Rahim Yang Tak Rusak

Rahim Yang Tak Rusak
Episode 48


__ADS_3

"Kruyukk!! Kruyukkk!! Kruyukk!!"bunyi karaukean dari dalam perut Rika menandakan bahwa wanita bersemangat itu sudah kehabisan energi.


Rika bahkan sampai lupa, ternyata sedari tadi perutnya belum iya isi apa-apa. Mungkin karena wanita ini terlalu menikmati waktu jalan-jalannya yang sudah sekian lama tak iya lakukan.


Reyhan tersenyum seraya mengacak habis rambut sepundak wanitanya. Tak lupa juga kecupan manis iya tempelkan di sana.


"Reyhan, mereka melihatnya." Dengus Rika merasa kesal. Bibirnya sedikit manyun tangannya juga iya lipat ke depan.


Iya merasa sedikit tak enak dengan tindakan pria ini tadi. Bagaimana tidak? Sebenarnya beberapa kumpulan wanita kurang waras sudah mengamati mereka sedari tadi.


Mereka berkumpul dan menguntit begitu pasti karena Reyhan.


Pria di sebelah Rika itu memang selalu menjadi pusat perhatian dimana-mana. Ugghhh!! Tidak bisakah iya meninggalkan wajah sempurnanya itu di rumah saja. Rika jadi tak pede dengannya.


"Dasar konyol, ayo cari makan." Gandeng Reyhan lalu melangkah pergi.


Rika hanya bisa ikut kemana pria itu membawanya. Yang pasti iya lapar dan harus segera mengisi perutnya.


Kini pelayan restoran megah itu sudah menghampiri keduanya. Reyahan diam dan membiarkan Rika memesan menu yang akan mereka nikmati malam ini. Iya hanya akan mengikut saja.


Rika mulai memesan. Pelayan itu juga sudah siap mencatat apa yang iya inginkan. Entah mengapa Rika jadi gak ngeh melihat tingkah laku wanita yang memakai seragam dan memegang buku catatan di hadapannya itu.


Dari wajahnya iya terlihat tak suka. Mukanya saja tak senyum begitu, malah memasang wajah jutek. Hemm! Biarlah terserahnya saja.


"Aku mau ayam Kentucky, telur mata sapi, mie pangsit, dan ayam penyet. Hemmm, ayam gepreknya juga yah."


Setelah Rika mengatakan apa yang akan iya inginkan, manik matanya kini melirik tipis ke arah pria di hadapannya. Reyhan, pernahkah iya memakan makanan murahan seperti ini.


Hehehehe ... Dia pasti sedikit malu dengan menu yang diinginkan Rika itu.


Rika kembali memesan. Pesanannya kali ini untuk Reyhan. Rika memberi sedikit rasa simpati padanya. Biarlah, kasian juga jika tak ada makanan yang akan iya nikmati di sini.


"Mba, tolong tambahkan Diva Vodka dan sup sarang burung walet."


Pelayan itu membulat kejut mendengarnya. Pretttt!! Sudah mesan menu paling murah, sekarang malah minta yang mahal. Orang ini pasti halu.


Apa mereka pikir harga minuman berkelas di sini setara dengan es Boba di pinggir jalan. Mereka pasti sinting jika mengetahuinya, batin sang pelayan.

__ADS_1


Pelayan itu tersenyum miring dengan sinisnya. Manik matanya juga menatap rendah kepada dua orang pembelinya.


"Maaf Bu, itu terlalu mahal. Di sini kami juga menyediakan beberapa minuman dingin seperti air putih yang dicampurkan ice batu."


Rika dan Reyhan tersentak. Mereka kini menatap pelayan muda itu dengan alis yang mengerut. Keduanya heran. Apa maksudnya dengan mengatakan hal seperti itu?


Apa orang ini mengira kami si miskin yang baru pertama kali masuk restoran mewah?" Batin Rika tak percaya dengan apa yang ditawarkan sang pelayan.


Sementara Reyhan, iya kini terlihat sangat marah. Aura mencekam dan menakutkan begitu keras di rasakan Rika.


Namaun pelayan itu tampak biasa saja. Iya tak panik sedikitpun melihat sikap dan ekspresi Reyhan. Rasa takut memang tak ada dirasakannya.


Sudah sangat jelas bahwa penampilan lah yang menentukan seseorang itu akan diperlakukan baik atau tidak. Jika saja Reyhan dan Rika memakai setelan penuh kewibawaannya, orang pasti akan lebih menghormatinya.


