
"Iya Mah, Rika cinta dengan Reyhan."
Senyap seketika.
Bu Rossa dan tuan Huda saling bertatapan. Memandang secara dalam. Mencerna jawaban sang anak yang barusan dilontarkan.
Sementara Reyhan, iya masih terpaku diam. Dalam hati iya girang senang bak hendak jungkir balik.
Yesssss!!!!
Yeaaahhhh!!!
Wuuuhhuuuiiiii!!!
Akhirnya Rika mengakui cintanya.Yes, kemenangan akhirnya berada di pihaknya.
Sekarang ini, mau tak mau tuan Huda harus menjadikannya menantu baru. Menendang menantu lama dan menyambutnya dengan hangat.
Hahahaha ....!!!
Ini yang ditunggu-tunggu selama ini. Mendapat restu dan bisa hidup bahagia bersama sang pujaan hati. Oh sudah dipastikan, kebahagiaan sedang menanti mereka.
Tuan Huda menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan. Setelah cukup lama iya berfikir kini sudah tiba saatnya untuk iya mengeluarkan. Keputusannya.
"Baiklah, Papa akan merestui hubungan kalian."
Deggg!
Rika dan Reyhan bertatapan. Lampu hijau dari sang ayah. Yah, itu benar. Telinganya tidak konslet tidak pula rusak. Mereka tidak salah dengar.
Tak sangka Tuan Huda memang merestui hubungan dua orang itu. Meskipun keputusan itu memang harus iya ambil.
Tapi terlihat dengan jelas bahwa tak ada rasa keberatan di wajahnya. Mungkin karena dia telah percaya bahwa kali ini Reyhan memang merupakan pria yang mampu menjaga putrinya.
"Mengenai perceraianmu dengan Dion, papa sangat setuju dengan keputusan yang kau ambil. Pria itu memang tak pantas untukmu. Karena dialah Papa harus bersandiwara cukup lama di kursi roda."
Rika tertegun setelah mendengar perkataan terakhir itu dari ayahnya. Bersandiwara, untuk apa? Wanita itu tampak penasaran. Kini iya menatap pria paruh baya itu untuk meminta penjelasan.
"Maksud Papa?"
"Rika, dion lah yang sudah membuat Papa terkena stroke. Dia sudah merampas paksa perusahaan tanpa sepengetahuan kamu Nak,"
"Apa!!! Mas Dion!" Kejutnya rasa tak percaya.
Tapi apa? Memang itulah kebenarannya. Rika benar-benar marah sekarang.
"Sudahlah nak," kata tuan Huda mencoba menenangkan putrinya yang terlihat sangat syok.
Menyesal dan menyalahkan diri sendiri pasti itu yang dilakukan anaknya itu saat ini.
"Kau sudah bercerai dengannya. Itu sudah lebih baik."
__ADS_1
"Tapi Pah, dia benar-benar tak punya malu ahh," Rika hanya bisa berdecih dengan kasar. Menahan amarah dan kekesalan.
Dion, tak sangka sifatnya seburuk itu. Kini hanya ada rasa kebencian dan kejijikan jika mengingat namanya.
Ternyata begitulah sifat asli dari pria yang dulu di puja-pujanya. Menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang iya inginkan.
Bermuka dua hanya untuk menipu orang. Sungguh tak tahu malu.
Sekarang menyesal karena pernah mengenal bahkan mencintainya. Menjadikan pendamping hidup pula.
Ahhhh,
****
Sementara itu, sebuah rumah petakan kecil. Terlihat sudah tak nyaman. Tak enak pula. Temboknya penuh coretan dan sarang laba-laba yang melekat di setiap sudutnya. Lantainya begitu kotor.
Belum lagi sinar matahari yang masuk melalui lubang lubang di atap. Oh air hujan pun akan ikut masuk dan membasahi semua penjuru ruangan.
Meskipun begitu, rumah yang sudah tak layak huni itu tetap di tinggali sepesang suami istri. Dia adalah Dion dan Reta.
Setelah Rika mengusir keduanya, terpaksa mereka mengungsi dan tinggal di rumah tua itu.
Rumah yang dulunya menjadi tempat tinggal Dion dan ibunya. Huhh sudahlah, yang penting masih ada tempat untuk bertedu, kata Dion ketika menginjakkan kaki di tempat itu.
Meskipun gemicing beberapa serangga dan tikus-tikus yang berkesima. Menelan liur hanya itu yang bisa iya lakukan.
