Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 41


__ADS_3

Keesokan harinya, Dion duduk di kursi ruang tengah dengan maksud menunggu Rika turun dari kamarnya.


Perasaan bersalah tampak iya rasakan. Mau di apa? Dia memang tak punya pilihan lain Selain menjual rumah kediamannya itu. Jika tidak, lalu bagaimana iya akan membayar gaji semua karyawan yang bekerja di kantornya.


Huff!! Tampaknya inilah takdir yang harus iya jalani.


Tak menunggu berapa lama lagi, Rika akhirnya turun dengan dress formal yang sudah terpakai di tubuhnya. Melihat itu, Dion langsung bangkit seraya menyambut istri pertamanya. Iya akan minta maaf atas kesalahannya.


"Rik, emm ... Mas, ingin mengatakan sesuatu."


"Sini, ayo duduk dulu."


Tanpa menghiraukan suaminya, Rika langsung berjalan ke arah ruang makan. Matanya enggan memandang ataupun melirik suaminya yang sudah sangat melukai dirinya itu.


"Kamu masih marah?" Tanya Dion yang mengikuti langkah istrinya.


"Mas, minta maaf. Aku janji gak bakalan ulangi kesalahan ini lagi."


"Maaf kan Mas, yah Rik."


"Mas, minta maaf. Kamu harus maafkan aku sebagai suamimu ini."


"Cukup yah!! Tolong jangan merusak hariku. Mas!! aku sedang tidak mood untuk mendengar coletehmu." Sentak Rika yang terlihat geram.


Secangkir teh yang tadinya hendak iya nikmati jadi iya tinggalkan begitu saja. Dion suaminya itu terus mengucapkan kata maaf.


Dengan semua kesalahan yang telah iya lakukan, apa semudah itu untuk memaafkan dan melupakannya.


Tanpa berujar lagi, Rika meraih tasnya lalu meninggalkan ruang makan. Sementara Dion, iya hanya duduk termenung sembari menatap nanar kepergian istrinya.


"Apa kesalahanku sebesar itu?" Batinya.


****


Hari ini Rika tak mengunjungi butiknya. Melihat mobilnya, tampak iya kemudian ke arah rumah kedua orangtuanya. Jika diingat memang sudah lama iya tak berkunjung ke sana. Ayah dan ibunya pasti rindu padanya.


Tak butuh berapa lama, dia pun sampai. Rika hanya membutuhkan waktu tempu kisaran satu jam jika memang kondisi jalan raya menguntungkan.


Baru saja iya tiba, sebuah mobil sport keluaran terbaru juga muncul dan kini terparkir tepat di sebelah mobilnya. Rika bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang datang itu . Entah kenapa iya merasa mengenal aura yang dipancarkan oleh sang pengemudi.


"Bammm!" Sang pengemudi pun keluar.


"Cihh, sudah kuduga. Memangnya siapa lagi yang bisa mengganti mobil sesuka hati seperti itu." Ujar Rika dengan mata sinisnya.


"Hy sayang. Apa kau merindukan ku?"sapa Reyhan menghampiri Rika yang masih mematung di depan mobi.


"Tidak."jawab Rika acuh.

__ADS_1


"Hahhh! Kenapa?"


"Bukankah semalam kita baru saja berkencan, jadi buat apa aku merindukanmu?"kata Rika sembari melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah orang tuanya.


Melihat itu, Reyhan mengekor di belakang.


"Eh tunggu dulu,"kata tika menghentikan langkahnya.


Iya kemudian berbalik dan menatap pria yang ada di belakangnya.


"Apa yang kau lakukan di sini? Bagaimana kau tahu jika aku ke dini?"


"Tentu saja dari alat pelacak di mobilmu."


"Hahhh!!"Rika terkejut.


"Alat pelacak? Sejak kapan aku punya benda itu?"


"Sudahlah, ayo masuk kita akan bertemu dengan orang tua kita."ajak Reyhan dengan nyengiran di bibirnya.


Rika terdiam di buatnya. "Sudahlah, terserah padanya saja" batinyya.


Reyhan memencet bel rumah itu namun tampaknya tak berfungsi. Sepertinya rusak.


"Ketuk saja." Saran Rika.


Beberapa ketukan pintu pun sudah di bunyikan Reyhan. Memanggil seseorang dari dalam juga iya telah lakukan. Mungkin saja tak ada orang di dalamnya. Itu sebabnya tidak ada orang yang keluar atau menyahut.


"Iis, kau akan berlaku tak sopan pada calon aya ...?"belum sempat Rika melanjutkan kalimatnya, iya langsung menutup mulutnya.


