Queenza

Queenza
Bab 79


__ADS_3

Queenza membuka matanya. Samar-samar ia mendengar Abian memanggil namanya.


"Sayang, syukurlah kamu sudah sadar," ujar Abian bernapas lega melihat istrinya yang terbangun. Ia sempat takut jika mereka melakukan hal buruk pada wanita yang dicintainya itu.


"Mas, apa yang terjadi?" tanya Queenza lirih. Ia masih merasakan kepalanya yang terasa sangat sakit. Berulang kali wanita cantik itu menggeleng untuk meredakan rasa pusingnya.


"Seseorang telah menculik kita. Aku belum tahu siapa," jawab Abian yang mencoba melepaskan ikatan di tubuhnya.


Kini, posisi keduanya saling berhadapan dengan tubuh diikat di kursi. Queenza sendiri terus menggelengkan kepala yang terasa begitu berat. Kembali ia teringat saat di apartemen ada seseorang yang memencet bell. Saat itu ia menyangka itu Abian sebab lelaki yang berada di depan pintu mengenakan pakaian milik suaminya meski saat Queenza melihat lelaki tersebut memunggungi pintu. Ketika dibuka olehnya tiba-tiba seseorang menyerang hingga ia pingsan.


"Siapa yang melakukan ini semua?" tanya Abian terasa bingung.


Queenza hanya tersenyum sinis mendengarnya. "Siapa lagi kalau bukan Narapati Kagendra dan anaknya," jawab Queenza pada sang suami.


"Narapati?" Abian tampak berpikir. Ia merasa tak asing dengan nama tersebut. Hingga matanya membulat sempurna saat tahu siapa orang itu. "A-ayah kandung A-Ayara?" tanya Abian terkejut.


Queenza mendongakkan kepalanya, lalu tersenyum sinis. "Dialah orang yang ingin menghancurkan hidupku, Mas. Mungkin kini ia akan melenyapkanku karena misinya gagal dan aku memiliki bukti kejahatannya," ujar Queenza tersenyum menatap suaminya.


Wanita cantik itu hanya menghela napas. Untung saja Tatjana dititipkan pada Shraddha yang berada di Singapura. Andai bocah itu ikut dengannya ke Indonesia, mungkin dialah yang menjadi incaran lelaki tua itu. Queenza sendiri telah mengantisipasi hal terburuknya yang pasti harus melindungi Tatjana, sebab dialah kelemahan Queenza. Jika menyangkut sang anak, mungkin Queenza akan kalah dan menyerah. Namun, bukan Queenza Safaluna jika harus menyerah dan mengalah pada lawan yang tak sepadan dengannya.


"Sa-sayang, apakah Ayyara juga ...."


Sebelum Queenza menjawab, pintu ruangan mereka terbuka. Sepasang suami istri itu menoleh. Jika Queenza hanya menatap secara datar, berbeda dengan Abian yang yang terkejut melihat ayah-anak itu melangkah masuk.


"Wah, wah, wah, memang hebat anak Weber dan Kusuma ini. Bahkan wajahnya masih setenang itu setelah kita culik," ujar Narapati tertawa terbahak.

__ADS_1


"Kau pikir aku takut denganmu, lelaki tua," kata Queenza menatap dengan begitu dinginnya. "Kau hanya seperti seekor tikus yang bisa aku lenyapkan dengan mudah."


Narapati mencengkram rahang wanita cantik itu dengan tatapan tajamnya. "Kau benar-benar perpaduan Charlotte dan laki-laki sialan itu," katanya dengan tersenyum sinis. "Sepertinya akan msmuaskan jika aku bisa menidurimu. Ah, itu pasti menyenangkan. Dulu, aku sangat ingin tidur dengan ibumu yang begitu cantik."


Dengan kesal, Queenza meludahi lelaki tua tak tahu diri itu.


"Wanita sialan!" Narapati dengan kesal menampar Queenza.


"Sayang!" teriak Abian terkejut melihat Queenza terhuyung karena tamparan cukup kencang itu.


"Aku akan menghabisimu setelah puas dengan tubuhmu!" Kembali Narapati mencengkram rahang Queenza dengan kasar hingga wajah putih wanita cantik itu memerah.


"Ayah!" sentak Ayyara.


"Kau bisa miliki lelaki bodoh itu, Sayang. Dan Ayah akan miliki anak lelaki yang merebut cintaku!" ujarnya terus menatap Queenza yang sama sekali tak gentar sedikitpun. "Pengawal!"


