Queenza

Queenza
Sosok Masa Lalu Queenza


__ADS_3

"Mas, gimana? Apa Ayya mau pulang?" tanya Sarah yang masih terdiam di atas ranjangnya.


Aarav hanya menghela napas sembari menggeleng, membuat Sarah meneteskan air mata. Pukulan paling telak adalah saat sang anak tak mau lagi bertemu dengannya. Mungkin gosip yang tersebar menghancurkan namanya, tapi kepergian Ayyara menghancurkan hatinya.


Ia salah, memang salah karena sudah tak tahu diri merebut suami dari kakak yang begitu menyayanginya. Tapi, ia sudah berusaha bertobat dengan cara mencintai Queenza seperti halnya ia mencintai Ayyara. Namun itu saja tak cukup karena banyak hati yang terluka yang bahkan sulit untuk diobati.


Aarav merangkul kedua bahu istrinya. "Aku akan coba untuk menemuinya langsung. Semoga saja ia mau memaafkan kita," ujarnya menenangkan hati sang istri.


"Aku tidak sanggup kalau begini, Mas. Aku sangat merindukan Ayyara, bahkan cemoohan orang tak lebih sakit dari didiaminya aku oleh anakku sendiri." Sarah terisak dalam pelukan Aarav. Lelaki itu pun hanya bisa menghela napas. Ia tahu betul sakit yang istrinya rasakan, bahkan ia sudah melaluinya selama sepuluh tahun ini. Bagaimana Queenza membenci sekaligus dendam padanya padahal ia sangat merindukan anak perempuannya itu.


"Sabarlah, Sarah. Ayyara hanya butuh waktu. Biarkan dia menenangkan diri terlebih dahulu."


"Tapi sampai kapan, Mas? Ini sudah tiga bulan. Sebelumnya ia tak pernah seperti ini. Dia benar-benar kecewa padaku, Mas."


Aarav hanya bisa mengusap punggung istrinya. Ia sendiri tak tahu sampai kapan Ayyara akan menghindar. Aarav hanya bisa berdoa semoga wanita muda itu tak seperti Queenza yang mendiaminya selama sepuluh tahun. Ia berjanji pada diri sendiri akan berusaha memperbaiki hubungan ibu dan anak itu. Jangan sampai kisahnya dengan Queenza terulang pada Sarah dan Ayyara.


**


Di salah satu hotel bintang lima, terlihat begitu banyak orang yang datang dengan pakaian khas negara bagian Asia Selatan yang bukan lain adalah India. Ulang tahun anak dari produser dan pemilik PH film itu tampak sangat megah dan berkelas. Para tamu pun bukan orang sembarangan. Ada kalangan pejabat, pengusaha, artis dan banyak lagi.


Salah satu undangannya adalah Ayyara Zara. Wanita muda itu terlihat begitu cantik dengan lehenga merah muda yang terpasang di tubuhnya. Wajah khan Eropanya semakin terlihat memesona dengan balutan pakaian Bollywood tersebut. Di karpet merah pun banyak orang yang menyapanya dan mengucapkan selamat karena akan kembali ke dunia hiburan.


Ayyara sendiri terkenal sangat ramah sehingga banyak yang menyukainya, meski banyak juga yang tak suka karena ketenarannya. Mereka begitu tenang saat superstar itu memutuskan untuk pensiun dini. Namun kini saat ia kembali, mereka yang takut pamornya turun pun mulai menyerang dengan gosip-gosip murahan.


Para wartawan pun mendekati Ayyara untuk sekadar menyapa dan wawancara mengenai kembalinya ia ke dunia hiburan.


"Hanya karena kangen dengan set film saja yang memutuskan saya untuk kembali ke dunia hiburan," jawab Ayyara tersenyum ramah saat wartawan menanyakan alasan kenapa dia kembali ke dunia hiburan.


Saat Ayyara tengah diwawancara, tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di lobby. Seorang pria penuh kharisma keluar dari mobil sport itu dengan senyuman khasnya. Ia membuka pintu mobil lain dan keluarlah wanita cantik dengan lehengan biru tua. Abian merangkul pinggang istrinya berjalan masuk menuju hall di mana pesta diadakan. Orang sekeliling menatap mereka termasuk para wartawan, tetapi mereka tak berani menghampiri karena pasti Queenza akan menolak diwawancara sebab ia selalu berkata bahwa dia bukan artis.


Ayyara terlihat sendu manakala melihat keduanya tampak begitu serasi. Abian sendiri seakan tak melihat mantan istrinya itu karena sejak di rumah tadi sudah diultimatum Queenza untuk tidak membuat rumor aneh-aneh hingga akhirnya Abian hanya pasrah.


"Queen!" pekik seorang wanita cantik dengan wajah khas Asia Selatan saat melihat Queenza menghampirinya.

__ADS_1


"Happy birthday Shraddha." Queenza mencium pipi kanan kiri wanita yang kini menjadi ratu di acara tersebut.


"Thank you! OMG aku gak sangka bisa bertemu lagi denganmu. Aku kira kamu akan betah di Swiss," ujar wanita berkulit putih itu heboh. "Yang lain juga datang. Mereka ada di sana. Pasti mereka senang melihatmu."


