Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 100


__ADS_3

Pagi kembali menyapa. Rika masih bergulingan di kasur empuknya. Dia masih terlelap dengan pulasnya. Mungkin masih berada di alam mimpi indahnya itu.


Melihat putrinya belum bangun, Bu Rossa masuk. Kini duduk di tepi tempat tidur. Menatap wajah tedu anaknya dengan senyuman.Tak lama, menggoyangkan bahunya agar segera terbangun.


"Sayang, ini sudah pagi, kau harus olahraga."


"Rika, sayang, ayo bangun."


Rika mengeliat kecil, mengucek kedua matanya lalu menguap dengan puasnya.


Masih samar-samar, melihat bayangan di sampingnya.


"Rey, kau sudah pulang?"


Bu Rossa tercengang. Dia terkekeh. Dengan jahil kini mencubit hidung anaknya itu.


"Awww!" Ringis Rika. kini baru sadar, dengan jelas melihat sang ibu yang duduk di sampingnya. Bukan Reyhan suami yang sudah dirindukannya.


"Rika, Reyhan baru pergi ke marin, dan kau sudah menghayalkannya, hahahha ....!!"


"Mama,"Rika hanya bisa mendengus menahan malu. Wajahnya merah layaknya udang rebus. Kini memeluk ibundanya itu guna menyembunyikannya.


"Sudah, ayo bangun. Kita senam ibu hamil di halaman rumah. Oma kamu juga sudah ada di sana. Ayo, gak enak kalau dia nunggu lama." Bu Rossa menghentikan tawa. Kini menarik tangan anaknya. Meminta dia agar segera bergegas.


Rika bangkit. Langsung masuk ke kamar mandi untuk memfreshkan dirinya. Takut matanya itu akan konslet lagi. Salah liat orang lagi. Mengira suaminya sudah pulang padahal baru kemarin sore perginya. Mungkin pesawat nya pun baru mendarat tadi pagi ini.


Tadi pagi, Rika jadi teringat akan sesuatu. kini berlari kecil-kecilan keluar kamar mandi. Dengan semangat langsung meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas.


Membuka password benda penting itu. Setelahnya, menyalakan paket datanya


"Ting! Ting! Ting!" Hujanan pesan WhatsApp mengguyuri ponselnya. Itu semua dari Reyhan suaminya. Mengirim span chat ke padanya.


Senyum mekar tentu saja terukir di wajah wanita yang baru ditinggal beberapa saat itu. Dia senang dan bersyukur karena suami dan ayah tercintanya itu telah sampai dengan selamat. Sehat walafiat juga. Dia senang sekali.


Tanpa menunggu lagi, langsung melakukan panggilan, kepada nama kontak yang bertuliskan My dear, itu.


"Tuttttt!!"


"Halo sayang,"tak butuh waktu berapa lama, panggilan pun tersambung. Dari balik ponsel itu, Rika mendengar suara pria yang teramat dicintainya.


"Rey,"


"Sayang, apa kau sehat? Bagaimana dengan kedua calon anak kita?" Apa kau sudah sarapan?"

__ADS_1


"Iya sayang, aku baru bangun. Nih mau olahraga sama mama dan oma."kata Rika dengan senyum berseri-seri di wajahnya.


"Bagus jika begitu, ingat jika kau butuh sesuatu katakan pada Randy, dia akan mengurus semuanya. Ingat, kau tak boleh pergi kemanapun tanpa seseorang yang menjagamu."Reyhan kembali mengingatkan. Takut istrinya itu akan bandel lagi.


"Iya sayang. Aku akan selalu ingat itu."


"Baiklah, aku akan bersiap. Papa sudah menungguku. Nanti kita video call yah," Pamit Reyhan hendak mengakhiri percakapannya.


"Iya sayang, hati-hati."


"By, emmuuahhh ...."


Panggilan pun berakhir. Rika menggenggam ponselnya itu masih dengan senyum yang tak pudar dari wajahnya. Dia sangat senang setelah menerima panggilan itu.


Meskipun tak bertatapan langsung dengan suaminya. Mendengar suaranya saja sudah bisa mengobati sedikit rasa rindunya yang sudah menggunung itu.


****


Rika kini turun. Tampak dia sudah memakai baju olah raga hamilnya. Baju itu di desain khusus untuk wanita hamil. Rika sendiri juga yang membuatnya. Tak lupa jika dia adalah seorang desainer. Tentu sebagian bajunya dari hasil buatan tangannya sendiri.


