
Reta pulang dengan langkah yang penuh putus asanya. Mulai memasuki rumah lusuhnya. Menangis pilu.
Mengingat semuanya. Dion suaminya, ternyata telah main serong di belakangnya. Hancur sudah harapan cinta ini.
Berharap bisa membangun hubungan rumah tangga yang membahagiakan.
Nyatanya tidak. Suami pujaanya ternya seorang pria brengsek. Hanya mengharapkan anak yang banyak dari wanita-wanita yang telah ditidurinya.
Dion, tega sekali dia. Reta bahkan sudah mau ikut susah dengannya. Merelakan segalanya. Bahkan tetap setia dan mau ikut tinggal dengannya.
Tak memedulikan apapun baik itu tampilan dirinya sendiri. Sungguh menyakitkan. Semua perubahan yang sudah iya lakukan tak berarti apa-apa. Dion benar-benar pria yang tak punya hati.
Kini Reta hanya bisa menangis dan menangis di kamar kecil dan sempitnya itu. Entah apa yang akan dilakukannya sekarang. Dion suami bejatnya itu bahkan sudah tak ada lagi.
Tapi akan lebih baik begitu. Reta enggan menemui pria itu lagi. Sekarang hanya ada kebencian terhadapnya.
Cinta, cinta yang wanita ini miliki sebelumnya kini musnah sudah. Hancur berkeping-keping tak bersisa.
"Tukkk!! Tukkk!! Tukkk!!"suara ketukan dari pintu depan. Entah siapa yang datang bertamu di siang-siang bolong ini.
Hal itu membuat Reta jadi malas untuk melihatnya. Dia sedang terluka dan patah hati. Tak ingin rasanya jika ada orang yang datang dan mengganggunya.
Akan tetapi, suara ketukan itu tak kunjung berhenti juga. Entah tamu seperti apa di depan itu.
Tidak niatkah dia pergi setelah cukup lama tak ada orang yang datang dan membukakan pintu. Menyebalkan sekali.
Reta berusaha bangkit. Menghapus air matanya yang sudah berlinang sedari tadi itu. Tak ingin jika orang di depan itu mengetahui bahwa dia habis menangis.
"Sebentar!" Teriaknya sembari mulai melangkah ke pintu depan itu. Perlahan memutar gagang pintu. Mulai menariknya, kini seseorang yang sedari tadi mengetuk pintu itu pun terlihat.
"Mas Dion!!!" Reta terkejut batin melihat suami yang sudah dicari-carinya itu kini berdiri tepat di hadapannya.
Tepat sekali, Reta memang sedang marah-marahnya dengan lelaki itu. Sekarang, berani-beraninya dia muncul.
"Reta, ini Mas, Reta." Dion seakan merenggangkan kedua tangannya.
Berharap istrinya akan berlari untuk memeluknya. Melepas rindu karena sudah ditinggalkan Selema berhari-hari.
Reta memicing tajam. Menatap Dion dengan sengitnya. Menggertakkan gigi pula. Emosinya telah meluap saat ini. Bahkan sudah terasa di ubun-ubun kepala.
"Plaaakkkk!!!" Tamparan dahsyat pun iya layangkan ke wajah yang tadinya penuh harapan itu.
Dion tertegun, masih memegangi pipinya.
Belum sampai di situ. Seorang wanita cantik dan tinggi tiba-tiba muncul entah dari mana asalnya.
Dia dengan paniknya, berlari ke arah Dion yang masih mematung itu.
__ADS_1
"Mas!! Kenapa?"
Reta semakin murka saat ini. Pandangan matanya seakan mengeluarkan percikan api neraka yang siap menghanguskan dua orang di hadapannya.
Sementara Dion, kini menatap tak percaya kearah Reta istrinya. Tampak iya masih tak paham dengan kemarahan besar yang tetiba menguasai wanita itu.
Dirinya bahkan baru pulang. Bukannya disambut dengan secangkir kopi malah tamparan keras yang didapatkannya.
"Ada apa Reta? Kenapa kau menamparku?"
"Ahhhh!! Tutup mulutmu, Mas!!!"Reta berteriak tak mau dengar lagi. Jari telunjuknya menunjuk tepat ke wajah pria yang masih berstatus sebagai suaminya itu.
"Untuk apa kau kembali? Pergi kau!! Aku tak mau melihat wajah busukmu itu!!"
Dion mencoba menenangkan wanita itu. Meraih dan memegang kedua tangannya. Tapi dengan gesit Reta malah menepisnya dengan kasar.
"Jangan menyentuhku!! Kau menjijikkan, Mas!!"
