
"Duorr!! Duorr!! Duorr!!" Suara ketukan pintu yang digedor seseorang.
Rika terkejut dan tersentak dari lamunannya. Dengan kesal iya bangkit. Matanya kini memicing tajam ke arah sumber suara. Siapa sih yang ngajak ribut sepagi ini, gumamnya berdecak kessal. Masih pagi tapi udah ngajakin begaduh.
Dengan mantap Rika melangkah ke arah pintu. Membuka kunci dan memutar kenopnya. Dari balik pintu sang mertua berdiri. Berkacak pinggang menatap dengan sengit. Iya terlihat sedang sangat marah.
Rika mengerutkan alis. Entah ada urusan apa lagi wanita paruh baya itu mencarinya. Menggedor pintu pula seakan hendak merobohkannya.
"Mama, ada apa?"
Reta juga ikut bergabung dengan tangan yang melipat ke dada. Tersenyum miring dengan tatapan mencibirnya.
"Plakkk!!"
Tamparan keras dilayangkan Bu Diana ke wajah menantu pertamanya. Ujaran kebencian pun ikut iya lontarkan.
"Dasar perempuan mandul!! Kurang ajar sekali kamu yah,"tunjuknya.
"Apa yang kau banggakan dari butik reotmu itu? Hahhh!!"
"Aku mertua kamu!! Kenapa kamu harus perhitungan gitu sih sama Mama!! Dasar menantu tak tau diri!!"
Rika memegangi wajahnya yang memerah. Matanya membulat kejut dengan tamparan yang seketika mendarat di pipinya.
Iya tak tahu kemarahan apa yang sedang melanda ibu mertuanya. Datang-datang langsung main gampar. Dirinya bahkan tak siap untuk itu.
Tapi ini tak boleh terjadi. Iya sudah berjanji untuk tidak mau ditindas lagi.
Rika berbalik. Menatap dengan micing. Kali ini iya tak mau kalah.
"Plakkkkk!!" Tamparan dahsyatnya pun iya lemparkan ke wajah setengah keriput itu.
Pedas dan sangat keras.
Hasilnya
"Ahhh!!"Bu Diana tersungkur ke lantai. Menjerit dan merintih habis-habisan.
Reta yang melihat itu panik dan segera berlutut menolongnya. Membantu dan menopang untuk kembali berdiri.
"Mah!! Mama, tidak apa-apa? Sini Reta bantu."lirihya.
Sementara Rika iya kini berdiri dengan tangan yang kini melipat menjulang dada. Tersenyum miring penuh keangkuhan dan menatap rendah dua orang di hadapannya.
"Mba!! Kenapa kamu pukul Mama!! Dia itu mertua kita!!" Cecar Reta.
"Ada apa ini!"sela Dion yang tiba-tiba muncul di tengah perdebatan itu.
Tadinya iya sedang membaca koran. Tak lama suara kegaduhan terdengar dari lantai atas.
Penasaran iya pun naik untuk melihat apa yang terjadi. Tak sangka, ibu dan istrinya sedang bertengkar hebat.
__ADS_1
Melihat kedatangan anaknya, Bu Diana semakin melemahkan dirinya. Mendekat dan mengaduhkan semua yang telah menantu pertamanya itu perbuat.
"Dion! Dion!! Istrimu ini menampar Mama. Lihat ini pipi Mama bengkak, Mama juga jatuh akibat tamparan kerasnya. Pipi Mama sakit sekali. Hiksss!! Hikkkss!! Hikksss!! ...."
Dion melihat pipi sang Mama. Memang ada memar dan bekas lima jari di sana. Sekejab iya tertegun. Tak lama manik matanya memicing tajam kearah tersangka. Kemurkaan segera menguasai dirinya.
"Rika!! Apa kau yang memukul Mama?" Tanya Dion dengan penuh penekanan di setiap kalimatnya.
"Mba, kamu ngaku saja. Aku akan jadi bukti untuk membenarkan perkataan Mama." Tambah Reta. Iya terus merangkul ibu mertuanya yang terlihat tak berdaya.
Rika memutar mata malas.
"Duh, aku nonton sinetron di televisi saja." Cakap Rika hendak masuk dan menutup pintu kamarnya.
Dion segera menghentikannya. Iya semakin murka sekarang. Dirinya saja tak berani untuk berbicara kasar kepada wanita yang melahirkannya itu.
Sementara Rika, heh dengan gampangnya melayangkan pukulan.
"Rika!! Apa ini cara kamu bersikap kepada suami dan mertuanmu?"
"Dia itu ibuku! Ibumu juga. Berani sekali kamu memukulnya!!"
"Aku saja tak berani berkata kasar apalagi memukulnya!!"
