
Pagi menjelang. Dering ponsel Queenza berdering mengganggu tidurnya. Ia meraih benda pipih tersebut di atas nakas, lalu mengangkat panggilan tanpa melihat siapa yang menelepon.
"Selamat pagi, apakah ini benar istri dari Bapak Abian Martadinata?" tanya seorang perempuan di ujung telepon.
"Benar. Maaf Anda siapa ya?" tanya Queenza yang masih menutup matanya.
"Saya suster di salah satu rumah sakit ingin mengabarkan bahwa Bapak Abian mengalami kecelakaan dan kini sedang berada di ruang instalasi gawat darurat."
"Heh! Bercanda. Suami saya sedang tidur di samping saya. Kalau nipu jangan ngada-ngada!" ujar Queenza kesal.
"Kami tidak mengada-ada, Ibu. Jika Ibu tidak percaya bisa datang ke rumah sakit Harapan untuk melihat keadaan Bapak. Lukanya cukup parah dan para dokter masih berusaha menyelamatkannya."
Mendengar itu, Queenza membuka matanya dan menatap samping tempat tidurnya yang ternyata Abian benar-benar tidak ada. Dengan cepat ia beranjak duduk.
"Su-suami saya beneran kecelakaan?" tanya Queenza yang kini tangannya gemetar.
"Betul, Ibu. Dokter mengatakan untuk Ibu segera datang karena keadaan Bapak sangat kritis dan harus segera di operasi di bagian kepala karena mengalami benturan hebat."
Air mata Queenza luruh mendengarnya. "Ba-baik. Saya akan segera ke sana."
"Baik, Ibu. Terima kasih."
Panggilan pun terputus.
Kembali Queenza menatap tempat tidur di sampingnya. Ia juga menatap ponsel yang menunjukkan pukul tujuh pagi. Kebetulan hari itu hari libur sehingga Queenza bangun agak siang.
"Bi-Bian. Bagaimana bisa?" Queenza terisak dengan air mata yang luruh. Ia berharap ini mimpi sehingga terus menampar pipinya. Namun, ini bukan mimpi. Ia benar-benar menerima telepon itu. Buru-buru ia melangkah ke kamar mandi untuk bersiap. Ia hanya cuci muka dan mengganti pakaian. Setelah itu ia mengambil tas serta kunci mobil lalu ia keluar dari kamar.
"Kakak!" Nana berlari saat tiba-tiba Queenza terjatuh. Lutut wanita itu tiba-tiba lemas saat berjalan. Ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar di telepon tadi. "Kakak, kenapa Kakak nangis? Ada apa, Kak?" tanya Nana panik.
__ADS_1
"Na, Mas Bian." Queenza menangis sesegukkan. "Mas Bian kecelakaan."
"Astagfirullah. Kok bisa? Ini masih pagi memang Mas Bian sudah keluar rumah?" tanya Nana terkejut.
"Aku harus ke rumah sakit." Queenza hendak berdiri, tetapi lututnya serasa sangat lemas hingga ia terjatuh lagi.
"Kak, tenangkan diri Kakak. Mas Bian pasti baik-baik saja," ujar Nana mencoba menenangkan kakak angkatnya.
"Dokter bilang keadaannya kritis dan harus dioperasi. Mereka menunggu Kakak. Kakak harus segera ke rumah sakit. Na, jangan ke mana-mana hari ini. Jaga Tatjana. Kalau dia tanya tentang kami, bilang saja kami pergi karena ada urusan. Kakak janji akan pulang setelah urusan di rumah sakit selesai," ujar Queenza dengan menangis sesegukkan.
"Kakak jangan pergi sendiri dalam keadaan seperti ini. Tunggu, aku panggil pak supir dulu." Nana membantu Queenza untuk berdiri lalu membawa wanita itu untuk duduk. Setelahnya, ia berlari keluar dan memanggil supir untuk menyiapkan mobil.
Setelah itu Nana berlari ke dapur meraih air putih dalam kemasan lalu kembali ke tempat di mana Queenza duduk. Ia membantu sang kakak untuk menuju mobil dan membantu masuk mobil.
"Kak, yang tenang. Jangan sampai Kakak jatuh lagi. Ini minum untuk di jalan. Ingat, Kakak harus tenang. InsyaAllah Mas Bian akan baik-baik saja."
"Kakak gak perlu khawatir soal Anna. Aku akan menjaganya. Kakak hati-hati. Pak, hati-hati, ya," ujar Nana pada supir, lalu menutup pintu mobil sang kakak dan melaju meninggalkan mansion.
**
Abian bangun lebih awal daripada istrinya. Lelaki tampan itu tersenyum saat pertama kali matanya melihat wanita cantik yang sangat ia cintai. Ia kecup kening Queenza dengan penuh cinta.
"Pagi, istriku. Bangun, yuk. Kita salat subuh berjamaah," ujar Abian dengan lembut di telinga Queenza.
"Aku sedang halangan," jawab wanita itu bergumam.
