
"Cih menantu baru," decak tuan Huda memutar mata malas. Dia seakan jeles dengan perkataan itu.
"Papa," Reyhan tersenyum sembari memeluk Papa mertuanya.
Melepas pelukan dan kini menatapnya dengan lembut dan dalam.
"Pah, aku memang akan menjaga putrimu. Hidup dan matiku hanya untuknya. Tolong, percayakanlah padaku."
Tuan Huda menghela nafas kemudian tersenyum.
"Baiklah, janjimu akan selalu ku pegang. Ingat itu. Bahagiakan putriku."
Keduanya kembali berpelukan sebagai menantu dan dan mertua baru.
"Eheemmm!!" Oma berdehem guna mencairkan suasana. Rika berbalik dan kini mencium pundak tangan wanita tua itu.
"Sayang, awalnya Oma pikir Reyhan bocah nakal ini hanya akan mengucapkan kata-kata manis untukku saja. Tapi sekarang berubah. Saat ini dia sudah membaginya, denganmu atau dengan ibu dan ayah mertuanya.
"Sayang," wanita tua itu membelai menantu cucunya itu.
"kau akan bahagia dengannya. Percayalah,"
"Iya Oma," Rika memeluk nenek Reyhan itu dengan eratnya. Lagi-lagi buliran air mata mengalir di pipinya. Tapi itu bukan air mata kesedihan yah, tapi kebahagiaan.
****
Acara pernikahan itu terus berlanjut. Rika jadi kelelahan jadinya. Kini dia duduk di kursi sofa sembari berehat sejenak. Mengingat dia dalam kondisi hamil saat ini. Tenaganya pasti akan cepat terkuras habis karenanya.
Sementara Reyhan dan Randy, tampak dua orang itu masih sibuk menyapa dan mengobrol dengan para tamu undangan yang terus berdatangan.
Reyhan adalah orang yang sangat berpengaruh dan memiliki koneksi yang besar juga. Tentu banyak koleganya yang turut menghadiri acara pernikahan besarnya.
Itu sebabnya dia terus berjalan kian kemari dan terus memaksakan senyum di kedua bibirnya. Meskipun tubuhnya juga sudah mulai lelah saat ini.
"Rey, tuan ihsan dari kota C datang. Dia minta ditemui."Bisik Randy sang asisten.
"Kau saja yang temui, aku masih ada urusan dengan Rika di kamar kami." Reyhan ikut berbisik.
"Ih Rey, tahan dulu lah. Lagian istrimu juga kelihatan lelah." Randy melirik ke arah Rika yang tampak merebahkan tubuhnya di kursi sofa.
"Masa mau kau gempur sekarang,"
"Yah enggak lah, aku hanya lelah. Rika dan aku akan istirahat dulu."
"Tapi Rey, Kau ...." Bisikan Randy terhenti ketika merasakan getar ponsel dari balik jasnya. Seseorang menelepon. Langsung saja ia mengangkat dan menjawabnya.
"Apa! Yasudah, pastikan pria itu tidak berani datang lagi. Ingat itu!! Tutttt!!!"
Panggilan singkat itu membuat Randy jadi tak tenang. Reyhan yang melihat itu jadi penasaran. Dia pun bertanya.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Emmm Rey,"perkataan Randy sedikit terbata. Dia sudah yakin jika Atasannya itu tau tentang penelepon tadi maka pasti akan marah.
"Mereka bilang, Dion sempat terlihat di sekitaran sini tadi."
"Apaaaa!!" Reyhan terkejut mendengar itu.
"Bos, tenang lah. Dia sudah melarikan diri tadi. Anak buah kita sudah mengejarnya hingga masuk ke dalam hutan. Dia mana mungkin kembali lagi."
"Ahhh,"Reyhan berdecak kasar. Dion pria gila itu untuk apa lagi dia datang ke sini. Pasti untuk mengacau. Seperti di acara ulang tahun Oma kemarin.
Cih, dia memang tidak takut mati. Apa dia masih sadar jika seorang Reyhan ini tak main-main dengannya. Belum cukupkah semua memar di tubuhnya waktu itu. Dia bahkan hampir kehilangan nyawanya.
"Randy! kau harus keluar untuk memastikannya. Aku tidak mau acara pernikahanku ini di rusak oleh manusia sampah itu!" Titah sang Bos Reyhan tak terbantahkan.
"Lalu tuan ihsan?"
"Aku yang akan menemuinya."
"Baik, kalau gitu."
