Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 68


__ADS_3

Reyhan mengeluarkan ponselnya. Awalnya iya ragu untuk memberitahukan bahwa dia telah menemukan pelakunya. Mengingat kondisi Rika yang mungkin kurang baik saat ini.


Wajahnya saja terlihat pucat. Tapi bagaimana pun wanita ini punya hak untuk mengetahui kebenarannya. Dia telah menjadi korban dari sebuah kejahatan. Pelaku atau dalangnya harus iya ketahui.


"Aku sudah mendapatkan buktinya." Reyhan menyodorkan ponselnya.


Rika melihat benda pipih itu. Dahinya mengerut. Segera iya meraih dan memutar sebuah Video yang sudah siap dinyalakan.


Matanya membulat kejut setelah melihat siapa pemeran dalam rekaman itu. Bu Diana, dia yang ada di balik semua ini.


Feeling-nya memang tak salah. Mendengar bahwa preman itu mengambil beberapa gaun, pikirannya langsung mengarah kepada dua orang tamu tak diundang yang selalu datang dan mengacau di butiknya.


"Cih sudah kuduga, siapa lagi kalau bukan kedua wanita tak tahu malu itu." Rika berdecak kasar. Jari-jemarinya mengepal kuat. Manik matanya membulat sempurna penuh kemarahan.


Entah apa yang ada di dalam otak kedua orang itu. Menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Tak mau berusaha tapi mau hidup enak.


Benar-benar tak punya urat malu. Dua orang itu, harus mempertanggung jawabkan semuanya. Gara-gara mereka, Lia jadi harus mempertaruhkan nyawanya.


Tunggu kalian!


****


Rika pulang ke rumah. Sebelum itu, dia sudah menyuru beberapa perawat untuk menjaga Lia di rumah sakit. Dirinya punya urusan yang harus dengan segera di selesaikan.


Kedua orang itu, Bu Diana dan Reta, kalian jangan berharap bisa santai saat ini.


Dengan langkah berapi-api, Rika masuk dalam rumahnya. Iya langsung menuju ruang tengah.


Biasanya dua benalu yang menumpang di rumahnya akan duduk di situ dan menghabiskan waktu bersama. Benar saja.


Ketika Rika sampai, Bu Diana dan Reta tampak sedang duduk manis dengan kaki di atas meja. Mata keduanya menatap televisi.


Mulutnya mengunyah kacang dan sesekali menyeruput teh hangat yang sudah di siapkan bi Maya.


Tertawa riang layaknya tak punya dosa. Ini benar-benar memuakkan.


Sungguh hidup yang tanpa beban. Sudah numpang gak tau diri pula. Selama ini Rika memang bodoh.


Dirumahnya jelas ada beberapa ekor hama, tapi kenapa iya tak membasminya. Uuuhh! Mengesalkan sekali.


Tanpa berkata lagi, Rika menghampiri keduanya. Tak berucap sedikitpun, iya langsung menyeret dua orang yang tak punya rasa malu itu.


Rika membawa paksa Bu Diana dan Reta keluar dari rumahnya.


"Eh! Eh! Ada apa ini?"


"Eh Rika, kita mau dibawa kemana?"


"Lepas Mba, lepas."

__ADS_1


Berontak keduanya. Rika tak mengidahkan perkataan itu. Ini bahkan sudah melewati batas kesabarannya sebagai seorang manusia.


"Pergi kalian dari rumahku!!!!" Rika mendorong keduanya hingga tersungkur ke lantai. Sementara dirinya berdiri di ambang pintu dengan tangan yang melipat ke dada.


Bu Diana dan Reta berusaha bangkit.


"Mba! Kamu apa-apaan sih? Sakit tau!"Decak Reta kesal.


"Rika! berani yah kamu berlaku begini sama kita. Mau jadi menantu kualat kamu yah!" Desis Bu Diana tak terima. Iya masih bisa melawan kemarahan Rika saat ini.


"Kalian berdua memang gila! Gak tau diri! Kalian sudah benar-benar sudah tak waras!" Murka Rika.


"Aku sudah tau sekarang, Mama kan yang menyuruh preman-preman untuk merampok di butik ku!!"


Bu Diana terkejut karena Rika telah mengetahui perbuatannya. Entah darimana menantunya ini tahu semuanya. Meskipun itu benar, tapi dia tak boleh mengaku.


Atau dia akan dalam masalah


Wanita paruh baya itu mengelak atas tuduhan yang dilontarkan padanya. Selagi tak ada bukti maka dia akan aman.


