
Pagi menjelang. Seperti hari-hari sebelumnya, Queenza mengalami morning sickness. Mendengar istrinya mual-mual, Abian pun berjalan menuju kamar mandi dan melihat keadaan Queenza. Saat sampai di sana, ternyata Queenza sudah selesai bahkan sudah membasuh wajahnya.
"Are you okay?" tanya Abian.
"I'm okay," jawab Queenza berjalan keluar tanpa memedulikan suaminya.
Abian pun mengikuti dari belakang, menatap Queenza yang membuka lemari dan menyimpan semua pakaian dirinya serta milik sang suami ke dalam koper.
"Mau ke mana?" tanya Abian.
"Pulanglah. Ngapain juga di sini," jawab Queenza ketus.
"Bukannya mau tiga hari di sini?"
"Karena kita tidak bisa melakukan hubungan suami istri jadi buat apa di hotel? Lebih baik di rumah," jawab Queenza beranjak.
Akan tetapi saat ia hendak melangkah, tubuhnya oleng dan dengan cepat Abian memeluk dari belakang.
"Kamu beneran baik-baik saja?" tanya Abian.
"Kamu pikir habis mual-mual begitu aku tidak lemas?" omel Queenza yang melepas paksa pelukan sang suami, tetapi justru tubuhnya diangkat Abian dan dibawa menuju ranjang. Wanita itu hanya diam dengan memeluk leher suaminya.
"Sudah kamu diam di sini. Aku yang akan membereskan barang. Kamu mau sarapan apa?" tanya Abian sedikit ketus.
"Bicara dengan istrinya kenapa selalu sewot gitu sih!" omel Queenza pada Abian. "Dengan Ayyara saja begitu lembut!"
"Karena kamu dan dia berbeda! Jadi harus diperlakukan berbeda juga," gerutu Abian.
"Kamu jadi laki-laki pendendam, ya! Sudah sana pergi! Aku bisa mengurus diriku sendiri."
"Ya sudah." Abian pergi meninggalkan Queenza menuju walk-in-closet. Ia berniat untuk membereskan barang-barang mereka yang akan dibawa pulang.
__ADS_1
Abian meraih satu per satu pakaian Queenza. Ia cukup terkejut karena pakaian wanita itu kebanyakan lingerie yang begitu seksi dan tipis.
"Astaga, wanita ini apa ingin menggodaku?" tanya Abian bergidik ngeri. Andai Queenza mengenakan itu, pasti Abian tak akan tahan. Lelaki itu menepuk kepalanya untuk menghilangkan bayangan vulgar di otaknya.
"Entah apa yang dia berikan, sejak malam itu otakku jadi selalu traveling ke mana-mana," omelnya dengan melipat pakaian dan memasukkan ke dalam koper.
Setelah membersihkan diri dan sarapan, keduanya memutuskan untuk kembali ke mansion. Bukan mansion utama, melainkan mansion pribadi milik Queenza. Hunian mewah itu adalah hadiah dari mendiang ibunya dulu dan kini akan ia tempati bersama sang suami. Abian sendiri hanya bisa mengikuti karena dia tahu bahwa Queenza akan melakukan banyak cara supaya suaminya setuju. Abian yang tak ingin membuang tenaga untuk berdebat pun akhirnya mengalah. Lagipula ia belum memiliki hunian untuk istri barunya itu.
Semua barang yang ada di kamarnya di mansion utama dipindahkan. Meski Aarav tidak setuju tetapi siapa yang bisa menolak keinginan Queenza Safaluna? Bahkan Aarav yang ayah kandungnya saja tak bisa menentang.
Keduanya masuk ke kamar utama. Seperti sang mama yang suka desain kerajaan Eropa, kamar Queenza pun seperti kamar-kamar para ratu di kerajaan. Dengan warna dominan emas dan putih, serta ranjang berbentuk bundar, di tambah foto-foto yang figuranya telah diganti mengikuti desain kamar, membuat ruangan tersebut terlihat begitu mewah.
Wanita cantik itu duduk di ranjang lalu membaringkan tubuhnya. Entah mengapa sejak hamil Queenza begitu mudah mengantuk. Di jam-jam tertentu pasti saja ia akan terlelap seperti sekarang ini ia tertidur di jam sepuluh pagi.
Melihat istrinya yang kembali terlelap, Abian pun keluar kamar. Ia berencana melihat-lihat mansion tersebut sekalian ingin tahu apa saja yang ada di dalamnya. Saat sudah di luar kamar ia terkejut melihat Maryam.
"Kamu mengagetkan saja, Maryam!" ujar Abian mengusap dadanya.
