
Rika meninggalkan Reta yang masih diam terpaku di tempat.
Yang penting keluhan hatinya sudah terbayarkan sekarang. Mulai saat ini tiga benalu itu akan iya musnahkan.
Inilah yang namanya sudah mencapai batas kesabaran. Dirinya akan bangkit dan tak akan ditindas. Trio benalu itu heh, tunggu saja kalian.
****
Rika masuk ke dalam kamar. Mengambil tas dan kunci mobilnya. Sebelum keluar, kembali iya menatap tampilannya. Senyum mekar terukir di wajahnya.
Cantik dan anggun, puji dirinya sendiri. Heh, bagaimana tidak, jika Rika tak cantik bagaimana mungkin si Reyhan bos angkuh itu terpikat padanya.
Tapi klo cantik juga, bagaimana bisa Dion suaminya berpaling. Ah, sudahlah. Berdebat dengan diri sendiri tak akan memuakan hasil.
Rika melangkahkan kakinya menyusuri anak tangga.
Seketika iya terhenti setelah getar ponsel dari dalam tasnya. Reyhan itu yang tertulis di sana.
"Aku sudah diluar."
"Hahhh, diluar."
"Yah, aku menjemputmu."
"Reyhan, aku bisa bawa mobil. Bagaimana jika ada yang melihat kita?"
"Sudah, tenanglah. Ini aman."
"Baiklah."
Panggilan pun berakhir. Rika kembali melangkah. Celingak-celinguk takut jika ada yang melihatnya. Kini iya sudah tiba di teras rumah. Tampak mobil mewah terparkir di seberang jalan.
Tanpa menunggu lagi Rika segera menyebrang jalan dan masuk ke dalam mobil itu.
Dari balik jendela Reta melihat semua itu. Iya tampak bingung.
Hah, Rika masuk ke dalam mobil mewah? Mobil siapa itu, apa taksi online. Ah tidak, mana ada taksi online semewah itu.
Itu terlihat seperti milik bos besar tapi mobil siapa, Reta bertanya-tanya dalam hatinya. Ini kali pertanyaa iya melihat istri pertama suaminya itu masuk ke dalam mobil semahal itu. Ini sungguh patut untuk dicurigakan batinya.
****
Di dalam mobil mewah Reyhan. Rika menatap takjub isi dalam mobil itu. Kendaraan itu tampak berbeda dari sebelumnya.
Bukan hanya sebelumnya, tapi sebelum dan sebelumnya lagi. Heh, pria di sebelahnya ini memang suka menghamburkan uang.
Mungkin benar katanya. Dia ini memang punya beberapa pabrik uang. Mengganti mobil layaknya mengganti pakaian. Sultan Andara, mungkin kalah dengannya.
"Kenapa? Baguskah?"Sekilas Reyhan melirik Rika di sampingnya.
__ADS_1
Tangannya kini menekan beberapa tombol hingga mobil pun bergerak.
Rika tak menjawabnya. Reyhan, tak usah memujinya. Semua orang tahu bahwa dia punya segalanya.
"Kita ke rumah sakit mana?"
"Aku sudah membuat janji secara VVIP, kau tenang lah. Aku sudah mengatur semuanya. Kita harus tau penyebab sakitnya perutmu."
"Kenapa tak ke kelinik saja?"
"Pelayannya lama. Aku mau ini cepat. Setelahnya kita akan makan malam."
Rika tak bergumam lagi. Pandangannya kini mengarah ke luar jendela. Menatap ramainya orang-orang yang juga sibuk berkendara.
Sebenarnya malas rasnya jika iya harus menginjakkan kaki di rumah sakit.
Apalagi kali ini iya akan memeriksakan perutnya. Huh, dokter hanya akan menemukan penyakit di sana. Bukan sebuah janin yang selama ini diinginkannya.
Andai itu bisa terwujud. Maka Rika pasti akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia. Menjadi seorang ibu, para wanita akan merasa sempurna karenanya.
Entah apa yang dirasakan perempuan-perempuan di luar sana yang tega menyiksa atau melenyapkan anaknya. Benar-benar tak punya hati.
Rika geram karenanya. Iya jadi teringat ketika menemukan sebuah artikel tentang seorang ibu yang tega membuang anaknya. Di tempat sampah pula. Entah apa yang merasuki otak wanita Dajjal itu.
Mau enak-enak tapi tak mau anaknya. Sungguh keterlaluan. Entah yang maha kuasa adil atau tidak. Memberikan anak kepada wanita yang tak menginginkannya.
