
Queenza mengumpat dengan begitu kesal. Sudah tujuh hari sesuai kesepakatan tetapi Abian benar-benar mengabaikan ancamannya. Bahkan teleponnya tak diangkat saat ia mencoba menghubungi. Emosinya sudah di ujung kepala dan siap untuk meledak.
"Kamu benar-benar mengabaikanku, Bian. Jangan salahkan aku jika kini aku akan mengabulkan keinginanmu," ujar Queenza mengepal dengan begitu kuat.
Abian dan Ayyara akhirnya kembali tepat di hari ke tujuh acara bulan madu mereka. Sampai di depan mansion, keduanya tampak terkejut melihat begitu banyak wartawan yang berada di depan gerbang.
Saat melihat mobil hendak masuk, para wartawan menghampiri dan mencoba mengetuk pintu mobil. Melihat itu semua, para pengawal memberi jalan mobil milik Abian untuk masuk, lalu pintu gerbang kembali ditutup.
"Kenapa banyak wartawan?" tanya Abian menatap istrinya yang hanya mengangkat bahu dengan tatapan yang masih dingin.
Sejak kejadian malam di mana Abian menyebut nama Queenza, sikap Ayyara berubah. Ia menjadi tak acuh pada suaminya. Abian sendiri hanya bisa menerima karena sadar ia salah.
Ayyara keluar lalu berjalan masuk disusul sang suami. Saat sampai ruang tamu keduanya berhenti ketika melihat polisi yang kini duduk dengan orang tuanya.
"Ma, Pa, ada apa ini?" tanya Ayyara yang melihat sang mama menangis.
"Selamat siang, Pak Abian. Kami datang sesuai perintah untuk menahan Anda. Ini adalah surat perintah penahanan Anda." Polisi itu menyerahkan surat tersebut membuat Abian dan Ayyara terkejut.
"Sebentar. Dalam kasus apa saya ditahan? Saya merasa tidak melanggar aturan hukum ?" tanya Abian sangat bingung.
"Anda ditahan atas pemerkosaan terhadap Nona Queenza Safaluna Kusuma."
__ADS_1
Jantung Abian berdebar dengan hebat. Begitu juga Ayyara. Ia tak menyangka bahwa Queenza benar-benar melakukan semuanya.
"Suami saya dijebak olehnya, Pak. Suami saya tidak salah," ujar Ayyara panik sang suami dituduh setega itu.
"Jika ingin mejelaskan sesuatu, Bapak bisa menjelaskan di kantor. Kami hanya menjalankan tugas," kata polisi tersebut. "Bripda, bawa dia ke mobil."
"Siap, Komandan!"
Dua orang polisi menghampiri Abian dan membawanya menuju mobil. Sedangkan Ayyara menangis mengejar suaminya.
"Mas, jangan pergi!" teriak Ayyara pada sang suami yang hanya bisa diam menatap sedih istrinya.
"Ayyara!" Sarah dan Aarav menahan sang anak yang hendak akan mengejar.
"Mas Bian!"
Wanita cantik itu terus menangis dengan begitu sedihnya. Permasalahannya bersama Abian belum selesai tapi masalah lain datang. Ia merasa berdosa karena sudah mendiami Abian sepanjang bulan madu bahkan sampai sebelum ditahan lagi. Ini bukan salah suaminya, justru dia yang jadi korban. Harusnya wanita itu yang ditahan. Pikir Ayyara.
Ia berdiri, menatap orang tuanya. "Di mana wanita itu?" tanya Ayyara yang masih meneteskan air mata. "Di mana Queenza!" teriaknya pada Aarav dan Sarah.
"Di menghilang sejak dua hari lalu. Kita sudah coba menghubunginya saat foto itu menjadi viral. Tapi kita tidak menemukannya," ujar Sarah yang menangis menatap sang anak.
__ADS_1
"Foto?" tanya Ayyara.
"I-iya. Entah siapa yang menyebar foto saat Abian dan Queenza ...."
Ayyara meraih ponselnya. Tanpa perlu mencari susah-susah, ia langsung menemukan berita yang tengah panas sekarang ini. Wanita cantik itu terkejut melihat foto di mana Abian merobek pakaian sang kakak dengan Queenza menangis menutupi tubuhnya. Benar-benar terlihat bahwa Abian mencoba memperkosa Queenza. Ia sangat lemas, ia tak menyangka bahwa Queenza setega itu.
"Aku harus menemuinya. Iya, aku harus memintanya mencabut tuntuta," ujar Ayyara pada orang tuanya.
"Tapi kita harus cari di mana? Bahkan Mama dan Papa tak menemukannya," kata Sarah.
"Maryam. Dia pasti tahu di mana Queenza berada." Buru-buru Ayyara mencoba menelepon asisten sang kakak itu. Ia berharap Maryam bisa memberitahu keberadaan sang kakak.
Di tempat lain, ponsel Maryam berdering. Wanita itu merogoh saku blazernya dan menatap siapa yang menghubungi.
"Nona, Nona Ayyara menelepon," kata Maryam mengatakan pada atasannya itu.
Queenza tersenyum puas melihatnya. "Tidak usah diangkat. Aku belum melihat mereka frustasi. Kita nikmati saja film terbaik tahun ini," jawab Queenza tersenyum melihat layar besar di depannya.
Pertunjukkan tadi sudah ia lihat dengan begitu jelas melalui CCTV bahkan saat Ayyara menangis mencoba mengejar Abian.
"Aku sudah memberinya kesempatan, tetapi mereka justru enak-enakan bulan madu. Inilah kejutan dariku untuk kalian! Kalian pikir ancamanku bualan semata? Aku tidak pernah main-main dengan perkataanku!" Queenza mengepalkan tangannya dengan begitu erat dengan sorot mata begitu marah pada tiga orang di layar yang kini saling berpelukan.
__ADS_1