Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 98


__ADS_3

Setelah perbincangan itu selesai,Tuan Huda, Bu Rossa, Rika dan Reyhan mendatangi sebuah pusat perbelanjaan. Mereka akan berbelanja di mall besar itu.


Membeli beberapa perlengkapan juga yang akan dibawa Reyhan dan tuan Huda ke luar negeri. Meskipun nanti tidak akan lama tapi mereka memutuskan untuk membeli barang-barang dalam negeri saja.


Kini mereka telah tiba. Langsung saja. Turun dan mulai menjelajahi tepat itu. Mendatangi beberapa toko dan mulai membeli beberapa produk. Para perempuan akan memilih sementara para lelaki yang akan menenteng dan membawanya kemana-mana.


Hahahah ....


Asyik dan seru. Ini menjadi momen kebersamaan pertama sejak Rika dan Reyhan menikah. Mereka sungguh sangat bahagia. Bisa menghabiskan waktu bersama.


"Mah, kita mampir situ dulu yuk," aja Rika yang kini telah berdiri tepat di sebuah toko yang menjual perlengkapan baby.


Bu Rossa mengikut saja. Dua pria yang ada dibelakangnya juga.


Kini mereka sudah berada di dalam toko itu. Rika langsung disambut dengan beberapa pakaian baby yang lucu-lucu dan menggemaskan. Dia yang sedang hamil pasti jadi teringin membelinya.


"Rey, ini terlihat lucu pasti anak kita suka. Eh ini juga, ih itu juga, wahh semuanya. Rey, kita beli yah," harap wanita itu dengan mata yang berbinar.


Tampak Reyhan, suaminya itu hanya tersenyum dengan anggukannya. Membebaskan istrinya itu untuk membeli apa saja yang dia inginkan.


Tidak seperti kita, yang kalau mau beli baju lebaran saja berpikir seratus kali. Apalagi kalau baju itu mahalnya gak ketulungan.


Hahahha ....


Pasti langsung mengurungkan niat. Langsung berpikir bah anak saja yang pakai baju lebaran, kasian dia entar malu sama teman-temannya. Betul apa bettoll! Yang senasib, yuk ngumpul.


"Rika,"Bu Rossa berjalan menghampiri anak dan mantunya itu.


"Kandunganmu kan baru mau masuk tujuh bulan. Jangan nyiapin baju-bajunya dulu, pamali katanya."


"Pamali,"ulang Rika dan Reyhan.


"Iya sayang. Itu menurut kepercayaan orang dulu. Sebaiknya di dengar saja. Dari pada nanti ada apa-apanya." Saran wanita paruh baya itu.


"Yah, terus gimana Mah?" Rika memelas tak tega jika harus kembali menaruh baju-baju comel itu.

__ADS_1


"Yasudah, kau beli saja. Nanti kita titip di rumah orang lain saja."Bu Rossa memberi saran.


"Hahhhh!"Reyhan terkejut tak paham.


"Iya, kalau udah mau lahiran tinggal kita ambil saja. Bagaimana?"


Rika menghela nafas. Tak apalah yang penting bajunya jadi dia ambil. Entah dari mana juga ibunya mengetahui kepercayaan itu. Rika yang memang sedang hamil saat ini hanya bisa pasrah dan mengikut saja. Dia juga tak mau jika setelah ini sesuatu yang tak baik terjadi pada dua calon baby nya.


Kata beberapa orang yang masih percaya dengan sesuatu yang seperti itu, ibu hamil memang banyak pantangannya.


Pertama, tidak boleh berdiri di depan pintu nanti katanya si anak akan susah keluarkannya.


kedua, tidak boleh mandi setelah lewat jam empat sore. Nanti akan entahlah, Rika sendiri sudah tak ingat akan apa. Yang pasti semua itu tidak ada yang dilanggarnya. Tapi tidak dipercayainya juga. Dia tak mau takabur. Prinsipnya itu saja.


"Mba, tolong kemas semua ini yah,"ucapnya menghampiri meja kasir.


"Baik Bu," kata pelayan toko tersenyum ramah.


Sementara menunggu istrinya, Reyhan melakukan panggilan kepada Randy.


Setelah selesai melakukan transaksi, keempat orang itu pergi. Sekarang harus mencari restoran untuk mengisi perut yang seakan sudah berdering karena keroncongan itu.


