
Dion mengantar ibunya masuk ke dalam kamar untuk berehat. Berjalan pelan kemudian membaringkan tubuh yang sudah setengah tua itu ke tempat tidur.
"Mah, Mama harus istirahat."ucapnya kemudia bangkit dan menatap istri keduanya.
"Reta, jaga Mama. Aku akan segera kembali." Dion pergi. Entah apa yang akan diambilnya. Langkahnya terlihat sangat cepat.
Mungkin iya masih khawatir. Melihat memar yang ada di pipi sang ibu. Tentu iya tak tega.
Reta hanya mengiyakan perintah suaminya. Iya kini duduk di samping tempat tidur. Menemani dan menjaga sang mertua.
"Masih, sakit Mah?" Tanyanya setelah melihat luka merah yang ada di pipi sebelah kanan itu.
"Tentu saja sakit! Cih, perempuan sialan itu. Awas saja dia." Decak Bu Diana geram.
"Mama masih bisa mengutuk? bukankah tadi terlihat sangat lemah." Sindir Reta yang paham akan rencana ibu mertuanya.
Bu Diana menyorot menantunya. Rasa kesal dan senang iya rasakan sekarang.
Bagaimana tidak, meskipun iya mendapat pukulan itu, anaknya Dion berhasil membalasnya. Memang bukan berupa pukulan tapi lebih dari itu.
Melihat Rika yang begitu menyedihkan tadi membuatnya sedikit senang dan lupa akan sakit di pipinya.
Heh, rasakan kamu Rika. Beraninya melawanku, batinnya bersorak.
"Mah, gaun di toko mba Rika tadi itu lumayan yah."Reta berkata setelah beberapa saat terdiam.
Ingatanya memutar pada saat iya dan ibu mertuanya berada di butik Rika.
Pagi-pagi sekali, kedua orang ini sudah melancarkan aksinya.
Sengaja mereka datang ke butik Rika guna mengambil beberapa gaun yang ada. Jika mereka bergerak lebih awal kan pasti ya tak ada yang menghalangi.
Mereka jadi puas mengambil apapun yang ada.
Na'as nya ketika mereka sudah berhasil masuk, beberapa anjing peliharaan entah muncul dari mana datang dan menyerang keduanya.
Mereka berlari pontang-panting kian kemari. Binatang peliharaan tu terus mengejar sampai mereka masuk ke dalam mobil.
Huh, jika diingat anjing galak itu seakan menghapal mati wajah Bu Diana dan Reta. Pasti Rika yang sudah menanamkan memori permusuhan itu.
Akhirnya kedua orang itu pergi tanpa membawa apapun. Itu sebabnya Bu Diana sangat marah dan kessal sepulang dari sana. Rika memang tak mungkin membiarkan butiknya kososng walau sekejap saja.
Jika seseorang tak bisa menjaganya maka anjing pun tak apa. Penjahatnya cuman ada dua, madu dan ibu mertuanya.
"Kalau dilihat sih, kayaknya cocok buat aku." Kata Reta dengan mata yang berbinar.
"Jadi maksud kamu Mama harus kesana dan menghadapi anjing-anjing itu."
Reta tertunduk lesu kemudian berkata."Em, gak juga sih Mah, Reta gak apa kok. Baju yang sudah jamuran di gudang itu masih muat di tubuhku."
"Nanti aku pake itu saja. Dari pada gak pakai baju."
Bu Diana memutar mata malas. Menantu keduanya itu memang pandai memelas. Mencari simpati agar keinginannya dituruti.
Orang akan iba jika melihat ekspresinya.
__ADS_1
Dion datang dengan sebuah wadah air hangat di tangannya. Iya meletakkan barang bawaannya itu kemudian berkata.
"Mah, sini aku kompres dulu."
Bu Diana mengangguk seraya tersenyum.
Dion mengambil selembar kain kecil.
Dicelupkan kemudian diperasnya. Dengan lembut iya mulai mengusapkannya kebagian pipih itu.
"Masih sakit, Mah?"
Bu Diana menggeleng pelan.
"Tidak kok sayang."
"Sini Mas, biar aku yang lanjutkan."Reta meminta.
Dion menolak.
"Tidak usah, lebih baik kamu ambilkan beberapa makanan. Mama mungkin lapar setelah ditindas dengan Rika."
Reta mengangguk.
"Baik Mas."
****
Di ruang makan.
Reta datang dengan piring di tangannya.