Huh, sabar. Kata itu terlalu menyebalkan untuk terus didengar. Sudah sabar tapi masih harus sabar lagi. Lagi dan lagi.
Mau bagaimana, tak ada kata lain yang bisa menggantikan kata itu. Apa-apa pasti jawabannya sabar.
"Zzzz!! Zzzzz!! Zzz!!"dering ponsel Rika menghentikannya dari lamunan
Tangannya kini meraba ke dalam tasnya. Mengambil benda pipih itu. Iya meletakkannya di telinga.
"Ada apa?" tanya Rika kepada Lia yang ternyata adalah sang penelepon.
"Bu, bu, anda harus ke sini! Saya tak bisa menahannya lagi! Cepat Bu!!"
"Kenapa Lia? Ada apa? Apa yang terjadi?"
"Tutttt!! Tuuuutt!!" Panggilan pun terputus. Rika sudah berusaha untuk menyambungkannya kembali. Nomor Lia malah tak aktif setelahnya.
Rika jadi khawatir dibuatnya. Lia orang kepercayaannya sedang berada di butiknya. Masalah sebesar apa yang terjadi di sana. Suara ricuh juga terdengar. Ini pasti sesuatu yang tak baik.
"Reyhan! Kita harus putar balik. Aku mau ke butik ku sekarang."
"Aku akan menyuruh Randy untuk mengeceknya." Kata Reyhan dengan fokus menyetir.
Tempat tujuannya juga sudah dekat. Tinggal belok kiri, maju sedikit dan mereka akan sampai.
__ADS_1
"Tidak Reyhan! Aku harus ke toko ku, Lia menelepon ku tadi. Dia terdengar panik."Kekeh Rika.
"Ayolah, kita harus ke sana."
Kening Reyhan mengerut dalam. padahal sedikit lagi mereka akan tahu sakit apa yang sebenarnya diderita Rika selama ini. Perutnya sakit, seringkali tak enak, mual pula.
Huh,
Reyhan memutar balik mobil nya, apa daya iya tak bisa menolak permintaan wanita di sampingnya itu. Biarlah lain kali saja.
Mobil itu kini kembali berlawanan arah. Rika duduk dengan penuh was-wasnya.
Iya tak tenang, yang ada di dalam benaknya saat ini adalah dirinya harus tiba dan melihat apa sebenarnya yang terjadi.
****
Citttttt!!!!
Beberapa menit kemudian, Rika telah sampai. Segera iya turun dari mobil sport mahal itu. Langkahnya begitu cepat, iya bahkan berlari untuk segera masuk ke dalam butiknya. Melihat itu, Reyhan hanya bisa mendesah kasar. Wanita ini, dia sangat panik.
Tak bisakah dia tenang sedikit. Motor, mobil diterpanya begitu saja. Iya tak peduli meskipun mendapat kelakson kritikan dari si pengendara yang terusik karenanya.
Didalam, suasana sudah terlihat kacau balau. Barang-barang berserakan di mana-mana. Gaun yang biasanya tersusun dan tertata rapi terhambur sana sini.
Rika pemilik butik itu tentu saja heran. Para karyawannya juga hanya diam dengan tampilan yang acak-acakan. Toko bajunya seperti habis terkena serangan badai.
Manik matanya kini mencari sesosok yang tadi meneleponnya. Lia, dimana dia.
Rika semakin masuk ke dalam. Reyhan juga kini tampak sudah muncul di belakangkanya. Ekspresinya juga tak kalah heran. Entah kerusuhan apa yang telah terjadi di tempat ini. Ini kacau sangat kacau.
"Mana Lia? Ada yang bisa memberitahu ku? Lia!! Diamana kau?"
Salah seorang karyawan muncul dan memberitahu Rika sesuatu.
"Lia ada di rumah sakit, Bu. Dia mendapat tusukan di bagian perutnya."
Rika yang mendengar itu tentu saja syok seketika. Iya semakin panik sekarang.
"Apa!! Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa semuanya begini?"
Karyawan itu kembali menjelaskan. Sebelum itu iya menyerahkan alat komunikasi Lia yang sudah hancur berkeping-keping.
Pantas saja Rika tak bisa menghubunginya lagi. Ternyata ponsel itu sudah rusak dan mungkin tak bisa diperbaiki lagi.
......... happy reading..........
jangan lupa like, komen, vote, and faforitkan juga yah
satu jempolan saja sudah sangat berarti buat si penulis malang hehehhe
__ADS_1