Tak menunggu lama, Reyhan membawa istri dan kedua ibu dan ayah mertuanya ke sebuah restoran mewah. Langsung duduk dan memesan menu makanan yang akan mereka santap.


Pokoknya memesan sebanyaknya. Sampai-sampai meja yang ada di hadapan mereka itu penuh dengan berbagai jenis makanan yang lezat-lezat semua.


"Sayang, apa kau puas hari ini?"tanya Reyhan di sela-sela makan itu.


"Yah," angguk Rika sembari terus mengisi mulutnya dengan makan. Dia Sangat kelaparan. Tak peduli dengan penampilannya saat ini. Mau belepotan kah, cemongan kah, terserah. Yang penting dia bisa mengisi perutnya dengan kenyang. Urusan dandan entar belakangan.


"Sayang, pelan saja. Tak ada yang akan merebut itu darimu." Dengan penuh perhatian, Reyhan mengusap bibir Istrinya itu yang terlihat ada noda makananya. Mengusapnya dengan lembut. Setelahnya, menyodorkan air putih lalu meminumkannya.


Rika tersipu dibuatnya. Wajahnya memerah. Layaknya tomat masak yang telah direbus. Tak sangka suaminya akan berbuat seromantis itu padanya.


Bahkan di hadapan orang tuanya. Kedua mertua Reyhan itu. Bu Rossa dan tuan Huda, kini menampilkan senyum di wajahnya. Rika masih sungkan, tapi Reyhan tidak.

__ADS_1


Keramain tak akan menjadi alasan baginya untuk tidak menunjukkan rasa cintanya. Prinsip Reyhan, Justru disitulah harusnya kita menunjukkan rasa sayang dan cinta kita pada orang yang dikasihi.


Dengan begitu, bukan hanya pasangan kita yang merasa bahagia, tetapi semua orang yang melihatnya. Kalau sedang berdua tentu lebih diharuskan juga yah.


Hehehh ....


Tak terasa waktu bersenang-senang itu telah berakhir. Rika dan Reyhan Kembali ke kediamannya. Tuan Huda dan Bu Rossa juga.


Mengingat ada beberapa hal lagi yang harus dilakukan. Menyiapkan koper untuk keberangkatan para suami itu.


Keduanya akan pergi besok di sore harinya. Melakukan perjalanan bisnis yang entah berapa Minggu lamanya.


Kalau Reyhan, sudah dipastikan dia akan sebentar saja. Jika sudah berhasil menyakinkan kliennya, maka tugasnya pun sudah selesai.


Sementara tuan Huda, ia yang akan menghendel langsung proses kerja samanya. Biarlah dia berkorban. Membiarkan menantunya Kembali lebih dahulu. Mengingat harus menemani Rika yang sedang hamil besar itu saat ini.


"Rey, memang seberapa besar pengaruh kerja sama di Eropa itu?"Rika bertanya seraya memasukkan lembaran demi lembaran jas ke dalam koper ukuran sedang itu.


Tampak Reyhan suaminya duduk di sudut tepi tempat tidur. Terlihat menyusun beberapa file yang mungkin akan dibawanya.


"Besar sayang, perusahaan ayahmu akan jadi seperti perusahaanku, sementara perusahaan ku akan jauh lebih tinggi lagi. Mungkin bisa menguasai sebagian dunia ini."


"Haahhhh!! Sebesar itu?" Rika sedikit terkejut mendengarnya.


Reyhan bangkit. Kini berjalan ke arah istrinya. Menggenggam kedua tangannya. Menatapnya dengan dalam. Kini membawa istrinya itu duduk di tepi tempat tidur. Mengecup keningnya dulu lalu mulai mengungkapkan isi hatinnya yang tulus itu.


"Sayang, aku pergi sebentar saja. Aku mohon, jangan biarkan dirimu terluka untuk ku. Berjanjilah."


Rika terenyuh. Sungguh sedikit kalimat itu membuatnya sangat terharu. Ternyata cinta Reyhan sebesar itu untuknya. Benar-benar sangat dan sangat, entah sangat apa. Kebahagiaan Rika memang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.


Kini dia hanya menangis. Menangis bahagia di pelukan sang prianya.


............... happy reading.....................


Like, vote, komen, and foforitkan juga yah

__ADS_1


Satu jempolan saja pun sudah sangat berarti buat si penulis malang


__ADS_2