Queenza

Queenza
Ungkapan hati Queenza


__ADS_3

Queenza membuka matanya perlahan. Kepalanya terasa sangat pusing hingga wanita cantik itu menyentuh dahinya. Abian yang sejak tadi menunggu pun begitu bahagia melihat istrinya sadar.


"Queen, Queen."


Queenza membuka matanya dengan sempurna. Ia menengok ke samping melihat Abian dengan wajah lelahnya.


"Bian, aku di mana?" tanya Queenza.


"Kamu di rumah sakit, Queen."


"Rumah sakit?" tanya Queenza. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi. Perlahan ingatannya kembali. Ia terkejut karena terakhir kali perutnya terasa sakit bahkan keluar darah dari kakinya. Ia meraba perutnya. Jantungnya seperti berhenti saat merasakan bahwa kini perutnya rata.


"Di mana anakku?" tanya Queenza menatap Abian.


"Queen ...."


"Di mana anakku, Brengsek!" Queenza beranjak dan mencengkram kerah suaminya dengan tatapan emosi.


"Queen, tenang. Kamu baru saja operasi." Abian panik saat tiba-tiba istrinya beranjak.


"Ahhh!" Queenza memekik saat merasakan sakit di perutnya.


"Queen!"


"Di mana anakku!" teriak Queenza menatap Abian penuh amarah dengan air mata terjatuh.


"Queen, dia selamat. Sekarang ada di NICU," jawab Abian.


Queenza pun diam saat mendengar perkataan suaminya.


"Di-dia sudah lahir?" tanya Queenza yang diangguk Abian. "Tapi baru tujuh bulan. Belum saatnya dia lahir," katanya lagi dengan air mata yang terus terjatuh.


Abian menghapus air mata Queenza dengan memeluk dan mengusap punggung wanita cantik itu. "Karena terjatuh cukup keras, ketubannya pecah dan kamu sendiri pingsan. Jadi, Dokter mengatakan bayi kita harus dilahirkan segera karena bahaya jika tak segera dilahirkan00pa. Karena itu Dokter melakukan operasi untuk melahirkannya. Tapi, kamu gak perlu khawatir, selain berat badannya yang rendah, tak ada hal buruk pada putri kita," ujarnya.


Queenza bernapas lega dengan apa yang didengarnya. "Aku ingin bertemu dengannya."


"Nanti saja, Queen. Perutmu masih sakit, kan? Kamu baru saja operasi dan baru sadar."


"Aku ingin bertemu dengannya, Bian!"


"Queen, nanti ya."


"Bian, jangan buat aku berkata yang ketiga kalinya." Tatap Queenza dengan begitu tajam.


"Tapi perutmu?"


"Kita bisa menggunakan kursi roda," jawab Queenza.


"Baiklah. Aku akan meminta suster untuk membawa kursi roda."

__ADS_1


Akhirnya Queenza dibawa menuju ruang NICU untuk melihat putrinya. Sepanjang jalan, ia meneteskan air mata. Ia tak sabar melihat sang anak yang telah lahir apalagi yang Abian katakan bahwa dia benar-benar anak perempuan.


Akan tetapi, keduanya terlihat terkejut saat ada beberapa dokter beejalan tergesa masuk ke ruang NICU. Abian pun berjalan agak cepat mendorong kursi roda istrinya . Mereka menghampiri dokter yang baru keluar.


"Dok, ada apa? Apa yang terjadi pada anak kami?" tanya Abian khawatir.


"Kebetulan Tuan dan Nyonya ada di sini. Keadaan putri Tuan dan Nyonya tiba-tiba kritis karena ternyata bayi yang baru dilahirkan memiliki kelainan pada pencernaan serta paru-parunya. Kini kami tengah berusaha untuk menyelamatkannya."


"A-apa? Anakku! Dok, selamatkan dia, bagaimana pun caranya Anda harus menyelamatkannya," ujar Queenza berlinang air mata. Ia benar-benar merasa takut terjadi sesuatu pada anaknya. Ia tak sanggup jika bayi kecilnya pergi.


"Nyonya tetanglah, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Nyonya bisa istirahat dan harus baik-baik saja. Putri Anda perlu ASI. ASI sangat baik untuk kesehatan bayi jadi Nyonya tidak boleh stres agak asinya keluar," ujar dokter wanita yang mencoba menenangkan wanita yang baru saja melahirkan itu.


