
Ayyara berjalan dengan anggun masuk perusahaan berlantai lima. Semua orang menunduk hormat padanya. Wanita cantik itu hanya mengangguk membalas sapaan para karyawan. Sampai di area lift, seseorang membantunya, lalu ia masuk dan petugas itu memencet tombol lantai empat. Tak lama, wanita bergaun itu keluar dan melangkah ke salah satu ruangan.
"Selamat siang, Mbak," sapa laki-laki berjas hitam dengan sopan.
"Pak komisaris ada?" tanya Ayyara tersenyum.
"Ada, Mbak. Silahkan masuk, Mbak sudah ditunggu." Lelaki berkacamata bulat itu membukakan pintu untuk Ayyara dan sang wanita masuk.
"Selamat siang, bapak komisaris," sapa Ayyara tersenyum.
Lelaki yang dipanggil itu pun menoleh dan tersenyum menatap wanita cantik di depannya.
"Sayang ...." Ia beranjak dari duduk, melangkahkan menghampiri Ayyara dan memeluknya. "I miss you," katanya lirih.
"I miss you too," jawab Ayyara begitu hangat dalam dekapan lelaki itu.
Keduanya melepaskan pelukan, lalu si lelaki mengajak duduk Ayyara.
"Kenapa? Apa dia menyakitimu lagi?" tanya lelaki bertubuh tinggi tegap itu dengan lembut.
Ayyara pun hanya mendekapnya dengan begitu manja.
"Besok malam, wanita itu akan pergi ke Zürich selama 3 bulan. Selama itu juga aku akan menghancurkan rumahnya," kata Ayyara dengan tatapan penuh amarah.
"Good. That's my girl." Lelaki itu tersenyum seraya mengecup ujung kepala Ayyara dengan penuh kasih sayang. "Bagaimana proses perceraianmu dengan lelaki India itu?"
"Sedang diproses. Aku benar-benar ingin berpisah dengannya. Sungguh, dia tak berguna sama sekali. Aku sangat membuang waktu bersamanya," kata wanita bermata kecil itu malas.
"Tidak usah merasa kecewa, itu sudah jadi keputusanmu. Kini, kita harus mencapai tujuan kita, menghancurkan orang yang sama!" seru lelaki itu mengepalkan tangannya.
"Sure. Tenang saja, dalam waktu kurang dari tiga bulan aku akan menghancurkannya, sama seperti dia yang menghancurkan hidupku," sahut Ayyara dengan sama mengepalkan tangan dengan tatapan bencinya.
"Apa kamu masih mencintai Abian?" tanya lelaki itu, membuat Ayyara menoleh.
__ADS_1
"Tidak! Sudah tidak ada lagi cinta pada laki-laki itu! Awalnya aku merasa bersalah melepasnya sebab aku tahu ia mencintaiku. Tapi, ketika aku kembali dari luar negeri setelah perpisahan, aku melihat begitu besar cintanya pada wanita itu, padahal hanya baru beberapa bulan kita bercerai. Segitu cepatnya dia berpaling dan melupakanku. Bagaimana bisa aku masih mencintainya? Kini hanya ada dendam untuk keduanya," ujar Ayyara menutup mata, mengingat betapa sakitnya ia saat tahu Abian begitu cepat melupakannya.
"Kita balaskan semuanya. Kita hancurkan keluarga Kusuma dan Weber," kata lelaki bermata elang itu tegas.
"Aku Masih memiliki darah Weber, Ayah!" seru Ayana tak suka.
Lelaki berusia enam puluh tahun itu tertawa. "Tapi darah Kagendra lebih kental di tubuhmu, Ayyara Zara Kagendra," kata Narapati Kagendra pada anak tunggalnya.
Ayyara hanya bisa tersenyum memeluk ayah kandungnya.
