Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 40


__ADS_3

"Hahhh!! Aku?" Kata Rika tak percaya.


"Tapi aku tak membutuhkannya,"


"Aku yang membutuhkannya, untuk dirimu."


Rika hanya bisa diam dengan perkataan Reyahan. Itu hanya beberapa uang yang keluar, tentu saja tak masalah.


Lagipun menambah satu barang koleksian di rumah bagus juga. Rika kembali duduk dengan penuh ketenangannya.


Acara lelang itu berlangsung hingga beberapa jam. Kini tibalah barang terakhir yang akan diperjual belikan.


Di layar, kini ditampilkan sebuah gambar rumah yang terlihat besar dan mewah. Rika tampaknya sudah tak menghiraukan itu lagi. Iya merasa lelah dan ngantuk. pinggnya juga mulai sakit karena sedari tadi iya duduk dan tak kunjung berdiri.


"Satu setengah milyar!" Tawar Randy.


Suara asisten Reyhan itu membuat Rika tersadar dari kantuknya. Reyhan menawar lagi.


Entah barang apa lagi itu. Karena penasaran, Rika pun membuka mata dan melihat ke layar.


Alangkah terkejutnya iya ketika melihat gambar rumah yang sedang dipertaruhkan. Bukankah itu adalah rumahnya. Itu adalah rumah yang dihadiahkan ayahnya, tuan Huda atas pernikahannya dengan suaminya, Dion.


Lalu kenapa sekarang ada di sini.


Tidak! Di sini pasti ada kesalahan. Siapa yang menjual tempat tinggalnya itu. Bukankah itu atas nama dirinya?


"Reyahan tolong dapatkan rumahku itu. Aku akan menukarnya dengan kalung tadi."pinta Rika memohon.


Matanya kini mulai berkaca-kaca. Iya sangattak mau jika harus kehilangan kado pemberian dari kedua orang tuanya.


Apapun yang terjadi iya harus mendapatkan tempat tinggalnya itu.


"Jangan khawatir, kucing kecil manisku. Duduk dan lihatlah bagaimana priamu ini bertindak."


Seseorang kini muncul dan melawan tawaran Reyhan.


"Dua milyar!"


"Tiga milyar!"tawar Randy.


"Tiga setengah milyar!"


Merasa jenuh dan tak sabaran, Reyhan segera mengambil alih. Langsung saja iya mengangkat tangannya kemudian dengan lantang berkata.


"Enam milyar!!"


"Waooooo!!" Sorak semua orang yang ada.


Tampaknya, uang memang bukanlah kendala bagi pria satu ini. Tujuh milyar uang rupiah iya keluarkan malam ini hanya untuk wanita yang menghuni hatinya itu.

__ADS_1


"Bos, sepertinya anda terlalu berlebihan."ujar Randy mengingat.


"Jika bisa lebih, maka akan aku berikan untuk wanitaku."


Rika tertegun haru dengan tindakan Reyhan barusan itu. Seberapa kaya sebenarnya pria di sisinya ini. Oh Pasti sangat. Buktinya, semua orang tunduk padanya.


Ternyata Reyhan memang tak main-main dengan Rika. Uang sebanyak itu tak iya fikirkan sedikit pun.


Rika berhenti memikirkan itu. Yang menghuni otaknya sekarang adalah, bagaimana bisa rumah kediamannya ada di acara pelelangan malam ini. Dia harus mencari tahu siapa dalang di balik Semuanya.


Di luar, aula.


Reyhan dan Rika terlihat sedang menunggu Randy dengan sebuah mobil yang iya parkirkan. Baru saja mereka hendak pergi, Seseorang datang dan menghentikan langkah keduanya.


"Wah!! Tuan Reyhan, terima kasih atas keuntungan yang sudah kau berikan untukku."


"Kau sangat dermawan dengan tawaran harga rumah yang sangat fantastis."


Mendengarnya, Rika jadi berfikir mungkin saja yang pria setengah tua itu katakan adalah rumah miliknya yang terjual itu. Dengan cepat iya pun maju dan berkata.


"Bagaimana anda bisa memiliki rumah itu." Sosornya.


"Wah, siapa wanita cantik ini? Dia terlihat bersemangat sekali."


"Tuan Ruhan, dia wanitaku."kata Reyhan dengan aura mencekamnya. Kedua tangannya kini iya letakkan di kedua lengan kiri kanan Rika.


"Ohh, ahahah ...! Maaf nona. Em saya membelinya dari seseorang yang bernama Dion Aryaloka.


Kebenaran muncul sudah. Dion, lagi-lagi iya berbuat sesuatu yang membuat kemurkaan Rika mengamuk. Bagaimana bisa suami Rika itu berbuat sesuatu hal yang bahkan tak pernah terpikirkan samah sekali.