"Dok," panggil seorang suster dari ruang NICU.


Dokter menoleh dan pamit untuk masuk lagi ke ruang NICU.


"Anakku," lirih Queenza menangis menatap pintu NICU.


"Dia akan baik-baik saja, Queen." Abian berjongkok dan menatap istrinya yang menangis.


"Puas kamu Bian?" tanya Queenza. "Puas melihat keadaan kami seperti ini?" bentak Queenza dengan meringis merasakan sakit di perutnya.


"Qu-Queen, maksud kamu apa?" tanya Abian.


"Kalau bukan karena kamu, semua ini tidak akan terjadi! Kalau bukan karena kamu bertengkar dengan Daffa dan membela wanita itu, semua ini tidak akan terjadi, Bian!"


"Maaf, Queen. Aku tahu aku salah. Aku memang bodoh sudah mendorongmu. Tapi aku tidak sengaja, mana mungkin aku melukaimu dan anak kita," ujar Abian menggenggam tangan istrinya tetapi ditepis oleh Queenza.


"Queen, maaf ...."


Wanita itu tak memedulikan suaminya. Yang kini ia khawatirkan adalah bayi kecil di dalam sana. "Sayang, kuatlah untuk Bunda. Bunda menunggumu," gumam Queenza menatap ruang NICU.


Sekitar setengah jam dokter di dalam hingga mereka keluar. Ada tiga dokter yang ternyata memeriksa bayi kecil itu. Mereka pun berbicara dengan Abian dan Queenza dan mengatakan bahwa bayi mereka melewati masa kritis. Namun, akan ada kelainan yang akan dialami anak mereka yang paling parah adalah pencernaannya. Jadi sang anak harus dijaga dengan baik terutama pencernaannya.


Sedangkan paru-parunya, hanya bermasalah karena memang belum mampu bekerja sempurna, tetapi seiring berjalannya waktu akan baik-baik saja.


"Terima kasih, Dok." Queenza sedikit bernapas lega saat mendengar keadaan sang anak yang membaik. Setelah itu ia meminta izin untuk menemui anaknya dan diperbolehkan.


Kini, Queenza berada di dalam NICU, menatap bayi yang bobotnya masih sangat kecil. Beratnya hanya 1,8 kilogram padahal untuk normal bayi lahir minimal 2,5 kilogram. Queenza menyentuh benda kotak terbuat dari kaca yang untuk sementara menjadi tempat tinggal anak kesayangannya.


"Kamu memang anak Queenza, Sayang. Kamu kuat," ujarnya meneteskan air mata. "Tempat tinggalmu sangat kecil, Bunda janji akan memberikan rumah yang besar saat kamu keluar dari sini sehingga kamu bisa bebas berlari sepuasmu tanpa ada yang menghalangi," katanya lagi.


"Sayang, terima kasih karena sudah bertahan. Kamu adalah orang yang paling Bunda sayangi. Kamu adalah keluarga Bunda satu-satunya. Bunda akan terus berusaha memberikan yang terbaik untukmu. Kamu Peri Kecil Bunda, kamu bukan seorang ratu. Kamu ... Tatjana Safaluna, harta berharga yang aku miliki."


**


"Aku ingin bercerai."


Abian terkejut mendengar perkataan istrinya.

__ADS_1


"A-apa? Bercerai? Kenapa, Queen?" tanya Abian tak percaya.


Setelah bertemu Tatjana, Queenza kembali ke ruang perawatannya. Kini, ia berada di kamar inap berdua dengan Abian.


Wanita cantik itu tersenyum sinis menatap suaminya. "Sudah cukup untukku memilikimu. Ternyata kamu tidak seperti yang aku harapkan, bahkan kamu hampir membunuh anakku," ujarnya.


"Queen, demi Allah aku tidak sengaja melukaimu. Aku sangat emosi pada Daffa sehingga tak sadar telah mendorongmu."


"Itu alasannya, Bian! Kamu masih tidak bisa melupakan masa lalumu, sehingga lupa siapa psanganmu sekarang. Mungkin aku sangat bodoh mengharapkan kamu yang akan mencintaiku dengan tulus," jawab Queenza yang menghapus air mata yang terjatuh.


"Kamu tahu, kenapa aku menikah denganmu?" tanya Queenza menatap suaminya. "Karena aku mencintaimu, Bian."


