Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 46


__ADS_3

Tak lama kemudian, Lia datang dengan beberapa berkas di tangannya.


"Tolong bawakan ice Boba super jumbo ke ruanganku. Aku haus rasanaya."


Lia mengangguk seraya meletakkan barang bawaannya.


Rika mengerutkan alis, matanya menatap beberapa map yang ditaro bawahanya.


" Apa itu?"


Lia menjawab. "Ini adalah laporan keuangan butik kita Selema hampir setahun ini."


" Anda harus melihatnya."


"Yah, taro di situ."


Lia segera pergi dengan bergegas ke luar. Iya yakin, setelah bosnya itu melihat semua jumlah kerugian yang terjadi di butik, pasti akan marah besar. Lebih baik iya pergi dari pada dia yang kena semprot.


Rika segera meraih dan membuka map itu. Matanya membulat terkejut setelah membaca isi dari kertas itu.


"Hahhh!! Sebanyak ini?"ucapnya seakan tak percaya dengan apa yang telah dibacanya.


Ia pun kembali menutup berkas itu.


Dari raut wajahnya ia hanya menampakan ekspresi marah dan penuh kekesalan. Bagaimana tidak? Laporan itu menunjukkan kerugian yang telah dialami oleh butiknya selama beberapa tahun terakhir. Semua itu mencapai kisaran tiga ratus juta, itu pun belum secara keseluruhan.


Iya tak heran mengapa butiknya mengalami kerugian sebanyak itu. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan ibu mertua serta madunya. Rika memang sudah memperhitungkan semuanya. Iya pasti akan rugi dengan perbuatan kedua orang tak punya rasa malu.


Tapi dia sendiri tak pernah menyangka bahwa akan mengalami kerugian sebanyak itu. Butiknya ini ternyata sedang menuju jalan kebangkrutan. Tidak!!! Dia harus bertindak, Rika harus melakukan sesuatu agar kerja keras yang sudah Iya capai selama ini tidak terbuang sia-sia. Menjadi desainer terkenal adalah impiannya sedari dulu.


Hal itu tidak boleh pupus dikarenakan butiknya yang akan bangkrut.


****


Rika melangkah pulang ke rumahnya. Sebuah mobil berwarna silver menyorotkan matanya.


"Huff, sudah pulang rupanya."batinnya berucap.


Itu adalah mobil dion suaminya, tampaknya ia telah pulang dari bulan madunya.


Rika kini berada di ruang tengah. Di situ, iya dapati Dion bersama ibu mertuanya sedang duduk sembari menonton sebuah acara televisi.


Sementara Reta, entah iya ke mana. yang pasti, dia belum ikhlas karena harus pulang dari tempat mewah itu

__ADS_1


Rika langsung duduk dan ikut bergabung bersama keduanya.


Bu Diana hanya memutar bola mata malas melihatnya. Iya seakan terusik dengan kehadiran menantu pertamanya itu.


"Rik, Mas mau bicara."sentak Dion melihat kedatangan istri pertamanya.


Sebenarnya ia duduk di situ karena memang sedang menunggu kepulangan Rika.


Wanita yang nampak masih muda itu hanya bersikap acuh. Iya mengambil selembar kertas yang berisi catatan dari dalam tasnya.


"Kamu tuh Kenapa sih? Kamu nggak suka ya aku pergi bulan madu dengan Reta?" Tuduh Dion dengan nada tingginya.


"Aku pergi dengan dia itu demi kebaikan kamu juga. Itu semua supaya kita cepat punya anak!"


Rika menoleh dan menjawab"bukan kita Mas, tapi kamu, kalian."


Dion menggeleng seakan tak mengerti dengan jalan pikiran istri pertamanya itu. Maksud dan tujuan sebenarnya dia pergi berbulan madu memang agar iya cepat punya keturunan.


Mengingat jalan hubungan pernikahannya dengan Reta sudah memasuki delapan bulan. Lalu kenapa Reta istri keduanya itu juga tak kunjung hamil. Kurang apa lagi Dion menggempurnya tiap malam, bahkan pagi pun Dion sempatkan. Ahh itu pasti karena Reta yang kurang santai.


Kondisi stres juga memengaruhi cepat lambatnya seorang wanita memproduksi seorang baby bukan?


