
"Anda tahu hal yang paling aku benci? Hari di mana Mama sedang di ujung kematian tapi Anda justru sedang bersenang-senang dengan istri Anda yang lain. Mungkin Anda tidak tahu, saat itu Mama terus memanggil nama Anda dengan begitu lirih menahan sakaratul maut yang sangat menyakitkan. Demi keinginan Mama yang ingin sekali melihat Anda untuk terakhir kalinya, aku rela meninggalkannya dan menyusul Anda. Namun, apa yang aku lihat? Itu sangat menyakitkan. Bahkan karena menyusul Anda, aku tidak bisa mengatakan kata cinta terakhir untuk Mama."
Air mata Queenza mengalir begitu deras. Rasa sakit itu kembali muncul jika mengingat semuanya.
"Queen, maafkan Papa. Andai Papa tahu saat itu mamamu—"
"Cukup! Kata maaf Anda tidak akan membuat Mama kembali." Queenza menghapus air matanya. Ia menatap lelaki yang kini menatapnya dengan penuh penyesalan.
"Anda harus tahu, hari di mana Mama pergi, di waktu yang sama aku menganggap papaku juga pergi. Papa pergi bersama Mama dan Anda, bukan papaku. Anda hanya orang asing yang kebetulan satu darah denganku. Aku akan mencoba melupakan masa lalu itu. Aku tidak akan lagi balas dendam padamu dan istrimu itu. Hiduplah dengan baik bersamanya dan jangan pernah menganggapku anakmu lagi."
"Queen ...."
"Jika urusan di sini selesai, Anda bisa pergi membawa istri Anda dan ingatlah, jangan pernah datang lagi ke sini apa pun alasannya."
Queenza pun berlalu begitu saja meninggalkan Aarav yang terus memanggilnya. Hati lelaki paruh baya itu terasa sakit mendengar perkataan sang anak. Entah dengan cara apalagi ia mendapatkan anak kesayangannya kembali?
Malam pun datang. Semua orang kembali ke kediaman masing-masing setelah makan malam. Seperti biasa, Queenza akan menemani sang anak hingga terlelap dengan membacakan buku dongeng. Selepas Tatjana tertidur, wanita cantik dengan gaun malam merah hati itu berjalan menuju kamarnya. Terlihat Abian tengah duduk bersandar tersenyum menatap sang istri.
"Anna sudah tidur?" tanya Abian.
"Sudah," jawab Queenza naik ke atas tempat tidur dan duduk di samping suaminya. Ia tampak sedih, membuat Abian merasa bingung.
"Kenapa, Sayang?" tanya lelaki dengan piyama navy itu.
Queenza menoleh seraya tersenyum. "Aku tidak apa-apa. Kita istirahat, ya."
Bukan mendengar perkataan sang istri, Abian justru menarik tubuh Queenza untuk masuk dalam pelukannya. Ia usap punggung wanita yang dicintainya dengan begitu sayang.
"Aku tahu, sekarang ini kamu sedang memikirkan sesuatu, kan? Katakanlah, Sayang. Jangan kamu pendam sendiri. Ada aku yang selalu di sampingmu. Bagilah kesedihanmu agar perasaanmu tenang."
"Aku baik-baik saja. Mas istirahatlah. Kan baru keluar dari rumah sakit." Queenza melepas pelukan sang suami dan membantu laki-laki itu untuk berbaring.
Kini keduanya saling berpandangan dengan Abian menarik tubuh istrinya masuk dalam dekapan.
"Nyaman," ujar Abian tersenyum. "Sayang sekali ya aku belum bisa menggerakkan kakiku. Jika normal pasti aku akan melakukan hal yang seharusnya sudah aku lakukan tiga tahun lalu."
__ADS_1
Queenza hanya tersenyum malu mendengarnya. Bukan ia tak mengerti sang suami bicara ke arah mana.
Abian mengangkat dagu Queenza agar menatapnya. Ia kecup bibir seksi itu dengan senyumannya.
"Ternyata bagian itu tidak lumpuh seperti kakiku. Kamu bisa merasakannya, kan?"
"Mas mesum ih!" Queenza memukul dada suaminya lalu membenamkan wajahnya di dada Abian.
"Loh, Queenza yang bar-bar kenapa jadi malu gitu? Padahal dulu sampai menggunakan obat perangsang untuk mendapatkannya."
"Itu kan lain lagi. Aku melakukan untuk balas dendam. Beda dengan sekarang."
"Apa bedanya, Cantik? Bukankah sama saja?"
"Ummmmm bedalah. Kalau dulu obsesi kalau sekarang, cinta beneran," kata Queenza tersenyum malu sembari memainkan jarinya di dada sang suami.
"Cinta? Memang cinta itu apa menurutmu?"
