Queenza

Queenza
Bab 73


__ADS_3

Waktu keberangkatan Queenza, Nana dan Tatjana pun datang. Pukul sepuluh malam mereka akan take off dengan menggunakan jet pribadi Queenza. Kini semua tengah berada di bandara menunggu pesawat siap. Sepanjang menunggu, Abian tampak terus memeluk Queenza. Ia enggan sekali berpisah dengan wanita kesayangannya itu. Sejak hubungannya membaik, mereka tak pernah berpisah lama kecuali jika Abian atau Queenza ada perjalanan bisnis yang ditinggal beberapa hari saja. Namun, kini mereka akan berpisah kurang lebih tiga bulan yang pasti berat untuk Abian.


"I'll miss you, Sayang," bisik Abian yang terus merangkul bahu istrinya.


"I'll miss you too, Mas."


"Jangan lama-lama di sana, aku bisa sesak napas tanpamu, Sayang. Kamu itu napasku," kata Abian tersenyum.


"Lebay," sahut Queenza yang dibalas kekehan.


Melihat kemesraan keduanya, ada dua wanita yang merasa tak enak. Jika Nana merasa sedikit sesak dan berusaha menutupi dengan bermain bersama Tatjana, berbeda dengan Ayyara yang merasa muak melihatnya. Abian dan Queenza adalah dua orang yang akan ia hancurkan dengan tangannya sendiri. Itulah dalam pikirannya.


Petugas informasi pun memberi informasi agar Queenza dan lainnya segera naik pesawat sebab mereka akan lepas landas dalam tiga puluh menit.


Semua orang berdiri dan berjalan menuju area pesawat dengan sepasang suami-istri yang saling bertautan tangan.


"Jika aku ada waktu senggang, aku akan ke sana. Sekalian bulan madu," bisik Abian. "Selama menikah, kita tidak pernah benar-benar bulan madu. Kita akan menikmati keindahan Swiss dengan penuh cinta," kata Abian mengusap pipi istrinya.


"Khhmmmm kenapa awan berubah merah muda ya?" kekeh Nana membuat Queenza tertawa.


"Sudah ah, kamu ini. Cepat masuk." Queenza mendorong pelan gadis cantik yang mengenakan tas gendong itu.


"Aku pergi dulu ya, Kak. Nanti kita ngobrol drakor lagi." Nana memeluk Ayyara.


"Pasti. Kamu hati-hati. Nanti kalau Kakak libur, kakak datang ke sana." Ayyara pun membalas pelukan Nana.


Queenza pun berpamitan pada adik sepupu sekaligus adik sambungnya itu.


"Jaga dirimu. Kamu jangan bertemu Saad dulu. Jika dia macam-macam, katakan pada Kakak," ujar Queenza masih mencoba memberi perhatian.


"Terima kasih, Kak. Semoga kalian selamat sampai sana dan segera kembali," jawab Ayyara memeluk balik sang kakak.


Setelah itu, Queenza berpamitan pada suaminya. Wanita cantik dengan balutan kemeja satin putih tulang dengan celana kain merah muda itu memeluk Abian dengan begitu mesra. Begitu juga sang suami yang memeluk erat istrinya.


"Jangan lupa mengabariku saat sampai," kata Abian.


"Of course, Sayang. Jaga diri juga, jangan memforsir tubuhmu demi pekerjaan. Aku akan berusaha pulang sesegera mungkin. I love you, Mas." Queenza mengecup rahang suaminya.


"I love you too and I'll miss you so much." Abian pun mencium semua sudut wajah istrinya.


Ayyara sendiri hanya menatap sinis sepasang suami-istri tersebut.


Kembalinya kau ke Indonesia, semua akan berubah, Queenza! batin Ayyara menatap kakaknya yang berjalan masuk pesawat

__ADS_1


Abian sendiri menatap sang istri yang sudah masuk pesawat. Beberapa kali ia menghela napas. Ia dan Ayyara masih di sana sampai pesawat take off. Setelah lepas landas, Abian hendak pulang, tetapi tiba-tiba ia menangkap tubuh Ayyara yang limbung.


"Ayya, kamu kenapa?" tanya Abian.


"Kepalaku pusing banget, Mas," jawab wanita itu lirih.


"Manager dan supirmu mana?"


"Aku ke sini kan bareng kalian tadi, Mas," jawab Ayyara.


"Ah, iya juga. Ya sudah, aku antar. Kamu mau ke mana? Ke rumah mama dan papa atau ke ke mana?"


"Ke apartment kita. Ah, maksudnya ke apartemen yang dulu," jawab Ayyara. "Aku akan tinggal di sana."


Sedikit canggung, tetapi akhirnya Abian dengan terpaksa mengantarkan mantan istrinya itu ke apartemen mereka dulu.


Di pesawat sendiri, ketiga wanita beda generasi itu tengah sibuk masing-masing. Queenza yang sibuk berbincang dengan asistennya, Mario. Sedangkan Tatjana dan Nana sibuk mencicipi cake yang disediakan.


"Jangan lupa hubungi semua divisi untuk meeting esok hari. Saya tidak ingin mengulur waktu," ujar Queenza pada Mario dengan bahasa Perancisnya.


"Baik, Miss," jawab Mario. "Saya juga sudah menghubungi para investor. Mereka akan hadir dalam rapat esok," katanya dengan bahasa Perancis.


"Good. Untuk bahan meeting jangan lupa berikan pada saya setelah kita sampai," kata Queenza lagi, lalu menyerahkan map yang diberikan Mario tadi.


"Hey, jangan makan banyak-banyak," sahut Queenza menatap anak dan adiknya yang begitu antusias memakan dessert.


