Queenza

Queenza
Ancaman Queenza


__ADS_3

"A-apa kami bilang?" tanya Abian.


"Aku hamil," jawab Queenza menyentuh perutnya. "Anak kamu."


"Tidak mungkin! Jangan bercanda, Queenza!" bentak Abian.


"Untuk apa aku bercanda dengan hal besar ini?" tanya wanita itu.


"Mungkin saja itu bukan anakku," sergak Abian.


Queenza tersenyum sinis. "Kamu pikir aku wanita murahan yang tidur dengan sembarang lelaki? Kamu bisa melihat bercak darah malam itu yang menunjukkan aku belum tersentuh siapapun selain kamu," jawab Queenza dengan tatapan dinginnya.


"Tapi mana mungkin? Kita hanya melakukan satu kali."

__ADS_1


"Ralat, tiga kali. Apa kamu lupa bahwa malam itu kamu melakukannya tiga kali?"


Abian berdecak kesal. Lalu menatap istrinya yang menangis dengan dipeluk ibunya. Aarav sendiri hanya diam. Ia bingung harus berbuat apa. Satu sisi ia marah pada Queenza yang menghancurkan rumah tangga adiknya. Namun, ia juga tak bisa marah apalagi saat tahu Queenza hamil. Ia sangat pusing dengan situasi ini.


"Sayang ...." Abian menyentuh tangan Ayyara, lalu Sarah melepas pelukannya dan Abian memeluk istrinya. tangisan Ayyara pecah saat sang suami merengkuh tubuhnya. Ia menangis sejadi-jadinya.


"Tanggung jawab, Bian."


Belum tenang dengan perasaannya, tiba-tiba Queenza berkata seperti itu hingga Abian menoleh padanya meski masih memeluk istrinya. Bukan hanya Abian, semua yang di ruangan itu menoleh pada Queenza.


"Gak usah pura-pura bego. Tahu kan maksudnya tanggung jawab? Nikahi aku," kata Queenza yang masih tetap dengan sikap dinginnya.


"Aku tidak akan menikah denganmu! Itu adalah sebuah jebakan. Aku tidak mau mengkhianati dan memduakan Ayyara!" tolak Abian.

__ADS_1


Queenza tertawa sinis. "Jika kamu tidak mau tanggung jawab, aku akan laporkan atas pemerkosaan. Aku memiliki bukti itu. Bagaimana kamu begitu bergairah menyerangku. Kamu akan dipenjara, dibully seluruh manusia yang melihat berita itu dengan headline 'Seorang Suami Yang Memperkosa Kakak Iparnya hingga membuat hamil tetapi tidak mau tanggung jawab.' Bagaimana?" tanyanya.


Semua orang saling pandang.


"Queenza! Kamu sudah keterlaluan!" kata Aarav.


"Aku tahu kamu akan membela anak kesayanganmu itu. Meski aku hamil sekarang kamu tidak akan peduli kan anak ini memiliki orang tua lengkap. Aku sudah tahu itu!" jawab Queenza untuk Aarav.


"Anak ini akan sepertiku yang tak memiliki Papa! Hidup tanpa arah. Bahkan dibuang begitu saja di tempat asing!"


Seketika Aarav terdiam. Ia memang tak pernah mengunjungi Queenza selama anaknya tinggal di Swiss. Bahkan seakan ia membuangnya. Queenza sendiri bekerja untuk menghidupi hidupnya karena tak mau dibiayai sang papa.


Hidup Queenza di Swiss memang sangatlah sulit. Ia berjuang sendiri dari umur 17 tahun. Karena itulah ia merasa sakit hati dan dendam saat mereka begitu bahagia di Indonesia, dia sendirian tanpa ada yang menyayangi.

__ADS_1


"Pilihan ada 2. Ceraikan Ayyara dan menikahiku, atau aku akan laporkan kasus ini dan membuatmu hancur sehancur-hancurnya. Bukan hanya kamu, Bian. Tapi Ayyara juga dua mertuamu itu. Akan aku buat opini publik untuk menyerang kalian!"


Ayyara berdiri, lalu menghampiri sang kakak. "Salahku apa padamu, Queenza! Sejak kecil aku selalu berusaha menjadi adikmu yang baik, bahkan menyayangimu. Tapi apa ini balasan yang kamu berikan?" tanya Ayyara menangis di depan Queenza yang masih dengan tatapan dingin seakan tak peduli dengan perkataan wanita di depannya.


__ADS_2