"Sudahlah Mas, kita pergi saja." Ajak wanita itu mencoba membawa Dion pergi dari rumah rongsok itu.
Dion menolaknya. Tampak dia masih bersikeras untuk menemui Reta istrinya.
"Reta, dengar dulu. Mas kesini itu untuk ...?"
"Untuk apa? Untuk mengenalkan ku dengan wanita penggoda lain lagi!"Reta segera berkata meskipun pria itu belum menyelesaikan kalimatnya.
Tapi, Dion tampak terdiam. Tak merespon ataupun membatah perkataan Reta barusan itu. Mungkin itu memang benar.
"Cukup Reta!!"Dion membentak. Iya tak tahan lagi dengan cerocosan wanita itu.
"Kenapa cukup Mas? Aku bahkan belum puas mengataimu!"
"Reta," Dion memelankan suaranya. Mencoba membujuk dan membicarakannya baik-baik.
"Dia Karin, wanita yang telah menyelamatkan ku di pinggir jurang. Reyhan si biadap itu menangkapku dan menghajarku mati-matian.
Anak buahnya membuangku ke sana. Dan Karin inilah yang telah menyelamatkanku." Kata Dion memperkenalkan wanita di sebelahnya itu.
Tampak wanita yang bernama Karin itu tersenyum seraya menunduk sopan. Meskipun tampilan Reta saat ini seperti kuntilanak merah yang siap mencekiknya.
"Sayang, dia ini seorang janda anak satu. Rencananya aku mau menikahinya."
Mendengar itu, Reta kembali membulatkan matanya. Penuh kegeraman. Menatap dua orang yang seakan tak berdosa itu di hadapannya.
Tak lama,
"Ahhhhhhh!!!" Wanita itu malah berteriak dengan nyaringnya. Setelah itu, masuk ke dalam.
__ADS_1
Entah apa yang mau di ambilnya. Dion dan Karin tampak heran melihatnya.
Tiba-tiba,
"Pranggggg!!!" Sebuah cobekan batu melayang tepat di kepala Dion.
"Ahh!!" Pria itu tentu saja menjerit kesakitan. Tak lama darah merah segar pun mengalir dari sana.
Kedua orang itu panik kalang kabut. Sementara Reta kini sudah berdiri di ambang pintu lagi dengan sebilah pisau di tangannya.
"Reta!! Apa yang kau lakukan??"
"Mba, kepala Mas Dion berdarah!!"
"Oh, berdarah yah. Emmm!! tampaknya masih kurang tuh."Reta berkata tanpa sedikitpun paniknya.
Dengan santai dia malah menyandarkan tubuhnya di pintu sembari mengayun-ayunkan benda tajam itu di tangannya.
"Kamu gila yah Mba!"kata Karin tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Cukup Reta!! Mau Ndak mau aku akan tetap menikahi Karin." Hardik Dion mempertegas perkataannya.
"Terserah, aku tak peduli lagi. Mas, aku sudah minta talak darimu. Kita sudah bercerai sekarang ini. Jadi, kita tak ada lagi sangkut pautnya."
"Oke kalau itu mau kamu! Saat ini juga, kita resmi BERCERAI!!" Dion mengabulkan permintaan istrinya itu.
Mengingat mereka itu hanya menikah siri jadi cukup dengan perkataan saja kedua orang itu sudah resmi berpisah.
Reta kini memasang senyum angkuh di wajahnya. Melihat lelaki yang barusan menceraikannya itu hendak pergi.
Iya akhirnya bisa bersorak hore di dalam hati. Sekarang, tak ada lagi yang akan mendesaknya untuk segera hamil. Oh yah, Hamil.
"Mas, tidak inginkan kamu mendengar pesan terakhirku?" Reta menawarkan.
Dion dan Karin bersamaan berbalik. Memicing tajam.
"Apa lagi?" Tanya kedua orang itu.
Reta tersenyum dulu sebelum berkata,
"Mas, aku hanya mau mengingatkan, sebanyak apapun kamu menikahi wanita. Tetap hasilnya akan sama. Tak ada dari mereka yang akan hamil anakmu. Kenapa? Karena kau itu mandul Mas! Kau MANDULL!!"
"Dan kau Karin. Jika kau menikahi pria bajingan ini, cepat atau lambat nasibmu akan sama seperti kami."
"Kami?"nada Karin itu terdengar bertanya.
"Aku dan Rika, korban lelaki ini. Kurasa kau korban ketiganya. Hahahhaha ...!!!"
__ADS_1
.............. Happy reading.................
like, vote, komen and foforitkan juga yah