Queenza

Queenza
Bab 75


__ADS_3

Pagi menjelang. Nana membuka jendela dan terpesona dengan keindahan di depannya. Ia tak tahu jika jendela kamarnya ternyata memberi suguhan luar biasa keindahan sungai Limmat. Matanya berkaca-kaca melihat betapa indah kota terbesar di Swiss itu.


"MasyaAllah, indahnya. Kalau begini sih ikhlas deh tidak jadi kuliah di Korea," ujar Nana menikmati keindahan sungai yang terletak di tengah kota tersebut.


Nana menoleh saat pintu kamarnya diketuk. Ia berjalan membukanya.


"Sudah bangun ternyata," ujar Queenza tersenyum lalu masuk kamar adik cantiknya dan duduk di sofa.


"Gimana? Suka?" tanya Queenza.


"Suka, ternyata benar-benar indah. Pantas saja Kakak betah tinggal di sini lama-lama," sahut Nana menunduk dengan kaki diayun-ayun.


"Di sini sepi, Na. Kakak memang butuh tempat damai saat itu, makanya Kakak pergi ke sini," ujar Queenza tersenyum.


"Memang sangat menenangkan, Kak," sahut Nana.


"Bern juga sama indahnya. Kamu akan betah di sana. Nanti kalau Kakak ada waktu senggang kita jalan-jalan ke Gunun Alpen," ujar Queenza menatap adiknya. "Na ...."


"Iya, Kak?" tanya Nana menoleh pada Queenza.


"Kamu gak benci Kakak, 'kan? Gak nganggap Kakak buang kamu ke sini?" tanya Queenza menatap khawatir.


Nana tersenyum mendengar perkataan kakaknya itu. "Kenapa Kakak bilang begitu? Aku tidak merasa dibuang sama sekali, justru aku merasa berterima kasih sebab sudah diberikan kesempatan luar biasa," ujarnya tersenyum.


"Syukurlah jika kamu tidak marah pada kakak. Tapi sungguh, Kakak membawamu ke sini demi masa depanmu. Kakak ingin kamu jadi wanita luar biasa bahkan bisa melebihi Kakak."


"I know, Kakak. Aku bersyukur memiliki Kakak. Aku janji akan membanggakan Kakak." Nana tersenyum menggenggam tangan Queenza. "Thanks for all what you give to me. Ich bin glücklich, dich in meinem Leben zu haben. (Terima kasih atas semua yang kamu berikan padaku. Aku beruntung memilikimu di hidupku)"


"Tetaplah menjadi adik kesayanganku. Tetaplah jadi adik yang bisa aku percaya," ujar Queenza.

__ADS_1


"Tentu, Kakak. Aku akan selalu berada di sampingmu. Jika dunia tak mempercayaimu bahkan melukaimu, aku yang akan berdiri di depanmu menjadi perisai. Itu janjiku," kata Nana serius.


"So touching. Thanks Naysilla. I'll keep your promise." Queenza memeluk adiknya dengan sayang, lalu melepasnya. "Baiklah, bersiap untuk sarapan. Kakak akan membangunkan Tatjana dulu." Queenza beranjak lalu keluar dari kamar berukuran empat meter persegi tersebut.


Queenza pun akhirnya membangunkan anak tunggalnya yang cantik. Bocah itu langsung memeluk sang mama ketika matanya terbuka.


"Kangen Ayah," lirih Tatjana.


"Nanti Ayah ke sini kalau tidak sibuk, Ana jangan sedih, ya. Hari ini kita keliling kota mau? Kita belanja makanan," ujar Queenza mengusap rambut panjang anaknya dengan penuh cinta yang dibalas anggukan oleh balita itu. "That's my girl. Ayo, kita cuci muka dan gosok gigi dulu. setelah itu sarapan. Apartemen Bunda ini berhadapan dengan sungai, loh," katanya dengan menggendong anaknya menuju kamar mandi.


"Oh ya?" tanya Tatjana berbinar.


"Of course. Bahkan kamar Kak Nana berhadapan langsung dengan sungai," jawab Queenza menurunkan sang anak yang berdiri di step stool anak yang telah disiapkannya untuk sang buah hati.


"Aku mau tidur di sana kalau begitu," kata Tatjana menerima sikat gigi yang sudah diberi odol oleh Queenza.


"Yah, Bunda tidur sendiri dong, kalau Ana tidur di sana," kata Queenza sedih.


