
Reyhan menghampiri Rika yang tampak memandanginya.
"Ayo tidur."ajaknya.
Rika tersenyum mendongak.
"Rambutmu basah."Ucapnya bangkit dan mendudukkan Reyhan di kursi.
"Aku akan mengeringkannya untukmu."
Pria itu menarik kedua sudut bibirnya.
Satu kesempatan langkah lagi iya dapatkan. Rika sendiri yang berinisiatif untuk mendekatinya.
Rika memijit kepala Reyhan menggunakan lapis handuk. Iya melakukannya dengan penuh kelembutan dan kenyamanan. Reyhan duduk dan menikmati pijatan itu.
Matanya memejam dan hanyut dalam haluannya. Mungkin begini rasanya jika sudah memiliki seorang istri. Kita akan diperhatikan dan dimanjakan kapan saja.
Wah, pasti bahagia rasanya. Apa lagi jika keduanya saling cinta. Sungguh harapan yang entah kapan akan terwujud. Yah, pria ini sudah kebelet ingin menjadikan Rika sebagai pendampingnya.
Apalah daya Rika belum mengiyakan permintaannya. Memaksa tak boleh iya lakukan. Biarlah wanita ini sendiri yang menentukan pilihannya.
Seorang Reyhan Ardiwiningrat CEO dari perusahaan Andorgroup yang disegani siap menunggu keputusan itu.
"Aku akan bercerai dengan mas dion." Perkataan itu membuat Reyhan terlonjak kaget dari duduknya. Matanya membulat sempurna tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Kini iya menatap Rika yang terlihat heran melihatnya. hening seketika. Tanpa berucap satu katapun kembali Reyhan duduk membelakangi wanita itu.
"Cih, aku terlihat bodoh karena kuping tak warasku ini."gumamnya kesal. Iya berfikir kedua telinganya itu salah mendengar sesuatu.
Rika sangat mencintai suaminya. Mana mungkin mau bercerai. Pendengarannya mungkin sedang rusak sekarang ini.
Rika menggelang. Apakah ini tanggapan Reyhan terhadap perkataannya. oh ini tak beres. Iya menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Kembali iya berucap.
"Aku akan mengurus perpisahanku."
"Aduhhh!! Dasar kuping bodoh!" Kesal Reyhan menggosok-gosok telinganya. Entah ada apa dengan Indra pendengarannya itu. Terus saja iya mendengar perkataan yang selama ini iya inginkan. Mungkin ini yang namanya halu.
"Ada apa?" Tanya Rika yang semakin heran melihat tingkah pria di hadapannya.
Reyhan bangkit iya memasang wajah datar menghadap Rika.
"Ayo tidur."Ajaknya. Kupingnya mungkin butuh istirahat. Itu sebabnya iya terus berhayal suara Rika yang hendak bercerai dengan suaminya. Iya tahu itu tak mungkin terjadi.
Rika jadi kesal. Ternyata pria itu tak menghiraukan ucapannya.
"Ihh,"dengusnya.
__ADS_1
"Aku bilang aku mau cerai dengan mas Dion!"
Reyhan terkejut. Matanya kembali membulat sempurna. Ternyata memang benar apa yang didengarnya.
Untuk memastikannya, kembali iya mengucek kupingnya. Pipi kiri dan kanannya juga iya pukul-pukul. Takutnya ini hanyalah mimpi semata yang menyakitkan.
Rika berkacak pinggang dengan bibir yang manyun. Bisa-bisanya Reyhan tak memperdulikannya. Wanita itu jadi sedikit kessal sekarang.
"Reyhan ....!"
"Aku bilang mau bercerai dengan mas Dion, dengar tidak?"
Reyhan mengangguk cepat dengan senyum semberingin. Pendengarannya memang sedang tak konslet. Iya memegang kedua pundak Rika dan tanpa aba-aba menyerangnya dengan ciuman.
"Eggffff!!" Rika membulat kejut atas penyerangan itu. Pria ini belum mengatakan apapun. Entah iya dengar atau tidak. Tapi dari ekspresinya terlihat sangat senang.
Dengan rakus Reyhan ******* habis bibir kenyal itu. Tak kunjung melepaskan kini suara bercikkan pun terdengar. Menyatuh dengan syahdu penuh gairah. Menempel, *******, dan menghisap habis Saliva manis dan gurih itu. Terus menghisap hingga nafas di rongga dada terasa habis karenanya.
Rika mengelak. penyatuan bibir itu pun terlepas.
"Reyhan,"Desisnya.
Tanpa memperdulikan Rika yang sudah kessal itu, Reyhan malah kembali ingin melahapnya.
Rika menutup mulutnya. Kepalanya sedikit menggeleng.