Narapati Kagendra adalah suami pertama sekaligus ayah kandung Ayyara. Keduanya bercerai sebab Narapati melakukan KDRT yang sama seperti Saad lakukan. Nara begitu murka saat tahu Sarah masih mencintai Aarav dengan tanpa penyesalan. Bahkan Sarah berkata ingin kembali pada mantan kekasihnya itu saat tahu sang kakak mengidap penyakit parah.
Karena itulah Narapati begitu murka dan tanpa sengaja memukul Sarah. Kesempatan itu dilakukan adik Charlotte untuk mengambil simpati Aarav kembali dibantu Charlotte yang memang begitu manyayangi Sarah, hingga akhirnya ia benar-benar harus berpisah dengan wanita yang sangat dicintainya dengan membawa anak tunggal mereka, Ayyara Zara Kagendra.
Narapati sedikit menyayangkan keputusan Ayyara yang sama seperti yang dilakukan ibunya dulu. Namun, ia juga memiliki tujuan sama dengan sang anak, menghancurkan dua keluarga itu melalui Queenza. Kusuma dan Weber akan hancur jika 'Ratu' mereka juga hancur.
**
Queenza berjalan menuju kamar Nana. Wanita cantik itu mengetuk pintu dan dibuka oleh gadis itu.
"Na, kamu tahu kan Kakak akan ke Switzerland untuk beberapa bulan?" tanya Queenza yang dijawab anggukan oleh Nana. "Kakak ke sana bukan hanya untuk mengurus pekerjaan saja, tetapi untuk menebus janji Kakak padamu." Ia menatap serius adiknya.
"Janji?"
"Ya, janji membawamu ke sana untuk kuliah."
Mata Nana membulat sempurna mendengarnya. "Ta-tapi bukannya aku ke sana untuk mengambil master? Aku belum menyelesaikan kuliahku di sini, Kak. Ada apa? Apa Kakak mau mengusirku?" tanya Nana dengan air mata terjatuh. Entah kenapa ia merasa sedih mendengar keputusan Queenza, padahal dulu ia sangat ingin pergi ke negara indah tersebut.
Queenza menggenggam tangan adiknya. Ia usap air mata gadis itu. "Na, kakak sayang kamu. Kamu tahu itu, 'kan?" tanyanya. "Kakak benci orang yang mengkhianati Kakak bahkan Kakak bisa membunuh orang yang membuat Kakak kecewa. Kakak ingin memutus itu, Na. Kakak gak mau kamu jadi korban Kakak hanya karena rasa kecewa," ujarnya dengan air mata terjatuh.
"Ma-maksud Kakak?" tanya Nana bingung.
"Naysilla, Kakak tahu kamu memiliki rasa pada suami Kakak, 'kan? Rasa yang berbeda dari rasa sayangmu pada Kakak? Rasa di mana kamu ingin memilikinya."
__ADS_1
Jantung Nana berdebar hebat mendengarnya. Tangannya gemetar melihat tatapan Queenza padanya. "K-kak ...."
"Na, Kakak tidak mau kehilanganmu. Karena itu, Kakak akan menjauhkanmu darinya. Kakak tidak akan marah kamu mencintai Mas Abian. Mungkin itu hanya perasaan kagum yang kamu salah artikan. Namun, demi memutus rasa itu, kamu harus pergi. Demi Kakak, Na. Kakak sayang kamu, Kakak gak mau berperang denganmu yang sudah kakak anggap seperti Tatjana. Karena itu, Kakak putuskan untuk kamu pergi. Bukan mengusirmu, Sayang. Kakak hanya ingin melindungimu juga keluarga Kakak," ujar Queenza memeluk Nana.
"Kakak sayang kamu, Na. Kakak gak mau hidup kamu hancur dengan mencintai orang yang salah. Kakak mohon."
Hanya pada Nana dan Tatjana Queenza bisa begitu lemah. Gadis cantik itu mengingatkan pada dirinya sendiri yang tak memiliki orang tua. Karena itu, ia ingin melindungi Nana yang sudah ia anggap lebih dari sekadar keluarga. Cintanya pada Nana sama seeprtinrasa cintanya pada Tatjana. Saat ia tahu Nana mencintai suaminya, bukan rasa benci yang dirasakan, seperti rasa bencinya pada Ayyara. Namun justru rasa khawatir karena tak ingin melihat adik kesayangannya memiliki rasa seperti yang Ayyara miliki padanya, yaitu rasa iri hingga menghancurkan sebuah hubungan keluarga.
