
Hupppp!!
Ujaran itu seakan menusuk relung kalbu seseorang yang mendengarnya. Terutama orang yang memiliki sangkut paut dengan wanita bermulut tajam itu. Yah memang benar, hutang harus di bayar bukan.
Entah mengapa kecanggungan terasa di ruang makan itu. Perkataan Rika barusan berhasil menyindir dua wanita paruh baya dan masih muda itu. Hufff!! Hilang sudah harapan Dion untuk mendamaikan dua istri cantiknya.
"Rik, kenapa harus kamu hitung sih hutang mereka. Mereka ini kan keluarga kamu juga." Cakap Dion menatap Rika yang sedang menikmati sarapan paginya.
Rika terhenti. Iya kini menatap balik suaminya.
"Mas, ada istilah yang mengatakan.
Kita memang sodara, tapi uang kita tak bersaudara."
Dion terkesima mendengar istilah itu. Huff!! benar juga sih. Uang memang tak memiliki saudara. Juga tak memiliki teman pula.
mengetahuiEntah dari mana wanita ini istilah itu.Tapi tetap saja, Rika tak harusnya memperhitungkan hutang ibunya dan istri keduanya. Itulah pendapat Dion di dalam pikirannya.
"Mah, pokoknya kalian harus bayar aku secepatnya. Aku kasi waktu sampai esok harinya. Yah kalau kalian tak punya uang, jangan salahkan aku jika bersikap kasar." Pungkas Rika lalu meninggalkan ruang makan. Sebelum iya beranjak mulut pedas manisnya kembali berujar.
" Bi, mangga muda dan jeruk kecutnya masih ada kan? Kalau begitu bawakan ke kamarku yah."
****
Rika duduk di balkon dengan tangan yang menopang dagunya. Wajahnya cemberut. Tubuhnya juga tampak lemes seakan malas melakukan sesuatu. Terlihat jelas sekali bahwa ia sangat kebosanan hari ini.
Pergi ke butiknya juga ia enggan. Kini Iya hanya duduk dengan memandang padatnya aktivitas kendaraan yang berlalu lalang.
Rika terhenti dari lamunannya. Dipikirannya terlintas sosok pria yang selama ini menemani dirinya yaitu Reyhan.
Hmm!! Kira-kira Apa yang dilakukan pria itu. Dia pasti sedang sibuk, dia kan bos besar.
Rika meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja. Di aplikasi whatsapp-nya segera ia mengirim pesan.
"Hy."
Dengan segera pesan itu ter centang biru. Tampaknya Reyhan sangat cepat membalas pesannya itu.
Bagaimana tidak? Baru kali ini Rika berinisiatif sendiri untuk menghubungi dirinya. Ini kesempatan emas bukan?
"Ada apa? Apa kau merindukanku?"
__ADS_1
Rika terperangah setelah membaca balasan pesan singkat itu. Iihh!! Reyhan ini, tampaknya dia memang sudah tak punya rasa malu jika bercakap dengan kekasih hatinya. Tanpa basa-basi langsung saja iya menanyakan hal itu.
"Kau sangat narsis."kirim Rika.
"Itu benar." Balas Reyhan lagi tersenyum mengiyakan perkataan tentang dirinya.
Sebenarnya sekarang ini iya sedang melangsungkan rapat panas antara bawahannya.
Rapat panas itu tiba-tiba iya hentikan karena bunyi pesan WhatsApp dari ponselnya itu. Suasa tegang yang tadinya mengiasi ruangan itu terkendalikan sejenak.
Ekspresi marah yang sedari tadi iya tampilkan kini hilang seketika. Hal itu membuat para karyawannya itu menelan keras Saliva masing-masing. Akhirnya mereka terbebas dari tatapan menakutkan itu.
Tapi itu kan hanya sementara. Bagaimana jika dewi penolong mereka menghentikan balasan chat itu. Oh sudah diduga, mereka akan kembali tercekam oleh aura tersendiri yang dipancarkan oleh seorang tuan Reyhan itu.
"Randy! Hentikan rapat ini. Tunda semua pertemuan ku hari ini." Sentak Reyahan seketika memecahkan keheningan.
"Ahh, tapi Bos!"
"Klien penting kita akan tiba di bandara sore ini. Bagaimana jika a ....??"
"Kau yang temui. Bilang aku masih ada urusan lain." Sergah Reyhan tak membiarkan bawahnya membantah perkataannya.
