapan kamu menghukumku? Aku sudah berusaha untuk menebus segalanya untuk kalian, apa kurang cukup?" tanya Abian.
"Aku tidak pernah meminta itu semua!"
"Queen! Bagaimana caraku untuk meminta maaf padamu? Katakan, Queen! Aku merindukan kalian, aku merindukanmu, Queen."
"Merindukanku?" tanya Queenza dengan tawa sinisnya. "Aku siapa di hidupmu, Bian? Nothing!"
"Kamu istriku, Queenza. Kamu cintaku." Dengan cepat Abian menarik tengkuk leher Queenza dan mencium bibirnya. Ciuman yang cukup ganas membuat wanita itu kewalahan. Berulang kali ia mendorong bahkan memukul dada Abian tapi tak lelaki itu pedulikan.
Dengan penuh amarah, Queeza menggigit bibir Abian hingga berdarah dan terlepas lalu ia menampar lelaki itu dengan emosi. "Brengsek! Berani kamu menyentuhku sekali lagi, akan aku jebloskan ke penjara."
"Lakukan sesukamu, Queen! Bahkan kamu ingin membunuhku pun aku rela jika kamu memaafkanku. Katakan apa yang harus aku lakukan untuk mendapat maafmu, Queen? Jangan siksa aku seperti ini." Abian menangis berlutut di depan Queenza. "Aku mohon jangan siksa aku seperti ini. Aku hancur, Queen." Lelaki itu menunduk terisak di bawah sana. "Aku sangat mencintaimu bahkan melebihi rasa cintaku yang dulu. Aku rela melakukan apa pun untukmu. Aku mohon beri aku kesempatan." Abian menggenggam tangan istrinya dengan tatapan yang sangat sedih.
Queenza sendiri membuang pandangan dan tak ingin melihat Abian. Ia takut menjadi lemah dan memaafkan laki-laki itu.
"Kesempatanmu sudah hilang sejak tiga tahun lalu. Kuperingati sekali lagi. Jangan pernah menyentuhnya, atau aku akan pergi ke pengadilan dan kita berpisah. Kali ini aku tidak main-main, Abian! Jika kamu melanggar janjimu lagi, aku akan membawa Tatjana pergi dan menjauh darimu. Ingat itu."
Queenza melangkah pergi keluar dari ruangan itu meninggalkan suaminya yang masih terisak.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan maafmu, Queen?" tanyanya dalam isakan.
__ADS_1