"Ndy, pastikan pria itu tidak berani menampakkan wajahnya lagi. Bahkan kalau perlu habisi saja dia. " Tambah Reyhan ketika asistennya sudah berjalan pergi.
Sepasang bos dan bawahan itu pun berpisah. Randy berjalan keluar aula sementara Reyhan pergi menemui tamu pentingnya.
Rika yang melihat itu hanya bisa menghela nafas pelan. Sekarang dia sudah sangat lelah. Tapi entah kenapa acara ini terasa panjang sekali. Bahkan para tamu undangan lebih banyak lagi berdatangan.
Haduhhh, seharusnya dia tidak mengeluh. Bagaimanapun ini adalah hari pesta pernikahannya. Memang wajar jika begitu.
"Kenapa Rik, kok cemberut gitu?"sapa Aska yang datang bersama Vina, dan Syila.
Rika melihat ketiga Kawannya itu yang kini duduk di sisi kiri dan kanannya.
"Kalian kok baru datang, aku bahkan hampir mati kebosanan di sini!"Rika mendumel dengan sedikit bibir manyunnya.
"Ihh, pengantin baru masa gitu. Ceria dong," Celetup Vina.
"Iya tuh, masa lagi pengantinan lemes gitu."tambah Syila.
Rika menatap sahabat-sahabatnya.
"Ih, aku tuh lagi cape. Badan aku udah lemes semua."
"Hahh, lemes!!"
Ucap Aska sedikit kaget. Kini dia tersenyum nakal melirik beberapa sahabat-sahabatnya itu.
"Jadi nanti malam, gagal dong!!"
Hening sejenak. Tak lama serentak mereka tertawa.
"Hahahahahahah ...!!!"
__ADS_1
"Ahahahahah ...!!"
Rika hanya menggeleng kepala seraya ikut tersenyum melihat kelakar sahabat-sahabatnya itu. Iya seakan paham juga dengan pikiran kotor yang kini hinggap di pikiran masing-masing kawan-kawannya.
"Eh, tunggu dulu deh." Syila menghentikan tawanya. Kini kembali serius. Menatap Rika dengan perutnya.
Kini dia menyentuhnya.
"Wah, udah mulai gerak-gerak yah Rik."
"Iya,"Rika tersenyum.
"Eh aku juga," Vina ikut menyentuh perut yang hampir menonjol itu.
"Iya, tendangan nya udah kerasa."
"Vin, nenek kamu hebat juga yah."puji syila.
"Kenapa?" Tanya Aska tak paham.
"Ya iyalah, kan dia orang pertama yang mengetahui bahwa Rika hamil. Waktu kita rujakan itu, masa kalian lupa?"
"Oh iya, yah."
Sekilas ingatan di rumah Vina tempo hari itu teringat. Yah di sana Rika memang sempat mendapat teguran dari seorang nenek. Nenek itu mengatakan bahwa Rika harus membawa sesuatu berupa bulu landak dan satu bawang tunggal.
Entah apa tujuannya. Tak ada yang paham akan maksudnya itu. Keempat wanita itu malah berfikir si nenek itu sedikit aneh bahkan tak menghiraukannya.
Padahal Orang zaman dahulu mengatakan bahwa ibu hamil akan tercium sangat harum oleh mahluk tak kasat mata.
Nah, dua benda itulah yang akan menangkalnya. Anak zaman sekarang mana paham dengan itu. Mungkin juga tak ada yang mempercayainya. Maklum, ini tahun 2022
"Ih, iya Vin. Kayaknya kamu harus belajar dari Nenek kamu itu deh." Celetup Aska.
"Ih apaan sih, gak sekalian kamu nyuruh aku buat jadi dukun beranaknya,"Vina memutar mata malas.
"Hahahaha .... Sekalian aja Vin, supaya kalau kita mau lahiran tinggal panggil kamu aja hhahahabah ...!"
Keempat sahabat itu kembali tertawa. Membantu Rika untuk melupakan rasa penat dan lelahnya.
Tak sia-sia juga reyhan menemui ketiga wanita itu. Yah suami idaman itu. Dia masih sempat-sempatnya menemui Aska, Vina, dan Syila.
Melihat Rika yang tampak bosan reyhan tak tega. Itu sebabnya dia pergi mencari tiga sejoli itu.
Paling tidak Rika akan terhibur dengan kehadiran mereka.
Sampai dia selesai menemui semua tamu pentinya yang hadir di acara pesta pernikahan meriahnya itu.
.................. happy reading........................
like, vote, komen, and foforitkan juga yah
__ADS_1
satu jempolan saja sudah sangat berarti buat si penulis malang