
Abian masuk mansion dengan wajah yang suram. Penolakan Ayyara membuat hatinya kembali gundah. Ia tak menyangka bahwa wanita yang dulu begitu mencintainya itu bisa menolak dirinya. Ia sungguh tak habis pikir dengan apa yang terjadi di hidupnya. padahal beberapa bulan lalu ia.merasa bahwa Tuhan begitu mencintainya karena talah memberikan seorang istri luar biasa seperti Ayyara. Namun kini, keadaan begitu berbalik dan seperti menyiksa dirinya.
"Dari mana? Kenapa tadi tidak menjemputku?"
Abian menoleh ke arah suara yang mengajaknya berbicara. Lelaki itu berdecak sebal melihat Queenza yang dengan angkuh melipat tangannya di atas perut yang mulai membesar itu.
"Aku lembur," jawab Abian tak acuh.
"Lembur ke apartemen Ayyara, ya?"
Lelaki tampan itu terkejut mendengarnya. Bagaimana Queenza tahu bahwa ia ke sana? Tanpa ingin menjawab pertanyaan istrinya, Abian pergi begitu saja.
"Mau ke mana? Aku belum selesai bicara." Queenza menahan tangan suaminya.
"Aku capek, nau bersih-bersih terus istirahat." Abian melepas tangan istrinya, lalu pergi begitu saja.
"Abian! Jangan macam-macam denganku jika kamu tidak ingin aku—"
__ADS_1
"Aku apa? Hancurkan hidupku? Atau menghancurkan hidup Ayyara? Silahkan, Queenza! Aku muak mendengar semua ancamanmu! Kamu anggap aku ini apa? Tawananmu, hah?" Abian membanting jasnya ke lantai dengan kesal.
"Dengar baik-baik. Kamu telah memisahkanku dengan wanita yang sangat berharga untukku. Jangan pernah berharap aku bisa mencintaimu bahkan jika kamu menawari tubuhmu itu dengan menggunakan obat perangsang lagi. Mungkin kamu mendapatkan tubuhku, tapi tidak hatiku. Aku tidak sudi mencintai wanita sepertimu!" Abian berlalu begitu saja meninggalkan Queenza yang terpaku di tempat.
Wanita itu sedikit syok dengan perkataan suaminya. Bukankah hubungan mereka mulai membaik? Kenapa kini Abian justru berubah semakin dingin padanya?
Queenza terduduk di sofa ketika tiba-tiba perutnya merasakan tegang. Bukan hanya dia yang syok, anaknya pun syok mendengar bentakan papanya.
"Mama tidak apa-apa, Mama tidak apa-apa." Queenza mengelus perutnya dengan air mata terjatuh. Ia menghela napas, lalu menghapus air matanya. Ia tak boleh lemah hanya karena dibentak laki-laki itu. Ya, dia adalah wanita kuat yang tak punya perasaan. Bagaimana bisa dia menangis hanya karena beberapa kata dari Abian?
Queenza pun berjalan menuju dapur. Ia akan menyiapkan makan malam untuk suaminya. Meski hatinya terasa sakit, ia tak boleh mengabaikan Abian.
Queenza menatap sang suami yang tengah sibuk dengan laptopnya. Ia mendekat dan duduk di samping lelaki itu.
"Kenapa tidak turun? Aku sudah masak untukmu," ujar Queenza mencoba tak egois untuk marah-marah. Mungkin Abian memiliki masalah sehingga ia berkata kasar seperti tadi.
"Bian, aku bicara denganmu," ujar Queenza mencoba lembut.
__ADS_1
"Kamu bisa makan sendiri. Aku belum lapar," jawab Abian tak acuh.
"Ini sudah malam, Bian. Mau jam berapa kamu makan? Ayo, kita makan dulu." Queenza meraih laptop suaminya lalu menarik tangan lelaki itu untuk keluar kamar dan menuju ruang makan.
Seperti biasa, Queenza akan melayani Abian selama di meja makan. Itu yang selalu ia pelajari dulu saat sang mama masih hidup dan kini ia coba tiru. Sebenci dan se tak sukanya terhadap suami, tetap saja mereka harus dilayani sebagai rasa hormat pada mereka. Itu juga yang dilakukan Queenza sekarang. Ia selalu bertanya apa yang diinginkan suaminya atau yang dibutuhkannya. Setelah sang suami tak memerlukan apa-apa, baru ia mengambil makanan untuk dirinya sendiri.
Setelah makan, tanpa berkata apa pun Abian kembali pergi. Queenza hanya bisa menghela napasnya. Ia mencoba mengerti dengan keadaan suaminya yang tiba-tiba dingin itu. Mungkin rasa sakit hatinya kembali muncul setelah pertemuan dengan Ayyara.
Akhirnya Queenza pun ikut menyusul sang suami menuju kamar untuk istirahat. Ia juga lelah setelah bekerja seharian dengan banyaknya masalah di kantor. Tinggal beberapa langkah lagi sampai di kamar, terlihat Abian keluar dari kamar dengan menatap istrinya.
"Mau ke mana?" tanya Queenza.
"Aku akan tidur di kamar tamu," jawab Abian melangkah hendak melewati Queenza, tetapi ditahan oleh wanita cantik itu.
"Jangan melewati batas kesabaranku, Abian."
Lelaki itu melepas tangan halus sang istri yanga menahan dirinya. "Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Queenza. Aku sudah tidak peduli!" Ia berjalan melewati wanita tersebut tanpa merasa bersalah sama sekali.
__ADS_1
"Kamu benar-benar mempermainkan perasaanku, Abian!" Tangan Queenza mengepal dengan sangat erat saat Abian tak acuh padanya seperti itu.