"Kamu dengar gak sih aku ngomong apa?" Omel Rika yang kini berkacak pinggang.
"Aku mau cerai dengan mas dion! Aku mau pisah darinya! Aku mau mengakhiri semunya!" Rika kembali mengatakan keinginannya dengan nada yang sedikit meninggi.
Iya sudah beberapa kali mengatakannya tetapi bukan jawaban yang iya dapat melainkan sosoran bibir yang seakan hendak mengambil nyawanya.
Reyhan tersenyum mekar. Kedua tangannya kini melingkar di pinggang ramping itu. Dengan wajah serius iya pun berkata.
"Aku akan mengurus semuanya. Tenanglah, Dion biar aku yang urus."
"Kau mendengarnya?"
"Tentu saja, aku belum tuli sayang."
Cup,,
Reyhan mendaratkan kecupan manis di kening itu. Cinta dan kasih sayang itulah yang terpancar dari pandangannya saat ini.
Iya sangat bahagia. Sebentar lagi Rika akan menjadi miliknya. Mimpinya akan jadi kenyataan. Menjadikan wanita di hadapannya itu sebagai ratu dalam hidupnya.
Yah, Reyhan akan membahagiakan Rika. Itu tugas dari sang penulis untuknya. Tak membiarkannya menangis ataupun bersedih. Iya akan menjaga dan mencintai wanita yang dicap sebagai rahim rusak itu. Hari ini, esok dan selamanya.
__ADS_1
"Ayo lanjutkan yang tadi."
Rika terhenti dari rasa keharuannya. Kembali iya menatap Reyhan dengan senyum anehnya di wajah. Alis pria itu naik turun dengan menunjuk ranjang tempat tidur.
Hepp,,
Pria ini selalu saja, batin Rika tak bisa menolak.
Tanpa menunggu lagi, tangan besar Reyhan terulur dan mengangkat Rika ke gendongannya. Membawa dan membaringkan di tempat tidur.
Tak sabar ingin cepat-cepat memperistrinya. Tapi sabar, harus sabar. Setelah semuanya selesai, iya tak perlu repot lagi untuk memanjat dinding dan mempertaruhkan nyawanya.
Rika sebentar lagi akan menjadi janda. Dengan begitu tak ada siapapun lagi yang bisa melarangnya.
"Perutmu, apa masih sakit?"tanya Reyhan yang kini telah bersiap di atas Rika.
Wanita itu mengangguk pelan.
"Yasudah, kecepatan kudaku tak akan kupakai."
****
Pagi kembali menyapa. Tampak Rika mulai membuka pejaman matanya. Mengeliat, menguap dan mengumpulkan separuh nyawanya yang telah diseret ke alam mimpi. Semalam terasa sangat indah.
Reyhan kembali melabuhkan pusaka panjangnya. Rasanya tak begitu sakit. Pria itu pandai juga bermain dalam kecepatan lambat. Mengetahui bahwa perdemoan di dalam perutnya masih belum surut, iya tak terlalu menekan. Kasihan jika dipaksa dalam kondisi yang sakit. Kondisi Rika pasti akan semakin parah.
Oh perut ini,
Rika meraba perutnya yang masih saja rata di rasakannya. Kosong tak ada manusia di dalamnya.
Jika ada yang bergerak, maka itu hanya cacing-cacing panas yang minta diberi makan. Selebihnya tak ada lagi. Mungkin benar apa yang dikatakan Dion pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu. Rahimnya mungkin memang bermasalah.
Reyhan, entah apa yang akan dikatakannya. Wanita ini jadi memikirkan itu. Penyebab Dion menikah lagi itu adalah karena dirinya yang tak bisa mengandung. Presedir Andorgroup itu, apa reaksinya nanti?
Setiap orang pasti menginginkan anak. Apa lagi jika orang besar seperti Reyhan Ardiwiningrat itu. Dia pasti butuh seorang penerus. Sama seperti Dion kala itu sampai detik ini.
Ahh entahlah, apakah Reyhan akan berlaku sama atau tidak. Jika memang benar cinta pasti mau dan sanggup menerima kekurangan masing-masing.
Entah apa yang membuat pemuda itu tergila-gila padanya. Mengetahui bahwa Rika sudah bersuami pun, Iya tetap mau.
Rasa takut tak sedikitpun iya rasakan. Perilakunya itu bahkan sudah masuk sebagai perusak rumah tangga orang. Orang lain akan menyebutnya si perebut istri. Semua itu pasti akan berdampak buruk bagi perusahaan besar yang dipimpinnya.
Oh Reyhan, kau sudah dibutakan cinta seorang Rika yang Malang.
...... semoga bahagia........
like vote komen and foforitkan juga yah
__ADS_1