
"Apa yang mereka lakukan di sini Dok? Tolong katakan! Dok, tolong katakan!" Tekan Dion secara terus-menerus. Hari ini iya datang untuk memeriksakan kandungan Reta istrinya.
Tak sangka iya malah melihat Rika mantan istrinya bersama pria yang paling di bencinya sedang berada di ruang pemeriksaan kandungan itu.
Iya tentu saja heran dan bertanya-ranya dengan apa yang dilakukan wanita yang dianggap mandul itu di tempat ini.
"Apa yang kalian maksud reyhan dan Rika?"
"Iya dok,"angguk Dion dan Reta bersamaan. Sungguh dua orang itu sangat penasaran.
"Tuan anda bisa baca kan, ini tempat pemeriksaan kehamilan. Tentu mereka datang untuk itu."
Dua orang itu terpaku. Diam dan tak bisa menggerakkan tubuh yang terasa kaku. Masih berusaha menelaah perkataan sang Dokter.
"Apa? Anda tak salah?" Ragu Reta. Mengingat mantan madunya itu mandul jadi tak mungkin kan.
"Bu, nyonya Rika HAMIL, dan itu bayi KEMBAR. Cewe dan cowo pula."
Jeddaarrrrr!!!!
Perkataan itu bagaikan Sambaran petir di siang bolong. Sangat mengagetkan dan sangat mengerikan bagi siapapun.
Terutama Dion. Tubuhnya terguncang hebat mendengar pernyataan itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Darahnya bahkan terasa berhenti mengalir.
Entah mengapa tubuhnya terasa sangat ringan sampai-sampai iya sendiri bahkan tak bisa merasakan kakinya yang menapak.
"Brukk!!" Pemuda itu tiba-tiba tumbang begitu saja. Untung jatuhnya mengenai Reta istrinya.
Jika tidak maka pasti sudah terkapar di lantai.
"Dok!! Tolong suami saya!! Tolong!! Teriak Reta yang masih menopang berdirinya Dion.
Dokter Galdin segera memanggil beberapa orang pria. Dion akhirnya dibawa dan dibaringkan di kursi sofa yang ada di ruangan itu.
"Mas, Mas Dion, bangun Mas." Panik Reta yang terus membelai wajah suaminya.
Salah satu tangannya juga menggenggam dan menggosok-gosok tangan suaminya.
Membuatnya tetap hangat dan nyaman agar segera sadar.
"Mass, bangun Mas,"
Tak lama Dion mulai menggerakkan kelopak matanya. Berusaha memisahkannya untuk kembali melihat dunia indah yang menantinya.
"Mas, bagaimana? Apa kau baik-baik saja?"
Dion berusaha bangun dari baringnya. Masih memegang kening yang terasa berputar.
Melayang dan semuanya terlihat buram.
Kenyataan bahwa Rika mantan istrinya tengah hamil kembali melintas di otaknya.
__ADS_1
Manik matanya kembali membulat sempurna. Segera sadar bahwa ada sesuatu yang harus diperbuatnya.
"Rika, Rika hamil! Reta, aku harus segera menemuinya. Itu pasti anakku." Berontak Dion berusaha bangkit. Ingin segera pergi dan mencari keberadaan mantan istrinya itu.
Tampak iya syok sekaligus senang akibat mengetahui bahwa Rika tengah hamil.
"Mas, kau masih lemah. Sudah, kau baring saja."larangnya.
"Tidak Reta, aku harus segera menemui Rika. Dia mengandung anaku kan."Entah apa yang membuat pemuda itu yakin bahkan mantan istrinya itu sedang mengandung anaknya.
Dion tampak sudah terobsesi sekali dengan keinginan punya anak. Mungkin iya belum sadar juga.
Reta hanya bisa memeluk paksa Dion guna menenangkannya. Menahan agar suaminya itu tidak pergi mencari wanita itu. Perih juga rasa hati ini.
Dion terdiam dalam pelukan reta. Bukan karena sudah tenang melainkan Manik matanya yang tetiba melihat sebuah foto hasil USG di meja.
Pria itu meraih dan mengambilnya.
Reta heran, suaminya sudah tak bergerak ataupun memberontak lagi. Iya melepas pelukannya. Kini iya juga melihat benda temuan suaminya itu.
Nama ibu Rika Rosela. Dion terperengah setelah membaca keterangan nama itu. Dipeluknya kertas itu dengan air mata yang berlinang di pipi. Iya menangis.