"baiklah, Sayang. Sekarsng basuh wajahmu." Queenza pun membantu membasuh wajah sang anak. Setelah itu mengusapnya dengan handuk, lalu mereka berjalan menuju ruang makan.


"Pagi, Kak Nana," sapa Tatjana.


"Pagi, Peri. Ah, sudah cantik saja adiknya kakak," puji Nana mendorong kursi untuk perinya itu.


"Wah, waffle. I love it!" seru Tatjana berbinar bahagia.


"Makanan di sini tak begitu banyak. makan yang ada dulu, ya. Sepulang Kakak rapat kita pergi ke super market untuk belanja bahan makanan. Lagipula masih satu minggu lagi kamu ke Bern. Jadi kita harus menyediakan amunisi makanan. Di sini tidak ada palayan dan chef. Hanya ada tukang bersih-bersih," kata Queenza.


"Wah berutnungnya aku setiap hari akan dimasakin Kak Queen," ucap Nana gembira.

__ADS_1


Akhirnya ketiga orang itu pun menikmati sarapannya dengan pemandangan indah sungai Limmat dengan suka cita.


**


Di tempat lain, Ayyara tengah duduk ditatap oleh kedua orang tuanya, Aarav dan Sarah. Dua paruh baya itu sedang menunggu penjelasan mengenai berita yang tersebar di media. Apalagi tentang perceraiannya dengan Saad.


"Dia melakukan KDRT, Ma, Pa. Aku tidak bisa mentolerir apa yang dia lakukan," kata Ayyara kesal.


"Kami tahu betul Saad bagaimana. Sungguh mustahil lelaki sebaik dia tukang pukul. Katakan yang sebenarnya, apa yang terjadi, Ayya!" Sarah menatap tajam anaknya.


"Mama kenapa begini sih? Mama lebih percaya dia daripada aku anak Mama?" tanya Ayyara tak percaya dengan ucapan mamanya.


"Bukan begitu, tapi Mama merasa janggal dengan apa yang terjadi padamu. Apalagi kamu digosipkan dekat dengan Abian. Maksudnya apa? Kamu beneran jalan bertiga dengannya dan Tatjana?" cecar Sarah.


"Apaan sih, Ma. Saat itu ada Kak Queenza juga cuma memang saat itu kita bertiga main sedangkan Kakak duduk menunggu. Makanya di foto terlihat hanya kita bertiga." Ayyara menjelaskan.


Sarah dan Aarav bernapas lega. Setidaknya berita di luaran sana hanyalah gosip.


"Ayya, Mama dengar kamu dekat lagi dengan ayah kandungmu. Apa benar?"


Pertanyaan Sarah cukup membuat wanita muda itu menoleh menatap sang mama. "Apa yang salah? Dia ayahku juga. Apa aku tidak boleh dekat dengannya?" tanya Ayyara.


Sarah menutup mata dengan helaan napas panjang. "Apa kamu lupa dengan perlakuannya dulu pada kita? Berhati-hatilah, Ayya. Ayahmu itu sangat brengsek. Bisa saja ia mendekatimu hanya ingin memanfaatkanmu."


"Mama kenapa bicara buruk soal Ayah? Meski begitu dia ayanku!" seru Ayyara tak suka. "Kalau sudah tidak ada lagi hal penting, Mama dan Papa bisa pergi. Aku capek, mau istirahat." Dengan kesal ia meninggalkan orang tuanya begitu saja menuju kamar.


"Ada dengannya, Mas? Kenapa Ayya jadi tak sopan begitu?" tanya Sarah pada suaminya. "Aku takut sekali dia dihasut Narapati. Mas tahu sendiri bagaimana laki-laki itu," ujar Sarah menatap sedih.


"Tenanglah, Sarah. Aku akan menyelidiki tentang dia. Aku juga tidak mau Ayyara berubah. Dia anak yang baik," kata Aarav mencoba menenangkan istrinya dengan mengusap bahu wanita itu.

__ADS_1


Setelah sedikit tenang, akhirnya Aarav dan Sarah pergi dari apartemen sang anak. Hati wanita paruh baya itu sangat sedih saat tahu Ayyara dekat dengan ayah kandungnya. Ia sungguh takut sang anak diperalat dan dijadikan tumbal atas kejahatannya. Sarah terus berdoa semoga sang anak tak melakukan hal buruk yang akan membuatnya sengsara.


Ya Allah, jauhkan anakku dari orang jahat dan hal buruk. Hanya dia yang aku punya. Doa Sarah dengan sungguh-sungguh.


__ADS_2