"Cepat lepaskan mereka. Ikat lelaki itu di ranjang dan bawa wanita cantik ini ke kamarku," ujar Narapati pada anak buahnya.


"Baik, Tuan." Mereka buru-buru melaksanakan perintah.


"Ayah! Jangan lakukan itu! Dia masih kakakku!" sentak Ayyara panik.


"Diamlah! Urus saja urusanmu itu! Lagian bagaimana bisa kau menganggap wanita ini kakakmu padahal kau ingin sekali menghancurkannya," ejek Narapati pada anaknya.


"Aku hanya ingin membalas perbuatannya dulu padaku. Bagaimana sakitnya ketika suami kita tidur dengan saudaranya sendiri."

__ADS_1


Queenza tertawa terbahak mendengarnya. "Dasar wanita bodoh. Apa harus melakukan huru-hara begini untuk tidur dengan suamiku? Kau benar-benar keturunan lelaki keparat ini! Bahkan kau tak bisa melakukannya dengan cara yang cerdik," ejeknya.


Dengan emosi, Ayyara menampar wanita itu hingga darah segar keluar dari ujung bibir Queenza.


"Ayah bisa lakukan apa pun pada wanita sombong itu. Aku tidak peduli," kata Ayyara membuang wajahnya dengan rasa sakit hati.


"That's my girl. Ayo, bawa dia!" Narapati berjalan meninggalkan kamar yang akan dihuni Ayyara juga Abian. Sedangkan Queenza dibawa paksa menuju kamar laki-laki tua itu.


Setelah semua pergi, tinggalah Abian dan Ayyara. Lelaki itu terus berusaha melepas ikatan di kedua tangan dan kakinya. Ia merasa kacau dan tak menyangka bahwa Ayyara wanita yang ia anggap begitu manis dan baik bisa melakukan ini semua.


"Lepaskan aku, Ayya!" sentak Abian saat wanita cantik itu mendekat.


"Susah payah aku mendapatkanmu, bagaimana bisa aku melepasmu? Cukup satu kali saja aku dengan bodohnya merelakanmu pada wanita itu, Mas," ujar Ayyara duduk di tepi ranjang dengan wajah begitu teduh menatap Abian. "Aku tidak bisa melupakanmu, Mas. Aku masih mencintaimu." Air mata Ayyara menetes begitu saja. "Aku selalu teringat dengan momen indah yang kita lalui," katanya lagi dengan membuka satu per satu kancing kemeja milik Abian.


"Istigfar Ayya! Apa yang akan kamu lakukan!" sentak Abian mencoba berontak.


Ayyara mendekatkan wajahnya, lalu menutup bibir Abian dengan jarinya. "Sssttt. Apa kamu tidak merindukanku, Mas?"


"Sadar, Ayya! Aku bukan suamimu lagi! Aku suami dari kakakmu!"


"Kakak? Kakak yang mana? Aku tidak memiliki kakak! Apa dia pantas dipanggil kakak atas apa yang dia lakukan?" Dengan penuh amarah, Ayyara menarik kemeja Abian hingga kancing yang belum ia buka terlepas begitu saja. "Aku akan merebut milikku kembali darinya!"


"Ayyara! Demi Allah, aku tidak akan memaafkanmu jika kau melakukan ini!" sentak Abian menatap tajam Ayyara ketika wanita itu mengambil gunting dan mencoba membuka celana Abian dengan mengguntingnya. "Sadar, Ayyara! Ini bukan kamu, Ayyara yang aku kenal adalah wanita yang baik. Dia tidak mungkin melakukan hal keji ini."


Ayyara hanya menatap Abian dengan senyuman sinsinya, lalu menggunting celana milik lelaki itu.

__ADS_1


"Astagfirullah, lindungi aku, ya Allah." Air mata Abian menetes begitu saja. Perasaannya begitu hancur saat Ayyara mencoba memperkosanya. Ya, kini Ayyara melakukan hal keji itu. Jika biasanya wanita yang mengalami pelecehan, kini justru laki-laki dewasa itu yang mengalaminya. Lebih parah lagi, sosok yang menyakitinya adalah wanita yang sempat menjadi ratu di hatinya.


Saat Ayyara hendak melakukan hal keji itu, tiba-tiba pintu didobrak. Kedua anak manusia yang tak mengenakan sehelai benang itu terkejut melihat sosok yang kini menodongkan pistol pada mereka.


__ADS_2