
"Reyhan!"panggil seorang dokter wanita yang menghampiri. Terlihat sebuah kertas putih di tangannya. Itu pasti hasil USG Rika.
Reyhan bangkit dan menyambut wanita yang memakai jas putih itu.
"Dokter Galdin,"ucapnya.
Karena tak sabar melihat hasilnya, langsung saja Reyhan merampas lembaran kertas yang masih berada di tangan dokter itu.
"Rey!"dengus dokter Galdin.
Reyhan tak mengidahkan kekesalan itu. Manik matanya hanya fokus menatap sebuah foto hitam putih dari kertas itu. Disitu terlihat dua buah janin yang tertidur pulas.
Sangat nyenyak dan sangat nyaman. Mereka terlihat tampan dan lucu. Itu pasti karena hasil dari bibit super unggulnya, batinya mulai memuji diri. Senyumnya tidak memudar hingga hampir setengah jam lamanya.
Terus tersenyum hingga orang lain aneh melihatnya. Mendudukkan tubuhnya di kursi sofa pun tak dirasanya.
Huhhh Reyhan,
Dokter galdin yang sedari tadi duduk di sampinya pun mulai jenuh. Merinding pula. Reyhan ini kali pertamanya menunjukan sisi seperti ini. Rasanya seperti sedang menakuti orang. Ngeri dan sangat menakutkan.
"Rey! Udah dong! Aku mau ngomong nih,"Dengus dokter wanita itu sudah tak tahan.
"Rey!"
"Reyhannnn!!" suara bariton keluar dari mulut dokter itu.
Seketika mereka jadi pusat perhatian. Yah tentulah. Dokter Galdin berteriak nyaring dan sekencang itu. Jangan salahkan dia. Itu semua karena Reyhan yang tak menghiraukannya sedari tadi.
"Ehhemmm!!" Reyhan berdehem untuk mengembalikan imec nya kewibawaannya. Kembali iya memasang wajah datar dan cueknya.
"Yah, ada apa?"
"Cih, menikah tanpa mengundangku, dan kau masih seangkuh itu?"cibir dokter Galdin dengan bibir manyunnya.
"Istrimu bahkan sudah hamil dan kau baru mengingatku? Apa ini Rey? Apa? jika bukan karena rival yang memberitahuku maka aku pasti tak tahu sampai sekarang." kritik wanita itu habis-habisan.
Dokter Galdin adalah salah satu kawan Reyhan sejak masa sekolah dulu.
Wanita itu sempat keluar kota untuk meniti karier. Tapi sekarang sudah kembali dan menetap di kota kelahirannya. Kota dimana iya juga dipertemukan oleh teman-teman tak berhatinya.
"Sudahlah, kau masih sama seperti dulu. Dengar, aku akan menikah denganya dalam waktu yang dekat. Aku mengundangmu untuk itu."
"Hah!!! Menikah dengannya?" Galdin terpaku. Iya terdiam sejenak berusaha mencerna perkataan kawan laki-lakinya itu.
"Iya, kami akan menikah, aku mengundangmu. Kau harus datang." Tambah Reyhan memperjelas perkataannya.
__ADS_1
Pemuda itupun bangkit dari duduknya karena memang terlihat Rika sudah datang dan menghampirinya.
"Rey," panggil Rika tersenyum.
"Rik, ini hasilnya."Reyhan memperlihatkan hasil USG tadi.
"Bayi kita sehat. Mereka tampan itu pasti karena ku."tambahnya memuji diri dengan memekarkan senyuman.
Rika meraih lembaran gambar itu. Iya tersenyum haru melihat dua foto samar-samar bayinya. Ini bahkan seperti mimpi untuknya.
Tapi bagus lagi karena ini memanglah sebuah kenyataan yang sangat membahagiakan. Dirinya benar-benar hamil. Hamil anak kembar. Itu artinya dia memanglah wanita yang benar-benar subur. Cukup lama menanti, pas sudah dapat dia memiliki dua. Itu lah anugerah yang tak terkira untuknya.
"Ehemmm!" Dehem dokter Galdin memecah suasana. Tampaknya iya juga sudah sadar dan sudah bisa mencerna tentang apa yang sebenarnya terjadi kepada sahabat laki-lakinya itu.
"Dokter,"cakap Rika tersenyum.
Dokter Galdin juga tersenyum. Entah kenapa cukup berat rasanya. Seperti ada sebuah gelenjar sakit dan terasa sesak di dada.
Huff, entah apa itu.
"Selamat yah, anak kalian kembar. Satu cewe dan satunya cowo. Rey selamat untukmu. Selamat untuk kalian. Mereka sangat sehat."
