Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 42


__ADS_3

Tuan Huda juga membalas pelukan putrinya. Apa yang bisa iya katakan. Menjadi sehat ataupun sakit tak bisa diaturnya.


Hanya air mata yang membasahi pipinya sekarang ini. Iya sangat menyayangi putri semata wayangnya itu.


Kini mereka sudah ada di ruang keluarga. Rika duduk ditengah-tengah ibu dan ayahnya. Reyhan? tentu saja ikut sebagai tamu yang sangat dihormati dan disegani.


Sekarang iya duduk dengan sangat tenang dan penuh kesopanan. Bidik matanya hanya memandang tunduk tanpa berani menatap jelas ayah dari wanita yang dicintainya itu. Di sini iya harus terlihat sangat baik baik dan renda hati.


"Bi, ayo. Bawakan cemilannya."pinta Bu Rossa pada salah satu pelayan yang bekerja di rumahnya.


"Saya sangat terkesan karena seorang tuan yang terhormat seperti anda mau datang bertamu di rumah kami."ujar tuan Huda dengan menatap senyum miring ke arah pria berkarisma di hadapannya.


Tatapan tajam mengintimidasi juga iya lemparkan ke arahnya.


Dengan tipis Reyhan menundukkan kepala. Sekilas bibirnya juga menampilkan senyuman. Hufff! Keringat dingin memuncak.


Jika saja ini dalam urusan berbisnis, pasti sifat angkuh dan arogannya yang akan iya perlihatkanlah. Beda lagi ceritanya jika sedang mendekati calon papah mertua.


Semua harus dilakukan semata-mata agar semuanya terkesan. Jika tak mendapat restu maka akan buruk akibatnya.


"Tentu tuan, saya juga sangat senang bisa bertemu dengan anda yang sudah kembali pulih."


"Andai saya punya putri lagi, maka akan bagus untuk anda bukan? Putriku Rika sudah bersumi."


Reyahan tertegun, kedua manik matanya membulat. Tampaknya tuan Huda sedang mengingatkan dirinya. Huff kelihatannya iya akan sedikit berjuang untuk hal ini.


"Eh Rik, ayo ikut mama ke kamar." Tarik Bu Rossa ke putrinya. Rika yang tadinya belum siap hanya bisa terhuyung dibuatnya. Bu Rossa menyadari tatapan sinis suaminya.


Itulah sebabnya iya menarik anaknya.


Dulu tuan Huda sering menceritakan tentang pebisnis kaya dan mapan itu. Katanya iya populer di kalangannya.


Tambah lagi iya bersikap angkuh dan arogan. Tapi tadi, Reyhan yang selalu berkarisma itu tunduk layaknya ayam sakit. Entah itu hanya cerita belaka atau tidak. Yang pasti istri dari tuan Huda ini jadi tak yakin tentangnya.


Reyhan menarik kedua sudut bibirnya. Iya pun memberanikan diri untuk memandang ayah dari wanita yang dicintainya. Jika terlalu bersifat lunak takutnya iya akan ditindas.


"Anda tenang saja, saya tahu tempat di mana saya berada. Oh yah, apakah anda tak tertarik dengan kado spesial yang kubawa?"


Tuan Huda menaikan salah satu alisnya. Iya terlihat sama sekali tak tertarik dengan perkataan Reyahan itu.


Reyhan menyengir. Iya kini mengeluarkan sebuah map coklat dari dalam tas kantornya.

__ADS_1


"Silahkan dilihat."


Tuan Huda kini membuka map yang didalamnya ada surat penting. Entah apa yang akan ditunjukkan bocah ingusan ini?"


Kedua matanya membulat kejut.


Ini adalah kertas yang berisi pengakuisisian perusahaan Sorayagroup oleh Reyhan yang berkuasa itu. Semua Saham Sorayagroup akan diberikan kepada tuan Huda tanpa jaminan sedikit pun.


Reyhan membaca ekspresi itu. Tuan Huda pasti senang atas kado yang telah iya berikan.


"Apa kau sedang menyogokku?"tanya tuan Huda dengan tatapan tajam ke arah Reyhan.


Reyhan tersenyum. "Menyogok, tentu saja tidak. Aku hanya membantu mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik anda."


Tuan Huda kembali meletakkan berkas penting itu. Iya kemudian menarik nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Kedua bola matanya masih memicing tajam ke arah pria mapan di hadapannya.


Iya bediam sejenak sebelum kembali berucap.


