
Queenza melangkah masuk mansionnya. Seperti janji pada Nana, ia kembali sore untuk menemui anak kesayangannya. Gadis kecil itu berlari menghampiri sang bunda yang tersenyum padanya.
"Bunda!" Gadis kecil itu memeluk bundanya saat Queenza berjongkok. "Bunda dari mana? Anna kangen."
"Bunda ada urusan, Sayang. Maaf ya Anna gak diajak," ujar Queenza mengusap kepala anak kesayangannya.
"Ayah mana? Kata Kak Nana tadi pergi sama Bunda." Tatjana menatap sekeliling mencari keberadaan ayahnya.
"Ayah? Hmmmmmm, Ayah sedang ada perjalanan bisnis ke luar negeri, Sayang. Tadi Ayah titip salam pada Tatjana," jawab Queenza. Sungguh, ia tak ingin berbohong pada anaknya, tetapi ia tak ingin Tatjana sedih jika tahu ayahnya mengalami kecelakaan dan keadaannya kritis.
"Ayah kenapa bohong pada Anna? Ayah bilang, Ayah mau ajak Anna ke kebun binatang besok." Tatjana menangis mendengar ayahnya tak ada. Ia merasa kecewa karena lelaki itu melanggar janjinya.
Setetes air mata terjatuh di pipi Queenza. Dengan cepat ia hapus. "Sayang, Ayah janji kalau sudah kembali akan mengajak Tatjana ke manapun. Tapi untuk sekarang Ayah tidak bisa. Maafkan Ayah, ya? Atau kalau tidak, biar Bunda yang menemani Anna besok, bagaimana? Kita ke kebun binatang?"
"Beneran Bunda mau ajak Anna ke sana? Bunda gak pernah mau bawa Anna ke sana, katanya panas," kata bocah itu menatap ibunya.
"Anna kan suka gampang capek, Bunda gak mau aja Anna nanti kecapekan saat bermain di sana. Tapi, kalau Anna benar-benar mau ke sana, Bunda akan temani."
"Beneran?" tanya Tatjana berbinar.
"Iya, Sayang." Wanita cantik itu mencium gemas pipi anaknya.
"Yeay! Aku mau ke kebun binatang." Gadis cantik itu loncat kegirangan.
"Wah, wah, wah, happy sekali Anna. Ada apa nih?" tanya Nana yang berjalan menghampiri ibu dan anak itu.
"Bunda mau ajak Anna ke kebun binatang besok. Yeay, I want to see tiger. Yeay!"
__ADS_1
"Wah, serunya. Kakak boleh ikut gak nih?" tanya Nana.
"Boleh!"
"Asik. Anna memang terbaik."
"Sayang, masuk kamar dulu gih belajar. Bunda mau bicara dengan Kak Nana," ujar Queenza pada buah hatinya.
"Oke." Bocah itupun berlari riang menuju kamarnya.
"Na, habis dari mana? Kok Anna sendiri tadi?" tanya Queenza.
"Salat magrib, Kak. Sekalian mendoakan Mas Bian. Semoga Allah segera membuatnya sadar," ujar Nana dengan wajah sedih.
Mendengar itu Queenza terdiam. Sudah sangat lama ia tak pernah melakukan kewajibannya pada Sang Maha Pencipta. Apalagi kini Abian memang butuh doanya supaya segera sadar.
"Iya, Kak. Tadi terakhir pas makan siang."
"Ya sudah, Kakak masuk dulu."
"Gimana keadaan Mas Bian?" tanya Nana.
"Masih sama, Na. Doakan terus, ya."
"Ya Allah Mas Bian ... Semoga Allah menyembuhkan Mas Bian ya Kak."
"Aamiin. Kalau gitu Kakak masuk dulu." Wanita cantik itu berlalu menuju kamarnya. Ia ingin membersihkan diri dan melaksanakan salat setelah begitu lama ia tinggalkan.
__ADS_1
Queenza keluar dari walk-in-closet dengan pakaian santainya. Tak lupa membawa mukena dan sajadah yang pernah Abian berikan padanya.
"Apa ini?" tanya Queenza saat suaminya memberikan paper bag padanya.
"Buka saja," jawab Abian.
Wanita cantik itu pun meraih apa yang ada di dalam sana. Sebuah mukena dan sajadah. Tak lupa tasbih dan Quran kecil.
"Untuk apa kamu memberikan ini?" tanya wanita itu.
"Kamu tahu kegunaan benda ini kan? Ngapain nanya lagi?" tanya Abian.
"Ck! Aku tidak percaya pada Tuhan. Percuma kamu kasih ini." Queenza melempar pelan paper bag itu ke atas ranjang, lalu pergi meninggalkan suaminya.
Queenza meneteskan air mata saat mengenang itu semua. Kejadian itu saat awal-awal menikah. Abian yang tahu tugasnya sebagai imam selalu mencoba mengarahkan Queenza menuju hal baik. Namun, karena hatinya yang keras wanita itu selalu mengabaikan. Hingga kini ia kembali tersadar saat hampir kehilangan suaminya.
Ia sadar, ia terlalu egois dan pendendam. Andai ia memberikan Abian kesempatan, pasti tidak akan begini. Setidaknya ia tidak merasa bersalah. Ia teringat juga saat pagi tadi Abian mengajaknya salat, tapi ia berbohong agar Abian tak banyak bicara.
Akhirnya Queenza membentangkan sajadah dan mengenakan mukenanya untuk bersiap.
"Allahumma baarik lana. Eh, bukannya itu doa makan ya?" Queenza berdecak sebal saat ia melupakan niat salat. "Saking lamanya gak salat sampe lupa gini. Ya Allah, berdosa banget aku." Wanita cantik itu pun meraih ponselnya lalu mencari niat salat di internet.
Queenza pun mengingat-ingat niat salat magrib. Lalu melihat tuntunan salat juga karena mungkin ia lupa.
"Aduh, sudah mau isya ini masih belum hapal juga," gerutu wanita cantik itu. Ia tak menyangka bahwa menghapal salat jauh lebih sulit dari menghapal rumus.
Perlu setengah jam untuk Queenza menghapal semua, lalu akhirnya ia praktekan. Meski terbata, ia mencoba melanjutkan salatnya dan berdoa semoga Allah menerima salatnya yang kemungkinan belum sempurna itu.
__ADS_1