Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 69


__ADS_3

Dion menyorot kertas map itu. Diambilnya kemudian mulai membuka dan membacanya.


Betapa terkejutnya iya, itu adalah surat gugatan cerai untuknya. Lebih mengagetkannya lagi Rika telah menandatanganinya.


Brakkk!! Dion menghempaskan itu ke meja.


"Apa ini Rika? Apa!!"


Rika memutar mata malasnya. Sudah baca masi nanya decak nya.


"Surat cerailah Mas, kau sudah melihatnya. Buat apa bertanya."


Dion menggertakkan giginya penuh amarah. Manik matanya memicing tajam ke arah wanita yang tampak duduk santai di hadapannya.


"Kau menggugat ku?"


"Iya Mas, apa masih kurang jelas?"


"Tidak!! Kau tak bisa melakukan itu!!" Dion kembali memungut kertas itu kemudian merobeknya hingga berkeping-keping.


Dengan lantang Rika bangkit dari duduknya. Alisnya mengerut tak percaya suaminya merobek surat perceraian itu.


" Mas! Apa yang kau lakukan?"Desisnya.


"Kau tak bisa melakukan itu!! Aku mencintaimu, kau tak boleh meninggalkan ku."Teriak Dion tak ingin berpisah.


"Cinta, cinta apa yang kau maksud Mas, sejak kau selingkuh dan menikah lagi, kau sudah tak mencintaiku!"


"Kau salah Rika, aku tetap mencintaimu. Aku hanya menikahi Reta untuk mendapatkan anak. Setelah itu aku akan menceraikannya dan kita akan bahagia bersama anak itu."


Rika menggeleng tak percaya dengan penuturan sang suami. Sungguh pria gila. Dia bahkan berfikir Rika akan hidup bahagia dengan anak yang jelas bukan lahir dari rahimnya.


"Mas, aku gak nyang ternyata kamu memang pria yang tak punya hati. Otak saja kurasa kau tak punya."


Nada bicara Dion mulai melemah. Iya akan membujuk Rika agar mau menurunkan niatnya. Tampak sekali bahwa iya tak mau berpisah dari Wanita itu.


"Terserah apa katamu Rika, yang pasti aku mencintaimu, aku mau selamanya kita bersama."


Rika tersenyum miring. Dengan angkuh iya berkata.


"Tanpa anak, apa kau akan bahagia denganku?"


Dion terdiam. Iya bungkam seakan tak bisa berkata apa lagi. Mulutnya terkunci setelah mendengar kalimat itu.


Tanpa anak mana bisa.


Rika kembali tersenyum menatap rendah pria gelagapan itu.


"Tak bisa kan Mas, dan aku tak mau membesarkan anakmu dari wanita lain."


Dion kembali berkata dengan nada memohon.


"Rika, pertimbangkanlah ini. Apa kau mau melupakan semua kenangan indah kita."


"Kenangan indah mana Mas, selama ini hanya kenangan pahit yang kau berikan padaku. Mas, bukan hanya sikapmu yang tak bisa kumaafkan. Tapi sikap ibumu terhadapku. Aku sudah capek Mas dengan semua penghinaan nya!" Mata Rika berkaca-kaca setelah memori penghinaan itu melintas di ingatanya.


"Kalau itu aku akan bicara dengan ibu. Setelahnya dia akan menerimamu sepenuhnya."

__ADS_1


"Tidak Mas, itu sudah tak mungkin lagi. Aku sudah memutuskan bahwa kita akan bercerai."


Dion mengepalkan jari-jemarinya. Iya kembali geram. Membujuk dan berbicara lemah lembut tak ada gunanya. Rika memang sudah bulat dengan keputusan. Tapi Dion, tetap tak akan menerima itu.


Berpisah dari Wanita ini dia pasti akan jatuh miskin.


"Seseorang akan kembali mengurus perceraian kita. Itu akan cepat jadi kali ini kau memang harus menandatangani nya." Rika berbalik dan hendak naik ke kamarnya. Langkahnya terhenti karena masih ada perkataan yang belum keluar dari mulutnya.


"Aku minta, bereskan pakaianmu. Kau tak lupa kan kalau rumah ini milikku. selama ini aku sudah menampung kalian."


****


Di perusahaan Andorgroup. Reyhan berjalan bolak-balik kian kemari. Tak ada diambilnya tak ada pula di simpannya. Hatinya sedang gunda saat ini. Iya menunggu telepon dari Rika. Iya sangat penasaran apakah Rika sudah berhasil menceraikan suami keparatnya itu atau belum.


Mengetahui tingkah laku Dion pasti sulit untuk membuatnya menandatangani surat itu.


Ahh, sedikit rasa sesal menyinggapinya. Kenapa bukan dirinya saja yang membawa surat itu. Jika Reyhan yang melakukannya maka mau tak mau si Dion itu pasti menerimanya.


