Queenza

Queenza
The End


__ADS_3

Queenza keluar dari mobilnya bersama Abian serta Tatjana. Mereka tersenyum pada lelaki penjaga gerbang yang menyapa ketiganya. Pak Karso sangat tahu siapa mereka karena sering mengunjungi tempat tersebut. Setelah berbasa basi sebentar mereka pamit masuk. Abian menggenggam tangan kedua wanita kesayangannya dengan begitu protektif. Begitu juga Queenza yang memeluk lengan suaminya dengan begitu erat.


Sampai di pintu utama mereka disambut oleh sepasang sepuh yang tersenyum pada tamu mereka.


"Assalamualaikum, Umi, Abi." Dengan wajah ceria, satu keluarga itu mengucap salam.


"Waaalaikumsalam. MasyaAllah apa kabar? Umi senang sekali kalian datang. Ayo masuk."


Setelah saling menyapa dan bertanya kabar, mereka masuk ke ruangan yang terlihat seperti ruang tamu dengan meja kerja di sudut ruangan. Mereka duduk, lalu meminta seseorang menyiapkan minuman.


"Apa kabar kalian, Nak? Sudah lama tidak berkunjung," ujar lelaki paruh baya dengan jenggot panjang berwarna putih tersenyum teduh pada pasangan muda itu.


"Alhamdulillah sehat, Abi. Maaf kami jarang datang, pekerjaan kami sungguh menyita waktu. Belum lagi adik kami yang lain baru menikah, jadi baru sekarang kami berkunjung. Umi sama Abi kami undang tidak mau datang," ujar Queenza dengan wajah cemberut, membuat sepasang sepuh itu tertawa kecil.


"Kamu tahu kan usia kita sudah sepuh. Kami sudah tidak kuat pergi ke tempat jauh. Kami dari sini mendoakan Nak Nana juga Saad jadi keluarga sakinnah, mawaddah, warahmah. Semoga keluarga mereka diberi keberkahan oleh Allah. Begitu juga dengan kalian," sahut Kiyai Hamzah pada mereka yang sudah dianggap anak.


"Aamiin Allahumma Aamiin, terima kasih atas doa baiknya, Umi, Abi," jawab Queenza tersenyum.


"Hhmmm ngomong-ngomong, bagaimana keadaannya? Apa kami boleh menjenguk?" tanya Queenz hati-hati.


Sepasang suami istri sepuh itu tersenyum. "Alhamdulillah dia sangat baik. Sekarang sudah jarang sekali menangis dan bengong. Lebih sering berbaur dengan yang lain. Kadang ke kebun atau ke sawah untuk menanam padi," jawab Umi Khalifa tersenyum.


"Alhamdulillah," jawab Queenza dan Abian tersenyum. "Apa boleh kami bertemu?" tanya Queenza penuh harap.


"Tentu. Sebentar," ujar Hamzah "Ustadz Zafran," panggil kiyai itu pada salah satu pengajar di pesantrennya.


"Kulan, Kiyai." Seorang lelaki dengan pakaian muslim tak lupa peci hitam di kepala datang dengan santun.


"Tolong antar mereka bertemu Zara," ujar Hamza.


"Baik, Kiyai." Lelaki itu menunduk sopan serta tersenyum menyapa keluarga bahagia itu.


"Kalau begitu, kami izin bertemu Zara, Umi ... Abi ..."


"Silahkan, Nak. Semoga sekarang dia siap bertemu kalian."


"Aamiin."


Setelah pamit pada pemilik pesantren, Queenza, Abian dan Tatjana diajak oleh Ustadz Zafran menemui orang yang sangat ingin ditemui mereka. Lelaki pengajar itu membawa ketiganya ke area gazebo di mana para santri selalu duduk untuk menghapal hadits atau Al-Quran. Air mata Queenza menetes menatap seorang wanita cantik yang tengah memegang mushaf kecil dengan bibir yang terus bergerak sembari menutup mata.


"Assalamualaikum." Zafran memberi salam.


"Waalakumsa—" Wajah wanita itu terkejut melihat sosok yang berada di samping ustadznya.


"Ara," lirih Queenza tersenyum dengan air mata terjatuh melihat adik perempuannya.