"Queenza, terima kasih telah hadir," ujar Rajesh menjabat tangan Queenza.


"Sama-sama, Tuan. Suatu kehormatan untuk saya bisa hadir di acara ulang tahun Nona Shraddha ini," jawab Queenza tersenyum ramah.


"Ih, lebay!" sahut Shraddha tertawa.


"Baiklah aku akan ke sana dulu bertemu yang lain. Sekali lagi happy birthday." Keduanya saling berpelukan dengan begitu hangatnya, lalu Queenza pamit ingin bertemu yang lainnya.


"Queen!" teriak seorang wanita saat Queenza menghampiri salah satu sudut yang terlihat banyak orang luar negeri di sana.


Mereka adalah teman-teman Queenza saat kuliah dulu. Begitu juga Shraddha yang menjadi salah satu teman baiknya.


"OMG! Long time no see. How are you?" Kelompok beranggotakan lima orang itu saling menyapa.


"Are you married? Kenapa kamu tidak mengundang kami? Jahat sekali," sahut wanita berambut blonde pada Queenza.


"Pernikahan kami juga tidak mengadakan pesta, jadi memang tidak mengundang orang banyak. Hanya keluarga inti saja," jawab Queenza santai.


Sejak dulu memang Queenza tampak kaku tidak heboh seperti teman-teman lainnya. Dan mereka sudah biasa itu. Mereka saling bercengkraman seru karena memang cukup lama mereka tak berjumpa karena kesibukan dan beberapa tinggal di negara yang berbeda.


Namun, dari lima orang itu, ada satu yang sejak tadi Abian perhatikan. Diam-diam seorang lelaki berambut pirang dengan wajah khas Amerika terus menatap istrinya. Tatapan berbeda seperti teman-teman lainnya. Abian bisa tahu bahwa ada cinta diam-diam yang lelaki itu simpan untuk Queenza.


Setelah berbincang, Queenza pamit pada yang lain. Ia ingin mencari angin karena sejak kehamilannya semakin besar, ia selalu merasa sesak setiap berada di tempat banyak orang. Wanita cantik itu duduk di area luar dan menatap langit yang kini begitu cerah.


"Bolehkan aku duduk di sini?"


Queenza menoleh dan tersenyum menatap lelaki Eropa yang kini juga tersenyum padanya.


"Sky, duduklah. Tidak ada tulisan dilarang duduk, kan?" ujar Queenza.

__ADS_1


"Ya mungkin saja Pengawalmu melarang laki-laki duduk di sampingmu," kekeh Sky.


"Ck! Kamu ini, dari dulu tidak ada yang berubah."


"Apa kabar Queen? Sudah lama kita tidak bertemu," ujar lelaki itu dalam.


"Aku baik-baik saja. Kamu sendiri?" tanya Queenza.


"Masih terjebak di masa lalu," jawab Sky tertawa kecil. "Aku tidak menyangka bahwa kamu telah menikah. Bukannya kamu tidak percaya cinta?"


"Sky, menikah dan cinta itu hal yang berbeda. Aku menikah tanpa cinta pun bisa, kan?"


"Apa kamu tidak mencintai suamimu?" tanya Sky. "Lalu untuk apa kamu menikah?"


"Terkadang dalam sebuah hubungan cinta itu nomor sekian, tetapi yang paling utama adalah kenyamanan."


"Jadi, kamu nyaman dengannya dan tidak nyaman denganku?" tanya lelaki itu lagi.


"Sky, kita berpisah secara baik-baik, kan? Jangan mulai berdebat denganku. Aku yakin kamu bisa menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku, Sky. Kamu laki-laki baik."


Sky hanya bisa berdecak. "Kamu memang tidak berubah, ya, Queenza. Tetap menjadi wanita jahat yang mematahkan hatiku." Sky merangkul bahu wanita cantik itu dengan Queenza merebahkan kepalanya di bahu sang lelaki.


"Sky, terima kasih karena tanpamu dulu mungkin aku tidak akan berdiri seperti sekarang," kata Queenza tulus.


"Tapi kamu tetap meninggalkanku, Queen. Bahkan sampai sekarang hatiku masih kau curi juga," goda Sky pada Queenza. "Lalu, ini apa? Bahkan kamu memiliki anak dengan laki-laki lain." Ia mengusap perut Queenza, membuat wanita itu tertawa.


"Kamu ini. Coba gombalannya berikan pada wanita lain. Pasti kamu memiliki pacar."


Sky hanya tersenyum menanggapinya. Belum ada yang seperti Queenza yang bisa mencuri hatinya lagi. Karena itulah Sky hanya bisa bermulut manis pada Queenza.


Dibalik kedekatan mereka berdua, terlihat seseorang mengepalkan tangannya. Siapa lagi kalau bukan Abian? Sejak tadi lelaki itu melihat Sky yang terus berada di belakang Queenza dan ia pun mengikutinya. Kini, dadanya terasa panas saat Queenza menyandarkan kepalanya di bahu lelaki itu dan Sky mengusap kepala Queenza dengan begitu lembut.


"Sial! Bahkan dia tidak pernah semanja itu padaku yang suaminya!" Abian memukul tembok dengan kesalnya.

__ADS_1


__ADS_2