"Ini aman, Kak. Pramugari bilang, ini rendah gula dan menggunakan tepung gandum, mereka membuat khusus untuk Tatjana," sahut Nana yang melahap red velvetnya.


"Bunda coba, ini enak." Tatjana menyuapi cheese cake pada ibunya. "Ini cake kesukaan Ayah."


Queenza tersenyum mengusap kepala anaknya. "Ana sayang ayah?" tanyanya.


"Sayang. Sayang Bunda juga," jawab Tatjana berbinar.


"Dengan Kakak tidak sayang?" tanya Nana.


"Sayang! Ana sayang semua." Tangan bocah kecil itu direntangkan lebar-lebar membuat Queenza dan Nana tertawa.


"Sweet girl." Queenza mencium gemas pipi anak kesayangannya itu.


**


Abian dan Ayyara telah sampai. Lelaki itu merangkul Ayyara yang terlihat lemas. Beberapa kali mereka hampir jatuh, untung Abian bisa seimbang.

__ADS_1


"Kita ke rumah sakit saja, ya. Kayaknya kamu dehidrasi," ujar Abian khawatir.


"Gak usah, Mas. Aku istirahat sebentar juga baikan," jawab Ayyara yang terlihat begitu lemas.


"Allahu," gumam Abian saat keduanya hampir terjatuh. "Maaf, sepertinya aku harus menggendongmu. Kamu susah jalan gitu." Dengan cepat Abian menggendong sang mantan istri dengan gaya bridal lalu membawa masuk lift yang telah terbuka. Sedangkan Ayyara hanya tersenyum, melingkarkan tangannya di leher Abian.


Tanpa laki-laki itu tahu, seseorang memotret mereka. Setelah selesai dengan hasil jepretannya, ia menelepon seseorang.


"Kerja yang bagus. Pergilah sekarang."


Setelah mendapat arahan, seorang lelaki bertopi hitam itu pergi meninggalkan tempat tersebut.


Abian membuka pintu unit apartemen Ayyara. Ternyata kodenya masih sama seperti dulu. Wanita cantik itu tak pernah menggantinya. Setelah terbuka, Abian membawa Ayyara masuk dan kembali melangkahkan kakinya menuju kamar utama. Kamar di mana mereka dulu sering bersama saling menunjukkan rasa cinta dengan kegiatan menyenangkan.


Abian tercenung melihat kamar yang sama sekali tak berubah itu. Hanya foto-foto mereka tak dipajang lagi, tetapi semua barang masih tetap di tempat yang sama.


"Aku jarang ke sini, makanya semua masih sama seperti dulu," ujar Ayyara saat Abian membaringkannya di atas tempat tidur.


Mata keduanya saling terkunci dengan tatapan Ayyara yang masih sama seperti dulu. Namun, Abian buru-buru beranjak berdiri.


"Istirahatlah, aku akan pulang," ujar Abian.


"Makasih, Mas. Hhmmmmt tapi, apa aku boleh minta tolong?" tanya Ayyara.


"Minta tolong apa?"


"Apa bisa Mas buatkan sop ayam untukku? Aku ... lapar," ujar Ayyara menunduk.


Abian mengusap dahinya. "Ayya, maaf sebelumnya. Aku gak bisa membuatkannya. Aku harus pulang. Ini sudah malam," ujarnya tegas. "Aku akan memesankan di restoran bawah dan mereka akan mengantarkan padamu."


Mendengar itu, Ayyara sedikit sedih dan kecewa. Namun, ia tak boleh menunjukkan rasa ketidaksukaannya.


"Baik, Mas. Makasih ya sudah mengantarku. Maafkan aku yang merepotkan," ujar Ayyara.


"Tidak apa-apa. Lagian kamu adik kesayangan istriku, jadi aku tidak keberatan. Ya sudah, aku pergi dulu. Setelah makan, istirahatlah," kata Abian pamit.


Setelah itu, lelaki tampan dengan kemeja polos berwarna biru tua tersebut pergi dari unit Ayyara, tak lupa memesankan sop ayam dan langsung menuju basemen dan masuk mobilnya. Di dalam mobil, Abian menghela napas. Untunglah Queenza mengusir Ayyara dari mansion. Kalau tidak, pasti Abian akan canggung tinggal berdua dengan mantan istrinya.


Setelah tenang, Abian menyalakan mobil untuk pulang ke mansion.


"Hah, belum ada dua jam tapi sudah rindu saja dengan Queenza. Wanita itu benar-benar mengontrol hati dan pikiraku," ujar Abian tertawa membayangkan istri cantik tapi galak itu. Ia kembali mengingat pertemuan pertama mereka. Tak bisa Abian pungkiri, ia sempat terpesona dengan kecantikan Queenza kala itu. Pesona sang kakak ipar sungguh membuatnya seakan tersihir hingga kejadian-kejadian selanjutnya terjadi begitu saja.


Abian tersenyum mengingat bagaimana kini ia begitu mencintai wanita yang ia panggil Iblis itu. Wanita yang ternyata ibu dari anaknya dan justru kini sangat tak ingin berpisah. Rasa cinta memanglah misteri. Bagaimana dulu Abian begitu mencintai Ayyara, tetapi dengan cepat rasa cinta itu berubah dan justru sangat besar untuk istrinya sekarang. Ia sungguh tak bisa mengendalikan hati yang meminta Queenza sebagai ratunya.

__ADS_1


"You're the one, Queenza. Mama Charlotte menang tak salah memberimu nama Queenza. Kamu benar-benar seorang ratu yang bisa mendapat apa yang kamu mau. Sungguh mengerika istriku."


__ADS_2