Sedangkan yang dipanggil dengan tergesa keluar dari gazebo dengan wajah ketakutan hendak berlari. Namun, tangannya ditahan oleh Queenza.


"Jangan menghindar, aku mohon," lirih Queenza pada adiknya.


Ayyara sendiri terus melirik Abian dan merasa ketakutan. Abian yang paham pun pamit bersama Zafran dengan membawa Tatjana melihat sekeliling pesantren yang berada di pelosok Jawa Barat itu.

__ADS_1


Setelah kepergian mereka, Queenza memeluk tubuh adiknya. Ia menangis tersedu dengan menumpahkan air matanya.


"Maafkan Kakak, maafkan Kakak," lirih Queenza memeluk erat adiknya.


Ayyara sendiri hanya menangis tanpa membalas pelukan sang kakak tangannya bahkan gemetar dengan bayangan dua tahun lalu teringat kembali.


Setelah percobaan bunuh diri di villa Saad, Queenza serta yang lain buru-buru membawa Ayyara ke rumah sakit. Beruntung area villa milik Saad terletak di tempat strategis sehingga dekat dengan rumah sakit besar. Para dokter pun berusaha menyelamatkan Ayyara yang mengalami keadaan kritis sebab ia menembak hampir mengenai jantungnya. Beruntung Queenza membawa tepat waktu. Jika tidak, adiknya itu benar-benar pergi untuk selama-lamanya.


Queenza terus terngiang perkataan Ayyara yang membuat hatinya terasa sakit. Karena dendam, ia bahkan lupa pada adik kesayangannya. Karena dendam, ia menyakiti orang yang tak bersalah, sehingga hidupnya pun selalu saja bermasalah. Mendapatkan Abian dengan cara keji, kalau sikap Abian yang tak acuh setelah menikah, juga kecelakaan Abian, serta kejadian ini semua atas dendam yang ia pendam sejak lama.


Queenza tak menyangka jika menyimpan dendam justru membuat hidupnya hancur dan tak tenang. Perkataan Ayyara cukup menyadarkannya bahwa menyimpan dendam tak akan ada artinya dan hanya membawa kesengsaraan juga kehilangan banyak orang yang dicintai.


Ayyara sendiri dalam keadaan kritis dan tak sadarkan diri hampir dua minggu lamanya. Saat sadar, ia ketakutan melihat Queenza. Bukan hanya Queenza bahkan Abian pun ia merasa takut. Wanita cantik itu mendapat guncangan pada mentalnya setelah melakukan kejahatan pada sang kakak. Ayyara yang memang sejak dulu behati lembut tiba-tiba menjadi jahat perubahan mental itu sungguh mengguncang jiwanya. Ditambah rasa bersalah telah menjahati Queenza.


Sejak saat itu Queenza pun tak bisa menemui Ayyara. Selama penyembuhan wanita cantik itu hanya ditemani Sarah juga Aarav. Tak jarang juga Queenza menjenguk saat Ayyara terlelap.


Ketika keadaannya membaik, Ayyara pun berkata bahwa ia ingin pergi dari kehidupannya, pergi ke tempat di mana ia memiliki ketenangan dengan orang sekeliling tak tahu siapa dia. Ia juga berkata bahwa ia ingin mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta. Dengan banyaknyak koneksi Aarav, akhirnya mereka menemukan pesantren yang terletak di pedalaman untuk Ayyara mengobati batinnya. Dengan nama yang diganti Zara, ia memulai hidup baru sebagai wanita sederhana di pesantren.


Ayyara sangat tekun dan giat untuk memperbaiki diri. Ia selalu berdoa dan menangis meminta ampun atas dosa-dosa yang ia lakukan. Ia juga selalu mengirim salam untuk Queenza serta Abian dan terus meminta maaf atas segala kesalahannya. Meski ia belum siap bertemu mereka.


Melihat perubahan Ayyara, Queenza pun merasa tertampar dan sadar hingga ia melakukan hal yang sama. Ia mencoba melupakan dendamnya serta memperbaiki diri. Tak lupa, ia juga membuka diri untuk Aarav serta Sarah. Kini, hubungan mereka semakin baik setelah kejadian yang mereka alami.