"Pantas saja dia menolak tadi malam," kekeh Abian.
Akhirnya lelaki berparas teduh itu beranjak dan berjalan menuju kamar mandi untuk wudu. Setelah itu ia melaksanakan kewajibannya terhadap Tuhan dan tak lupa berdoa selepas salat.
__ADS_1
Aktivitas rohaninya selesai, ia kembali ke tempat tidur. Ia duduk di bibir ranjang, menatap sang istri yang tidur terlelap dengan begitu damainya. Ia turun dan duduk di lantai menatap wajah cantik Queenza. Ia menutup mata dan melafalkan doa lalu ia tiup di ubun-ubun sang istri.
"Semoga Allah selalu melindungi dan membahagiakanmu, Queen, jika aku tak bisa membuatmu bahagia. Maafkan aku yang masih belum bisa menjadi suami yang baik untukmu. Tapi yang pasti, aku sangat mencintaimu, Queen." Kembali Abian mencium kening istrinya dan cukup lama tak seperti biasanya. Setelah puas, ia lepaskan ciuman itu dan beranjak duduk di bibir ranjang lagi.
"Mumpung libur, kayaknya aku bakal beli sarapan untuk Queenza. Hmmmmm beli apa ya?" tanya Abian berpikir.
Ia tersenyum saat tahu apa yang akan dibeli. "Queenza suka bakpao, aku akan membelinya di toko langganan Queenza."
Lelaki itu tersenyum berjalan keluar kamar untuk menuju mobil dan melajukannya di hari yang masih gelap. Toko bakpao favorit Queenza memang agak jauh. Mereka tinggal di bagian selatan, sedangkan yang menjual itu di Jakarta Pusat. Karena itulah Abian pergi di pagi buta hanya untuk mendapatkan bakpao itu.
Sejak semalam, ia memutuskan untuk merubah prilakunya pada sang istri. Kini ia akan jauh lebih perhatian untuk mencuri hatinya kembali. Mungkin tiga tahun ini ia belum maksimal sehingga Queenza masih tak memaafkannya. Karena itu, kini ia akan semakin berusaha menunjukkan rasa cintanya pada sang istri.
Membutuhkan waktu satu jam untuknya sampai di sana. Beruntung jalanan tak terlalu macet seperti biasanya. Ia keluar mobil dan berjalan menuju toko bakpao terkenal sangat higienis dan sehat itu.
"Mas, rasa kacang merah 4, ayam 4 dan keju 4 ya," ujar Abian. Ia membeli empat karena penghuni rumah ada empat orang. Tatjana pun boleh memakan bakpao di toko itu karena dibuat dengan sangat higienis sebab itulah Queenza selalu membeli di sana meski cukup jauh dari kediamannya. Abian juga tahu bahwa sang anak alergi cokelat, karena itu ia tak membelinya.
Setelah mendapat semuanya, Abian kembali ke mobil. Ia taruh bakpao itu di jok belakang, lalu ia melajukan mobilnya. Sepanjang jalan ia tersenyum karena tak sabar untuk sarapan bersama keluarganya. Kali ini ia harus berhasil untuk memenangkan hati Queenza. Itulah tekadnya.
Saat tengah asik mendengarkan ceramah di radio, tiba-tiba sebuah truk dari lain arah mengarah pada mobilnya. Lelaki itu mencoba membanting stir, tetapi ia telat hingga truk tersebut menghantam mobil sedan tersebut hingga berputar berkali-kali. Abian sendiri saat itu tak mengenakan seatbelt hingga tubuhnya terpental di dalam dan kepalanya terbentur dengan keras juga wajahnya terkena pecahan kaca hingga lelaki itu tak sadarkan diri dan langsung dibawa oleh ambulance setelah salah satu warga menelepon rumah sakit terdekat.
***
Queenza menangis saat suster menyerahkan barang-barang yang ditinggalkan Abian. Kaki wanita itu kembali lunglai saat melihat barang-barang itu penuh dengan darah. Ia tak tahu bagaimana keadaan suaminya sekarang.
"Ibu, kami juga menemukan ini." Suster tadi juga menyerahkan sebuah paper bag yang diterima Queenza. Wanita cantik itu semakin histeris saat melihat nama toko bakpao di paper bag tersebut. Jadi Abian kecelakaan karena pergi ke sana untuk membeli bakpao itu? batin Queenza. Ia memeluk semua barang itu dengan erat. Hatinya sangat sakit saat melihat suaminya kecelakaan seperti ini. Apalagi dokter mengatakan bahwa keadaan Abian sangat kritis dan bisa dibilang antara hidup dan mati.
"Bian, jangan buat aku takut." Queenza terisak melihat dalam dompet Abian terdapat foto dirinya bersama Tatjana yang entah kapan Abian memotretnya.
Wanita itu kembali merasakan takut kehilangan seperti 13 tahun lalu di mana ketika ia ditinggalkan sang mama. Kini, ia merasakannya lagi saat sang suami yang berada di ruang ICU berjuang antara hidup dan mati.
__ADS_1