Reyhan punya seribu satu cara agar membuat seseorang menurut dan tunduk padanya. Semua orang tahu akan hal itu.


Reyhan berjalan ke arah kursi singgasananya dengan malas iya mendudukkan tubuhnya. Iya mengambil ponsel dari balik Jaz nya.


Log panggilan masuk dari Rika tak ada. Pesan WhatsApp yang dikirim wanita itu juga tak ada.


Ahhhhhh, mengesalkan sekali. Kenapa Rika belum juga menghubunginya.


Pria ini sudah tak sabar menunggu, apakah mereka sudah bercerai atau tidak. Reyhan sangat dan sangat ingin tahu hal itu.


****


Percakapan si tokoh dan penulis.


"Sabar,"


"Aku tak bisa menunggu lagi!"


"Sabar Reyhan!"


"Ah! aku Reyhan, pria yang punya segalanya akan menuntut mu karena Rika dan pria bodoh itu tak kunjung bercerai!!"


"Aku penulis yang membuat dan menciptakanmu bisa melenyapkan dirimu dari kehidupan Rika!"


Reyhan tersenyum pelik menggeleng kepala. Segera iya berkelakuan baik.


"Tidak, aku tidak berani lagi. Aku pria yang paling penurut."


"Ahahahahah ...!!! Ahhahaha ....!!" Tawa Randy membuat Reyhan terlonjak sadar dari tingkat lakunya. Randy sudah berdiri di hadapannya dan melihat kelakuan anehnya sedari tadi.


Reyhan segera merapikan tampilan tubuhnya. Kembali memasang wajah dingin dan seriusnya. Berdehem untuk mengembalikan imec kepemimpinannya yang angkuh.


"Ehhemm!"


"Ahahah ...!! Bos, kurasa kau harus ke rumah sakit ahahahha ....!!"


"Apa kata orang jika melihat video ini." Randy memperlihatkan layar ponselnya. Disitu ada Reyhan yang tampak berdialog sendiri.


Reyhan membulat kejut. tubuhnya seakan membeku. Ah, memalukan sekali Randy beraninya dia. Oh imec yang selama ini iya jaga akan musnah seketika.

__ADS_1


"Berikan padaku," Reyhan berusaha merampas ponsel Randy. Randy menghindar dan malah berlari seperti sedang main kucing-kucingan.


"Randy! Berikan ponselnya."


"Ahh, tidak bos, biarkan aku menyimpannya untukmu hahahah ...!!"


"Berikan!"


"Tidak akan, ahahahah ....!"


"Randy!!"


Reyhan terus mengejar asistennya. Berlari kian kemari. Mengejar ke seluruh penjuru ruangan. Hendak mengambil dan merampas ponsel yang ada video nya itu. Bisa hilang muka iya jika da orang lain yang melihatnya.


"Brakk!!" Randy kehilangan rem kakinya. Untung saja tubuhnya terjatuh tepat di atas kursi sofa panjang. Ini sama sekali tak sakit.


Tapi,


Reyhan terus berlari ke arahnya. tampak oleng dan mulai hilang seseimbangan juga.


"Tidak, tidak!"


"Brakkk!!" Reyhan juga terjatuh tepat di atas Randy. Langsung menindih dan tak bisa bergerak lagi. Tampilan mereka saat ini terlihat seperti pasangan sang kekasih.


Dimabuk cinta dan asmara. Sayangnya ini adalah dua pria normal. Randy yang dibawah tentu saja tak nyaman.


"Bos! Turunlah. Kau berat."


Bukannya segera turun, Reyhan. Justru menahan dua tangan Randy.


"Berikan ponselmu,"


"Iya nanti aku berikan, turun dulu. Mereka akan salah paham jika melihat kita."


"Tidak, cepat berikan. Aku tak mau jika Rika melihat video itu."


"Iya Bos, kau bebas menghapusnya. Turunlah dulu."


"Klek!"


"Bos, ini laporan yang anda minta!" Syasya muncul dengan beberapa lembar kertas di tangannya.


Deggg!!


Suasana membatu sekarang. Dua orang pria tampak memadu kasih di atas kursi sofa. Syasya sebagai sekertaris berdosa sekali karena menyaksikan itu.


Ahhhh, tidakk!!!


"Maaf, saya mengganggu!"Syasya berlari dengan penuh tawa di wajahnya. Hahahaha ...!!!


"Syasya! Tidak ini tak seperti yang kau bayangkan. Tidak jangan pergi!!!"


Krusak-krusuk Randy meronta dan menjatuhkan Reyhan ke lantai. Segera iya berlari dan mengejar wanita itu keluar.


happy reading........


like, vote, komen, and foforitnya mana

__ADS_1


hemmmm..............


__ADS_2