Hingga akhirnya kini Queenza dan Ayyara duduk bersama setelah dua tahun tak saling bertegur sapa.


"Apa kabar, Zara?" tanya Queenza tersenyum menatap hamparan sawah yang begitu hijau.


Jantung Ayyara Masih berdebar hebat. Rasa bersalah, takut, dan trauma itu masih terasa ketika melihat sosok Queenza dan Abian.


Queenza raih tangan yang gemetar itu dan ia genggam dengan erat.


"Kamu beneran gak mau ketemu Kakak? Udah dua tahun loh, kamu menghindar. Kakak kangen kamu, Ra." Suara Queenza bergetar menahan tangis menatap adiknya yang semakin cantik itu.


"Maafin Kakak, Ra. Kamu masih belum maafin Kakak, 'kan? Makanya gak mau ketemu Kakak?" tanya Queenza dengan air mata yang telah terjatuh. "Apa Kakak harus berlutut untuk mendapat maafmu, hhmmm?"


Ayyara menoleh dengan air mata yang terjatuh. Ia menggeleng cepat menjawab pertanyaan kakaknya.


"Apa yang harus Kakak lakukan agar kamu mau bertemu dan berbicara lagi dengan Kakak?" tanya Queenza dengan tatapan sedih menatap manik mata adiknya.


Ayyara hendak membuka mulutnya, tapi ia bungkam lagi. Tenggorokannya seakan tercekat untuk mengeluarkan sepatah kata pun.


"I miss you, Ayyara." Queenza menangis tersedu menunduk. "Maafkan Kakak."


"K-Kak ...."


Queenza menoleh saat Ayyara memanggilnya. Tatapan keduanya masih sama. Sama-sama rindu, juga sama-sama merasa bersalah.


"Ma-maaf." Tangis Ayyara pecah berlutut di depan Queenza. "Maafin Ara. Maaf karena sudah menyakiti Kakak juga Mas Bian. Maafkan Ara."


Queenza menarik tubuh adiknya untuk berdiri, lalu ia peluk Ayyara. Keduanya menangis melepas perasaan bersalah yang mereka rasakan sejak lama. Keduanya tak henti mengucap kata maaf satu sama lain atas kesalahan yang mereka perbuat.


Setelah tenang, keduanya duduk bersama dengan Ayyara menyandarkan kepalanya di bahu Queenza, sedangkan Queenza memeluk sang adik. Sesekali ia cium ujung kepala Ayyara dengan rasa sayang.

__ADS_1


"Nyaman sekali," ujar Ayyara menutup mata dengan begitu damainya bersandar pada tempat ternyaman yang telah hilang begitu lama.


"Huum. Indah serta sejuk juga suasanya," sahut Queenza.


"Aku dengar Nana menikah dengan Mas Saad?" tanya Ayyara.


"Iya, seminggu lalu. Tapi ya gitu, Nana masih belum terima. Dia galak sekali sama suaminya," kekeh Queenza.


"Semoga mereka jadi keluarga yang sakinnah, mawaddah, warahmah. Semoga Nana menjadi istri terkahir Mas Saad. Aku masih merasa bersalah karena sudah menyatinya dulu," ujar Ayyara dengan lirih.


"Lupakanlah. Kan sudah Kakak gantikan anak gadis itu. Lagian Saad sudah memaafkanmu. Sudahlah, jangan terus menerus merasa bersalah. Lanjutkan hidupmu dengan normal, Ra," ujar Queenza mengusap lengan adiknya.


"Maksudnya apa hidup dengan normal? Memang kehidupanku sekarang belum normal?" tanya Ayyara bingung.


Queenza hanya terkekeh mendengarnya. "Bukan begitu, kamu apa nggak mau berumah tangga lagi? Mama Sarah bilang, Ustadz Zafran melamarmu pada mama dan papa. Tapi justru kamunya yang belum jawab. Kenapa? Jangan bilang kamu masih belum move on dari Mas Bian?" tanya Queenza.


Mendengar itu Ayyara beranjak dengan wajah panik menatap kakaknya. "Nggak, Kak. Demi Allah aku udah gak ada perasaan apa-apa sama Mas Bian selain rasa bersalah. Percaya padaku, Kak."