Randy akhirnya hanya bisa tunduk dan pasrah. Oh astaga, sangat repot jika bos kita sedang jatuh cinta.
****
Pokoknya iya akan menguras habis isi dompet pebisnis terkenal itu hingga dia minta ampun.
Itulah salah satu isi percakapan mereka tadi.
Reyhan tersenyum lebar setelah membacanya. Tetapi entah mengapa senyuman bos besar itu malah membuat semua orang yang melihatnya merinding ketakutan.
Oh astagaa, itulah sebabnya kenapa kita jika menjadi bos tak paya tegang selalu. Hal itu akan menyebabkan orang lain yang melihat kita tersenyum merasa ketakutan.
Citttttt!!!
Sebuah mobil sport termahal di dunia lagi-lagi berhenti di kediaman itu. Rika yang sudah berdiri di teras, melihatnya. Langsung saja iya berjalan dan masuk ke dalamnya.
"Hy apa kau merindukanku?" Pertanyaan itu lagi yang membuat Rika memutar mata malas.
"Sudah ayo jalan." Reyhan hanya memasang tampang senyum di wajahnya. Iya menancap gas Sebelum ada yang melihatnya.
__ADS_1
Penampilannya kali sangat berbeda. Setelan kemeja mewah yang biasanya selalu membalut tubuh kekarnya tak lagi iya kenakan.
Baju kaos putih dan switer hitam polos serta celana panjang levis yang menghiasi tubuhnya saat ini. Huff meskipun begitu, ketampanan pria satu ini masih saja tak kurang satu persen pun.
Tampaknya Reyhan tetap akan menarik perhatian semua orang yang melihat dirinya.
Mobil pun kini berhenti di depan sebuah mall besar. Rika dengan senyum senangnya begitu bersemangat keluar. Sudah lama rasnya iya tak mencari hiburan diri. Yang ada iya hanya setres di akhir-akhir ini. Sudahlah, iya harus refreshing sekarang.
Rika mulai memasuki pusat perbelanjaan terbesar itu. Semua tokoh yang ada di dalamnya ia masuki satu persatu. Tak lupa juga ia petik salah satu barang yang ada di dalamnya. Yang pasti barang mahal.
Apa lagi? Bank berjalan kan ikut di belakangnya. Rayhan juga siap membawa dan menentang semua barang yang dibeli Rika. Yang pasti ia akan happy-happy hari ini.
Rika kini berdiri tepat didepan sebuah toko perhiasan. Dari kejauhan matanya menyorot sebuah cincin yang memiliki permata biru. Rika melangkah masuk kedalam sana.
Matanya terkejut takjub melihat keindahan aksesoris tangan itu. Iya bahkan menatapnya secara dekat. Cincin itu memang sangatlah indah. Dia berniat untuk membelinya.
Tiga ratus juta, itu jumlah harga yang tertera di sana. Mahal juga, batinnya. Rika berbalik melihat kedatangan Rayhan. Di tangan kekar itu terlihat hampir sepuluh barang bingkisan. Rika tersenyum lebar melihatnya.
Dia yakin, orang-orang bahkan para pembaca akan menyebutnya si cewek matre.
Tapi Reyhan kan miliarder yang kelebihan uang. Jadi tak salah jika kita memakai nya sedikit.
"Apa kau suka?"tanya Rayhan yang kini sudah berada di samping Rika
Rika mengangguk seraya tersenyum.
"Perlukah aku membeli semuanya?"tanya Reyhan dengan tatapan seriusnya.
Rika dengan cepat menggeleng. Sudah Iya duga pria di sebelahnya ini akan berkata seperti itu. Nah teman, sudah terbukti kan kalau dia itu sangat kelebihan uang.
Hehehehe ....
"Aku sudah membeli semuanya, Bagaimana Apa kau kualahan denganku?" Tanya wanita yang masih muda itu sembari meninggalkan toko perhiasan.
"Uangku baru habis beberapa lembar saja. Kau masih punya tugas untuk menghabiskan beberapa lagi."Ujar Reyhan tanpa sedikitpun keluhan di wajahnya.
Iya bahkan jauh lebih senang karena bisa menghabiskan waktu bersama kekasih hatinya. Mengeluarkan sedikit uang untuk wanita yang kita sayangi memang sangat diperlukan.
Jika pria itu membatasi barang belanjaan wanitanya, maka dia pasti pria yang kere.
hehehehe
__ADS_1
............happy reading...........
like, vote, komen, and faforitkan juga yah