Queenza

Queenza
Bab 67


__ADS_3

Queenza berjalan masuk mansionnya dengan tubuh terasa lelah. Hari ini begitu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan hingga sampai rumah pukul sepuluh malam. Kediaman megah itu tampak sepi dengan penerangan sebagian telah gelap.


"Apa Anda membutuhkan sesuatu, Nyonya?" tanya Anastasia—kepala pelayan baru kediaman Queenza.


"Buatkan teh herbal dan antarkan ke kamar," ujar Queenza.


"Baik, Nyonya." Wanita berusia empat puluh lima tahun itu pun pergi menuju dapur.


"Sayang ...." Abian melangkah turun menghampiri sang istri yang tersenyum padanya. "Malam sekali kamu pulang. Apa ada masalah?" tanyanya.


Queenza memeluk sang suami. Ia hirup aroma tubuh Abian yang membuatnya tenang. "Capek," lirih Queenza.


Abian tersenyum dengan mengecup gemas ujung kepala istrinya itu, lalu ia gedong tubuh semapai istrinya dan membawa ke kamar.


"Peka sekali suamiku," puji Queenza dengan nyaman memeluk leher Abian.


Sampai di kamar, Abian dudukkan Queenza di sofa. Ia bantu juga melepas sepatu serta blazer istrinya. Setelah itu ia duduk di samping Queenza.


"Hari ini benar-benar menguras tenaga sekaligus emosiku. Apalagi melihat pemberitaan tentang Ayana yang membawa nama kita," sahut Queenza menyandarkan tubuh di bahu suaminya.


"Apa kita perlu buka suara?" tanya Abian memeluk istrinya.


"Untuk sekarang tidak perlu. Biarkan Ayana fokus dengan perceraiannya dulu," jawab Queenza menutup mata. Rasanya begitu nyaman bersandar pada Abian. Penatnya perlahan hilang, hingga ia beranjak duduk, lalu menatap suaminya. "Mas, aku ingin meminta izin," katanya dengan tatapan serius.


"Minta izin untuk apa?" tanya Abian.


"Aku ingin pergi ke Zürich tiga hari lagi."


"Zürich? Buat apa? Lalu berapa lama?" tanya Abian.


"Ada sedikit masalah di perusahaan Travellezia cabang sana. Aku harus menghandlenya sendiri. Dan kemungkinan tiga bulan Aku pergi. Juga ... aku ingin membawa Tatjana. Aku gak mau psokologisnya terganggu selama gosip tentang Ayana dan kita masih berembus," kata Queenza menjelaskan.

__ADS_1


"Satu bulan?" tanya Abian terkejut. "Kenapa lama sekali? Apa masalahnya besar?"


"Selain itu, ada alasan lain aku ke sana."


Queenza pun menjelaskan rencananya yang akan tinggal cukup lama di Zürich pada sang suami.


"Baiklah, jika kamu maunya begitu," jawab Abian mengusap pipi istrinya.


"Selama aku di sana, aku serahkan stasiun televisi dan Travellezia pada Mas, ya. Maryam dan Thomas akan membantu," kata Queenza kembali.


"Kamu tidak perlu khawatir untuk pekerjaan di sini," sahut Abian. "Oh ya, pengawal bilang tadi siang Saad ke sini."


"Dia tadi ke kantorku dengan amukannya," jawab Queenza.


"Apa!" pekik Abian. "Kurang ajar! Berani sekali dia mendatangi istriku," katanya dengan emosi.


"Dia bahkan mengataiku sialan," ujar Queenza dengan raut sedihnya.


'It's show time!' batin Queenza tertawa. 'Maafkan aku, Sayang. Aku harus melakukan ini untuk sampai pada tujuanku.'


Tak lama pintu diketuk.


"Itu pasti Anas membawakan teh untukku. Mas tolong ambilkan, ya. Aku mau mandi," ujar Queenza beranjak lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Terima kasih," ucap Abian meraih nampan berisi teh herbal milik istrinya.


"Apa Tuan dan Nyonya membutuhkan hal lain?" tanya Anastasia.


"Tidak. Kamu bisa kembali ke kamarmu," kata Abian.


"Baik, Tuan. Saya permisi. Selamat malam dan selamat beristirahat."

__ADS_1


Setelah itu Abian menaruh tehnya dan berjalan keluar untuk mengambil air minum di dapur. Ia tak pernah menyuruh pelayan untuk hal-hal yang bisa ia kerjakan sendiri.


Sampai di dapur, ia melangkah menuju meja bar untuk meraih teko kaca yang telah terisi air, tetapi matanya menatap heran ke arah seseorang di sana juga.


"Na, ngapain?"


Mendengar suara Abian, sontak membuat Nana terkejut hingga tubuhnya yang tengah menaiki kursi untuk mengambil sesuatu di kitchen set limbung. Abian yang melihat pun berlari untuk menangkap Nana hingga tubuh gadis itu kini dalam gendongan Abian.


Jantung Nana berdebar hebat menatap Abian dengan jarak yang begitu dekat. Wajah tampan lelaki itu semakin terlihat jelas yang membuat wajah Nana memerah.


"Na."


Gadis itu tersadar dari lamunannya, lalu Abian menurunkan tubuhnya.


"Gak apa-apa, 'kan?" tanya ayah satu anak itu.khawatir.


"Ng-nggak apa-apa, Mas. Makasih," ujar Nana menunduk karena gugup.


"Kamu cari apa sampai naik-naik gitu?"


"Aku mau ambil termos, Mas. Kebetulan lagi datang bulan mau naruh air rebusan jahe tahunya jauh banget," jawab Nana kembali.


"Oh, tunggu. Biar Mas ambilkan." Abian pun meraih termos air berukuran 500 mili liter dan menyerahkan pada gadis cantik itu. "Lain kali minta tolong sama yang lebih tinggi. Jangan ambil sendiri. Kalau jatuh gimana?"


"I-iya, Mas. Makasih," jawab Nana dengan tangan gemetar. Ia tremor saking gugupnya digendong Abian.


"Ya sudah, Mas mau ke kamar lagi, tadi cuma mau ambil teko air. Jangan begadang." Abian mengusap kepala Nana yang membuat gadis itu meleleh.


Abian pun pergi meninggalkan Nana yang masih menatap lelaki itu. Setelah bayangannya hilang, gadis berusia dua puluh satu tahun itu menyentuh kepalanya. Ia usap-usap dengan senyuman yang merekah.


"Tidak, Nana! Dia suami kakakmu!" Nana mengepalkan tangannya. Merasa bersalah karena memiliki perasaan lebih pada Abian.

__ADS_1


__ADS_2