Senyum penuh kebahagiaan terukir begitu saja di kedua bibir Rika itu. Perkataan dokter itu benar-benar membuatnya seakan seakan entah seakan apa. Kebahagiaan Rika itu memang tak lagi bisa digambarkan.
Cuppp
Reyhan mendaratkan kecupan sayang di kening Rika. Memeluk dan masih berkali-kali mencium puncak kepalanya.
Sungguh kebahagiaan yang tiada Tara. Rika tersenyum penuh kebahagiaan. Air matanya bahkan menetes dan mengalir begitu derasnya.
Tapi itu bukan lagi air mata kesedihan melainkan kebahagiaan yang bertubi-tubi datang dan menerpa dirinya. kini iya benar-benar akan jadi wanita yang sempurna.
Sekali hamil yang maha kuasa menganugerahinya dua baby kembar perempuan dan laki-laki. Siapa yang tak bahagia dengan semua itu. Rika hamil, yah sungguh hamil. Dan itu bayi kembar.
"Ehhemm!"dokter Galdin kembali berdehem. Senyum tipis iya perlihatkan.
"Rey, kalau begitu aku pamit. Em, masih banyak pasien lain yang harus kutangani."
Reyhan melepas pelukannya dari Rika. Kini iya kembali menatap wanita yang menjabat sebagai dokter kandungan itu di hadapannya.
"Oh baiklah. Aku juga harus pergi. Terimakasih untukmu."
"Iya, Rey. Itu sudah tugasku."
"Oh yah, cepatlah menemukan cintamu. Dan segeralah menikah. Aku tak mau kau juga menjadi perawan tua sama seperti rival dan randy yang masih jomblo ngenes nya. Mereka sudah jadi bujang lapuk."
__ADS_1
Galdin hanya terkekeh mendengarnya.
"Hahah .... Iya Rey, aku tau itu."
"Baiklah."
Reyhan menggenggam tangan Rika. Kemudian bersama pergi meninggalkan ruangan tempat pemeriksaan itu. Pergi dengan senyum tak memudar dari kedua bibirnya.
Galdin terus memandangi sosok Reyhan sahabatnya itu yang kini telah pergi menjauh. Menjauh dan semakin menjauh. Pergi dan bahagia bersama wanita lain. Yah, mereka terlihat sangat bahagia.
Reyhan sudah lama kutemukan cintaku. Yaitu kau Reyhan. Tapi kenapa sampai saat ini kau masih tak tahu juga. Bahkan kau akan punya anak, batinnya dengan tetesan air mata di pipi.
Rival mengatakan bahwa Reyhan sahabat mereka akan menikahi seorang janda.
Galdin tak percaya dengan itu. Bagaimana mungkin Reyhan yang iya kenal angkuh dan anti dengan wanita itu akan berbuat demikian. Dan ternyata benar. Memang tak ada kata mustahil di dunia ini.
Reyhan bahkan telah menghamili janda itu. Pupuslah sudah harapan cinta ini.
Sudahlah, lupakan saja jika bisa.
****
Galdin hendak melangkah masuk kembali ke ruanganya. Tiba-tiba dengan kasar sebuah tangan terulur dan menghentikan langkahnya. Iya tentu saja kaget akan hal itu.
Kini di hadapannya sudah ada seorang pria dan wanita yang menatapnya dengan sengit.
"Hey Tuan!! lepaskan tangan saya, apa yang anda lakukan?"
"Mas, lepaskan dia! Apa yang kau lakukan."henti Reta kepada Dion.
Dion melepaskan cengkraman tangannya. Tatapan mengintimidasi kini iya lemparkan penuh kepada dokter kandungan yang tadi terlihat berbincang dengan mantan istrinya itu.
"Dok, dua orang tadi, apa yang mereka lakukan di sini?"
Dokter Galdin tampak heran dengan pertanyaan itu. Entah ada apa dengan pria di hadapannya ini. Bukankah sudah jelas bahwa dirinya adalah seorang dokter kandungan.
Ruangan ini juga bukankah ini sudah jelas bahwa ini adalah tempat pemeriksaan ibu hamil, lalu kenapa masih bertanya dengan nada yang aneh seperti itu?
"Tuan, silahkan anda pergi. Anda telah membuat keributan di sini." Usir dokter Galdin karena merasa terusik dengan kehadiran dua orang itu yang tiba-tiba mencegatnya.
............. happy reading................
salam sejahtera semua semoga sehat dan bahagia selalu
jangan lupa Tinggalkan like, vote, komen, and foforitkan juga yah
__ADS_1