Queenza tahu Nana anak yang baik, karena itulah ia sengaja membawa Nana pergi jauh agar rasa yang tak seharusnya ia miliki semakin terkikis saat mereka berjauhan.
"Maaf," lirih Nana memeluk kakaknya dengan menangis rersedu-sedu.
Queenza melepas pelukannya, lalu mengusap air mata sang adik dan menggeleng. "Rasa itu Allah yang atur, kamu gak salah. Justru Kakak bangga karena kamu tidak menunjukkan rasa itu dan mencoba merebutnya dari Kakak. Kakak bangga padamu, Na, karena itu Kakak ingin menolongmu untuk melepas rasa itu. Kakak harap, kamu juga berjuang untuk melepas rasa yang tak seharusnya."
Nana hanya mengangguk dalam tangisnya.
"Kakak lebih sayang kamu dari Mas Bian, Na. Kakak melakukan ini bukan takut kehilangan Mas Bian, tapi Kakak takut kehilangan adiknya Kakak. Kakak takut kehilangan Naysilla Kakak yang baik dan manis ini. Jadi, kakak mohon, ikuti rencana Kakak, ya. Berkemaslah, karena besok kita terbang ke Switzerland," ujar Queenza mengusap lembut kepala Nana.
"Tapi, gimana dengan kuliahku?"
"Semua sudah Kakak atur. Begitu juga dengan kampusmu di Bern. Kakak siapkan rumah untukmu di sana jika tidak ingin tinggal di asrama. Kakak akan siapkan yang terbaik untukmu, Na," ujar Queenza tersenyum.
Air mata Nana semakin tumpah mendengarnya. "Maafin Nana, Kak. Demi Allah, Nana gak pernah niat untuk memiliki Mas Bian. Nana sadar rasa itu salah. Nana sadar untuk tidak menyakiti Kakak. Nana juga sama sayangnya pada Kakak. Nana takut, kepergian Nana ini karena Kakak kecewa pada Nana. Nana takut Kakak marah sampai tidak mau melihat Nana lagi. Maafkan Nana, Kak." Gadis itu menangis sesegukkan merasa bersalah dengan apa yang dia rasakan.
"Mana bisa Kakak marah padamu, Na. Kamu adalah salah satu penghuni hati kakak. Kakak melakukan ini jutru karena Kakak sayang padamu. Demi Allah Kakak gak benci atau marah padamu. Jangan salah paham, Na."
Nana hanya menggeleng semabri terus memeluk Queenza dengan isakannya. Gadis itu merasa buruk karena memiliki rasa tak biasa untuk suami kakaknya. Namun, ia sadar diri tak mungkin berharap memiliki Abian. Keputusan Queenza untuk menjauhkan mereka memang keputusan tepat agar Nana tak memiliki rasa seperti yang Ayyara rasakan sekarang padanya. Cukup Queenza kehilangan Ayyara sebagai saudara, ia tak ingin ekhilangan Nana, keluarga satu-satunya yang ia miliki.
_____________
assalamualaikum, Reader. mau beri informasi permintaan maaf karena Di beberapa bab Author salah menyebutkan nama tokoh. Seharusnya Ayyara justru Author tulis Ayana. Jadi, tolong dimaklumi karena kemarin-kemarin Author hiatus di novel ini.
BTW, seperti janji Author sebelumnya, akan ada gift novel cetak Author untuk pembaca yang rajin beri like, Komen serta vote untuk novel Queenza ini. Komen para reader itu menjadi power untuk Author. so, untuk para silence reader, yuk Komen biar author semangat nulisnya.
__ADS_1
salam manis dari Mrs.A