Dion terus berteriak dengan suara tingginya. Mengatakan bahwa iya tak terima istri pertamanya itu berbuat kasar dan melawan perintah.
Sementara Rika iya hanya berdiri dengan tatapan mata yang melihat ke sembarangan arah. Kakinya juga iya main-mainkan.
"Rika!!!"Sentak Dion
Rika terkejut.
"Mas lagi ngomong!"
Rika tersenyum dengan wajah datar.
"Ngomong saja."
Dion semakin geram Melihatnya. Istri pertamanya itu memang sudah keterlaluan. Kurang ajar, dia mengomel tapi sama sekali tak dihiraukan.
Jika manusia bisa mengeluarkan tanduk pada saat sedang murka maka sudah dari tadi tanduk Dion keluar.
Keluar dengan warnah yang merah. Iya tak tahu harus bagaimana lagi menghadapi istrinya itu.
"Rika! Harusnya kamu bersyukur karena aku pria yang normal ini masih mau menjadikan mu sebagai istri." Perkataan Dion itu berhasil memancing perhatian Rika.
Senyum angkuh yang sedari tadi iya pancarkan pudar seketika. Dengan jelas iya kini memperhatikan setiap kalimat yang keluar dari mulut suaminya itu.
"Masih untung aku tak menceraikanmu Rika, masih Untung!"tambah Dion memperjelas perkataannya.
"Oh, masih untung kah?"Rika menjawab dengan menaikkan salah satu alisnya. Dua tangannya juga iya lipat ke depan.
__ADS_1
Dion tersenyum dengan wajah penuh cemoohan.
"Kau itu wanita mandul! Kau pikir, siapa lagi yang mau dengan wanita yang tak bisa memberi anak sepertimu ini, pikir itu pikir!"
Rika terdiam.
Iya masih memasang tatapan tenang di wajahnya. Sesekali senyum tipis. Matanya tak boleh menangis. Biarkan saja hatinya. Jika itu, tak ada juga yang akan mendengarnya.
"Aku menyesal karena sudah menikahimu. Bukan hanya itu, aku juga menyesal karet sudah mencintaimu Rika."
"Aku sudah melakukan kesalahan dengan menikahi seorang wanita yang ternyata mandul!"
Perkataan itu sudah sangat menyakiti. Bohong bahwa itu tidak lah sakit tak bisa lagi di lakukan Rika. ini hampir sama dengan luka yang ditetesi perasan air jeruk. Bahkan lebih dari itu.
Ini pedih dan sangat perih. Semuanya tak bisa tertahankan lagi. Setetes demi tetes air mata pun keluar dari kedua mata itu.
Rika menangis namun tetap tersenyum. Menggigit bibir bawahnya agar tak menerjemahkan jeritan hatinya.
Sementara Dion, iya merangkul Bu Diana hendak membawanya pergi. Yah dia telah menangis kan Rika. Itulah balasannya karena berani menyentuh ibunya.
Rika memberi Bu Diana luka fisik tapi Dion membalasnya dengan luka hati. Jelas itu berbeda. Luka fisik akan sembuh dengan segera tapi luka hati, itu akan terus ada dengan luka yang tak mungkin hilang.
Baru saja Dion melangkah, iya langsung berhenti ketika mendengar perkataan yang keluar dari mulut Rika.
"Ceraikan aku Mas!!!"
Dion berbalik menatap wanita yang menangis dengan senyuman di belakangnya itu.
"Apa kamu bilang? Cerai,"
"Iya! Aku mau kita cerai!!"
Dion, Bu Diana dan Reta tertawa setelah mendengar pengulangan kata itu.
Rika minta cerai darinya hhahahaa ....
Setelah puas tertawa kembali Dion memasang wajah angkuhnya.
"Ini kali pertamanya aku bertemu wanita yang sungguh tak tahu cara untuk bersyukur."
"Rika kamu itu cacat. Kamu gak bisa punya anak, siapa lagi yang mau denganmu kalau bukan aku, hahhh!!" Suara Dion meninggi di akhir kalimatnya itu.
Setelahnya kembali iya tertawa dengan puasnya. Baru setelah itu iya kembali merangkul sang Mama dan membawanya turun ke lantai satu.
Rika mengepalkan tangan. Manik matanya terus memandang penuh kebencian terhadap punggung suaminya yang mulai menjauh darinya.
Tersenyum miring kemudian berkata.
"Kita lihat saja mas Dion."
..................................
__ADS_1
Bagaimana kak, suka gak karya aku? kalau suka jangan lupa like, vote, komen, and foforitkan juga yah satu jempolan saja sudah sangat berarti buat si penulis yang malang ini loh