"Enak saja kamu, berani-beraninya kamu nuduh mama yang bukan-bukan!! Awas yah, Mama akan mengadukan ini kepada Dion!!"


"Silahkan Mah, kita lihat. Dion sendiri tak bisa menyelamatkan Mama kali ini."


"Apa maksud kamu?" Tanya Bu Diana heran. Entah kenapa iya merasa Rika sama sekali tak ada rasa takut-takutnya kali ini. Tidak, dirinya tak boleh gugup. Atau semuanya akan kacau. Rika belum punya bukti, itu artinya dirinya masih aman, gumam Bu Diana berusaha untuk tenang.


Bu Diana dan Rita terkejut melihat rombongan polisi yang tiba-tiba datang. Perasaan keduanya mulai tak enak. Ini pasti sesuatu yang tak baik gumam keduanya


Dengan lantang Rita menunjuk kearah dua wanita yang baru saja diusirnya. Madu dan ibu mertuanya.


"Mereka pak, tangkap mereka!"


Mendengar itu, polisi akhirnya langsung menangkap Bu Diana dan Reta. Mengunci tangan ke belakang kemudian mengikatkan borgol di sana.


"Ehh! Tidak kami tidak bersalah Pak!"


"Iya, Kalian salah orang!"


"Benar, preman itu yang salah."


"Kami tidak tahu apa-apa. Lepaskan!"


"Jika mau menangkap seseorang, maka tangkap saja preman itu, mereka yang melakukannya! "


Rika hanya memutar mata malasnya. Mulutnya berdecak.


"Cih, seperti sinetron saja. Sudah salah masih mengelak, dasar idiot. Apa mereka pikir polisi akan mendengarkan penjelasan sinting itu, bukti bahkan sudah jelas kuserahkan kepada pihak yang berwajib ini."


"Sudah kalian diam, Jika ada yang mau dijelaskan katakan di kantor saja."bentak pak polisi yang membuat keduanya bergetar.

__ADS_1


Bersamaan dengan itu Dion muncul. Dia tentu saja terkejut melihat ibu dan istrinya ditahan polisi.


Sementara Bu Diana, dia terus berteriak agar Dion anaknya mau membantu dan melepaskannya.


"Eh, Mama! Ada apa ini? Pak, dia ibu saya lepaskan dia, Pak ada apa ini?"


Kepala polisi kembali membentak.


"Sudah diam! Kalau ada yang mau dijelaskan, silakan anda datang ke kantor." Pungkasnya lalu masuk ke dalam mobil dengan membawa tersangka kejahatan itu.


Huhh, akhirnya dua benalu itu pergi juga.


Rika seakan bersorak dalam hatinya. Tapi dia tak boleh senang dulu.


Dion, kini pria itu menatapnya dengan tajam. Tapi tak apa, wanita itu juga punya kejutan besar untuknya.


"Rika!! Ada apa ini? Apa kamu yang melaporkan mama ke kantor polisi?"tanya Dion mengekor di belakang istri pertamanya yang sudah melangkah masuk ke dalam rumah.


"Jawab Rika! Apa kamu yang melakukan itu? Dia itu ibuku ibu kamu juga!!"Dion mulai menaikkan volume suaranya.


"Tega sekali kamu! Cepat bebaskan mama dan reta!"


Rika tak memedulikan kotekan suaminya. Kini iya mendudukkan tubuhnya di atas kursi sofa ruang tengah. Menyandarkan tubuhnya guna untuk menghilangkan penatnya sedikit.


"Rika!!!!"suara Dion sudah seperti bariton yang terdengar di rumah itu. Menggema di setiap penjuru ruangan.


Panas juga telinga ini jika terus mendengarnya.


Tanpa menunggu lagi, Rika mengeluarkan sebuah map dari dalam tasnya. Dilemparnya hingga tepat mengenai Dion yang sebentar lagi bukan suaminya.


"Rika!! Aku bertanya, apa kamu yang melaporkan mama ke kantor polisi? Jawab Rika jawab!!"


Wanita itu menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan.


"Sudahlah Mas, tak usah membahasnya."


"Lebih baik kamu ambil map itu terus kamu baca."


........... happy reading...........


gimana kekesalan kalian terhadap Rika yang terllau bodoh karena sabarnya itu sudah terbayarkan belum?


heheheheh


jangan lupa like, vote, komen, and foforitkan juga yah


plissss


satu jempolan saja sudah sangat berarti buat si penulis malang.

__ADS_1


__ADS_2