"Mas Bian bawel deh. Ayo tidur," omel Queenza.
Sepanjang malam itu, Queenza mendengarkan Abian yang berbicara. Laki-laki itu benar-benar mengeluarkan banyak kata hingga seperti mendongeng untuk istrinya yang kini terlelap.
"Bagaimana sayang? Apa kamu mau?" tanya Abian pada istrinya, tetapi tak ada sahutan. "Sayang?" Lelaki itu menoleh yang ternyata sang istri sudah tertidur. Ia tersenyum melihatnya.
Abian memeluk Queenza dengan begitu erat. Tak henti-henti ia menciumi wajah istrinya yang tampak begitu cantik.
"Good night, Sayang. Tidurlah. Satu bulan ini kamu sudah lelah mengurusku di rumah sakit. Kini, giliranku yang berjuang untuk membahagiakanmu. Tak henti-henti aku berterima kasih padamu karena sudah memaafkan dan menerimaku kembali. Aku janji akan memberikan semua yang aku miliki termasuk hidupku untukmu."
Abian memeluk istrinya dengan erat dan mencoba ikut menutup mata dan tidur.
Keduanya terlelap dengan begitu damai. Malam sunyi nan dingin membuat Abian semakin mengeratkan pelukannya. Kebetulan malam itu hujan cukup besa.
Hingga tiba di jam tengah malam, tiba-tiba Queenza seperti gelisah. Tubuhnya bergerak ke sana ke mari dengan air matanya yang mengalir.
Merasakan pergerakan yang tak henti-henti, membuat Abian terjaga dan menatap istrinya yang menangis dengan mata tertutup.
__ADS_1
"Mama, jangan pergi."
Wanita cantik itu terus mengigau memanggil mamanya dengan begitu lirih.
"Queen ...." Abian mengangkat setengah tubuhnya dan menepuk pipi istrinya, berharap wanita cantik itu terjaga.
"Mama."
"Queenza Sayang. Bangun." Abian terus mencoba menepuk pipi sang istri berulang kali hingga matanya terbuka dengan raut yang seperti terkejut.
"Sayang ...."
Queenza menoleh pada suaminya, tiba-tiba ia menangis memeluk Abian hingga sesegukkan. Lelaki itu sendiri hanya mengusap punggung istrinya, memberi waktu untuk menenangkan diri.
"Aku tidak bisa memaafkan mereka," ujar Queenza terisak. "Mereka telah membunuh Mama. Aku tidak terima!"
"Istighfar, Sayang. Jangan bicara seperti itu." Abian mencoba menenangkan istrinya.
"Dia berbohong! Dia tidak mencintai Mama. Aku benci padanya!"
Abian masih bungkam. Ia tak ingin berkata hal yang salah yang membuat istrinya semakin jatuh. Ia hanya mendengarkan serta mengusap kepalanya supaya lebih tenang. Ia sendiri tak merasakan apa yang istrinya rasakan. Maka dari itu, ia tak ingin menasehati tanpa tahu bagaimana perasaan sang istri.
"Sayang, Mama sudah tenang di sana. Jangan sedih, ya. Mama pasti sangat sedih melihatmu seperti ini." Abian mencium kening Queenza dengan mengusap kepalanya lembut.
"Mama pasti mau kamu bahagia, Queen. Mama sangat sayang padamu. Dia pasti tidak mau melihat anak kesayangannya sedih dan menderita. Sudah, jangan menangis lagi. Aku ikut hancur melihatmu seperti ini, Sayang."
"Aku merasa bersalah, Mas. Aku gagal membawanya bertemu Mama untuk yang terakhir kalinya. Aku gagal menepati janjiku. A-aku bahkan tidak bisa menemani Mama saat ia akan pergi. A-aku anak yang buruk. Aku—"
Sebelum melanjutkan perkataannya, tiba-tiba Abian membungkamnya dengan ciuman. Ia ***** dan gigit kecil bibir Queenza hingga wanita itu meringis.
"Cukup, Sayang. Kamu adalah anak terbaik untuk Mama. Papa pernah menceritakan padaku bagaimana luar biasa anak perempuannya. Ia rela berada di rumah sakit setiap waktu untuk mengurus Mamanya. Kamu selalu berada di samping Mama dan menemaninya melewati masa-masa sulit itu. Kamu anak yang luar biasa, Sayang. Aku bangga menjadi suamimu. Sudah, jangan bicara buruk tentang dirimu sendiri. Mama pasti sedih."
Queenza memeluk Abian dengan begitu erat. Ia masih menangis menumpahkan kesedihannya. Karena perbincangan dengan Aarav, rasa bersalah itu muncul kembali hingga membuat Queenza mimpi buruk.
'Sayang, aku bersamamu. Jangan takut.'
__ADS_1