
"Kak, lepaskan aku! Kenapa kamu mengurungku begini?" teriak Nana pada Queenza. Gadis itu sungguh kesal karena sejak kembalinya dia dari Swiss Queenza selalu mengurungnya di kamar. Bukan sendiri, justru ia dikurung bersama seorang lelaki yang kini sah menjadi suaminya.
"Ke marilah, Bocah. Percuma kamu menggedor-gedor pintu, kakakmu tidak akan membukanya," ujar lelaki yang tengah duduk bersandar di ranjang.
"Ngapain sih pakai nikahin aku segala? Kamu pikir aku sudi apa jadi istri duda sepertimu!" rutuk Nana kesal menatap suaminya.
"Loh, kalau kamu tidak mau menikah, kenapa tidak menolak keinginan kakakmu itu? Jangan munafik, kelinci kecil. Aku tahu kamu juga menyukaiku, 'kan?" tanya lelaki berjanggut tipis itu menaik turunkan alisnya.
"I-itu karena aku merasa hutang budi saja pada Kakak yang sudah menganggapku adik," sahut Nana salah tingkah.
Lelaki itu beranjak, lalu berjalan mendekat pada istri yang baru beberapa jam ia nikahi.
"H-hey, menjauh!" Nana mundur tergesa membuat tubuhnya limbung. "Ahhh!"
Lelaki tampan bertubuh tinggi itu dengan sigap memeluk pinggang istrinya. Ia tersenyum menatap wanita cantik yang sejak lama membuat jantungnya berdebar.
__ADS_1
"Tenang, aku akan melindungimu, Sayang," bisik lelaki keturunan India itu berbisik di telinga Nana membuatnya merasa merinding.
"Lepas, Saad Thadani!" Nana mendorong tubuh Saad karena kesal.
"Hah! Susah sekali menaklukan hatimu, Na. Sudah dua tahun aku mengejar, bahkan setelah menjadi suami pun masih saja kamu menolakku." Saad menyugar rambutnya merasa frustasi.
Sejak kejadian di Singapura itu, Saad kembali ke Indonesia dan bertemu Nana kembali, rasa itu mulai tumbuh. Entah mengapa, melihat gadis cantik dengan rambut kuncir kuda serta pakaian kasual yang biasa saja justru membuat perasaannya kebat kebit. Akhirnya sebagai hadiah atas membantu Queenza menangkap Ayyara, Saad meminta Nana sebagai hadiah.
Awalnya Queenza menolak bahkan memaki Saad yang meminta adik kesayangannya. Namun, melihat betapa seriusnya Saad pada Nana, akhirnya Queenza mengizinkan Saad mendekati adik kesayangannya itu.
Sejak diizinkan mendekati gadis cantik itu, Saad pun sering mengunjungi Nana ke Bern. Meskipun sering ditolak, tetapi tak membuat semangat Saad surut. Ia benar-benar berjuang tanpa lelah. Entah mengapa, mengejar Nana dengan saat mengejar Ayyara dulu sungguh berbeda. Mengejar Nana memiliki adrenalin tersendiri dan membuat jiwa mudanya kembali menggelora.
Nana yang terkejut dan tak setuju pun menangis menolak keinginan sang kakak. Namun, kembali Queenza meyakinkan adiknya bahwa pernikahan ini adalah terbaik untuknya.
"Saad laki-laki yang baik, Na. Percaya pada Kakak. Menikah dengan lelaki yang mencintai kita jauh lebih baik daripada menikah dengan lelaki yang Kita cintai. Kakak sudah melihat perjuangan Saad selama ini dan Kakak pikir Saad sangat layak untuk menjadi suamimu," ujar Queenza mengusap pipi adiknya yang terus menangis.
__ADS_1
"Kak, aku takut," lirih Nana. "Aku takut menyakitinya jika menikah tanpa cinta."
"Na, kamu belum memahami is hatimu sendiri. Kakak bisa lihat kamu juga mencintainya, tetapi kamu mencoba menepisnya," kata Queenza. "Na, kamu tahu kan Kakak sangat sayang padamu? Kakak tidak mungkin mendorongmu ke jurang kehancuran? Untuk yang pertama kalinya, Kakak ingin memintamu untuk menikah dengan Saad. Beri dia kesempatan menunjukkan cintanya sebagai suamimu."
Nana menatap mata sang kakak. Di sana ada tatapan yang begitu tulus yang membuat Nana tak bisa berkutik. Selama ini Queenza memberikan yang terbaik untuknya. Baru kali ini kakaknya itu meminta sesuatu padanya. Ia sungguh tak tega untuk menolak. Akhirnya Nana pun mengangguk. Biarlah ia korbankan perasaannya sebagai balas budi dengan apa yang diberikan sang kakak selama ini.
Akhirnya hari itu benar-benar menjadi hari pernikahannya dengan Saad Thadani, mantan suami dari kakaknya yang lain. Ah, sungguh Nana tak pernah menyangka bahwa lelaki yang dikenal dunia sebagai laki-laki jahat yang melakukan KDRT menjadi suaminya. Astaga, bahkan Nana ingat pernah berkata bahwa ia tak sudi memiliki suami seperti Saad dan kini justru Saad-lah suaminya. Ia benar-benar termakan omongan.
"Ahhhh! Mau ngapain!" teriak Nana ketika tubuhnya diangkat ke atas bahu Saad. Lelaki itu membawa istrinya menuju ranjang, lalu membaringkan secara pelan. Setelah Nana berbaring, ia ikut berbaring di samping wanita cantik itu dan memeluknya.
"Terima kasih sudah mau menjadi istriku, Na, meski aku tahu cintamu belum ada untukku. Tapi, aku tidak akan pernah lelah menunjukkan cintaku padamu." Saad tersenyum dengan semakin erat memeluk Nana.
Jantung gadis itu berdebar dengan hebat. Kata-kata Saad sungguh membuat otaknya blank seketika. Nana pun hanya bisa diam dengan apa yang dilakukan Saad padanya.
_______
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca yang sudah setia membaca novel Queenza. Btw, setiap karya memiliki alurnya tersendiri. baik itu pembaca suka atau tidak, sebab sama seperti kehidupan, tak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan. Untuk pembaca yang kecewa atas alur cerita ini, Author meminta maaf karena mungkin kalian tidak cocok membaca karya Author. setiap alur yang dibuat sudah dipikirkan matang2, jadi Author tidak bisa mengikuti keinginan pembaca yang harus ini dan itu. semoga pembaca bisa mengerti bahwa penulis memiliki idenya sendiri.
sekali lagi, terima kasih karena sudah setia membaca novel ini.