Oh apa yang baru saja iya katakan? Apa dirinya benar-benar sudah menerima Reyhan? Hemm mungkin itu hanya sebuah perkataan saja.


Mendengarnya, pebisnis kaya itu hanya tersenyum. Yah lebih baik Rika menerima dirinya dari pada suaminya yang tak waras itu.


Rika pun maju, kini dia sendiri yang mengetuk pintu sembari memanggi nama ibunya.


"Klakkk!" Tiba-tiba pintu terbuka dengan sendirinya.


Kedua orang itu saling bertatapan satu sama lain.


Berteriak dan mengetuk layaknya orang tak waras oh astaga, ternya pintunya tak terkunci. Kenapa tak ada yang memberi tahu kedua orang bodoh itu?


Tanpa menunggu lagi sepasang pria dan wanita itu masuk. Suasana di dalam rumah tampak sepi. Tak ada tanda-tanda pergerakan dari siapapun. Bahkan para pelayan juga.


Rika segera mengambil ponselnya dari dalam tas. Iya hendak melakukan panggilan kepada salah satu dari kedua orang tuanya itu.


Belum sempat Rika menemukan ponselnya, tiba-tiba ....?

__ADS_1


"Byuuurrrrrrrr!!!"


"Ahhahaha ...!! Papa kalah dari mama! Ahhahaha!!" Tawa seseorang dari arah kolam renang.


Rika terkesima mendengarnya, suara itu jelas iya kenal. Tampa menunggu lagi kedua orang itu berlari ke arah kolam yang letaknya berada di halaman belakang.


"Ahahah!! Tuan, anda kalah. Anda harus menepati janji kepada nyonya ahaha ...!!"


" Ini sudah perlombaan yang ke tiga kalinya, tampaknya nyonya memang sangat mahir dalam berenang."


Cakap beberapa pelayan disertai tawa. Pantas saja Rika tak menemukan siapapun di dalam rumah. Pintu juga iya ketuk dan tak ada yang menjawab. Ternya semuanya ada di sini.


yang lebih mengejutkannya lagi adalah kedua orang tua Rika sedang bermain di kolam renang. Apa ini mimpi? Rika telah melihat semuanya.


"Mah bagaimana kalau kita tanding lari. Papa akan berlari sekencang mungkin hingga mengalahkan mama. Papa yakin." Cakap tuan Huda sembari melakukan pemanasan berlari di tempat.


Apa ini mimpi? Rika telah melihat semuanya. Ayahnya tuan Huda bisa berbicara, berdiri dan berlari. Apa dia sudah sembuh? Tapi kapan? Kenapa tak ada yang memberitahu dirinya?


"Papahhh!!"


"Papa sudah sembuh??" Teriak Rika dari kejauhan.


Sontak semua orang terkejut melihat kedatangan Rika secara tiba-tiba. Terlebih lagi Bu Rossa dan tuan Huda. Keduanya terlihat pucat dan tak bisa berkata apa-apa. Entah apa yang akan mereka katakan.


Dalam benak kedua yakin bahwa anak semata wayangnya itu akan marah besar dengan kebohongan yang telah mereka lakukan.


Rika segera berlari menghampiri kedua orang tuanya. Dengan wajah penuh kebahagiaan iya memeluk ayahnya dengan erat.


Ternyata matanya tak salah lihat. Ayahnya kini memang telah sembuh. Penyakit stroke yang dulu dideritanya sudah tak ada lagi.


"Rika, papa bisa jelaskan."


"Iya Rika, tolong jangan marah pada kami."Mohon Bu Rossa.


Rika mengerutkan keningnya sembari melepas pelukannya.


"Hahhh! Marah? Kenapa? Justru Rika bersyukur karena papa telah sembuh. Rika senang sekali, akhirnya papa tak harus duduk di kursi roda lagi."ungkapnya penuh kebahagiaan.


Apa lagi yang bisa membuatnya sebahagia ini. Tuan Huda adalah orang yang sangat iya sayangi. Melihat kesembuan pria setengah tua itu tentu saja membuat dirinya bahagia tak terkira.


Dengan mata yang berkaca-kaca, Rika kembali memeluk pria yang menjabat sebagai ayahnya. Dengan setetes air putih bening yang lolos dari salah satu matanya, iya pun berkata.


"Pah, kumohon jangan sakit lagi. Aku mohon."


"Rika tak bisa melihat papa yang hanya bisa duduk atau berbaring di tempat tidur."


"Aku ingin papa sehat selalu."

__ADS_1


.................semoga bahagia.............


like vote and komen


__ADS_2