
Citttttt!!!!
Suara pergesekan ban mobil dengan aspal. Bersamaan dengan itu, deruman mobil pun berhenti.
Dari dalam kendaraan roda empat itu, dua orang pria keluar. Randy dan Reyhan, semua orang yang berseragam hitam itu menunduk kala melihatnya.
Memberi hormat dengan tegapnya. Bahkan tak ada yang berani bergerak sebelum dua orang itu berlalu.
"Rey, dia di dalam." Tunjuk Randy ke dalam bangunan tuan terbengkalai itu.
Reyhan tersenyum miring baru melanjutkan langkah kakinya.
Di dalam bangunan tua itu. Seorang pria dengan wajah yang sudah tak berbentuk terkapar di lantai.
Tak berdaya dengan pandangan sayup-sayupnya. Tangan dan kaki terikat juga.
Dia Dion, pria yang selalu membuat onar di kehidupan Rika dan Reyhan. Pria penggangu yang sangat terobsesi.
Teringin punya anak. Tapi sayang, dirinya mandul. Sungguh malang. Jika dia tiada, tentu tak ada yang akan meneruskan keturunannya.
Biarlah dia,
"Biurrrrr!!!"Hantaman air dingin menyiram tubuh Dion yang setengah sadar itu. Rasa nyeri di seluruh tubuh membuat dirinya meringis.
Berusaha membangunkan tubuh memarnya. Dari wajah, badan, bahkan semuanya. Merah dan bengkak. Jika diistilakan setengah bonyok.
Itu semua berkat perbuatan Randy dan anak buahnya. Menyiksa Dion hingga terpaksa tak sadarkan diri.
"Hey, bangun!!"Ujar salah satu bawahan Randy dengan melayangkan tendanga kakinya ke tubuh Dion.
"Bos, dia sudah sadar," ucapnya menunduk ke arah Reyhan lalu pergi.
__ADS_1
Reyhan berdiri dengan kokohnya. Menatap sengit ke arah pria tak berdaya di hadapannya.
Dion, lagi-lagi mantan suami, istrinya itu kembali ke keadaan seperti ini. Seperti seekor semut yang tinggal dipijak saja akan tiada.
Tapi, terkadang Dion seperti seekor kucing juga. Yah kata orang punya sembilan nyawa. Sudah hampir tiada tapi masih selamat juga.
Apa mungkin hari ini akan seperti itu lagi? Jawabnya tidak. Karena, hari ini, Reyhan sendiri yang akan melenyapkannya.
Mengantar pria itu menemui ajalnya. Dan sudah dipastikan, dia tak akan kembali hidup lagi. Di kehidupan ini bahkan selanjutnya Jika ada.
"Tidak inginkah kau tertawa melihatku?" Ujar Reyhan dengan wajah serius dan mencekamnya. Terlihat jelas aura membunuhnya saat ini.
Dion berusaha bangkit tapi sungguh tak bisa. Bergerak sedikit saja pun tulang-tulangnya seakan remuk semua. Mungkin beberapa telah patah.
"Lihat aku "ujar Reyhan mendekatkan diri. Dia bahkan menarik wajah Dion hingga begitu dekat dengannya.
"Kau pria pertama yang benar-benar berani mengusik kediamanku, kau tau itu?"
"Jawabb!!! Apa kau sedemdam itu padanya? Dia tak ingin kembali denganmu kau bahkan ingin melenyapkannya!!! Brukk!! Brukk!! Brukkk!!" Suara Reyhan meninggi di ujung kalimatnya.
Bersamaan dengan itu pukulan tendangan juga dilayangkannya.
Terus mengajar Dion hingga pria itu bahkan tak sanggup lagi. Benar-benar sudah tak berbentuk.
Dion benar-benar sekarat. Tapi Reyhan masih tak tinggal diam. Dengan tak berhatinya, iya berkata.
"Kuliti dia,"
Jrenggg!!! Sungguh perkataan yang begitu menyeramkan. Tentu membuat semua orang merinding kala mendengarnya.
Reyhan bapak baru itu benar-benar ingin melakukannya. Tak memasang belas kasihan sedikit pun di wajahnya.
__ADS_1
Begitulah kekejamannya, Resiko dan konsekuensi yang harus ditanggung jika seseorang berani mengusik keluarga kecilnya.
"Rey, kita buang ke laut saja,"saran Randy. Pemuda ini bahkan sedikit takut dan entah mengapa merinding seketika.
"Tidak,"
"Kuliti dia, lalu kubur hidup-hidup."kata Reyhan lagi mempertegas perkataannya. Itu sudah menjadi keputusannya yang tak dapat diganggu gugat.
"Tapi Rey,"Randy sedikit tak tega.
Reyhan berbalik dan menatap asisten sekaligus sahabatnya itu. Dia menatapnya dengan tajam. Rasanya seperti hendak melenyapkannya juga.
"Kau melawanku?"
"Tidak Rey, aku hanya ...??"Belum sempat Randy menyelesaikan kalimatnya Reyhan langsung meluapkan kemurkahannya.
"Aku bahkan belum memperhitungkan kau yang tidak becus menjaga istriku!!!"
"Gara-gara kau dan anak buahmu yang tolol itu aku hampir kehilangan tiga nyawa sekaligus! Apa kau sadar itu!!!"suara Reyhan terus meninggi.
Memarahi habis-habisan Randy karena malah menaruh rasa kasihan pada Dion yang jelas-jelas bersalah.
"Rey, aku ....?
"Cukup!! Aku mau lihat Pria keparat ini masuk ke dalam liang lahabnya!"
"Baiklah," Randy mengiyakan perintah bos sekaligus sahabatnya itu. Dia tak berani melawan lagi.
............... happy reading...............
Like, vote, komen, and foforitkan juga yah
__ADS_1