Itu artinya kertas hasil USG yang iya pegang adalah milik Rika mantan istrinya. Mungkin tak sengaja tertinggal sewaktu Rika dan reyhan pergi tadi.
"Reta, Rika benar hamil! Itu mungkin anakku."
"Dia sungguh hamil dan itu bayi kembar, Reta." Tangis histeris pria itu.
Sangat memprihatinkan.
"Mas sudahlah, itu mungkin bukan anakmu."Ucap Reta tanpa berpikir panjang.
Perkataan itu keluar begitu saja dari kedua celah bibirnya. Namun itu benar apa adanya.
Dion tersentak. Kini manik matanya menatap tajam ke arah wanita itu yang menjabat sebagai istrinya itu.
"Reta! Cukup!"Bentaknya.
"Jaga ucapanmu, dia anaku. Darah dagingku! Camkan itu!"
"Apa yang membuatmu berfikir jika ini anakmu!!" Teriak seseorang yang kini sudah berdiri di ambang pintu.
Dion dan Reta bersamaan menengok ke arah sumber suara.
Di sana tampak Rika berdiri dengan Reyahan di sampingnya. Menatap sengit dan rendah ke arahnya.
Namun Dion tak masalah dengan itu. Kini iya bangkit dan dengan penuh keharuan berlari menghampiri Rika.
"Rik, kau sunggu hamil,"
"Mereka anak-anak ku kan?" Penuh harapannya.
__ADS_1
Rika tersenyum mencebik. Entah ada apa dengan pria di hadapannya itu.
Bisa-bisanya masih mengakui anak yang jelas bukan darah dagingnya. Sungguh pria yang aneh. Apa semua ini belum jelas.
Tanpa menunggu lagi, Reyhan merampas kertas hasil pemeriksaan itu yang masih berada di tangan Dion.
Setelahnya merangkul Rika dan hendak membawanya pergi. Dion yang melihat itu tentu saja mencegatnya.
"Rik, Rika!! Aku mau bicara, dia anakku kan?" Rika! tunggu Rika!"panggilannya namun tampak mantan istrinya itu tak menengok ataupun ingin sedikitpun.
Harapan tak ada lagi ataupun lainya. Semuanya sudah berakhir. Kapan pria itu mengerti.
"Tunggu Rika!" Dion menarik tangan Rika dan langsung menghadapinya. Bersamaan dengan itu,
"Bughhh!!" Sebuah tinjuan mantap mengenai sudut bibirnya. Sontak saja Dia terjatuh dan kini terkapar di lantai.
Melihat suaminya dipukuli, Reta langsung berlari menghampiri. Menolong kemudian membantunya kembali berdiri.
"Apa yang kalian lakukan? Ini penganiayaan! Mas, kau tak apa?"
Dion, kini dudut bibirnya memerah. Tak lama mengeluarkana setitik dara. bukannya marah dia malah menampakkan senyum aneh di wajahnya.
"Hahahaha!!! Ahahahahah!!!! Ahhhahha!!" Pria itu malah tertawa dengan lantangnya. Dia tertawa dengan beberapa butir air mata yang lolos dari celah matanya.
Sungguh aneh, benar-benar aneh. Menyedihkan pula.
Setelah puas tertawa kini pria itu malah menatap sendu ke arah Rika dan Reyhan.
Menatap dengan tatapan yang tiada putusnya.
"Rik, kumohon katakanlah bahwa mereka anak-anak ku. Kumohon, katakanlah,"pintanya lagi-lagi dengan wajah memelas.
Tetap tersenyum tapi tetesan air putih bening tak berhenti keluar dari sudut matanya.
Dia memang sudah sangat mendambakan bayi-bayi kecil itu.
Reyhan semakin geram saja melihatnya.
Tak tahan rasanya jika tangan besarnya itu tak kembali meninju di wajah memuakkan itu.
Rika memberi isyarat geleng tipis padanya. Mungkin wanita itu paham akan kegeraman dirinya yang rasanya sudah melewati ubun-ubun kepala.
Rika mulai berbicara. Memasang wajah serius dan penuh ketegasan.
"Mas, ini bukan anakmu. Ini anak ku dan Reyhan. Aku hamil darinya. Ku harap kau tak lupa bahwa kau tak pernah menyentuhku walau secuil saja sejak kau menikah dengan dia."Tunjuk Rika ke arah Reta yang hanya bisa terdiam mematung.
Memang apa yang mesti dikatakan Reta? Toh, semua yang dikatakan Rika memang benar adanya.
happy reading............................
.....................like vote komen and foforitkan juga yah
__ADS_1