Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 106


__ADS_3

"Bughhh!! Buggghh!! Bugghh!!!"Randy masih melayangkan pukulan ketobatannya. Menghajar dion habis-habisan. Bahkan sampai terbaring ke lantai. Randy masih tak berhenti juga. Menungganginya lalu menghantamnya dengan puas.


Hingga pada saat,


"Randy!! Rika harus ke rumah sakit!!"teriakan Oma menghentikannya. Menantu cucunya sudah sangat sekarat. Sungguh tak ada waktu lagi.


Randy bangkit. Melempar Dion ke tangan para anak buah yang dibawanya. Kini dia menjulurkan tangannya.


Tak lama sudah membawa istri bos sekaligus sahabatnya itu di tangannya. Dia menggendong Rika dan segera membawanya ke mobil.


Hendak melarikannya ke rumah sakit kota.


"Tahan dia!! Reyhan sungguh ingin mengeksekusinya sendiri!" Kata Randy sebelum melaju di tengah padanya jalan raya.


****


"Dokter!!! Tolong dia!! Selamatkan ibu dan anaknya!!" Randy berteriak ketika kakinya baru menapak di lantai rumah sakit.


Tak lama beberapa pria berseragam putih pun muncul dengan ranjang dorongannya.


Rika lalu dibaringkan di situ. Tak lama, langsung bergegas dan di bawa pergi. Randy, Bu Rossa, dan Oma mengikut di belakang.


"Ini darurat! Kalian harus tunggu di sini,"Suara suster lalu menutup pintu ruangan


Randy melayangkan tinju besarnya menghantam tembok. Meluapkan kemarahannya. Dia telah gagal menjaga Rika istri Reyhan.


Bos sekaligus sahabatnya sedari kecil. Entah bagaimana akan bertemu dengannya nanti.


Reyhan, suami Rika itu sudah di perjalanan pulang. Benar-benar murka ketika mendapat sambungan telepon dari asistennya tadi.


Di perjalanan ke rumah sakit tadi. Randy telah menghubunginya. Mengatakan bahwa istrinya terpaksa melahirkan. Sekarang juga. Ini bukan preng atau kelucuan lainya. Oma, nenek Reyhan itu sendiri yang mengatakannya secara langsung.


Suami mana yang tak kalang kabut jika mendengar berita seperti itu. Reyhan bahkan hampir membakar Maskapai penerbangan itu. Mengetahui tak ada pesawat yang akan lepas landas hari ini.

__ADS_1


Benar-benar kacau. Entah dia sudah di mana saat ini. Saat Randy menghubunginya, nomornya tak lagi aktif.


"Apa Reyhan sudah tiba?" Dokter Galdin bertanya seraya menghampiri. Dia tampak cemas dengan langkah mantapnya.


"Ponselnya tidak aktif. Mungkin masih di pesawat,"Kata Randy.


"Bagaimana keadaan Rika!!"Bu Rossa bertanya dengan antusias penuh kekhawatirannya. Dia bahkan sampai menangis melihat keadaan putri semata wayangnya yang seperti ini.


"Rika, apa dia baik-baik saja!" Tambah Oma tak kalah khawatir.


"Kedua anaknya mungkin akan selamat. Tapi ibunya ....??"


Galdin tampak menjeda kalimatnya.


"Kami ragu akan hal itu,"


Suasana tambah tak terkendali. Tangis Bu Rossa, Oma, meledak sejadi-jadinya. Mereka menagis, merintih tak sanggup menelaah perkataan Dokter wanita yang ada di hadapannya.


Rika sedang kritis nyawanya mungkin tak tertolong. Ini semua karena Dion pria biadap itu. Entah bagaimana lagi mengatainya.


"Ran, kami butuh tanda persetujuan Reyhan untuk melakukan operasi sesar. Jika tidak, mungkin tak ada satupun dari mereka yang akan selamat."


Randy menghela nafas dengan mata yang berkaca-kaca. Sungguh sebenarnya, dia yang bertanggung jawab dengan semua yang terjadi saat ini.


Reyhan telah berpesan untuk tidak membiarkan istrinya lecet sedikitpun. Tapi apa, Rika bahkan sampai kritis saat ini.


Terpaksa melahirkan padahal belum waktunya. Kandungannya saja baru genap tujuh bulan. Kedua baby-nya akan lahir prematur.


Ini sungguh kesalahannya. Tak teliti memperhatikan keadaan luar rumah.


"Ran! Cepat Rika tak punya waktu lagi! Dia harus segera kami operasi, kalau tidak ....?"


"Oprasi dia sekarang juga!!"Suara Bu Rossa dan Oma bersamaan.

__ADS_1


Senyap seketika.


"Maaf nyonya, kami butuh tanda tangan dari suaminya,"


"Apa pentingnya tanda tangan itu!! Apa itu bahkan lebih berharga dari sebuah nyawa!!" Hardik Bu Rossa mulai murka.


" Rika dan calon anaknya butuh pertolongan sekarang juga! Kami yakin, Reyhan menantuku juga tak akan keberatan untuk itu!"


"Benar!! Reyhan cucuku tentu setuju!"


"Galdin, lakukan operasinya sekarang juga. Soal tanda tangan, Reyhan pasti akan setuju."Imbuh Randy.


Kini menggenggam tangan Dokter wanita itu yang juga merupakan sahabatnya. Dengan penuh ketidak berdayaan dia pun berkata,


"Tolong selamatkan Rika. Jika tidak, Reyhan akan melenyapkan dirinya sendiri."


Galdin tersenyum pilu mendengar penuturan pria di hadapannya. Apakah seberharga itu Rika di mata Reyhan.


Dia bahkan tak berfikir untuk melanjutkan hidupnya lagi jikalau Rika tiada nanti. Sungguh dirinya memang tak punya harapan. Yasudah, kalau begitu menyerah saja.


"Baiklah, aku akan mengerahkan semua kemampuanku."Pungkas Dokter wanita itu memukir senyum kepercayaan di wajahnya.


Setelahnya kembali ke ruangan di mana Rika terbaring. Dia akan mengoprasinya dan menyelamatkan tiga nyawa sekaligus itu.


"Galdin, aku tak mengharapkan kegagalan mu. Sungguh,"Batin Randy penuh pengharapan.


............. happy reading................


Like, vote, komen, and, foforitkan juga yah


Gimana episode hari ini seru gak teman, kalau seru tolong kasi like, vote, komen, and foforitkan nya yah.


Jika tidak penulis mana tau karyanya bagus atau tidak.

__ADS_1


Episode selanjutnya dijamin akan lebih seru dari ini.


__ADS_2