Abian terkejut mendengar ucapan istrinya.


"Ya, aku mencintaimu. Sejak pertama kali melihatmu. Kamu pikir untuk apa semua yang aku lakukan? Untuk balas dendam?" Queenza tersenyum sinis. "Kamu salah! Aku bisa saja balas dendam dengan cara lain, tapi tidak aku lakukan karena tiba-tiba aku mengharapkan lelaki lembut yang aku lihat pertama kali."


"Sebelum bertemu denganmu, aku merasa tak ingin memiliki keluarga. Di dalam pikiranku hanya ada balas dendam untuk mereka yang telah menyakitiku. Delapan tahun aku lalui hanya untuk menyiapkan diriku untuk balas dendam. Tiba waktunya aku datang. Aku sudah siap dengan segala yang aku punya.


"Tapi, tiba-tiba seorang laki-laki menghancurkan semuanya. Karena dia, rasa dendamku berubah. Bagaimana dia memperlakukan istrinya membuatku merasa aku ingin di posisi istrinya. Aku merasa mungkin hidupku akan bahagia jika memiliki suami seperti dia hingga aku memutuskan merebutnya dari wanita itu." Queenza menangis mengatakan itu semua, sedangkan Abian benar-benar bungkam dengan apa yang dikatakan istrinya.


"Aku bahkan sampai konsultasi pada dokter kandungan agar bisa hamil dengan cepat karena misiku memilikimu. Aku rela melakukan apa pun agar bisa berada di posisi Ayyara. Tapi, ternyata aku salah. Meski aku memilikimu, tapi hatimu masih untuknya. Aku memang bodoh mencintai dan berharap hidup bahagia pada lelaki yang hatinya telah dimiliki. Aku kecewa padamu, Bian. Aku kecewa pada diriku sendiri. Karena keegoisanku, aku hampir membunuh anakku." Queenza menagis sesegukkan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Pada dasarnya Queenza memang memiliki sifst dan hati yang baik seperti ibunya. Namun, karena dendam ia berubah hingga akhirnya bertemu Abian yang kembali membuatnya merasakan apa itu cinta dan kenyamanan. Namun, cara yang dilakukan salah hingga justru membuat hidupnya semakin hancur seperti sekarang.


Abian berdiri lalu duduk di bibir ranjang. Ia memeluk Queenza dengan begitu erat serta mencium ujung kepala istrinya berulang kali.


"Sekarang aku membebaskanmu, Bian. Kamu bisa kembali pada cintamu itu."


"Tidak, Queen. Aku tidak mau. Cintaku sekarang berada di tempat yang tepat. Aku juga mencintaimu, Queen."


Mendengar itu, Queenza mendorong tubuh Abian untuk melepaskan pelukannya.


"Semua sudah terlambat. Kekecewaanku padamu jauh lebih besar dari rasa cintaku. Kamu sudah menyakiti anakku dan aku tidak bisa memaafkanmu."


"Queen, jangan seperti ini, aku mohon beri aku kesempatan untuk mencintai dan melindungi kalian. Aku mohon, Queen."


"Tidak! Aku tetap ingin bercerai."


"Tidak, Queen! Aku tidak setuju. Aku tidak mau! Kenapa kamu begitu egois, Queen! Kamu pisahkan aku dengan Ayyara di saat aku mencintainya. Sekarang, di saat aku mencintaimu, kamu ingin juga berpisah denganku? Apa kamu pikir aku tidak punya hati dan tidak merasakan sakit?"


"Aku memang egois dan tak punya hati, Bian. Kamu kembali membunuhnya bersamaan dengan terlukanya anakku! Sudah tidak ada tempat lagi untukmu."


"Queen, aku mohon, jangan hukum aku seberat ini. Aku rela melakukan apa pun asal jangan pisahkan aku darimu dan anak kita," ujar Abian memohon.


"Lebih baik kamu pergi, Bian. Aku ingin istirahat."


"Queen ...."


"Aku mohon, beri aku waktu," lirihnya menatap sang suami.

__ADS_1


Abian hanya menghela napas pasrah. "Baiklah, kamu istirahat. Aku akan menunggu di luar. Kalau butuh sesuatu, panggillah aku." Dengan pasrah, Abian berjalan keluar kamar inap sang istri.


__ADS_2