
Rika telah di pindahkan ke ruang perawatan. Karena memang kondisinya yang terus membaik dari waktu ke waktu.
Sayangnya dokter mengatakan bahwa masih tak boleh menemuinya terlebih dahulu. Dia masih harus beristirahat.
Reyhan termasuk. Meskipun dia adalah suaminya, dokter tetap melarangnya. Rindu rasanya tapi mau bagaimana lagi, ini demi kebaikan Istrinya sendiri.
Tak apalah, batin pria itu pasrah. Setiap harinya dia hanya akan memandangi Istrinya dari kejauhan. Di balik kaca jendela kamar itu.
Masih mending dia bisa melihat istrinya yang dalam baik-baik saja. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi.
Setelah selesai melihat istrinya, Reyhan akan pergi ke ruangan lainnya. Ruangan dimana kedua putri putranya berada. Yah, tempat penyimpanan bayi-bayi yang lahir prematur itu.
Lagi-lagi Reyhan hanya bisa melihatnya dari balik kaca jendela. Yah, dokter juga melarangnya masuk.
Bukan hanya dirinya tetapi semua orang tak boleh memasuki ruangan itu. Kecuali dokter dan perawat itu sendiri
Pasrah, itu juga yang hanya bisa diperbuatnya saat ini. Kondisi anak-anaknya memang masih lemah.
"Rey,"Suara Dokter wanita yang menghampiri.
Reyhan berbalik melihat siapa yang menepuk bahunya.
"Galdin,"
Dokter wanita itu tersenyum.
__ADS_1
"Tenanglah, istri dan anak-anakmu baik-baik saja. Tak lama lagi mereka akan pulih secara total."
"Ah, benarkah?"Reyhan memastikan perkataan Dokter itu yang tak lain adalah temannya sendiri.
"Iya Rey," Galdin tersenyum lembut.
"Mungkin dalam waktu dua hari ini istri dan anakmu bisa pulang,"
Reyhan mengusap wajahnya. Sekarang ini dia sangat senang dan bahagia. Dengan senyum lembutnya kembali menatapi dua buah hatinya yang terbaring di dalam sana itu.
Sungguh ingin sekali membelai wajahnya. Tapi sangat tak bisa.
Tak apalah, ini juga tak lama lagi.
"Rey," ujar Galdin membuat pria di hadapannya itu kembali Melihatnya.
"Baiklah, Sebelumnya aku sangat berterima kasih padamu. Kau sudah bekerja keras untuk menyelamatkan istri dan kedua anakku."
Dengan senyumannya Galdin berkata.
"Ini sudah tanggung jawabku Rey. Kau akan melenyapkan dirimu kan jika Rika tak ada?"
Reyhan tertegun. Perkataan Galdin itu memang ada di benaknya waktu itu. Tapi dari mana wanita ini tau.
"Rey, kau sudah bahagia kan?" Ucap Galdin sembari memegang bahu Reyhan. Dia menatapnya dengan dalam.
__ADS_1
"Kalau begitu, aku pergi."
"Pergi? Hahhh?"ulang Reyhan dengan nada sedikit bertanya. Tak paham akan maksud dari ucapan dokter itu. Entah mengapa seperti ada sesuatunya.
Mungkinkan, batin pria itu terus berfikir keras sembari menatapi pundak belakang Galdin yang terus menjauh darinya.
"Bosss!!!!" Suara Randy yang tetiba menghampiri. Reyhan sedikit terkejut dan Kemudian berbalik ke arah asistennya yang kini telah berdiri di hadapannya.
"Kau?"
"Ada apa?"
"Dion, apa kau tak ingin menemuinya?"
Dion. Nama itu seketika membuat Reyhan berubah ekspresi. Naik darah. Emosi dan langsung dilanda kemurkahan. Bahkan mengepalkan Tangannya saking bencinya mendengar nama itu.
"Di mana dia?"tanya Reyhan dengan nada dingin dan mematikannya. Manik matanya langsung memicing tajam hendak Randy segera memberitahunya keberadaan pria keparat itu.
"Di ... Dia ditahan orang-orang kita bos,"Randy bahkan sampai bergetar menyelesaikan perkataannya.
"Ayo, kita buat dia menyesal karena sudah terlahir di dunia ini,"
............ Happy reading.........
Like, vote, komen, and foforitkan juga yah
__ADS_1
pliss tinggalkan like, vote, komen, and foforitkan penulis malang sangat membutuhkan nya