Iya langsung meraih nasi putih di hadapan Rika. Sekilas iya melirik si pemilik rumah yang tampak mengunyah dengan lahapnya.
Dirinya enggan untuk menyapa. Mengingat kejadian tadi. Reta hanya fokus menyendok demi sendok nasi untuk sang mertua.
Rika makan dalam diam. Mulutnya enngan untuk berbicara. Memandang saja malas rasanya. Rika hanya fokus makan dan menghabiskan makanannya.
"Mba, tolong ambilkan ayam gorengnya."Reta meminta.
Rika tak merespon.
Reta menghembuskam nafas kasarnya.
"Yasudah mba, ikannya saja." Rika masih tak menyahut. Manik matanya tetap fokus menatap makanannya.
"Mba, ini nasi buat ibu mertua kita."
Rika menghentikan makannya. Matanya kini memicing tajam ke arah Reta yang tampak memandanginya.
"Kamu fikir kamu siapa berani memerintahku?"ketusnya.
"Maaf Mba tadi aku cuma ...?" Belum selesai Reta berkata Rika langsung memotongnya.
"Eh kamu dengar yah. Kamu itu numpang di sini. Tuan rumahnya aku. Ingat itu!"
__ADS_1
Reta mengernyit. Iya tak terima karena istri pertama suaminya malah mengingatkan posisinya di rumah ini.
"Loh mba, kenapa jadi bawa-bawa statusku? Aku tahu kok kalau aku cuman istri sirinya mas Dion. Aku cuma numpang di rumah Mba."
"Nah tuh sadar. Tapi kok kamu masih nyolot yah?" Reta terdiam sejenak. Mulutnya bingung lagi harus berkata apa. Tapi iya tak boleh kalah perdebatan dengan istri pertama suaminya itu.
"Mba aku punya hak tinggal di rumah ini itu karena suami aku, mas Dion."
Rika tersenyum geleng kepala tak percaya dengan ucapan istri siri suaminya. Reta, dari mana dia dapat rasa percaya diri yang luar biasa itu. Wah, apa setiap pelakor punya ke pedean setinggi langit.
Oh sungguh tak punya urat malu.Rika jadi muak menghadapinya.
Beberapa lembar kertas catatan dilemparkan Rika tepat mengenai wajah Reta. Istri kedua Dion itu memungut untuk melihat apa itu.
Manik matanya membulat sempurna. Lima ratus juta, itu yang tertulis di sana.
"Apa ini mba?"
Dengan cepat Rika menjawab "itu hutang yang harus kau bayar padaku."
Reta jelas kaget mendengar nya.
"Hahhh!! Sebanyak itu, kok tambah naik?"
"Itu sekalian aku jumlahkan dengan biaya numpang kamu di sini. Tinggal di rumahku, kami pikir gratis!" Sadisnya.
"Hahhhh!!" Reta hanya bisa terkejut mendengarnya.
"Oh yah, itu hanya biaya tinggal. Ongkos makan, mandi, tidur belum yah. Em, kalau ongkos makan sepertinya akan naik. Kamu tau kan kalau Minya goreng, gula, garam, itu lagi naik."
"Hahhhh!!"
Reta hanya bisa menganga dengan lebarnya. Rahangnya kalau bisa jatuh yah jatuh saja. Lalat pun, kalau mau masuk yah silahkan saja.
Jumlah hutang yang harus di bayarnya sebanyak itu. Ini pasti gila. Mengungkapkan hutang sebanyak itu bagaikan tusukan bertubi-tubi yang menusuk jiwanya.
Mati dan lenyap saja kalau begitu.
Rika kembali melemparkan secarik kertas.
"Oh yah, sekalian nih buat Mama mertua kita. Hutangnya juga sudah aku jumlahkan."
"Sedikit saja sih, kayaknya enam ratus juta. Itu sudah termasuk biaya pengobatan mentalku yah. Dibuli dan ditindas olehnya butuh perawatan juga loh."
Lagi dan lagi Reta hanya bisa mangap dengan lebarnya. Huh, tak pernah menyangka bahwa Rika akan memperhitungkan semuanya.
Bahkan sampai rinci yang paling kecilnya. Oh astaga, ini sungguh menggilakan.
................. Happy reading....................
Nah, bagaimana? Rika bangkit juga kan, heheheh
dukung karya aku kakak caranya like, vote, komen, dan juga faforitkan yah
biar si penulis malang tambah semangat dan jernih otaknya.
__ADS_1