"Iya, dia tertidur. Kenapa kamu tahu?" tanya Abian.
"Sejak hamil Nona memang selalu tidur di jam segini, Tuan," jawab Maryam. "Baiklah, saya akan kembali setelah Nona bangun. Saya permisi." Saat hendak pergi, Maryam ditahan Abian.
"Apa kamu tahu keberaadaan Ayyara?" tanya Abian.
"Tuan, Anda sudah menikah dengan Nona Queenza. Jadi, lebih baik lupakan masa lalu jika tak ingin membuat Nona Queenza marah dan melakukan apa yang tak ingin Tuan lihat. Saya permisi." Maryam pergi begitu saja meninggalkan Abian yang berdecak sebal.
"Tidak majikannya, tiada asistennya, sama-sama menyebalkan." Abian pun berjalan menyusuri banyak tempat di dalam mansion tersebut. Ada ruang gym, ruang kerja, mini theater, ruang penyimpanan makanan, bagasi mobil yang penuh dengan koleksi mobil mewah istrinya, dan kamar-kamar tamu juga gazebo serta taman juga kolam renang. Namun, lelaki itu sedikit penasaran dengan kamar yang memiliki pintu yang berbeda. Jika yang lain berwarna putih, pintu itu berwarna merah muda. Aneh memang, tetapi ia cukup ingin tahu ada apa di dalamnya.
Abian membuka pintu kamar tersebut. Ia menautkan alisnya saat melihat sebuah foto berukuran besar terpajang di sana. Foto dua anak perempuan begitu dekat. Keduanya seperti saudara yang tak terpisahkan. Abian tak bodoh yang tidak tahu siapa dalam foto tersebut. Yang pasti itu adalah Queenza dan Ayyara saat berusia sekitar belasan tahun. Mungkin sebelum kejadian di mana Charlotte tiada.
Abian berjalan masuk ke ruangan tersebut. Bukan hanya foto itu saja yang terpajang di sana, tapi banyak dengan beberapa ukuran. Yang membuatnya tak percaya adalah kedekatan keduanya. Jika dulu mereka bisa sedekat itu kenapa sekarang justru berjauhan? Ah, ia lupa kalau ada dinding pembatas yang membuat mereka menjadi musuh yang bukan lain adalah keegoisan orang dewasa.
__ADS_1
Abian meraih salah datu figura kecil yang menunjukkan kedua gadis kecil yang tengah berada di Disneyland. Mereka tampak begitu ceria di sana. "Dua bocah ini ditakdirkan menjadi istriku." Ia tersenyum sembari menggeleng melihatnya.
Namun, kenapa ini semua ada di mansion Queenza? Apakah istrinya itu masih memiliki rasa persaudaraan yang membuatnya menyimpan semua kenangan bersama Ayyara? Ah, wanita itu memang sungguh memiliki banyak misteri.
"Untuk apa kamu di sini?"
Sebuah suara mengagetkan Abian. Ia seakan seperti maling yang tertangkap basah.
"Keluar!" bentak Queenza. "Siapa yang mengizinkanmu masuk ke kamar ini? Apa kamu tidak lihat tulisan ini?" Queenza mengetuk pintu yang bertuliskan dilarang masuk kecuali tukang bersih-bersih.
"Maaf, aku hanya penasaran karena kamar ini yang paling berbeda dari ruangan lain. Tapi bisakan tidak usah membentak? Aku suamimu!" kata Abian penuh penekanan.
"Jangan buat aku emosi jika ingin dihargai sebagai suami. Kamu boleh memutari mansion ini sesukamu, tetapi tidak dengan kamar ini. Paham?"
"Oke!" Abian pergi meninggalkan kamar tersebut dengan perasaan yang keki. Seumur menjadi suami Ayyara, tak pernah ia dibentak seperti itu bahkan jika dia melakukan kesalahan. Namun menjadi suami Queenza benar-benar menguras kesabaran. Baru satu hari sudah berapa kali ia dibuat kesal.
Abian tak menyangka hanya karena masuk ke kamar itu, Queenza bisa marsh seperti tadi.
"Pelayan!" teriak Queenza.
"Iya, Nyonya."
"Kunci kamar ini dan jangan biarkan siapa pun masuk, termasuk suami saya. Hanya tukang bersih-bersih yang boleh masuk," ujar Queenza.
"Baik, Nyonya," jawab pelayan wanita itu.
"Katakan pada pelayan di dapur untuk menyiapkan bahan makanan yang saya sudah jadwalkan."
"Baik, Nyonya."
Queenza pun pergi setelah memberi intruksi untuk pelayannya.
__ADS_1