"Ayo sini sayang. Kita pemanasan dulu." Teriak Bu Rossa yang juga sudah lengkap dengan setelan pakaian olahraganya. Dia akan menemani Rika untuk senam kebugaran ringan pagi ini.


Oma, dia juga terlihat siap. Dia akan ikut serta. Tapi yang ringan saja. Jika tidak, maka tulang punggungnya bisa encok untuk ini.


Bi Maya sudah membawakan beberapa botol air minum. Rika juga sudah menenggukknya. Tapi entah mengapa rasa hausnya tak kunjung reda juga.


Meskipun begitu, dia tidak terlalu menghiraukannya. Kini Rika lanjut mengikut gerakan demi gerakan saja. Musiknya lumayan asik, tentu tak membuatnya kebosanan.


Hingga sampai pada saat manik matanya tak sengaja menangkap bayangan seorang penjual es keliling. Dia melihatnya melalu sela-sela pagar.


Rika yang masih kehausan tentu teringin untuk membelinya. Di rumah besarnya ini tentu dia juga punya. Tapi entah mengapa minuman si penjual keliling itu benar-benar menarik perhatiannya.


Kini dia bangkit berjalan ke arah ibunya. Bu Rossa yang tampak mengelap keringatnya dengan sebuah handuk.


"Mah, Mama punya uang recehan tidak?"


"Uang recehan? Buat apa?" Bu Rossa tampak penasaran.


"Tuh ada penjual es. Uang Rika kan dalam kartu semua. Masa bayarnya nanti pake itu,"Rika sedikit terkekeh setelah mengatakannya. Terbayang ketika membayar minuman dinginnya nanti menggunakan kartu hitam limited edition itu.


Hahahha ....


Penjuaknya pasti bingung cara ngansulnya gimana.

__ADS_1


Bu Rossa meraba kantongnya. Mencoba mencari barang kali ada uang sepuluh, dua puluh yang menyelip di kantongnya. Tapi sayang,itu tidak ada.


"Coba tanya Bi Maya, pasti dia punya.


Rika beranjak. Kini menkendekati sosok wanita setengah tua yang tampak menyiram beberapa tumbuhsn hias di taman.


"Bi, ada uang recehan gak?"


"Ada," angguk bi Maya lalu mengeluarkan uang dua puluh ribuan dari sakunya. Rika tersenyum mekar dengan mengelap keringatnya di dahi.


"Bu, mau beli apa?" Tanya bi Maya sedikit penasaran.


"Tuh, ada penjual es cendol. Kayaknya seger tuh." Tunjuk Rika melalui sela-sela paggarnya. Terlihat memang seorang pria bertubuh sedikit tinggi mendorong sebuah gerobaknya.


"Loh, kan saya bisa buatkan."


"Ah, lama. Saya mau sekarang."timpal Rika.


"Yasudah, sini saya belikan," Tawar bi Maya lagi.


Rika menggeleng.


"Sudah biar saya saja," pungkas wanita hamil itu lalu bergegas berjalan ke arah pagar. Takut si Abang pendorong gerobak es itu tambah menjauh.


"Nyonya, anda mau kemana?" Tanya salah satu penjaga keamanan yang berdiri di depan pintu gerbang itu.


"Saya mau Bali es dulu. Tolong bukakan pintunya." Titah Rika


Penjaga itu tampak memberikan kode kepada beberapa penjaga lainnya. Rika heran melihatnya. Ketika dia berbalik di belakangnya sudah berdiri kisaran lima bahkan enam pria bertubuh besar dan kekar. Berotot pula.


Buset dah, batinnya seraya memukul keningnya sendiri.


Haiss,, mau beli es cendol gini aja ribetnya gak ketulungan, cakapnya. Reyhan suaminya yang tampak jauh di sana itu memang benar-benar menjaganya. Bahkan mau keluar sampai pintu pagar saja, kena ada bodyguard ini yang menemani.


"Sudah-sudah, buka pintunya,"


"Baik,"


Pintu pagar pun terbuka. Rika berlalu dengan riangnya. Begitupun dengan beberapa penjaganya. Berlari Menghampiri si Abang tukang es itu yang tampak hampir melewati kawasan rumah besar besarnya.


............ happy reading.............


Like, vote, komen, and jangan lupa faforitkan juga yah..

__ADS_1


__ADS_2