"Aduhhh!! Kenapa baru sekarang? Wahh! Senangnya aku, akhirnya kembali ke posisiku seperti dulu. Yehh!! Hore!! Hore!!!" Soraknya penuh kebahagiaan.


Iya hampir saja berlompat-lompat saking girangnya.


Reyhan tersenyum puas. Satu langkah menuju kemenangan.


****


Tak terasa waktu pun berganti menjadi malam. Rika kini telah pulang ke rumah kediamannya. Tampak iya sedang duduk di depan meja riasnya.


Iya menatap bayangan dirinya dari pantulan cermin. Diperhatikannya saksama kulit wajahnya.


"Hahhh!!"


"Sejak kapan kulit keriput ini ada padaku?" Ucapnya panik setelah melihat sedikit penuaan dari kulitnya.


Ini mungkin dampak buruk bagi dirinya yang mungkin hampir tiap saat mengomel. Ohh bagaimana tidak? Setiap hari atau jam pun iya selalu mendapat masalah.


Tidak, iya tak boleh menua Sebelum waktunya. Rika meraih sebuah krim malam yang ada di laci mejanya. Iya membuka dan langsung mengaplikasikan itu ke wajahnya. Dengan begitu iya akan tetap cantik dan terlihat away muda.


Agar iya mendapatkan hasil yang maksimal, segera iya ke tempat tidur untuk istirahat.


"Tuk!! Tukk!! Tukk!!" Tiba-tiba jendela kamar Rika diketuk seseorang. Spontan iya bangun dan bangkit dari tempatnya berada.

__ADS_1


Pandangan matanya kini fokus menatap jendela kamarnya yang untung saja sudah iya kunci.


Kini iya berdiri dengan badan yang gemetar. Dari sana iya memang melihat bayangan seseorang. Apa yang harus dilakukannya? Apakah iya harus memanggil seseorang untuk datang dan membantunya? Yah, itu harus dilakukannya.


Sebelum Rika bergerak Seseorang dari balik jendela itupun muncul dan langsung melompat ke arahnya.


" Srakkk!!"


Belum sempat Rika berteriak,mulutnya langsung dibekap hingga suaranya tak terdengar. Sekarang ini iya memang yakin bahwa dirinya sedang diserang maling yang akan mengbil barang-barang dari rumahnya.


Rika berusaha melawan dengan cara meronta-ronta. Tampaknya kekuatan orang itu jauh lebih besar darinya.


" Diamlah, ini aku." Ucap Reyhan berusaha menenangkan Rika. Iya pun melepas bekapan tangannya.


Rika terkejut bukan main. Hahhh!! Ternyata Reyhan yang berada di baliknya. Lagi, oh astaga Reyhan memang bukan pria yang romantis. Masa iya datang dengan cara mengendap-endap bukannya membawa sebingkai bunga malah memanjat dinding untuk bertemu dirinya.


Memanjat dinding!! Rika terkejut dengan kalimat itu. Segera iya ke balkon dan melihat betapa tingginya kamarnya itu. Reyhan, iya memanjat tanpa menggunakan apapun.


Dengan panik, Rika kembali masuk ke dalam kamar. Iya memutar bolak balikkan tubuh Reyhan. Dia hendak memeriksa apakah ada yang luka dengan pria yang sedang berdiri tepat di hadapannya itu atau tidak. Sepertinya Reyhan baik tanpa luka lecet sedikitpun.


"Dasar gila! Bagaimana kau melakukannya. Kau hampir tiada." Cerca Rika.


"Bagaimana jika kau terjatuh? Kau akan patah tulang Reyhan. Kenapa kau bododh sekali.?"


Reyhan menarik kedua sudut bibirnya. Iya hanya tersenyum menanggapi Omelan wanita panik di depannya itu.


Dengan penuh cinta kedua tangan besarnya memegangi wajah kessal itu.


"Aku baik-baik saja sayang."


Meskipun mendengar itu dan kenyataannya Reyhan memang tak terluka, Rika masih memanyunkan bibirnya.


Tangannya juga melipat rapat menjulang di atas dada.


"Apa yang membuatmu datang ke sini?"


Sebelum menjawab, Reyhan mendorong tubuh Rika hingga tersungkur di atas tempat tidur.


Dengan sigap iya pun menindihnya. Tatapan keduanya bertemu. Reyhan menatap Rika dengan penuh cinta dan kasih sayang.


.......... happy reading.......

__ADS_1


like vote and komen


__ADS_2