Queenza

Queenza
Bab 65


__ADS_3

Abian tampak cemberut melihat istrinya yang begitu riang bermain ice skating bersama Tatjana. Wanita cantik itu tampak menari dengan lincah di atas arena es. Semua Mata memandang akan kehebatan Queenza. Bahkan petugas memberikan musik agar permainan sang direktur utama stasiun televis itu semakin menarik perhatian.


Ayana sendiri hanya duduk bersama Abian. Ia memang tidak pandai dalam olah raga tersebut. Ya, walaupun ia bisa, ia pasti akan memilih duduk bersama Abian sebab berada di dekat laki-laki itu membuatnya terasa nyaman dan terlindungi.


"Loh, mau ke mana, Mas?" tanya Ayana saat melihat Abian beranjak dari duduk dengan wajah gelisah.


"Aku harus menghentikan Queen. Lihat, semua orang menatap padanya." Laki-laki itu pun berjalan menuju pembatas arena dengan terburu-buru.


"Bahkan kamu dulu tidak seperti itu kepadaku, Mas, saat aku harus bermain film dengan laki-laki," gumam Ayana menatap sedih kepergian Abian.


"Sayang!"


Queenza menoleh dan Abian tampak melambaikan tangannya. Akhirnya ia mengajak sang anak untuk menepi menghampiri lelaki pencemburu itu.


"Mas ganggu deh," ujar Queenza cemberut.


"Kamu gak lihat itu semua orang menatapmu? Bahkan ada yang berani memfoto dan memvideokanmu! Sudah bermainnya. Kita makan malam," ujar Abian dengan raut masih kesal.


"Uuhhhh suamiku cemburu ternyata," ejek Queenza yang tersenyum mengusap rahang suaminya yang ditumbuhi janggut tipis.


"Jangan buat aku ingin menciummu di sini ya, Queen. Cepat keluar dan ganti pakaianmu. Setelah itu makan dan pulang. Aku ingin menghukummu di rumah."


"Takutnya mau dihukum," kekeh Queenza yang akhirnya mengajak sang anak untuk berhenti bermain dan mengganti pakaian mereka.

__ADS_1


Tak lama ibu dan anak itu kembali dengan pakaian semula yang membuat Abian tampak bahagia lagi.


"Begini kan cantik," puji Abian mengedipkan satu mata pada istrinya.


"Sudah selesai?" tanya Ayana yang menghampiri mereka. "Sayang sekali aku tidak bisa bermain. Jika bisa, pasti seru main bersama."


"Next time Kakak ajarkan. Kamu sejak dulu Kakak aja tidak pernah mau. Bermain ice skating itu seru loh."


"Iya, Kak. Lain kali aku belajar dengan suhu."


Mendengar itu Queenza tertawa.


"Ayo kita makan. Aku lapar." Abian menarik tangan istrinya dengan membawa ke area food court. Mereka berjalan-jalan mencari restoran, hingga akhirnya memilih makanan khas nusantara.


Setelah makan malam, mereka memutuskan untuk pulang. Tak lupa membekali Nana makanan Korea yang dipesannya. Gadis itu memang tergila-gila dengan hal-hal yang menyangkut Negeri Ginseng tersebut. Bahkan rencana mengambil master di Switzerland pun inginnya pindah ke Korea Selatan yang membuat Queenza memijat dahinya.


Dalam perjalanan pulang, Tatjana tampak terlelap di seat carnya di belakang bersama Ayana. Sedangkan Queenza duduk di samping Abian.


"Ayana," panggil Queenza.


"Iya, Kak?"


"Kamu masih gak mau mengambil keputusan untuk rumah tanggamu? Kakak bertanya bukan ingin mengatur atau ikut campur. Tapi, ini sudah mau dua bulan dan belum ada kelanjutan," kata Queenza.

__ADS_1


"Aku mau bercerai saja, Kak. Rencana besok aku akan bertemu pengcaraku," jawab Ayana lirih.


"Kamu yakin?" tanya Queenza.


"Iya, Kak."


"Ya sudah, jika itu keputusanmu, Kakak akan dukung. Tapi apa kamu tidak mau memberitahu orang tuamu?" tanya Queenza kembali. Meski telah lama kejadian itu, Queenza masih tetap tak ingin mengakui Aarav dan Sarah sebagai orang tuanya. Ia menganggap sudah tak memiliki orang tua lagi.


"Soal mereka aku akan bilang nanti saja."


Percakapan pun terhenti saat mobil milik Abian memasuki pekarangan mansion. Pelayan membukakan pintu mobil, lalu Abian meraih tubuh sang anak yang terlelap. Setelah itu ia masuk mansion dan membawa ke kamar Tatjana.


"Gak bangun lagi kan Ana?" tanya Queenza ketika sang suami masuk kamar.


"Nggak, Sayang. Tadi aku gantikan juga pakaiannya. Lelap sekali dia tidur," kata Abian melepas kausnya.


"Mungkin dia kelelahan bermain," jawab Queenza mendekati suaminya, lalu menyentuh dada bidang lelaki itu.


"Ada apa nih? Tumben sekali," ujar Abian tersenyum mengusap pipi istrinya.


"Tidak apa-apa. Hanya ingin menyentuh saja." Tangan lentik itu dengan nakal menyentuh tubuh Abian dengan seduktif membuat sang lelaki meremang.


"Sayang, jangan menggodaku." Abian menarik tangan istrinya. "Baby ...." Mata lelaki itu terpejam saat justru bibir sensual Queenza yang mengecup tengkuk lehernya dan tiba-tiba lari keluar kamar membuat Abian gemas menyugar rambutnya. "Awas saja kamu, Queenza Safaluna."

__ADS_1


__ADS_2