Queenza terkekeh lalu kembali menyandarkan kepala sang adik di bahunya. "Aku bercanda. Lagian kamu, sudah ada laki-laki baik yang melamar malah menolak."


"Wanita pendosa sepertiku tak pantas untuknya, Kak. Dia seorang ustadz, sedangkan aku wanita pendosa mana janda dua kali. Kayaknya Ustadz Zafran bisa dapat yang lebih baik dariku," ujar Ayyara tersenyum.


"Jangan bicara seperti itu, Ra. Mantan pendosa lebih baik daripada mantan orang baik. Apa kamu lupa? Orang yang bertaubat bersungguh-sungguh itu seperti manusia yang baru lahir lagi, suci. Jadi, sekarang ini kamu selayaknya bayi yang tak memiliki dosa. Pasti pantas dengan Ustadz Zafran. Bahkan dia beruntung jika bisa menikahi adik tercantik kakak ini," puji Queenza.


"Ah, Kakak bisa saja."


"Kamu ini cantik paras juga cantik hatinya. Penghapal quran dan hadis. Apalagi yang kurang? Bahkan kamu ini wanita luar biasa. Jangan terus merendahkan diri, Ra. Kamu berhak mendpaat kebahagiaan. Apa kamu gak mau punya keluarga? Punya suami yang cinta kamu, terus punya anak. Masa kamu gak mau nyusul Kakak yang mau punya anak dua," ujar Queenza.


Mendengar itu, Ayyara beranjak duduk, lalu menatap sang kakak. "Kakak hamil lagi?" tanyanya bahagia yang dijawab anggukan oleh Queenza.


"Sepuluh minggu. Doakan, ya," ujar Queenza tersenyum.


"MasyaAllah, alhamdulillah. Semoga sehat dan Allah lindungi." Ayyara mengusap perut rata Queenza.


"Ra, jangan menyimpan rasa bersalah lagi, ya. Kami semua ingin melihatmu bahagia," ujar Queenza serius.


"InsyaAllah nggak, Kak. Aku belajar untuk menerima takdirku. Tapi untuk menikah, aku masih belum siap. Aku ingin menyembuhkan diriku dulu dan memantaskan diri untuk suamiku kelak. Lagipula aku merasa nyaman dengan keadaanku yang sekarang. Kakak dan yang lain tak usah khawatir tentangku. InsyaAllah jika Allah ingin aku menikah, Allah akan memberiku kesiapan itu."


Queenza tersenyum mengusap pipi adiknya. "Kakak bangga padamu. Apa pun yang kamu putuskan, Kakak akan dukung. Bahagia selalu, adikku." Kembali Queenza memeluk Ayyara.


"Kakak juga, smeigs bahagia selalu."


Kedua adik-kakak itu saling menguatkan. Mereka sama-sama saling memberi support satu sama lain juga saling memaafkan. Menyimpan dendam bukanlah hal yang baik. Menerima dengan lapang jauh lebih baik dari apa pun. Andai ada yang jahat pada kita, cukuplah berserah diri pada Sang Maha Kuasa sebab balasan dari Allah akan jauh lebih besar daripada balasan kita. Itupun yang Queenza pelajari. Melepas dendam justru membuat hidupnya jauh lebih damai. Tak ada lagi rasa cemas dan risau untuk mencari cara membalas dendam. Hidup Queenza kini jauh lebih baik dengan terus memperbaiki diri dan fokus pada keluarganya.


Tamat.


Selamat hari sabtu para pembaca semua. Akhirnya novel Queenza berakhir. Terima kasih atas kesetiaan membaca novel ke 6 Author. Semoga kalian tak kecewa dan masih setia membaca novel Author yang lain. Beri kesan dong untuk novel ini dan jika ada Kritika boleh banget biar Author semakin teliti dalam membuat novel.


Jangan lupa juga mampir di novel baru Author yang sudah nangkring dengan judul "Another Chance."


Sekali lagi, terima kasih untuk para pembaca semua. Sampai bertemu di novel Zoya dan Arsenio ❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


Salam manis dari Mrs.A


__ADS_2