"Cukup!! yah Rika, kalau kamu begitu terus Mas nggak tahan. Jangan salahkan aku jika pergi dan meninggalkan kamu."


Sregggg!!


"Terserah, yang pasti aku tak ingin uang yang selama ini kucari sendiri, kukasih dan kuberikan untuk kalian pakai senang-senang. Itu tak akan." Tegas Rika kemudian bangkit dari duduknya.


Rika kini menyorot ibu mertuanya. Kedua mata Bu Diana memang fokus memandang televisi. Tetapi Rika yakin bahwa, sedari tadi kedua telinga ibu mertuanya itu mendengarkan pertikaian antar dirinya dan dan Mas Dion.


Itu pasti. Wanita paruh baya ini mana mau ketinggalan episode pertengkaran menantunya.


"Mah, ini adalah catatan hutang Mama dan reta. Segera yah Mah, lunaskan. " Pungkas Rika dengan senyum miring lalu meninggalkan sepasang ibu anak itu.


Bu Diana, meraih kertas itu lalu melihat isinya.


"Hahhhh!! Dua ratus juta!!" Kaget nya.


"Dion! Lihat istri kamu itu, masa dia nyuruh Mama bayar utang sebanyak ini." Aduh Bu Diana kepada anak semata wayangnya.


Dion tak menghiraukan aduhan ibunya. Iya hanya terdiam sembari menopang kepalanya dengan tangan.


Perkataan terserah dari mulut Rika masih terngiang-ngiang di kepalanya. Karena kebawa emosi, tanpa sadar ia mengeluarkan perkataan meninggalkan tadi. Tapi Dion tak menyangka, ternyata Istrinya itu hanya menanggapinya dengan kata terserah. Itu artinya Rika tak takut berpisah dengannya.

__ADS_1


Benarkah?


Tidak, itu pasti tidak benar. Rika sangat mencintai Dion. Bagaimana mungkin dia mau berpisah darinya? Itu mustahil dan tak mungkin terjadi.


****


Keesokan paginya. Lagi dan lagi Rika terbangun dari tidurnya dengan kondisi Reyhan yang sudah tak berdaya di sampinya.


Pria itu memang tak bisa absen jika tak tidur bersama wanita yang menghuni hatinya. Ingin sekali rasanya iya cepat-cepat memiliki perempuan yang sudah bersuami itu.


Semua itu agar dirinya tak perlu susah-susah paya memanjat dinding dan mempertaruhkan nyawanya.


Namun karena Rika belum juga memutuskan untuk berpisah, Reyhan hanya bisa menunggu dan menunggu. Iya juga enggak memaksa Rika untuk menikah dengannya. Jika Rika memang cinta maka dia pasti akan memilihnya.


Rika kini menuruni anak tangga menuju ruang makan. Perutnya berbunyi tanda iya sangat lapar.


"Pagi Bu." Sapa Bi Maya tersenyum.


Rika membalas sapaan itu dengan senyuman juga.


"Pagi juga Bi."


"Anda mau makan buah dulu?" Tanya pelayan paruh baya itu.


Rika menggelang. Iya lebih memilih makanan mengenyangkan buat sekarang.


"Nasi saja."


Beberapa detik kemudian, penghuni lainya yang tinggal di rumah besar itu datang dan ikut bergabung. Ketiganya kini mengambil tempat duduk masing-masing.


Rika hanya melirik sekilas lalu melanjutkan makannya.


"Eh, ada Mba Rika. Oh yah, nih aku beli oleh-oleh buat mba."sapa Reta seraya memberikan sebuah botol farfus fanila.


Rika menolak dengan melambaikan tangannya. Iya juga menampilkan senyum pelik di wajahnya.


"Tidak usah, kau tak perlu repot begitu."


"Ambil saja Rika, Reta itu udah baik mau ngasi kamu hadiah." Sossor Dion dengan menatap kedua istrinya. Kapan lagi mereka akur begitu. Ini kan kesempatan langkah.


Rika memutar mata malas, iya kemudian berkata dengan mulut pedasnya.


"Seharusnya, kau tak perlu membelikanku farfum. Alangkah baiknya uangnya kamu simpen terus kalian pake deh bayar hutang sama aku."

__ADS_1


............ happy reading..................


like vote and komen


__ADS_2