Iya bahkan memalsukan tanda tangan istrinya hanya untuk bisa menjual rumah pemberian ayah mertuanya itu. Semua ini sudah melampaui batas kesabaran.


Entah apa yang akan terjadi dengan kemarahan besar Rika sekarang ini.


****


Di sisi lain, Dion tampak sedang melakukan yoga malam di atas ranjang bersama Reta istri keduanya. Suasana panas penuh gairah memenuhi seisi ruangan.


Gaya jongkok, kayang dan melayang sudah terpakai semua. Kini tinggal gaya menunggang kuda yang masih berlangsung.


"Ahhh!! Ahhh!!! Ahh!!!"itulah yang terdengar sekarang ini.


Suara rintih ******* itu semakin laju semakin besar. Jika lambat maka pasti akan lembut tetapi lebih menyentuh hati.


Cara Dion menunggai istrinya memang sangatlah luar biasa. sesekali iya akan memberi pukulan agar gairahnya semakin bertambah di setiap tusukan.


Keduanya kini berada di puncak kenikmatan surga dunia. Di titik ini, sebuah susu putih kental akan keluar dari dalam sang pusaka. Itulah yang nantinya akan masuk dan membentuk si adik kecil.


"Ayo, Mas!! Lebih cepat lagi. Tanggung nih,"

__ADS_1


"Oke sip,"kata Dion dengan suara ngos-ngosannya. Keringat juga bercucuran di wajahnya. Hal itu menandakan bahwa betapa enak dan nikmatnya iya sekarang ini.


"Bammmmm!!!" Tiba-tiba pintu yang tadinya sedang tertutup rapat terbuka lebar dengan suara hantaman keras dari luar.


Hal itu menyebabkan aktivitas panas yang sedang berlangsung itu terhenti. Keduanya kini tampak terdiam mematung dengan posisinya masing-masing.


"Mas, pintunya kenapa gak dikunci sih?"


"Maaf, tadi Mas lupa."


Dion segera bangkit meraih celana pendeknya kemudia berjalan ke arah pintu untuk kembali menutupnya.


Sementara Reta, iya meraih selimut tebal untuk menutupi tubuhnya.


"Mass!!!" Teriak Rika yang tiba-tiba muncul dan mengageti keduanya.


"Ehh, Rrrika Ka ... Kamu sudah pulang?"


Dengan mata yang berkaca penuh kemarahan, istri pertama Dion itu kembali melontarkan perkataan.


"Keterlaluan kamu Mass!!"


"Kenapa kamu jual rumah kita?? Hahhh!! Kenapa?"


Dion tersentak. Kok Rika tiba-tiba tahu akan perbuatannya. Dari mana?dan siapa yang memberitahunya. Seingatnya,, Reta dan Bu Diana ibu kandungnya sendiri bahkan tak iya beri tahu.


"Rik, Mas gak ngerti maksud kamu. Mas gak paham."


Rika kembali berterik dengan amukannya.


"Kamu gak usah pura-pura gak tau. Mas!! aku sudah tau semua tentang kamu. Tega-teganya kamu jual rumah ini tanpa ngomong sedikit pun sama aku. Mas! Aku itu pemilik sah rumah ini. Atas dasar apa kamu memalsukan tanda tanganku?"


Sepertinya percuma jika Dion berdalih lagi. Tampaknya, kini Rika memang sudah tau semuanya.


"Maaf Rik, maaf. Mas terpaksa, ini semua demi kebaikan kita."lirih Dion mencoba membuat wanita murka itu paham akan maksud dan tujuannya.


"Terpaksa apa Mas? Kamu sendiri yang membuat masalah ini!! Lalu kenapa malah aku yang ikut nanggung akibatnya?"hardik Rika tak mau mendengar alasan apapun.


Mendengar pertengkaran hebat itu, Reta segera bangun dan memakai semua pakaiannya. Melanjutkan senam panas dengan suaminya itu tak mungkin lagi.


Suasananya sudah tak tepat sekarang ini. Suara Omelan Rika saja terdengar di mana-mana. Entah masalah sebesar apa yang membuatnya berteriak seperti itu.


"Rik, Mas minta maaf. Tolong maafkan Mas,"lirihnya.


Rika sudah muak dengan semua ini. Kini iya pergi dan naik ke kamarnya.


Untunglah iya ikut ke acara pelelangan itu hari ini. Jika saja tidak, mungkin iya tak tahu kalau rumah besar pemberian kedua orang tuanya itu sudah menjadi milik orang lain.


.............. happy reading..............

__ADS_1


like, vote, and komen


__ADS_2