Jika tidak kemana lagi iya akan pergi dan membawa Reta yang ikut bersamanya.
****
Haahhhhh!!!
Manik matanya membulat kejut setelah melihat makanan yang tersaji. Iya benar-benar kaget dengan masakan istrinya itu.
"Reta!!! Reta!!!"panggilnya dengan suara yang nyaring.
Reta datang dengan sebuah baju daster yang menutup tubuhnya. Di tangannya juga tampak sebuah kain lap yang sudah usung dan kotor.
Dion menatap tampilan istrinya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Benar-benar kucel. Pria itu bahkan sedikit jijik melihatnya.
"Kenapa sih, Mas? Teriak gitu, malu tau didengar tetangga."
"Apa-apaan ini? Reta, apa yang kau lakukan?" Syok Dion menggeleng kepala.
Reta bingung dengan pertanyaan itu. Apa, kenapa, dan mengapa suaminya itu terlihat kaget. Apakah ada yang salah?
"Kenapa sih Mas?"
Dion hanya bisa membungkam mulutnya. Sudahlah. Mungkin ini memang sudah menjadi kehidupan baru mereka berdua. Tinggal di rumah lama yang kecil dan sempit. Bau pula. Tak punya uang apa lagi tabungan.
Huffff,
__ADS_1
Tapi tak apa. Reta juga terlihat seperti menerima keadaan itu. Mungkin bukan menerima tetapi pasrah saja.
"Kamu masak apa?" Tanya Dion yang sebenarnya sudah melihat isi tudung saji. Masih tak percaya bahwa makanan itu yang akan mengisi perutnya.
Mungkin ada makanan lain yang disimpan sang istri harapnya.
Perempuan itu tersenyum. Kini juga menggeser kursi untuk dirinya lalu duduk. Hendak makan bersama dan mengobati perutnya yang sudah dililit rasa lapar.
"Mas, aku masak daun singkong dan ikan asin. Tadi ada tetangga yang datang ke sini dan dia ngasi itu sama aku. Baikkan dia?" Terang Reta bahkan sempat memuji di akhir kalimatnya.
Kini iya malah menyendok nasi dan lauk pauk sederhana kemudian menyodorkan ke sang suami. Perempuan itu tak lagi bisa manja-manja dan memilih makanan seperti di rumah besar Rika saat itu.
Tampaknya iya memang sedang berusaha untuk menerima keadaannya yang ada. Tampilannya saja jauh berbeda. Bukan hanya Dion tapi siapa saja yang melihatnya pasti akan terkejut batin.
"Nih Mas, ayo makan."
Dion menatap piring yang sudah berisi nasi putih dengan sayur daun singkong sebagai lauknya. Tak lupa juga kepala ikan asin ditambahkan Reta.
Huhhh,
Makanan ini. Apakah lambung bisa mencernanya?
"Ayolah Mas, makan." Desak Reta agar Dion segera menyantap masakan tangannya.
"Em, i ... Iya."
Dengan tangan gemetar Dion mulai menyendok nasih putih itu. Tak lama tangannya mulai bergerak membawa dan memasukkannya ke dalam mulut. Rasanya aneh.
Tapi iya tetap mengunyah dan berusaha menelannya. Dengan menutup mata mungkin rasa pahitnya akan sedikit berkurang. Entah apa hubungannya.
Krekkk!
Terdengar suara pergesekan antar gigi dan batu kerikil kecil dari mulut.
"Hoekkk"Dion memuntahkan makanan yang tadi berusaha dikunyahnya.
Reta yang melihat itu tampak terkejut. Segera iya menuang air putih lalu diberikannya kepada Dion yang terus berusaha mengeluarkan isi perutnya.
"Kenapa sih Mas? Nih ayo minum dulu."
Glekkk
Dion menenggak habis segelas air putih itu sampai tak tersisa. Baru setelahnya dengan kesal iya berkata.
"Ih, Reta! Kok di nasinya ada batu?"
"Nih liat?" Dion memperlihatkan batu kerikil yang keluar dari mulutnya.
"Oh iya, maaf Mas, beras yang kumasak memang kualitasnya kurang bagus. Beda dengan yang ada di rumah Mba rika. Beras impor. Hehehhe ...." Tawa pelik Reta mencoba mencairkan suasana.
Happy reading.........
__ADS_1
like, vote, komen and foforitkan juga yah
plisss satu jempolan saja sudah sangat berarti loh buat penulis