Queenza

Queenza
Hanya Alat Balas Dendam


__ADS_3

Abian melempar jasnya di atas ranjang setelah kembali dari pesta. Moodnya masih benar-benar berantakan sejak melihat sisi manja Queenza di hadapan laki-laki lain. Entah mengapa ia merasa curiga bahwa laki-laki itu bukan hanya teman biasa untuk istrinya apalagi saat Queenza dengan senyuman manis mengundangnya untuk makan malam di mansion.


"Dia siapa?" tanya Abian saat istrinya masuk kamar.


"Dia? Siapa?" Queenza balik bertanya.


"Yang duduk denganmu di taman tadi saat pesta. Siapa dia?" tanyanya lagi dengan nada tak suka.


"Sky? Bukannya kamu sudah kenalan," jawab Queenza yang melepas anting, lalu menaruh di atas nakas.


"Aku tahu dia Sky. Tapi maksudku, dia siapanya kamu? Sepertinya kalian sangat dekat."


"Oh, dia mantan kekasihku," jawab Queenza santai.


"Oh, pantas saja. Sepertinya dia masih mencintaimu. Cara kalian berinteraksi juga terlihat sangat dekat. Kenapa kalian putus jika masih bisa begitu mesra," cecar Abian yang membuat Queenza menatapnya dengan tersenyum.

__ADS_1


"Are you jealous?" tanya wanita cantik itu.


"Cemburu? Ngelantur kamu!" sergah lelaki dengan kemeja hitam itu.


"Lagipula kenapa memang jika kami dekat? Toh tidak merugikanmu, kan? Kita masih di batas wajar karena memang sudah lama tidak bertemu."


"Kalau masih saling suka kenapa tidak menikah saja dengannya? Kamu juga bisa bermanja ria dengan lelaki pirang itu!" gerutu Abian kesal.


Queenza mendekati suaminya, hingga jarak keduanya kita begitu dekat. Ia tarik dasi di leher sang suami, lalu mengecup bibirnya. "Karena dia bukan kamu, alat untukku balas dendam. Mungkin jika Ayyara mencintainya, aku bisa menikah dengannya. Tapi sayang, laki-laki yang dicintai adik sepupuku adalah kamu," bisik Queenza yang membuat Abian mengepalkan tangannya.


"Lalu? Kamu pikir untuk apa aku melakukan ini semua? Karena mencintaimu? Oh come on." Queenza tertawa sekaligus menggeleng.


"Lalu apa status pernikahan kita? Kenapa setelah berpisah dengan Ayyara justru kamu menikah denganku?" cecar Abian dengan dada yang entah mengapa terasa sakit.


Queenza kembali tertawa menatap lelaki itu. "Karena aku masih membutuhkanmu untuk membuat Ayyara sakit hati. Bisa dibayangkan kan bagaimana hancur hatinya ketika suami eh mantan suami yang dicintainya bersama kakaknya sendiri? Aku ingin dia merasakan apa yang mamaku rasakan."

__ADS_1


Dengan penuh emosi Abian mencengkram tangan wanita di depannya. "Kamu benar-benar iblis, Queenza! Bagaimana bisa kamu mempermainkan perasaan orang lain hanya untuk balas dendam."


"Aku memang iblis, lalu kenapa? Setelah apa yang aku alami di hidupku, kamu pikir aku akan jadi apa? Bahkan perasaanku sudah mati sejak lama." Queenza melepas cengkraman sang suami, lalu pergi menuju walk-in-closet.


"Ahhhh! Sial! Kamu pikir kamu siapa, Queenza!" teriak Abian kesal.


Malam itu Abian kembali tidur di kamar lain. Dadanya teramat sesak saat mendengar bagaimana dengan entengnya Queenza mengatakan bahwa ia hanya menjadi alat balas dendam. Hatinya sakit, ketika tahu bahwa Queenza menginginkannya dari Ayyara bukan karena cinta tetapi karena rasa benci pada mantan istrinya.


Entah apa yang dirasakan Abian. Apa dia mulai mencintai Queenza, karena itu ia merasa sakit hati saat tahu cintanya tak terbalas? Abian sendiri tak tahu.


Sepanjang malam ia tak bisa memejamkan mata. Sudah muter sana muter sini tapi tetap saja rasa kantuk tak kunjung datang.


"Gak bisa nih terus-terusan begini!" Lelaki itu beranjak bangun, lalu keluar dari kamar tamu. Ia berjalan menuju kamar dirinya dan Queenza tidur. Ia buka perlahan pintu berwarna putih itu, terlihat istrinya yang tengah terlelap dengan miring menghadapnya.


"Ck! Aku tidak bisa tidur, dia malah enak-enakan tidur nyenyak gini, sampai ada yang membuka pintu saja dia tidak merasa." Abian berjalan mendekati ranjang. Ia naik ke tempat tidur lalu membaringkan tubuhnya dengan menatap istrinya yang terlelap dengan begitu damai.

__ADS_1


"Dasar wanita tak punya hati. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada suaminya. Lihat saja, akan aku buat kamu mencintaiku dan melupakan bahwa aku adalah alat balas dendammu. Akan aku buat kamu tidak bisa hidup tanpaku." Abian menarik tubuh Queenza masuk dalam pelukannya, lalu ia cium kening wanita cantik itu. "Selamat malam, istri tak berperasaan." Ia memeluk tubuh Queenza dengan erat dan mencoba memejamkan matanya.


__ADS_2