Jika seperti sekarang ini yah tentu saja akan diperlakukan secara tak adil dengan yang lainya. Itulah yang kebanyakan di rasakan kaum-kaum bawah. Mereka akan diperlakukan tak adil atau berbeda dengan kaum yang berada dari kalangan atas.


Bettul kan teman.


"Panggil managermu sekarang juga," pinta Reyhan dengan tatapan dinginnya. Iya tampak kesal sekali namun masih bisa mengontrolnya. Iya tak mau hari spesialnya rusak hanya gara-gara masalah yang menyebalkan ini.


Jika dia tidak mengambil tindakan, maka pelayan tak tahu diri ini akan terus bersikap tak adil kepada pengunjung lain yang datang dengan tampilan apa adanya.


"Ayolah Pak, tidak usah seperti itu. Manager kami orang yang sangat sibuk. Dia mana mungkin punya waktu untuk mengurus keluhan kecil anda."


"Aku paling tak suka mengulang perkataan." Kata Reyhan penuh penekanan dan mulai tak senang. Kini tak ada lagi ekspresi santai di wajahnya.


Meskipun begitu, wanita yang memakai seragam kafe ini tetap saja tak sadar diri.


Tampaknya iya masih tak paham sedang berhadapan dengan siapa. Sekarang ini iya sedang menghadapi maut. Tetapi entah mengapa dia masih sesantai itu.


"Pak, ayolah. Akan ku ambilkan teh hangat sebagai pengganti minuman dan makanan impian kalian itu." Tambah wanita pelayan itu yang membuat kesabaran seoarang tuan Reyhan Ardiwiningrat bubar.


Reyhan sudah tak tahan.


"Brakkk!!" Meja yang ada dihadapannya itu iya hamburkan seketika. Gelas serta beberapa piring di atasnya juga ikut terlempar dan berserakan karenanya.


Rika sontak terkejut di buatnya. Bukan hanya dia, tetapi semua orang yang ada. Kini pusat perhatian telah mengalih ke arah mereka.

__ADS_1


"Reyhan, kendalikan dirimu."henti Rika sedikit panik melihat kemurkahan prianya. Iya kini berdiri tepat di sampingnya untuk menenangkan.


Tangan Reyahan menunjuk lantang seraya berteriak "Panggillll!! Manager mu sekarang!!!!"


Tampaknya seorang bos besar itu sudah sangat geram.


Tampilanya terlihat seperti harimau ganas yang siap menerkam pelayan tak tahu diri itu hidup-hidup.


"Pak! anda telah membuat kegaduhan. Kami akan meminta Anda untuk ganti rugi sekarang."lawan pelayan itu masih ngotot dan tak mengabulkan permintaan pembelinya.


Rasa panik memang tak ada dirasakannya.


Rika juga ikut geram Melihatnya. Wanita di hadapannya itu kenapa sih tak paham juga.


"Panggil managermu, kami ingin bertemu, Apa kau dengar?"berang Rika mulai angkat bicara.


"Ada apa ini?"serga pria setengah tua yang tiba-tiba muncul.


Sontak wanita muda yang bekerja sebagai pelayan itu menundukkan kepala.


"Bos,"ucapnya.


"Kenapa? Apa yang terjadi?"


Baru saja Rika hendak berbicara, perkataannya langsung di potong oleh si pelayan.


"Mereka maksa ingin memesan makanan termahal di restoran kita. Saya menghentikannya, karena mereka pasti tak sanggup membayarnya."


"Oh ternyata begitu yah. Maaf tuan, modal untuk membeli minuman itu memang sangatlah mahal, kami tak mau rugi dengan anda yang memesan lalu tak sanggup membayar." Cemoh pria setengah tua itu.


Manik matanya menatap dari atas sampai ujung kaki tampilan Rika dan Reyhan.


"Sudah ku bilang, bos kami orang yang sangat sibuk! Kenapa kalian tak paham. Sekarang ganti semua kerugian yang telah kalian lakukan! Jika tidak, jangan salahkan kami jika kami akan membawa masalah ini ke tahap yang lebih serius lagi." Imbas si pelayan.


Reyhan tersenyum miring mendengar ucapan itu.


Baiklah.

__ADS_1


Tampaknya iya harus menunjukkan apa yang sebenarnya iya miliki. Jika tidak, entah sampai kapan masalah memuakkan ini berlanjut dan merugikan kaum dari kalangan bawah.


............ bagaimana apa karya aku seru kk? jika seru terus dukung karya aku yah dengan cara like, vote, komen, dan faforitkan yah..........


__ADS_2